
Kini mereka berlima sudah ada didepan rumah Wahyu, pintu rumah itu terbuka dengan lebar. Ada dua orang didalam sana, Wahyu dan Clara tengah membuat adonan bakso dengan bulatan pada telapak tangan. Mereka berdua duduk lesehan di lantai.
Awalnya Mawan dan Santi tidak ingin ikut, namun Indah sangat memaksanya. Ia ingin mengatakan hal pada gadis kecil itu dan ingin mereka semua bisa mendengarkannya.
"Permisi, Pak Wahyu," ucap Reymond.
Pria paruh baya itu melayangkan pandangan kearah luar rumahnya, ia begitu terkejut melihat kedatangan besannya.
'Kok mereka semua kesini? Mau apa?' batin Wahyu.
Perasaannya mendadak jadi tidak enak, ia langsung berpikir itu ada hubungan dengan tes DNA Clara.
"Kaka Lala!" panggil Bayu.
"Clara ...," panggil Indah.
Clara ikut melihat kearah luar rumahnya, ia bangun dari duduk dan mulai melangkah. Namun lengannya langsung di pegang oleh Wahyu yang baru saja berdiri.
"Pak Reymond, Nona Indah, Dek Bayu, Bu Santi dan Pak Mawan. Silahkan masuk ... saya dan Clara mencuci tangan dulu," ucapnya seraya mengangkat baskom besar yang berisi adonan bakso. "Ayok Clara, kita cuci tangan dulu!"
"Iya, Ayah." Tangan Clara melambai pada Bayu dan tersenyum. Kemudian ia berlari menyusul Ayahnya yang sudah masuk ke dapur.
"Ayok, Mah, Pah, Mas ... kita masuk," ajak Indah seraya melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.
Didalam rumah itu sudah ada satu sofa panjang. Tapi hanya Indah, Bayu dan Reymond yang duduk. Santi dan Mawan berdiri di samping sofa itu.
"Ini minumannya, maaf ... hanya ada ini." Wahyu datang sambil membawa nampan berisi empat gelas es teh manis dan segelas susu putih, ia langsung meletakkannya diatas meja.
"Tidak apa-apa, Pak," sahut Reymond.
"Clara, sini sayang!" titah Indah pada Clara yang berdiri di samping Wahyu, gadis itu langsung berlari dan menghampiri Indah. Ikut duduk bersama mereka.
Indah mengelus lembut rambut Clara dan mencium keningnya. "Clara, bagaimana kabar kamu?"
"Aku baik, Kak. Kabar Kakak gimana?"
"Kakak juga baik." Tangan Indah perlahan mengenggam lembut tangan gadis kecil itu. "Clara ... Kakak ini adalah Kakak kandungmu."
Deg!
Netra Wahyu membulat sempurna, ia terkesiap dengan apa yang Indah ucapkan.
__ADS_1
'Jadi benar, Clara anaknya Pak Mawan? Kenapa aku tidak ikhlas rasanya' batin Wahyu.
Clara mendongak kearah Indah. "Kakak kandung? Kakak kandung itu apa, Kak?"
Sepertinya gadis kecil itu tidak mengerti maksud Indah, wajahnya juga terlihat kebingungan.
"Sama seperti kamu ke Kak Wulan, kamu adalah adiknya. Kamu juga adik Kakak, Sayang. Dan ini ...." Indah menarik lengan Mawan, pria itu masih berdiri sedari tadi disampingnya. "Dia Papah kamu, sekarang panggil dia Papah Sayang," tambahnya lagi.
Mawan sedari tadi hanya terdiam, wajahnya sangat datar. Tidak mengekpresikan rasa senang ataupun kesal.
Clara melihat wajah seram Mawan hanya sekilas, ia tidak ingin berlama-lama menatap wajah pria itu. Apa lagi dia menyaksikan sendiri kedatangannya kemarin yang membentak-bentak Wahyu didepannya.
"Papah? Papah itu kayak Ayah bukan, Kak?"
Wanita cantik itu menganggu pelan. "Iya, sama. Mulai sekarang kamu panggil dia Papah ya, Sayang," titah Indah.
Clara menggeleng cepat. "Tidak, Kak. Clara tidak mau!"
Deg!
Terasa nyeri pada ulu hati Mawan, mendengar kalimat yang Clara lontarkan. Pandangan mata yang tadinya hanya manatap lurus, sekarang beralih menatap gusar kedua putrinya yang tengah bercengkrama.
"Kenapa tidak mau? Dia Papahmu sayang, Papah kita berdua."
"Tapi sekarang kamu punya, Sayang. Kamu punya Papah. Namanya Papah Mawan, Papah kita berdua."
"Clara tidak mau, Kak. Clara hanya punya Ayah saja. Clara tidak mau punya Papah!" tolaknya.
Glek!
Mawan menelan ludahnya dengan kasar, dadanya makin terasa sakit bak teriris-iris. Tapi ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa merasakan hal ini.
Kalau memang dia tidak mau memanggilku Papah. Yasudah! Bukannya ini tidak masalah, kan?
"Kok kamu begitu? Jangan seperti itu sayang. Dia Papahmu, kamu harus memanggilnya dengan sebutan Papah," tegur Indah.
"Dia bukan Papahku, Kak. Dia orang jahat!" Clara sudah berdiri dan hendak berlari, namun dengan cepat Indah memegang lengannya.
"Kenapa? Kenapa kamu panggil dia orang jahat? Papah tidak jahat sayang!"
"Pak Mawan jahat Kak!" Clara sudah meringis dan menitihkan air mata. "Dia jahat pada Ayah!" pekiknya seraya menepis tangan Indah. Ia berlari menuju kamarnya dan langsung menutup pintu. Terdengar suara rintihan tangisnya.
__ADS_1
Indah berdiri dan hendak melangkah menghampiri Clara didalam kamar, tapi dicegah oleh Reymond. "Biarkan saja, sayang. Dia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti semuanya."
"Tapi maksud Clara apa, Mas? Kenapa dia bilang Papah orang jahat?" tanya Indah dengan tatapan sendu, bola matanya berkaca-kaca.
"Soal itu kamu tanyakan pada Papah, aku juga tidak tau."
Indah menghampiri Mawan yang masih berdiri mematung. Perlahan kedua tangannya menyentuh kedua pipi papahnya. "Pah ... apa yang Papah lakukan pada Pak Wahyu?"
"Papah tidak melakukan apa-apa," elaknya tanpa dosa.
"Tapi kenapa Clara bisa berkata seperti itu? Dia masih kecil dan anak kecil itu jujur, Pah."
"Lho ... kalian semua ada disini? Ada acara apa, nih?" tanya Rio yang baru saja datang dengan wajah sumringah. Ia melangkahkan kakinya bersama Wulan. Kemudian, menciumi punggung tangan Mawan, Santi dan Wahyu secara bergantian.
Acara bulan madu mereka sudah diakhiri. Rio tak tenang meninggalkan kantornya di tangan Dido dan Riana. Apalagi masalahnya bertambah banyak gara-gara Mawan.
Indah menarik telapak tangannya pada pipi Mawan dan kembali duduk bersama Reymond di sofa.
"Kok kalian udah pulang? Katanya liburan tiga hari?" tanya Santi seraya merangkul bahu Wulan.
"Iya, aku ada kerjaan mendadak, Mah. Tidak bisa di wakilkan sama Dido," sahut Rio memberikan alasan.
"Mamah dan semuanya kok ada disini? Tumben, ada apa, Mah?" tanya Wulan dengan wajah heran.
"Kita semua mengantar Indah ketemu dengan adiknya."
"Adik?" Wulan menarik turunkan alisnya. "Memangnya Shelly sedang main kesini? Dimana dia, Mah?" tanya Wulan seraya menoleh ke kanan dan kiri. Ia juga tidak melihat keberadaan Clara.
"Adikku bukan Shelly, Wulan. Tapi Clara," sanggah Indah.
"Apa maksudmu?" Wulan makin kebingungan, ia selama ini tidak pernah tau kalau Clara bukanlah adik kandungnya.
"Maksudku Clara memang adik kandungku, adik yang selama ini Mas Reymond cari," tukas Indah.
Wulan berjalan beberapa langkah menuju Indah, hingga melepaskan lengan Santi pada bahunya. "Clara adikmu? Clara itu adikku, Indah. Apa kamu lupa?"
Wajah Wulan terlihat begitu tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Indah. Keduanya saling melayangkan pandangan dengan tatapan tajam.
"Dia bukan adik kandungmu, dia adik kandungku, Wulan," bantah Indah seraya memegangi dada.
"Kamu ini bicara apa? Jelas Clara itu adikku! Kenapa kamu mengaku-ngaku dia adikmu!" geram Wulan.
__ADS_1
^^^Kata: 1037^^^