
"Baik Pak," Vinno berjalan masuk dan duduk di sofa, dia meletakkan nasi uduk di atas meja.
Mawan melirik ke arah Irwan yang standby berdiri di samping pintu.
"Irwan. Kau jangan kemana-mana, tetap di sini. Kalau ada apa-apa kabari aku."
"Baik Pak," sahut Irwan seraya membungkuk sopan.
Bayu terisak dari tidurnya, dia merasa ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam celananya itu, bukan celana. Lebih tepatnya popok di dalam celana, dia kalau siang tidak memakai popok. Tapi kalau malam dia selalu memakai, karena takut mengompol.
Vinno juga semalam sempat memakai kan popok dulu padanya, Bayu bangun dan duduk. Dia mengucek matanya. Dia melihat Vinno sudah selesai sarapan, dan membuang bungkus sarapan itu di dalam tong sampah.
"Pagi Om Inno," sapa Bayu dengan ceria dan tersenyum manis.
Vinno berjalan dan mengendong Bayu, dia merasa popok di bokong Bayu sudah terasa penuh.
"Pagi juga sayang, kamu mau mandi?" tanya Vinno.
Bayu mengangguk. "Iya Om, Bayu mau Ee," dia memegangi bokong, sepertinya ampas di perutnya ingin segera dia keluarkan.
"Oke kita ee dulu, habis itu mandi."
Vinno mengambil handuk kecil di dalam koper. Mawan juga sudah mempersiapkan perlengkapan Indah dan Bayu di rumah sakit.
Vinno mengajak Bayu masuk ke kamar mandi, dia melepaskan semua pakaiannya, tidak lupa membuang popok yang sudah penuh itu di dalam tong sampah.
"Duduk di kloset sayang," Vinno mengangkat tubuh Bayu untuk duduk di kloset duduk.
Setelah selesai barulah mandi.
Indah mendengar suara percikan air, dia membuka matanya, dan menoleh ke arah samping dan tidak ada Bayu.
"Bayu," panggil Indah.
Tapi Vinno dan Bayu tidak mendengarkan mereka. Mereka sibuk bermain air.
Ceklek....
Terdengar bunyi suara dari gagang pintu, Santi dan Rio datang sambil membawa tupperware berisi nasi goreng untuk Indah dan bubur ayam untuk Bayu.
Di rumah sakit juga pasti di kasih makanan, tapi Santi tahu, makannya tidak seenak dia bikin sendiri. Walau bukan dia yang bikin sendiri tapi pembantunya, setidaknya Indah bisa merasakan enaknya masakan rumah.
"Pagi sayang," ucap Santi masuk ke dalam bersama Rio.
Indah sudah duduk menyender di tepi ranjang.
__ADS_1
"Pagi Mah."
Santi menghampiri Indah dan mencium keningnya, "Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Santi.
"Aku baik-baik saja Mah," sahut Indah.
Rio mendudukkan bokongnya di atas sofa, sedangkan Santi duduk di kursi kecil di dekat ranjang Indah.
"Kamu sudah sarapan Indah?" tanya Rio seraya melihat kotak nasi uduk yang berada di atas meja. Masih ada 2 kotak masih utuh dan ada 1 cup berisi bubur ayam juga.
"Belum."
Santi membuka tupperware yang dia bawa. "Kamu makan nasi goreng ya? Mamah bawa untukmu," ucap Santi seraya menyendok kan nasi goreng yang sudah ada di tangannya.
Indah memegangi perut bagian bawahnya, dia ingin buang air kecil.
"Aku mau pipis sebentar Mah."
Santi meletakkan lagi tupperware itu dan membantu Indah turun dari ranjang, tapi dia merasa kepalanya masih berputar-putar dan pusing. Tubuhnya juga sangat lemas, hampir saja terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Santi memegang lengan Indah.
Indah memegangi kepalanya, "Kepalaku sakit Mah, badanku lemas sekali," tubuh Indah juga sudah bergetar.
Rio bangun dan menghampiri Indah, dia meraih kantong infusan dan langsung mengangkat tubuh Indah.
Mata Indah terbelalak kaget, rasanya begitu tidak nyaman. Tapi dia tidak sanggup berjalan.
"Bunda ..." panggil Bayu yang datang di gendong Vinno.
Dia sudah selesai mandi dan mengenakan handuk, begitu lucu dan menggemaskan.
"Bayu uda mandi cama Om Inno, Bunda," ucap Bayu tersenyum senang.
"Wah ... Sudah wangi ya sayang," sahut Indah yang masih di angkat tubuhnya oleh Rio.
"Biar Bayu sama Oma ya, kita pakai baju."
Santi mengambil Bayu dari tangan Vinno, dia mendudukkannya di sofa dan memakaikan pakaian.
"Kamu jadi pipisnya?" tanya Rio.
Indah mengangguk, Rio langsung membawa Indah masuk ke dalam kamar mandi, Vinno hanya melihat mereka berdua, tapi dia merasa mereka begitu serasi.
"Hati-hati Rio," ucap Santi.
__ADS_1
Rio menurunkan Indah secara perlahan, tapi tiba-tiba Indah teringat pada Rendi yang pernah membawanya ke kamar mandi ketika dia hendak buang air kecil juga. RINDU, ya satu kalimat itu selalu terbayang di hati dan pikiran Indah.
Indah menyenderkan punggungnya di tembok dan masih memegang lengan Rio, "Kamu bisa sendiri atau mau di bantu?" tanya Rio.
"Tidak usah, kamu tunggu di luar saja Rio," Indah memegang tembok dan mengambil kantung infusan dari tangan Rio.
Rio keluar dari kamar mandi dan menunggu Indah sampai selesai.
***
Di ruangan berbeda, Andra sudah menyelesaikan biaya administrasi untuk Irene. Hari ini juga Irene bisa pulang, hanya menunggu nanti siang.
Andra masuk lagi ke ruangan Irene, dia melihat Irene sudah bangun dan berbaring. Ada bubur dan susu juga di meja troli.
"Irene kau sudah bangun?" tanya Andra seraya menghampiri.
Irene hanya diam saja, aslinya dia begitu sedih dan meratapi nasibnya yang kurang beruntung itu. Dia juga tidak ingin mempunyai anak dari Andra, tapi semuanya sudah terjadi.
Andra mengambil mangkuk bubur itu dan duduk di kursi kecil.
"Kamu mau makan? Aku suapi Irene," ucap Andra dengan lemah lembut.
"Saya tidak mau, Pak."
"Lho kenapa? Kamu jangan telat makan, nanti anak kita sakit."
Mata Irene langsung terbelalak, dia seperti teriris-iris hatinya. "Ini bukan anak kita Pak, tapi hanya anak Bapak!" Ujar Irene dengan ketus.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Andra.
"Saya tidak mau punya anak! Apa lagi itu anak Bapak!" Pekik Irene kesal.
Andra menaruh lagi bubur di tangannya di atas meja. Dia mendekati Irene dan memegang tangannya.
"Kamu jangan bilang seperti itu! Aku akan tanggung jawab, aku akan menikahi mu Irene."
Irene menepis tangan Andra, "Tidak Pak, saya tidak mau! Saya tidak mau jadi istri Bapak!" Irene berkata dengan lantangnya.
Andra memegangi kedua pipi Irene dan mendekati wajahnya, "Lalu kau ingin menikah dengan siapa hah? Mana ada yang mau menikah dengan wanita hamil sepertimu! Harusnya kau bersyukur masih ada aku yang peduli dan mencintai mu!"
Irene memalingkan wajah. "Saya tidak mau Pak! Saya ingin menikah dengan ..."
Ucapannya tidak jadi di teruskan, semuanya terasa sia-sia saja.
"Sudahlah Irene, kau menurut saja padaku. Kau mau cari yang bagaimana lagi, aku sudah cukup sempurna untukmu," ucap Andra dengan pede.
__ADS_1
Sempurna katanya? Bangkotan baru benar! Sial sekali hidupku! Aku mau menikah dengan keponakan mu, tapi justru kau yang menghamili ku. Cepat mati saja kau Andra, aku membencimu!
Umpat Irene dalam hati.