
Sampainya Wulan dan Clara, mereka langsung turun dan masuk kedalam rumah sakit. Dido juga ikut membuntut dibelakang mereka.
Wulan mengajak Clara masuk kedalam ruangan Dokter, ia Dokter sejak dulu yang mengobati adiknya.
"Selamat siang, Dok," sapa Wulan.
Dokter berkacamata itu tengah duduk sambil menulis pada buku agenda, ia menoleh kearah Wulan.
"Siang." Awalnya ia tidak sadar kalau dia adalah Wulan, namun setelah melihat Clara baru dia sadar.
"Oh Wulan, saya kira siapa." Dokter itu mengangkat bokongnya. "Clara langsung saja, berbaring," pinta Dokter.
"Baik, Dok." Wulan segera mengangkat tubuh Clara, membantunya untuk berbaring.
Sedangkan Dokter keluar untuk memanggil Suster supaya ikut membantunya.
Wulan mengelus rambut gadis cantik itu secara perlahan.
"Habis dari sini kamu mau beli apa? Nanti Kakak belikan."
"Aku mau boneka, Kak."
"Iya, nanti Kakak belikan."
"Belinya sekarang, habis aku disuntik. Bonekanya harus sudah ada," pinta Clara.
"Oh, yasudah Kakak beli sekarang, kamu mau boneka apa?"
"Barbie, tapi yang banyak gaunnya, ya?"
"Iya, sayang."
Gadis cantik itu menarik senyum, memperhatikan Wulan berjalan keluar dari ruangan itu sambil melambaikan tangan padanya.
Dido sedari tadi duduk menunggu didepan ruangan itu. Namun melihat Wulan keluar, ia langsung bangun.
"Apa sudah selesai?"
Wulan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, kakinya melangkah meninggalkan Dido. Tapi pria berkumis tipis itu justru mengejarnya.
"Wulan ... kamu mau kemana?"
Tak ingin menjawabnya lagi, kaki itu ia percepat supaya bisa keluar dari rumah sakit. Tangan Dido perlahan memegangi lengan Wulan, hingga membuat langkahnya terhenti.
"Tunggu dulu, kamu mau pergi kemana? Kenapa Clara ditinggal?"
Wulan menepis tangan Dido dari lengannya. "Aku ingin membeli boneka, Clara memintanya."
"Aku antar."
"Tidak usah, aku mau cari taksi saja," tolak Wulan seraya berjalan disisi jalan raya.
Pria itu berlari menuju parkiran untuk masuk kedalam mobilnya, ia menghampiri Wulan lagi dan menurunkan kaca mobil.
__ADS_1
"Ayok aku antar, aku tau toko boneka dekat sini," ajak Dido.
Wanita itu terdiam, sebenarnya dia tidak mau menerima tawaran dari Dido. Tapi lagi-lagi suara Rio seolah terngiang-ngiang pada rongga telinga, memintanya menurut untuk diantar oleh pria itu.
Pintu depan mobil sudah Dido buka, berharap wanita dimasa lalunya ingin duduk bersebelahan dengannya.
"Duduk didepan saja, tidak usah dibelakang," pinta Dido.
Wulan mengangguk dan kini mereka duduk bersebelahan, Dido melajukan mobilnya.
Dido kembali melirikkan matanya pada Wulan, namun wanita itu memalingkan wajahnya menatap pada jendela mobil.
"Wulan ... maafkan aku, maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu," ucap Dido tiba-tiba, menepis keheningan diantara mereka.
Deg.....
"Apa maksud Bapak? Saya tidak mengenal Bapak, kenapa Bapak minta maaf?"
"Wulan ... berhenti berpura-pura, aku ini Dido mantan pacarmu. Apa kau sudah melupakanku?"
Deg......
Mata Wulan terbelalak.
Sekarang dia baru bicara terang-terangan, sejak dari kemaren dia seperti berakting menjadi orang lain.
Batin Wulan.
"Saya tidak punya mantan pacar. Maaf ... mungkin Bapak salah orang." Wajah Wulan masih mengarah pada kaca mobil, rasanya tak ingin melihat wajah pria disebelahnya.
"Wulan ... berhenti bersikap seperti ini padaku, aku ingin minta maaf padamu."
Wulan menoleh kearah wajah lawannya didepan.
"Minta maaf?! Untuk apa?" tatapan matanya sangat sinis.
"Untuk semuanya, aku sudah tega meninggalkanmu ... maafkan aku Wulan, aku benar-benar bodoh saat itu."
Lebih baik aku memaafkannya, lagian kita berdua cuma masa lalu. Kak Dido bekerja pada Mas Rio, aku tak ingin hubungan kita menjadi masalah dalam rumah tanggaku nanti.
Batin Wulan.
Ia menarik senyum. "Aku sudah memaafkannya, Kakak tidak perlu difikirkan," jawab Wulan mencoba bersikap santai.
"Benarkah?"
Wulan mengangguk pelan, kedua tangannya ingin ia lepaskan, tapi begitu susah.
"Tapi mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya, aku sudah menikah dan Kakak juga sudah menikah. Kita sudah punya kehidupan masing-masing," tutur Wulan.
"Aku sudah bercerai dengan istriku, Wulan," sahut Dido.
Deg......
__ADS_1
Mata Wulan terbelalak kaget. "Cerai? Kenapa? Bukannya wanita cantik itu orang yang Kakak cintai?"
"Iya, tapi dia menghianatiku. Dia selingkuh di belakangku."
Deg......
Wulan langsung tertawa. "Hahahaha ... masa, sih? Apa Kakak berbohong?" suaranya terdengar seperti meledek.
"Tidak, ini serius."
"Berarti Kakak sudah terkena hukum karma dariku, dulu Kakak meninggalkanku dan menikahi dia. Tapi ... aku heran, kenapa Kakak tiba-tiba menikah dengan dia begitu saja. Apa selama kita pacaran Kakak memang sudah berselingkuh?"
Deg....
Dido hanya terdiam, ia tak mampu menjawab pertanyaan dari Wulan.
Wulan segera melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Dido.
"Kalau Kakak diam begini aku anggap jawabannya adalah iya. Tapi ... sudahlah tidak penting. Kita langsung saja ke toko boneka, aku tidak mau Clara menungguku lama."
"Aku tidak berselingkuh Wulan, aku hanya ...."
"Kakak sudah. Berhenti membahas hal itu, aku tidak peduli Kakak berselingkuh atau tidak. Intinya itu sudah menjadi masa lalu."
Dido menyetir mobilnya kembali. "Apa aku boleh bertanya sesuatu hal padamu?"
"Bicara saja."
"Apa kamu masih mencintaiku? Apa di hatimu masih ada aku?"
Deg.....
Wulan tersenyum dan geleng-geleng kepala. "Kakak ini bicara apa? Tentu saja tidak, masa tiga tahun aku tidak bisa melupakan Kakak. Konyol sekali!"
"Kamu pasti bohong. Aku tau dari temanmu yang kerja di Restoran, katanya kamu berhenti gara-gara ingin fokus melupakanku. Itu tandanya kamu memang benar-benar mencintaiku, kan?"
Wulan menghela nafas dengan gusar, tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Ia mengingat rasa sakit dimasa lalunya lagi.
Buliran air mata itu lolos membasahi pipi, namun dengan cepat ia menghapusnya.
"Kalau memang dulu aku tidak mencintai Kakak, aku tidak akan mau berpacaran denganmu, Kak. Aku benar-benar bodoh! Bisa-bisanya aku dulu menangisi orang jahat seperti Kakak," lirihnya pelan.
"Maafkan aku Wulan."
Pandangan mata Wulan kini menjadi kosong. "Tapi ... aku juga sadar diri kok, Kak. Kakak saja dulu meninggalkanku dengan alasan ingin menikah dengan wanita yang cantik. Aku sadar aku ini memang jelek." Air matanya lagi-lagi membasahi pipi.
Bukan hanya Kakak, suamiku saja menginginkan wanita yang cantik. Iya aku tau, walau kadang banyak orang yang mengatakan fisik itu tidak penting dan yang terpenting adalah hati. Tapi semuanya bohong! Aku bahkan masih mengingat ucapan Mas Rio saat pertama kali kita bertemu.
"Laki-laki itu carinya yang sempurna. Sudah cantik, baik hati. Paket komplit, deh."
Aku jadi makin yakin, kalau aku benar-benar tidak pantas untuknya.
Batin Wulan.
__ADS_1
"Tidak Wulan. Aku saat itu hanya berbohong, itu semua hanya alasan untuk kita putus, kamu tidak jelek, kamu cantik," jelas Dido.
^^^Kata: 1015^^^