Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 92. Bekas lipstik


__ADS_3

“Apa kau tau, apa yang mereka obrolkan?” tanya Rio.


“Yang saya dengar sih ... mereka membahas mantan istrinya Dido, Pak,” sahut Indra.


“Mantan istri?”


“Iya, namanya Adel kalau tidak salah. Nona Wulan juga bertanya masalah hutang, sepertinya Dido punya hutang pada mantan istrinya, Pak.”


Kalau si Duda itu punya hutang, lalu kenapa Wulan harus bertanya padanya? Memangnya itu penting?


“Selain itu … apa ada lagi yang kau dengar?”


Indra menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, Pak.”


Setelah mendengarkan apa yang Indra katakan, Rio melangkahkan kakinya berjalan masuk kedalam ruangannya. Kemudian, ia menutup pintu itu kembali.


Ceklek~


Namun, ia tidak melihat siapapun disana, bahkan segelas jus jambu itu masih utuh, seperti belum tersentuh oleh tangan Wulan sama sekali.


Kok tidak di minum? Harusnya 'kan di minum, biar ada efek sampingnya.


“Wulan … dimana kau?” Rio berjalan maju kearah kamar mandi, suara gemericik air juga terdengar lirih dari luar. Tangannya mengepal dan ia angkat untuk mengetuk pintu.


Tok … tok … tok.


“Wulan, apa kau ada didalam?” tanya Rio sedikit meninggikan nada suaranya, supaya wanita didalam sana mampu mendengarnya. “Wulan, apa kau dengar aku?”


“Iya Mas. Tunggu sebentar ... aku belum selesai mandi.” Wulan cepat-cepat mematikan kran shower dan meraih handuk pada gantungan.


"Mandi? Kau sedang mandi? Cepat! Cepat buka pintunya! Aku ingin ikut mandi!"


Entah kenapa Rio jadi sangat kegirangan, ia kembali mengetuk pintu itu dengan kasar dan berulang kali.


"Sebentar, Mas. Aku lagi pakai handuk, mau pakai baju dulu."


"Tidak usah! Cepat buka pintunya Wulan, kau pakai handuk saja dulu!" Rio seakan tidak sabar untuk masuk kedalam sana, bahkan jasnya sudah berhasil ia lepaskan dan dilempar begitu saja.


Mendengar instruksi dari Rio, Wulan segera membuka pintu kamar mandi dengan lilitan handuk diatas dada.


Ceklek~


Rio melihat tubuh Wulan basah dengan rambut yang juga basah, seketika itupun hasr*tnya naik. Kedua kaki itu berjalan melangkah mendekati wanita yang kini ikut berjalan mundur. Pria itu menelan salivanya dengan kelat.


Padahal aku sudah pesan kamar Hotel, tapi rasanya aku sudah tidak tahan.


Tatapan mata Rio beriringan dengan rasa naf** yang membara. Dengan cepat, ia menghimpit tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel pada tembok. Salah satu tangannya menarik tengkuk Wulan supaya kepalanya bisa berdekatan. Namun, baru saja Rio hendak melahap bibir merah muda itu, mendadak Wulan mendorong dadanya dengan kasar, hingga Rio terhentak mundur kebelakang.


Sontak, perlakuan itu membuat Rio membulatkan kedua matanya. "Wulan, kau kenapa? Kau menolakku? Aku baru saja ingin menciummu." Rio melangkahkan kakinya lagi, mendekati wanita yang kini menatapnya dengan tatapan sengit.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" tanyanya lagi.


Wulan memalingkan wajahnya. "Itu bekas lipstik siapa, Mas?"


Deg~


"Bekas lipstik? Dimana?" Netra Rio langsung berkeliling pada ruang kamar mandi, tepatnya ia menyusuri dinding keramik kamar mandinya itu, mencari bekas lipstik yang Wulan maksud tadi.


'Apa dia selingkuh?' batin Wulan.


"Mana bekas lipstik? Tidak ada bekas lipstik disini." Kepala dan tubuh Rio bahkan sudah menempel pada dinding. Ia bergeser kesana kemari, meneliti setiap inci dinding.


Melihat tingkah absurd Rio, membuat Wulan geleng-geleng kepala.


Kok dia jadi kayak cicak begitu? Ngapain sih dia?


"Kenapa Mas cari di dinding? Bekas lipstik itu ada di kemeja yang Mas Rio kenakan!" seru Wulan.


Mata Rio membelalak, ia segera menarik tubuhnya dari dinding itu dan menundukkan kepalanya.


Benar saja apa yang dikatakan Wulan, ada bekas lipstik berwarna merah tepat pada dada kemejanya.


Rio mengedikkan kepala sambil tersenyum menatap Wulan, tapi wajah wanita itu makin cemberut.


"Kenapa kau marah hanya karena ini? Ini pasti bekas lipstikmu, Wulan. Memangnya kau lupa, kalau tadi pagi kita habis berpelukan?"


Lagian lipstik dari Mamah Santi tidak akan menempel, aku tau itu.


Rio menundukkan kembali kepalanya, ia memegang kain dengan cetakan bibir itu.


Kalau bukan Wulan lalu siapa? Dan kenapa aku tidak sadar ada bekas lipstik ini?


"Oh, aku tau sekarang, Mas. Jadi Mas Rio menyuruhku ke kantor untuk ini, ya? Untuk memperlihatkan kalau Mas Rio habis--"


Rio mengangkat kepalanya. Cepat-cepat ia membungkam bibir Wulan, supaya tidak meneruskan ucapannya. Ia menghimpit tubuh wanita itu kembali pada sisi tembok.


Wulan memberontak, ia mencoba mendorong dada Rio. Namun kali ini tidak berhasil, Rio menahannya sekuat tenaga.


Selama pria itu memagut bibir istrinya, dan saat itu pula ia mencoba mengingat lipstik siapa yang ada pada kemejanya. Ia tak mau membuat Wulan menjadi salah paham.


'Enak kamu ya, Mas. Sudah berselingkuh, sekarang menciumku!' batin Wulan.


'Pasti lipstik ini gara-gara aku tabrakan dengan wanita tadi, ya ... pasti dia pelaku' batin Rio.


Makin lama, Wulan merasa kehabisan nafas, lantaran Rio menciuminya dengan kuat. Segera Rio melepaskan ci*man itu dan memeluk tubuh istrinya.


"Wulan, jangan pernah berfikir yang tidak-tidak. Aku ini pria yang setia!" tegasnya.


Wulan mengatur nafasnya yang sudah tersengal-sengal, ia ingin melepaskan pelukan itu. Tapi lagi-lagi tenaga Rio mengalahkannya.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Mas!" sedari tadi tubuh Wulan memberontak melakukan perlawanan, tapi tetap saja sia-sia. Yang terjadi justru lilitan handuknya terjatuh di lantai.


"Wulan, kau jangan marah padaku. Sumpah demi apapun, aku tidak pernah berselingkuh. Aku pria yang setia seratus persen!"


"Aku tidak percaya!"


"Tadi siang aku tidak sengaja menabrak seorang wanita, mungkin bibir dia yang menempel pada kemejaku." Rio masih memeluk erat tubuh wanita itu.


'Tubuhnya sudah polos begitu, harusnya aku mendapatkan enak. Tapi Wulan sedang marah sekarang. Ah, kacau deh!' batin Rio.


'Pasti dia berbohong, mana ada pria berselingkuh mau mengaku' batin Wulan.


"Apa dia cantik, Mas?"


"Dia siapa?"


"Wanita yang Mas tabrak."


"Kau ini bicara apa? Aku melihat wajahnya saja tidak."


Dia pasti berbohong, aku tau itu!


"Aku sekarang tidak suka dengan wanita cantik, Wulan."


Apa maksudnya? Dia ini sedang mengigau, ya!


"Aku sekarang suka dengan wanita yang manis. Ya ... seperti kau, Wulan," tambahnya dengan malu-malu.


Kedua pipi wanita itu langsung merah padam.


Kok makin ngelantur sih dia? Tapi tunggu dulu ... tadi, dia bilang aku manis? Apa dia sudah sadar kalau aku ada manis-manisnya sedikit? Apa barusan dia sedang memujiku?


Ah tidak-tidak, pasti dia hanya asal bicara. Iya, mana pernah dia memujiku. Aku 'kan selalu terlihat jelek di matanya. Jangan terlalu berharap Wulan, sekarang saja dia ketahuan selingkuh.


Tega kamu, Mas.


"Mas lepasin aku, aku mau pakai baju. Aku kedinginan."


"Dingin? Bukankah aku memelukmu, memangnya tidak terasa?"


"Tidak, mangkanya lepaskan saja. Dadaku juga terasa sesak!"


Rio langsung melepaskan tubuh Wulan dan membiarkan wanita itu memungut kembali handuknya. Kemudian, Wulan melilitkannya kembali.


"Sesak karena cemburu atau dadamu yang tertempel pada dadaku?" tanya Rio dengan senyuman nakal. Ia juga mengedipkan salah satu matanya, seolah menggoda wanita yang masih terselut emosi.


"Wulan, kau percaya padaku, kan? Aku tidak selingkuh padamu. Sungguh ... yang aku katakan adalah jujur," ucap Rio memasang wajah memelas dan penuh keyakinan.


^^^Kata: 1104^^^

__ADS_1


__ADS_2