Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 8. Separuh nafasku


__ADS_3

"Kalian duduklah." Ucap Rizky pada kedua wanita itu yang memegang map coklat.


Kedua wanita itu mengangguk dan duduk di kursi tepat di depan Rey. "Rey ini calon sekretaris baru lu, ini Irene. Dia sudah berpengalaman jadi sekretaris."


"Dan yang ini Maya, dia baru ingin mencoba jadi sekretaris." Ucap Rizky mengenalkan satu persatu, karena meskipun wajahnya berbeda. Dia tetaplah Rendi yang dulu, yang suka memilih. Apa lagi masalah kerjaan.


Reymond menatap sebal pada Irene. Entahlah bagi Rey, Irene hanya wanita menyebalkan. Apa lagi dia dulu pernah menertawakan istrinya.


Tapi ngomong-ngomong masalah tidak suka terhadap Irene, justru Rey binggung. Kenapa Irene ingin melamar jadi sekretarisnya, ada apa dengan perusahaan Andra sebenarnya. Dia juga belum tahu kabar tentang Andra apa dia masih hidup atau sudah tiada.


"Irene...." Panggilnya.


"Iya Pak." Dia langsung menyahut dengan semangat.


"Kau sekretarisnya Pak Andra kan? Kenapa kau ingin melamar ke kantor ku?" tanya Rey penasaran. Padahal kan bukan kantornya, tapi kantor Rizky. Tapi terserah dia saja kalau mau mengaku-ngaku.


"Saya masih bekerja di sana Pak, saya mohon Bapak terima saya. Biar saya berhenti di perusahaan Pak Andra." Tuturnya sambil memandang. Dalam pertemuan pertamanya dengan Reymond, dia terkesima dengan wajah tampannya.


Oh jadi dia pikir kantorku hanya batu loncatan.


Batin Rey.


"Aku tidak mau terima kamu. Aku akan memperkerjakan Maya menjadi sekretarisku." Ucapnya menolak dengan mentah-mentah.


Jleb......


"Rey, lu bisa lihat dulu lamarannya," ucap Rizky yang mengisyaratkan Rey untuk memeriksa map coklat dari kedua wanita itu.


"Tidak perlu." Sahutnya dengan santai. "Eemmmm, Maya...." Maya yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya, dia merasa sangat gugup karena ini kali pertamanya dia melamar kerja.


"Iya Pak."


"Kau kenal Indah? Kau temannya kan?" tanya Rey tiba-tiba. Ini sungguh bukan membahas masalah pekerjaan, tapi hati.


"Iya kenal Pak, dia teman kuliah saya. Bapak mengenal dia juga?" tanyanya, Rey di buat binggung untuk menjawab.


"Irene kau pulang sekarang. Kau tidak aku terima." Usir Rey pada Irene yang sejak tadi diam mematung.


"Bapak bahkan belum lihat riwayat kerja saya Pak? Bagaimana bisa Bapak memilih gadis ini." Tunjuk nya pada Maya yang berada di sebelahnya.


Ternyata Irene masih menjadi wanita yang dulu, wanita yang songgong dan besar kepala. "Banyak bicara kamu! Pergi atau ku panggil satpam!" Ancam Rey, wajahnya sudah sangat muak.

__ADS_1


Irene bangun dengan wajah keki sambil meremas map coklat yang ia ambil dari meja, dia melangkah keluar ruangan.


Tak lama asisten Rizky masuk dan mengantar Maya untuk keruangan nya dan mengajarinya cara kerja.


"Riz. Gimana si Jalang sudah ada kabar belum? Gue udah nggak sabar buat bales dia." Rey mengepal kedua tangannya.


Rizky langsung duduk di kursi. "Kata orang suruhan gue sih dia sekarang ada di Singapura, dia juga udah batalin kontrak kerja selama 3 tahun di Indonesia." Tutur Rizky.


"Ngapain dia ke Singapura. Ngelont*?" tanya Rey dengan nyeleneh.


"Hahahaha.... Bisa aja lu." Rizky terkekeh. "Nggak Rey, dari informasi yang gue dapet sih, dia ke sana mau berobat."


"Jauh-jauh amat sampai ke Singapura. Memang di Indonesia nggak ada obat, dasar Jalang sialan!" Umpat Rey yang sungguh punya dendam kusumat.


"Mungkin dia sakit yang serius Rey, mudah-mudahan sih dia cepat balik ke Indonesia. Biar semua urusan lu kelar."


"Amin......" Sahut Rey.


Rizky mengangkat bokongnya, "Ya sudah, gue pergi ke kantor Herma Skincare dulu ya Rey, gue ada janji sama Papah lu." Pamit Rizky seraya melihat jam di pergelangan tangannya dan berjalan keluar.


"Riz!! Gue ikut....." Susul Rey yang langsung berlari membuntut di belakang temannya.


Di kantor Rendi, yang sekarang di pegang oleh Rio. Dan kantor baru yang Rendi bangun untuk Rio sekarang di pegang alih oleh Andra, perusahaan Andra sementara di tutup atas ke bangkrutan nya.


Melly sudah menikah dengan Dion, dan mereka sekarang bekerja di bawah Rio. Karena Rio lah penerus perusahaan.


Santi berjalan menuju ruangan anaknya itu, untuk mengecek cara kerja Rio.


Tok.... Tok.... Tok.


Tidak menunggu waktu yang lama, Rio membukakan pintu.


Ceklek....


"Mamah ke sini." Ucap Rio yang melihat kedatangan ibunya, "Masuk Mah...." Santi mengangguk dan langsung duduk di sofa.


"Mamah mau minum apa? Rio akan panggil OB."


"Tidak perlu Mamah hanya mau main saja di kantor Rendi, Mamah rindu padanya," seketika wajahnya menjadi sendu. Rio duduk di sofa, di sampingnya seraya merangkul pundak ibunya.


"Mamah yang sabar ya, ikhlaskan Kak Rendi. Kak Rendi dan Ayah sudah tenang." Tutur Rio menguatkan, rupanya dia sudah yakin Rendi sudah tiada.

__ADS_1


Santi langsung memeluk erat tubuh Rio. Kini dia merasa kalau hanya Rio lah satu-satunya peninggalan suaminya, walau dia sering kesal dengan tingkah Rendi. Tapi namanya orang tua, apa lagi Rendi anak pertamanya, begitu banyak kenangan yang ia tinggalkan.


Sampai sekarang juga dia masih belum percaya Rendi tiada, dan sampai sekarang pula dia masih menyuruh orang untuk mencari keberadaan Rendi. Walau sudah 3 tahun lamanya Rendi menghilang dari muka bumi.


...🍁POV Reymond (Rendi)🍁...


Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kakiku di kantor Papah, tiga tahun berlalu rasanya semua seperti masih sama. Aku sangat bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk hidup kembali.


Tentunya kesempatan itu tidak boleh aku sia-siakan. Aku hidup kembali untuk Indah dan Bayu. Untuk membalas dendam tentunya, aku masih penasaran siapa orang yang berkomplot dengan si Jalang itu? Aku sendiri merasa tidak punya musuh. Tapi kenapa dia tega ingin membunuhku dan memisahkan ku dengan Indah? Aku harus tahu siapa dalangnya.


Aku berjalan masuk ke dalam kantor Papah, semua orang memandangi ku. Apa lagi para karyawati, dia seperti terpesona oleh ketampanan ku. Tapi tidak ada yang menyapaku, hanya menyapa Rizky, mungkin karena aku orang asing yang baru mereka lihat.


Wajahku ini memang sudah merubah duniaku, tapi tidak dengan hatiku.


Mataku berbinar-binar secara tiba-tiba, karena melihat wanitaku ada di sini, tidak sia-sia aku ikut dengan Rizky. Padahal aku hanya berniat untuk ketemu Papah, dengan alasan rindu. Nggak tahunya aku bertemu separuh nafasku.


Indah tengah duduk dan berbicara dengan seorang laki-laki, tapi dia seperti tak asing di mataku. Aku pernah bertemu dengannya tapi di mana? Aku menghentikan langkah kakiku di depan dia, tapi dia belum menyadari ku.


"Hai cantik...." Sapa ku dengan ramah.


Indah langsung menoleh kearah ku, matanya membulat. Entah kaget atau apa. "Kamu....." Dia berdiri di depanku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak ❤️^^^

__ADS_1


__ADS_2