
"Coba kamu perhatikan, tapi memang Clara lebih mirip dengan Indah sewaktu kecil. Papah punya fotonya."
Mereka berdua menghentikan langkah kakinya. Bayu, Antoni serahkan pada Reymond supaya dia bisa mengambil dompet pada kantong belakang celananya.
Ia membuka secara perlahan dompet kulit miliknya dan seketika membuat mata Reymond melotot karena rasa kaget yang berlebihan.
Memang kemiripannya tidak seperti pinang dibelah dua atau kembar. Tapi memang untuk sekilas, mereka mirip. Apalagi hidung, bibir dan mata indah mereka berdua.
Reymond memperhatikan dengan serius foto Indah sewaktu kecil dan mengingat wajah Clara.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Antoni.
"Iya, mereka mirip, Pah. Tapi masih cantikan Indah waktu kecil daripada Clara. Istriku yang paling cantik."
"Ish kau ini ... Papah bukan mau membandingkan kecantikan mereka. Iya, Indah yang paling cantik di dunia ini, Reymond!" Antoni berdecak kesal, rupanya Reymond tidak mengerti maksudnya.
"Lalu apa?" tanya Reymond seraya menarik alis matanya keatas.
"Papah tau dari Indah, kalau dia katanya punya adik dan sampai sekarang, kamu belum berhasil menemukannya." Reymond hanya mengangguk-ngangguk dengan ucapan Antoni.
"Bagaimana kalau nanti kita tanya-tanya pada Pak Wahyu tentang Clara, soalnya dulu Papah sempat menolong dia pada saat istrinya melahirkan. Saat itu ...." Antoni kembali menceritakan kejadian beberapa tahun yang lalu pada Reymond.
"Papah malah mengira Clara bukan anak kandung Pak Wahyu. Wajah sekeluarga itu juga tidak mirip dengan Clara, Reymond. Bisa saja Clara anak angkat atau hasil adopsi, atau bisa jadi adiknya Indah!" tebak Antoni.
Deg~
Mata Reymond membelalak. "Memang kejadian itu berapa tahun yang lalu, Pah?" ia menjadi sangat antusias dan penasaran tentang Clara. Mungkin saja ada benarnya yang dikatakan oleh Antoni.
Antoni terdiam, ia mulai mengingat kejadian itu. Tapi nyatanya tidak berhasil masuk kedalam otaknya.
"Enam tahun ada tidak, Pah? Adik Indah umurnya enam tahun. Sedangkan Clara lima tahun," terang Reymond.
"Umur 'kan bisa di korupsi, Reymond. Lebih baik kita tanya padanya. Tapi nanti, kalau semuanya sudah membaik dan Indah keluar dari rumah sakit."
Usulan Antoni membuat jalan terang pada pencarian Reymond. Walau ia sendiri juga belum yakin, tapi setidaknya berusaha dulu saja. Benar atau tidak, itu urusan nanti.
"Kita jangan kasih tau kesiapa-siapa dulu, Pah. Termasuk Indah. Dia begini juga gara-gara aku," lirih Reymond. Ia merasa sangat bersalah.
Antoni menepuk pundak menantunya. "Kamu tidak salah kok. Yasudah kita ke kamar Indah, Papah ingin lihat keadaannya."
Reymond mengangguk, kini mereka bertiga melanjutkan langkah kakinya untuk sampai pada kamar inap Indah.
Ceklek~
Mereka membuka kamar inap Indah dan terlihat, Indah sudah bangun dan tersenyum melihat ketiga pria tampan yang baru masuk.
"Bunda!" panggil Bayu.
__ADS_1
"Bayu, Mas Reymond, Papah ...," lirih Indah.
Ketiganya berjalan mendekati Indah, Reymond langsung mendudukkan Bayu pada tempat tidur Indah. Anak kecil itu berbaring dan memeluk tubuh Bundanya.
"Gimana keadaan kamu, Sayang?" tanya Reymond seraya mencium kening istrinya.
"Aku baik-baik saja kok, Mas."
Antoni mengelus rambut Indah secara perlahan. "Jangan terlalu banyak pikiran Sayang, itu tidak baik untuk kondisimu."
"Iya, Pah. Papah, Bayu dan Mas Reymond habis dari mana?" pandangan mata Indah teralihkan pada beberapa perban di lengan Antoni. Ia memegang lembut lengan ayahnya itu. "Tangan Papah kenapa? Apa Papah baik-baik saja?"
Satu pertanyaan belum terjawab, tapi Indah bertanya kembali.
"Papah habis mendonorkan darah, Sayang."
"Donor darah? Buat siapa, Pah?"
"Jadi darah Antoni dan Clara sama Rey?" tiba-tiba Santi menimpali pertanyaan, ia masih duduk di sofa bersama Mawan.
Reymond menoleh kearah ibunya. "Iya, alhamdulilah. Darahnya sama-sama B, Mah."
"Syukurlah kalau begitu, Mamah ikut lega mendengarnya," sahut Santi sambil mengelus dada.
Mawan pura-pura tidak mendengarkan percakapan mereka, tapi ia sibuk mengumpat dalam hati.
Malah aku lebih senang kalau darah Antoni tidak sama. Biarkan saja anak itu mati. Toh, dia hidup hanya menyusahkan.
"Dia sedang di operasi Sayang," jawab Antoni.
"Operasi ginjalnya?" Antoni mengangguk pelan.
"Darah Papah dan Clara B juga? Berarti sama dengan darahku dan darah Papah Mawan?" tanya Indah kearah Antoni.
Awalnya Papah Mawan yang harus mendonorkannya, tapi Papahmu itu sangat menyebalkan, Sayang.
Batin Reymond
"Iya, Sayang," balas Antoni.
Indah mengangkat tangannya keatas, hendak meraih salah satu pipi Antoni. Segera Antoni membungkuk kearahnya. Dan sekarang, Indah bisa mengelus salah satu pipinya.
"Papah pria yang baik, terima kasih telah mendonorkan darah Papah untuk Clara, Pah," ucap Indah sambil tersenyum manis padanya.
"Sama-sama Sayang."
"Kamu ini berlebihan sekali, Indah!" gerutu Mawan kesal, aslinya ia tak suka melihat kasih sayang antara putrinya dan ayah tirinya itu.
__ADS_1
Clara yang didonorkan darahnya, kenapa Indah seperti senang sekali? Memang Indah ini anak yang baik, dia juga sayang anak kecil.
Batin Santi.
Tiba-tiba Reymond merasakan getaran ponsel pada saku jasnya.
"Sayang, sebentar. Aku keluar angkat telepon dulu ...."
"Iya, Mas."
Reymond melangkahkan kakinya keluar dari kamar Indah, ia berjalan agak menjauh untuk mengangkat telepon. Dan ternyata telepon itu dari Susan.
Mata Reymond membulat sempurna, tapi ia langsung tersenyum menyeringai. Entah apa maksud dari senyumannya itu.
"Halo, selamat malam Pak Reymond. Bagaimana keadaan istri Bapak?"
Deg~
Dari suaranya, Susan terdengar begitu cemas.
"Mau apa Ibu tanya-tanya tentang keadaan istriku?" Reymond menimpali dengan pertanyaan balik, ia masih kesal pada wanita dari seberang sana.
"Jujur saya merasa tidak enak pada Mbak Indah, dia wanita yang baik dan sayang-"
"Iya ... iya. Istriku memang wanita yang sempurna. Lalu ada apa Ibu telepon? Aku sibuk! Aku tidak butuh basa basi!" sergahnya.
"Saya ingin bertemu dengan Bapak besok, di kantor Bapak, ingin membahas masalah anak yang di adopsi itu, Pak."
"Membahas apa? Ibu ingin memintaku supaya jangan mencarinya? Benar begitu? Aku tidak akan menuruti ucapan Ibu!"
"Bukan, Pak. Bukan seperti itu. Saya akan memberikan berkas itu pada Bapak, tapi saya mau kita membuat perjanjian."
"Perjanjian? Perjanjian apa? Ibu jangan macam-macam denganku, ya!" ancam Reymond.
"Perjanjian ini tidak akan merugikan siapapun, justru bagus untuk kita bersama."
"Benarkah?"
"Benar, Pak. Nanti besok saya akan ke kantor Bapak dan menemui Bapak disana."
"Oke, aku tunggu kalau begitu."
Seusai menutup panggil telepon, senyuman Reymond langsung mengembang dengan jelas. Malam ini ia seperti mendapatkan rezeki yang berlimpah. Titik terang itu makin terlihat.
Ia kembali masuk lagi kedalam kamar inap Indah dengan wajah yang berseri-seri.
***
__ADS_1
Pagi-pagi sehabis Subuh, Dido datang ke rumah sakit. Ia ingin menjenguk Clara. Ah niatnya sebenarnya bukan untuk menjenguk gadis kecil itu. Melainkan untuk bertemu dengan mantan kekasihnya.
^^^Kata: 1021^^^