
Sampainya di rumah Reymond, Mawan segera masuk saat pintu itu berhasil di buka oleh Bibi pembantu.
"Pak Mawan, selamat malam Pak."
"Malam." Mawan menengadah pada railing lantai dua, suasana begitu sepi. Mungkin saja semua orang sudah tertidur.
"Apa Bibi tau di kamar mana Bu Santi tidur?"
"Tau, Pak. Mari saya antar."
Bibi pembantu itu mengambil koper dari tangan Mawan. Ia mengangkatnya sambil berjalan menaiki anak tangga, diikuti oleh Mawan dibelakang.
"Kalau tidak salah ini kamarnya, Pak," ucap Bibi pembantu seraya menunjuk pintu kamar.
Indah pasti tidur sama Mamah. Iya, dia tidak mungkin tidur bersama suaminya.
Total kamar di rumah itu berjumlah 4 kamar. Kamar yang paling besar adalah kamar utama. Tapi Bibi pembantu tidak menunjuk kamar utama, melainkan kamar tamu letaknya bersebelahan dengan kamar utama.
"Koperku taruh di kamar kosong saja, Bi," perintah Mawan.
"Baik, Pak. Tapi hanya kamar yang diujung yang kosong."
Bibi pembantu kembali menunjuk kamar urutan ke 4 dari arah kamar utama. Berarti kamar sebelahnya ada penghuninya, tapi Mawan sendiri tidak tau kalau Wulan dan Rio juga ada disana.
"Memang kamar satunya ada siapa?" karena rasa penasaran, akhirnya ia bertanya saja.
"Ada Mas Rio dan istrinya, Pak."
Mimik wajah Mawan langsung berseri. Apa mungkin inilah saatnya ia bisa bicara dengan Rio? Tapi, ini 'kan tengah malam. Mungkin Rio sudah tidur. Tapi kalau menunggu besok, Mawan rasanya sudah tidak sabar.
"Yasudah, Bibi taruh di kamar ujung saja, tidak masalah."
"Baik, Pak." Bibi berlalu pergi sambil mendorong koper, masuk kedalam kamar tamu yang kosong.
Aku harus bicara dengan Rio sekarang, mumpung semua orang tertidur. Aku jadi bisa bicara leluasa dengannya.
__ADS_1
Dengan langkah penuh keyakinan, Mawan segera menghampiri kamar yang Bibi maksud adalah kamar yang ada Rio didalam. Tangannya sudah mengepal dan perlahan terangat, lalu mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok.
Tok ... tok ... tok.
Tok ... tok ... tok.
Ceklek~
Untuk ketiga kalinya diketuk, akhirnya pintu itu terbuka. Namun sayangnya bukan Rio yang membukanya, melainkan Wulan. Wanita itu tengah mengucek-ngucek salah satu matanya, ia terperajat saat melihat ada Mawan didepan pintu.
"Papah, kok Papah ada disini?"
Mawan tersenyum tipis, ia memiringkan kepalanya untuk bisa melihat Rio didalam. Pandangannya terhalang oleh tubuh menantunya.
"Apa Rio sudah tidur? Papah ingin bicara dengannya, Wulan."
"Mas Rio sudah tidur, Pah. Sudah dari tadi." Wulan menggeserkan tubuhnya sedikit supaya sang mertua bisa melihat Rio yang tengah berbaring dengan mata terpejam. Pria tampan itu tampak tertidur dengan pulas.
"Oh, yasudah deh. Papah tidak--"
Baru saja air itu mengalir sedikit membasahi tenggorokan, sontak Rio kaget. Ia terbelalak dan langsung tersendak karena menyadari kehadiran Mawan berdiri di ambang pintu.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk."
"Mas Rio, Mas Rio tidak apa-apa?" Wulan berlari menghampiri suaminya, ia memegang gelas dari tangan Rio, menaruhnya diatas nakas. Jempolnya mengusap air pada bibir suaminya.
Papah, kok dia ada disini? Mau apa dia dan kenapa masuk ke kamarku?' gerutu Rio dalam hati.
"Rio ... Papah ingin bicara denganmu," lirihnya dengan sendu.
Mawan berjalan beberapa langkah untuk bisa menghampiri anaknya yang tengah duduk menyandar pada disisi tempat tidur.
Rio memalingkan wajah, seakan tak mau saling memandang dengan ayah tirinya. Kedua tangannya sudah mengepal, jelas sekali terlihat kalau dirinya teramat sangat membenci Mawan.
__ADS_1
"Kenapa kau mengizinkan dia masuk, Wulan?" tanya Rio dengan ketus.
"Tadi Papah mengetuk pintu, Mas," jawab Wulan pelan.
"Rio, Papah ingin--"
"Lepas!" Rio menghentakkan lengan kirinya yang baru saja dipegang oleh Mawan, pria paruh baya itu sudah duduk disebelahnya. "Aku tidak mau bertemu denganmu! Pergi dari sini!" usirnya.
Kenapa kamu tidak memanggil Papah? Apa segitu bencinya kamu sama Papah, Rio? Sampai tidak mau memanggil dengan sebutan itu lagi?
Mawan terenyuh, dadanya sangat sakit, sepertinya tergores benda tajam. Ia memegangi dadanya dan membuang nafasnya dengan kasar.
"Rio, Papah ingin minta maaf padamu. Maafkan Papah, Rio," lirih Mawan dengan wajah sedih. Ia ingin memegang tangan Rio kembali, tapi rasanya ragu. Alhasil, ia hanya me meras jari jemarinya sendiri.
Wulan binggung harus berbuat apa. Namun rasanya ayah dan anak itu perlu waktu berdua, mungkin sekarang Wulan harus pergi dan meninggalkan mereka untuk sementara waktu.
"Mau pergi kemana kau, Wulan?" tekan Rio saat tau Wulan melangkah hendak keluar kamar. Wulan langsung menghentikan langkah dan berdiri mematung. Padahal wajah Rio masih berpaling, tapi ia seperti tau. "Kau tetap disini dan bilang padanya untuk pergi dari kamar ini, aku mau istirahat!" perintah Rio.
Pria tampan itu langsung berbaring membelakangi Mawan, ia menarik selimut sampai menutupi wajahnya. Tapi ia tidak tidur, matanya masih terbuka dengan lebar.
"Rio, tolong maafkan Papah. Bicaralah sebentar dengan Papah, Rio. Papah mohon ... jangan seperti ini." Suara Mawan makin pelan, bendungan air mata pada kantung matanya sudah tak tertahan, ia menangis sejadi-jadinya. Biarkan saja dibilang cengeng, nyatanya pikiran Mawan sudah membuncah selama ditinggal oleh istri dan anaknya.
Suara isakan tangisnya terdengar oleh Rio, tapi hati anaknya tidak tergugah sama sekali. Rio menutup mulutnya dengan rapat-rapat, ia juga tak ada niat untuk menjawab. Biarkan saja Mawan melakukan hal apapun sampai dirinya capek. Jika sudah capek, mungkin ia akan berhenti sendiri dan tentunya pergi dari kamar Rio.
Air mata buaya! Biasa-biasanya Papah berakting seperti ini demi mendapatkan maaf dariku. Untuk kali ini, aku tidak akan terkecoh dari mulut dusta Papah!
Wulan mengurungkan niatnya untuk keluar kamar apalagi saat melihat Mawan menangis. Hatinya sangat tak tega. Lantas, Wulan menghampiri Mawan dan menarik secarik tissu untuk diberikan padanya.
"Pakai ini, Pah," ucap Wulan dengan tangan terulur.
Mawan mengangguk, ia baru saja ingin mengambil tissu dari tangan Wulan. Namun tiba-tiba Rio membuka selimut, ia bangun dan mengambil tissu itu dari tangan Wulan. Merasa tak terima dengan tindakan istrinya.
"Tidak usah kau berbuat baik padanya! Dia itu orang jahat, Wulan!" pekik Rio dengan emosi, ia menatap tajam wajah Mawan.
Mawan menyeka air matanya dengan kasar, hanya menggunakan tangannya saja.
__ADS_1
"Rio. Papah tau kamu sangat sakit hati. Iya, Papah tau Papah ini salah, sangat-sangat salah. Papah berdosa padamu. Tapi, apa kau tau Rio, saat kau sudah hampir mau dibawa ke Hotel ... Papah tidak jadi melakukannya. Itu karena Papah sudah sadar, sadar kalau tindakan Papah salah. Papah juga ingat cucu kembar Papah yang ada di perut istrimu, Papah menyayangi mereka," paparnya dengan tulus.
Jangan lupa like 💕