
"Nggak usah Kak Rendi Mah, biar Rio saja. Kan kita satu kampus. Iya kan Ndah." Kata Rio menawarkan.
"Nggak-nggak, Indah biar Rendi saja yang mengantar. Lagian kan nanti pasti kita ke ruang dekan dulu, nanti Rendi yang ngomong." Sahut Rendi yang sangat antusias.
Kali ini, gue nggak boleh keduluan lagi.
"Iya kamu benar Ren, ya sudah biar Kakak saja yang mengantarnya Rio. Ah ya sudah Mamah mau pulang dulu ya." Ucap Santi kemudian berdiri.
"Lho Mah, katanya mau seminggu di sini?" tanya Rendi.
"Iya Ren. Tapi sepertinya papah lama di luar kota, jadi Mamah mau nyusul ke sana besok. Mau ngecek butik Mamah juga di sana." Kemudian Santi memeluk Indah dan tak lama Sarah datang yang habis ke supermarket belanja kebutuhan dapur dengan pembantunya.
"Eh kenapa ini? Apa Mamah ketinggalan berita?" tanya Sarah yang baru saja menghampiri.
"Saya mau pamit pulang ke rumah Bu, rencana sih besok mau ke luar kota ada kerjaan di sana." Sahutnya kemudian memeluk Sarah.
"Oh gitu Bu. Tapi kenapa pulangnya sekarang, kan bisa besok, malam ini kita makan malam bareng dulu. Saya mau masak." Jawabnya melepas pelukan.
"Ah nggak apa-apa Bu, soalnya malam ini saya mau prepare barang buat besok. Saya pamit ya?"
"Hati-hati Bu." Ucap Sarah.
"Hati-hati Mah." Ucap Indah dan Rendi secara bersamaan.
Santi kemudian berjalan dan Rio membuntut di belakang, mereka keluar dan menaiki mobil.
"Ya sudah. Indah, Rendi Mamah ke dapur dulu ya mau masak. Kalian mandi, biar kita makan bareng." Ucapnya kemudian pergi ke dapur. Karena semenjak ibu Sarah tinggal di rumah Rendi, dia yang memegang alih soal urusan masak-memasak. Karena memang sudah hobinya dan masakan ibu Sarah juga jauh lebih enak daripada masakan bi Mia. Mangkanya tak heran, nafsu makan Rendi pun jadi bertambah.
Rendi langsung mengangkat kotak besar di atas meja, lalu berjalan bareng Indah untuk ke kamarnya.
Ceklek....
Suara pintu kamar yang baru saja di buka oleh Indah.
__ADS_1
Rendi menaruh kotak itu di meja dekat sofa kamarnya, "Indah kamu mau mandi duluan?" tanya Rendi.
"Mas saja dulu." Mendengar jawabannya, Rendi langsung berjalan masuk ke kamar mandi.
Indah perlahan membuka kotak itu tapi tiba-tiba dia teringat obrolannya dengan Nissa tadi siang.
Ah aku lupa, besok kan aku di suruh datang ke Restoran. Eemm, ya sudah deh besok sebelum ke kampus aku mampir dulu dan bilang ke tante Nissa. Semoga saja dia tidak marah.
Kedua tangan Indah menyentuh barang-barang di dalam kotak itu, dia meraih laptop, beberapa tas kampus, sepatu dan berbagai macam peralatan kuliah yang semuanya serba baru.
Mamah Santi benar-benar niat untuk menguliahkan aku, padahal peralatan ini aku sudah punya semua.
Sebenarnya beberapa hari setelah Indah keluar dari rumah sakit, pak Hermawan sudah mempunyai niat untuk menguliahkan Indah lagi, bahkan dia sendiri yang sudang menyiapkan semuanya, termasuk barang-barang dari kotak itu. Tapi dirinya sadar, kalau dia sendiri yang terang-terangan menawarkan kepada putrinya, pasti Indah akan menolaknya. Jadi seperti biasa, semuanya dia serahkan kepada istrinya yang mampu meluluhkan hati Indah.
🌺🌺🌺
Malam harinya setelah selesai makan malam, Indah dan Rendi masuk ke dalam kamar.
Suasana sepi seperti biasa, tidak ada obrolan, Rendi duduk di tepi kasur hanya melihat Indah yang sedang sibuk membereskan pelataran untuk dia besok kuliah.
"Indah...." Panggil Rendi dengan nada lembut.
"Ya," jawabnya tanpa menoleh. Rendi berdiri dan mendekati Indah yang masih sibuk dengan dunianya.
"Apa mau aku bantu?" tanya Rendi seraya mengulurkan tangan menyentuh tas.
"Tidak usah Mas, ini sudah selesai." Kata Indah kemudian menaruh tas itu di atas meja, lalu dia duduk di atas kasur dan melihat layar di ponselnya.
Rendi kembali mendekati Indah dan mengambil ponselnya, lalu duduk di sampingnya, "Apa kita bisa ngobrol?" tanyanya dan menaruh ponsel itu di atas kasur. Rendi duduk agak mendekat dan perlahan mengenggam tangannya, "Indah maafkan aku." Ucapnya memohon, ini kali pertamanya keluar kata maaf dari mulut Rendi untuk Indah.
"Maaf untuk apa?" tanya Indah yang sedikit binggung, dan menatap wajah Rendi.
"Buat semuanya," Rendi mengangkat lengannya, dan jari jemarinya perlahan membelai rambut Indah dari helai perhelai nya, "Indah... Aku tau, aku bukan suami yang baik. Dan mungkin jauh di bilang suami idaman mu, tapi terlepas dari semua yang sudah aku lakukan ke kamu, aku hanya bisa meminta maaf." Indah tak menjawabnya namun mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Apa maksudnya? Kenapa Mas Rendi lembut sekali malam ini?
Pikir Indah dalam hati.
"Mas... Kamu masih merasa tertekan oleh mamah Santi kan? Mangkanya kamu bilang seperti itu,"
Rendi menggelengkan kepalanya, "Bukan Ndah... Bukan seperti itu, aku beneran ingin memperbaiki hubungan kita." Ucapannya setulus hati. "Aku tahu kamu pasti tidak mempercayai mulut sampahku ini, yang sering kali berbohong. Tapi aku minta kamu kasih aku kesempatan."
Apa dia berkata tulus padaku?
Rendi berdiri dan berjalan, lalu membuka lemari untuk mengambil dokumen berisi perjanjian pernikahan mereka, lalu merobeknya menjadi beberapa bagian di depan mata kepala Indah.
"Kenapa di robek?" tanya Indah yang masih terlihat binggung.
"Aku sudah tidak membutuhkannya," sahutnya kemudian menghamburkannya di lantai. "Aku hanya butuh kamu di sampingku." Rendi mengulurkan kedua tangannya, "Berjanjilah padaku untuk selalu di sampingku Ndah."
Aku binggung harus percaya atau tidak, tapi bukankah tidak ada salahnya memberikan kesempatan.
Indah membalas uluran tangan Rendi dan mengangkat tubuhnya untuk berdiri berhadapan. "Tapi Mas, apa nanti kamu akan seling....." Bibir Indah seketika di tutup oleh tangan kiri Rendi.
"Jangan bilang seperti itu, aku akan buktikan kalau aku bisa jadi orang yang setia. Aku akan berusaha Ndah," Indah mengangguk dan tersenyum, kedua tangan Rendi kini menyentuh kedua pipi Indah.
Sangat lembut.
Blush,
Kedua pipinya kini merah merona. Wajah Rendi perlahan-lahan mendekat ke wajahnya.
Apa kali ini kita akan berciuman?
Gumam Indah, jantungnya kali ini berdebar sangat kencang dan bibirnya seakan bergetar.
Tapi niat Rendi ingin berciuman tidak jadi, karena dia melihat bibir Indah sangat bergetar. Dia berfikir kalau Indah belum siap, kini dia melepaskan tangannya dari pipi Indah dan membuka kedua lengan, kemudian memeluknya.
__ADS_1
...🌺Kasih Rate 5 dan Vote🌺...
...💜Jangan Lupa Like💜...