Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 152. Mas bangun, ya?


__ADS_3

Setelah mendengar Rio kritis, Santi dan Mawan langsung menuju rumah sakit lagi. Mereka berlari tergesa-gesa dari lobby menuju ruang UGD.


Melihat kedatangan Santi, Wulan segera bangun dari duduknya untuk memeluk sang mertua.


"Wulan, apa yang sebenarnya terjadi? Kok Rio sampai kritis begitu? Apa penyebabnya?" tanya Santi cemas.


Wulan menyeka air matanya yang baru saja mengalir, ia mengatur nafasnya naik turun. "Tadi Mas Rio baru saja di pindahkan ke kamar inap, tapi ia mendadak sesak nafas, Mah."


"Sesak nafas? Lalu bagaimana sekarang?" nafas Santi sampai tersengal-sengal.


"Dokter sedang menangani Mas Rio didalam. Aku ... aku takut Mas Rio kenapa-kenapa, aku tidak mau kehilangan dia, Mah. Aku mencintai Mas Rio," kata Wulan sambil menangis.


Santi mengajak Wulan untuk duduk di kursi panjang, ia melepaskan pelukan, merangkul bahu menantunya.


"Jangan bicara seperti itu, Rio akan baik-baik saja. Dia pria yang kuat, kau tenang saja. Percaya sama Mamah."


"Iya, Mah."


Mawan berdiri membeku, tubuhnya terasa bergetar saat melihat Wulan menangis sambil memegangi perutnya. Pikirannya kini sudah kacau balau. Entah apa yang ia rasakan sekarang, tapi dadanya ikut terasa sesak, ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menyandarkan punggungnya di tembok. Mawan tidak ikut duduk bersama mereka, karena melihat Santi saja ia merasa takut.


Ya Allah, semoga Rio baik-baik saja. Rio, maafkan Papah ... Papah sangat menyesal.


Hari menjelang esok, Rio sudah kembali dipindahkan ke kamar inap. Wahyu dan Clara pamit pulang, karena gadis kecil itu harus pergi ke sekolah.


Kini hanya ada Santi dan Wulan yang didalam sana, menunggu Rio yang masih berbaring dengan mata terpejam. Santi sudah menghubungi Reymond untuk datang, jika dirinya tidak sibuk. Ia juga ingin membicarakan sesuatu hal yang penting.


Mawan masih ada diluar, ia duduk termenung. Ia sama sekali tidak diizinkan masuk untuk menemui Rio. Santi menugaskan pada Ali, Aldi, Irwan dan Indra, untuk mengawasi Mawan.


"Kamu makan dulu, ini Mamah beli bubur ayam untuk kita berdua," ucap Santi seraya menyodorkan sendok pada mulut menantunya.


Wulan menggeleng pelan. "Aku tidak kepengen makan, Mah. Aku ingin melihat Mas Rio bangun." Wulan kembali menatap sendu wajah Rio, ia sampai semalaman tidak tidur karena menunggu Rio yang belum sadarkan diri.


"Jangan begitu dong, Mamah tau kamu cemas sama Rio. Tapi jangan menyiksa cucu Mamah. Dia juga laper didalam sini." Santi mengelus pelan perut buncit Wulan. Ia menarik senyumnya terpaksa, aslinya ia amat sedih melihat kondisi Rio. Tapi Santi ingin membuat Wulan tenang.


Wulan masih terdiam, ia berpindah posisi duduknya di kursi kecil dekat Rio. Pria tampan itu sudah memakai seragam biru pasien. Perlahan Wulan memegangi tangan Rio, ia menciumi telapak dan punggung tangannya.

__ADS_1


"Mas ... aku sangat mencintai Mas Rio. Mas bangun, ya?" Wulan tersenyum getir, dan meneteskan air matanya, ia tak kuasa melihat Rio terbaring dari semalam.


Bubur ayam yang tadi ditolak oleh Wulan, Santi makan. Bubur itu terasa pahit pada lidahnya, ia sama halnya dengan Wulan, tidak kepengen makan. Tapi Santi paksakan, karena ia tidak ingin sakit, ia ingin terus menjaga anak dan menantunya.


Setelah menyelesaikan makannya, Santi bangun dari duduk, menghampiri Wulan sambil memegang segelas susu putih.


"Wulan ... kalau kamu tidak mau makan, minimal minum susu. Mamah sudah buatkan susu ibu hamil untukmu. Jangan seperti ini, Sayang. Jangan buat dirimu ikut sakit, nanti Mamah ikut sedih."


Wulan mendongak, menatap wajah Santi yang sudah basah karena air mata. Ada sedih, kecewa dan lelah yang tergambar pada wajah cantik yang sudah berkerut itu. Tak ingin membuat Santi ikut sedih, Wulan mengambil gelas di tangannya, ia menenggaknya sampai tandas tak tersisa.


"Terima kasih, Mah," kata Wulan seraya memberikan gelas kosong pada Santi dan segera Santi terima, menaruhnya diatas nakas.


"Tadi malam Rio sempat bangun atau belum sama sekali?"


Wulan menggeleng samar. "Belum, Mas Rio belum sadar sama sekali. Tapi aku masih binggung, Mah. Kata Dokter, Mas Rio ada yang menjahili, ada yang memberikan obat perangs*ng dan lalu dibius. Siapa yang tega melakukan itu, Mah?"


"Siapa lagi kalau bukan Mawan," jawab Santi malas, ia menyeka air matanya dengan kasar.


Wulan terbelalak. "Papah? Jadi ... Papah yang melakukan semua ini? Tapi kenapa, Mah?"


Wulan mengangguk. "Iya, Mah."


***


Di luar kamar Rio, Mawan segera bangun saat melihat Reymond datang, berlari kecil ke arahnya.


"Reymond ... Papah ingin bicara sama kamu." Mawan sudah hampir memegang lengan pria kekar itu, namun terhalang oleh Ali.


"Ada apa, Pah? Dan Rio ... kenapa Rio masuk rumah sakit?" tanya Reymond yang tak tau apa-apa.


"Ini semua salah Papah, apa kita bisa ngobrol sebentar? Papah akan ceritakan semuanya," pinta Mawan dengan nada memohon.


"I--"


"Bapak dilarang mengobrol dengan Pak Reymond!" sela Ali tegas, menatap wajah Mawan yang tak karuan itu.

__ADS_1


Mawan sudah mandi, ia juga berganti pakaian. Tapi wajahnya begitu muram, seperti tidak ada gairah hidup.


"Aku hanya ingin bicara sebentar dengan Reymond, kenapa kau melarangku?" sentak Mawan kesal, ia menatap mata Ali dengan tajam.


"Ini perintah Bu Santi!" kata Irwan, ikut menyahut.


"Tidak apa, biarkan aku mengobrol dengan Papah." Sekarang Reymond yang berbicara, ia sangat penasaran dengan Mawan. Apalagi melihat kondisinya yang memprihatinkan itu, Reymond merasa tak tega.


"Maaf Pak Reymond, sebaiknya Bapak langsung masuk saja ke dalam. Ini perintah dari Bu Santi!" tegur Irwan sekali lagi. Ia dan kawan-kawannya bersikukuh menghalangi mereka untuk mengobrol.


Ceklek~


Pintu kamar itu terbuka, Santi yang keluar dari pintu itu karena mendengar suara keributan. Ia segera menghampiri anak pertamanya.


"Rey, kamu sudah datang?" Santi mengelus lembut bahu Reymond, melemparkan senyuman tipis padanya.


"Iya, apa yang terjadi pada Rio, Mah? Apa dia baik-baik saja?" Reymond belum dapat jawaban, ia merasa cemas saat mendengar kabar Rio pingsan dan belum sadarkan diri.


"Kita bicara di kantin saja, Mamah juga sekalian ingin membeli minyak angin."


"Iya, Mah."


"Mamah, Papah ingin--" ucapan Mawan mengantung begitu saja, saat ibu dan anak itu berlalu pergi. Mawan ingin mengejarnya, tapi keempat pria kekar itu seakan mengunci pergerakan Mawan yang akan menghampiri keluarganya. Mawan susah bergerak bebas, bernafas juga terasa sangat berat.


Santi memesan minuman untuk dirinya dan Reymond, ia juga membeli minyak angin untuk Rio. Mereka berdua duduk di meja yang berada di pojok kantin rumah sakit itu. Suasananya lumayan ramai, karena masih banyak orang yang tengah sarapan.


"Oya ... bagaimana kabar Indah, Caca dan Bayu? Mamah rindu padanya." Sebelum mulai bercerita, alangkah lebih baiknya Santi bertanya tentang mereka dulu.


"Mereka baik, Mah."


"Indah sama siapa di rumah sakit? Apa dia sendirian?" memang rumah sakit Rio dan Indah ini berbeda, jadi Santi cemas karena perbedaan jaraknya.


"Papah Antoni dan Vinno, mereka menjaganya, aku titip sebentar pada mereka."


"Syukurlah." Santi menghela nafas dengan lega. "Eemm, Rey. Bagaimana menurutmu, kalau Papah dan Mamah bercerai?"

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


__ADS_2