
"Kemungkinan iya dan kemungkinan tidak, Pak."
"Itu tidak jelas, Jo. Aku ingin yang pasti."
"Ya sudah, iya saja. Supaya Bapak senang."
"Nah, begitu 'kan enak. Aku jadi bisa berkhayal dulu." Mawan langsung memejamkan matanya secara perlahan.
"Bapak sarapan dulu, jangan tidur lagi. Dari kemarin Bapak tidak makan apa-apa lho," titah Jojo seraya menepuk-nepuk lengan Mawan.
Mawan menepis kasar tangan Jojo dengan mata yang masih terpejam.
"Aku sarapannya tunggu Santi datang saja."
"Kalau Bu Santi tidak datang bagaimana?"
Mawan membuka matanya dengan lebar. "Katanya tadi kau menebak Santi akan datang, bagaimana, sih?" Mawan mendengus kesal.
"Saya hanya menebak, itu belum tentu terjadi 'kan, Pak? Sebaiknya ... Bapak sarapan dulu saja. Nanti Bapak menjalani terapi dan setelah sembuh, Bapak bisa mengejar Bu Santi lagi," ucap Jojo setengah merayu.
"Kau tidak memberiku tips supaya bisa meluluhkan hati wanita, aku jadi susah mendapatkannya lagi," keluh Mawan kesal.
"Saya 'kan jomblo, Pak. Lagian ... pengalaman Bapak jauh lebih banyak dari saya tentang wanita. Harusnya ... Bapak lebih tau."
"Kemarin itu, aku ingin mengajaknya bercinta. Tapi anaknya keburu datang. Kau juga ... kemana saja? Harusnya kau cegah Rio mendobrak pintu." Mawan meluapkan semua kekesalannya pada Jojo, padahal Jojo sendiri tidak tau apa-apa.
"Bapak tidak bilang mau mengajak Bu Santi bercinta pada saya. Bapak hanya bilang ingin bertemu si Kembar. Kalau saja saya tau rencana Bapak ... saya pasti membantu."
"Iya juga sih, mungkin memang itu salahku."
"Iya, ya sudah ... Bapak sekarang sarapan dulu." Jojo langsung menyendokkan satu sendok bubur menuju bibir Mawan. Baru saja mulut Mawan menganga, namun belum sempat bubur itu masuk ke mulut, tiba-tiba terdengar bunyi seseorang yang membuka pintu.
Ceklek~
__ADS_1
Dua wanita cantik masuk ke kamarnya dan salah satu mereka mengendong anak laki-laki. Mereka adalah Santi, Indah dan Bayu.
Mawan terperangah dengan mata yang membulat sempurna, tebakan mengasal Jojo ternyata benar. Entah ungkapan apa yang bisa ia gambarkan saat ini, sebab sangat bahagia dan senang saat melihat sang pujaan hatinya datang. Segera Mawan menepuk-nepuk lengan Jojo. "Santi, Jo! Dia ... dia datang!"
Padahal, tidak perlu diberitahu juga Jojo sudah melihatnya. Namun kurang enak rasanya jika Mawan tidak mengungkapkan rasa senangnya itu.
Mawan menepuk lengan Jojo begitu kasar sampai Jojo menjatuhkan mangkuk berisi bubur itu tepat pada perut Mawan yang masih berlapis seragam pasien.
"Astaga, maaf ... maafkan saya, Pak," ucap Jojo cemas. Ia segera menarik beberapa tissu di atas nakas untuk membersihkan baju biru Mawan.
Mawan tak peduli dengan apa yang telah terjadi, ia hanya fokus menatap wanita yang kini duduk di sofa, bahkan wanita itu sama sekali tidak menatap ke arahnya. Tidak seperti Bayu dan Indah yang menghampiri Mawan sambil tersenyum.
"Opa! Opa napa?" tanya Bayu.
"Papah ... apa Papah baik-baik saja?" tanya Indah seraya mendudukkan Bayu di tempat tidur, di samping Mawan.
Kehadiran dan pertanyaan dari Indah dan Bayu tidak membuatnya mengalihkan pandangan pada Santi. Ia seperti terkesima dengan pesona Santi.
"Pah." Indah menepuk bahu Mawan, mencoba menyadarkan papahnya yang sedari tadi menganga menatap Santi tanpa berkedip.
"Iya, bagaimana kondisi Papah sekarang?" tanya Indah.
"Kamu 'kan bisa lihat ... Papah begitu tak berdaya sekarang ...," lirihnya. Expresi yang tadinya amat senang langsung ia rubah menjadi sedih, ia sengaja melakukan hal itu demi menarik perhatian Santi. Dan benar saja, wanita itu langsung menoleh padanya. Namun tidak berbicara apa-apa.
"Katanya Papah juga sering mabuk? Kok bisa? Kenapa Papah melakukan hal itu lagi?" berang Indah emosi.
"Itu karena Papah pusing, Papah juga seperti hilang semangat dalam hidup. Apa lagi saat Mamahmu meninggalkan Papah ...," lirihnya sambil menatap mata Santi dengan penuh arti, namun Santi langsung memalingkan wajahnya saat tatapan yang baru beberapa detik itu bertemu.
Jojo telah selesai membersihkan sisa bubur pada baju Mawan. Setelah itu, ia membantu Mawan untuk mengganti baju yang sempat ia ambil ke dalam koper.
Mawan lagi-lagi merintih saat merasakan pinggangnya yang teramat nyeri ketika beringsut sedikit. Walau awalnya susah, akhirnya Jojo berhasil memakaikan kemeja lengan pendek berwarna biru pada tubuh bosnya.
"Saya akan beli sarapan untuk Bapak."
__ADS_1
"Tidak usah!" cegah Mawan saat melihat Jojo hendak memegang handle pintu, asistennya langsung menoleh padanya.
"Ambilkan paper bag itu." Mawan menunjuk paper bag yang berada di atas meja, tepat di depan Santi. "Itu pasti isinya sarapan untukku, Jo. Istriku yang cantik membawakannya untukku." Mawan menebak sebab tadi melihat Santi membawa tentengan itu. Mungkin saja memang benar, dan alasan Santi tidak memberikannya lantaran malu.
Santi diam seribu bahasa, tapi apa yang dikatakan Mawan benar adanya. Segera Jojo mengambil paper bag itu yang ternyata isinya juga bubur ayam.
"Biar aku saja yang menyuapi Papah," ucap Indah seraya mengambil tupperwer dari tangan Jojo, ia langsung duduk di kursi kecil dan membuka tutup tupperware.
"Papah mau disuapi Mamah, Indah," pinta saat Indah menyendokkan bubur itu.
"Kenapa harus Mamah? Aku juga bisa menyuapi Papah." Indah sudah menyodorkan sendok menuju mulut Mawan, namun sang papah menggelengkan kepala.
"Kamu memang bisa, tapi Papah rindu disuapi Mamah, Indah."
"Mamah tidak akan mau, dan Papah juga mulai sekarang harus terbiasa hidup tanpa Mamah. Jangan egois!" Indah lama-lama merasa jengah pada Mawan, sikapnya yang selalu mengeluh tentang Santi membuatnya pusing. Indah memang ingin mereka baikkan, tapi ia tak mau membujuk Santi, berusaha menghargai keputusan Santi.
"Tapi Papah sangat mencintai Mamah, Indah. Papah tidak bisa hidup tanpanya."
Kalimat itu selalu saja terucap dan membuat Indah merasa bosan mendengarnya. Ia meletakkan tupperware itu di atas nakas, kemudian menggendong Bayu dan menghampiri Santi.
"Mamah ... kita pulang saja, deh." Indah sudah menarik lengan Santi yang membuat wanita paruh baya itu berdiri, namun saat Indah mulai melangkah, Santi menghentikannya.
"Apa Mamah bisa bicara berdua dengan Papah?" tanya Santi ragu-ragu.
Deg!
Bicara berdua katanya? Apa Santi akan bilang ingin kembali padaku' batin Mawan.
Hati Mawan seakan meleleh dibuatnya, baru menebak saja rasanya sangat bahagia, apa lagi jika itu menjadi kenyataan.
"Bicara berdua?" Indah mengerutkan kening, menoleh sebentar pada Mawan. Pria paruh baya itu tengah mengangguk-angguk sambil tersenyum kegirangan, mengartikan ekspresi bahagianya saat ini. "Bisa, aku dan Bayu keluar dulu kalau begitu, Mah."
Sebelum Indah dan Bayu keluar dari kamar inapnya, Mawan lebih dulu mendorong tubuh Jojo, seolah memintanya untuk pergi meninggalkan Santi dan dirinya berdua.
__ADS_1
Jojo langsung mengangguk dan berlari keluar dari kamar inap Mawan sambil mendo'akan hal terbaik yang akan dibicarakan antara Santi dan Mawan.
Jangan lupa like 💕