Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
110. Berpelukan


__ADS_3

"Papah sebentar lagi jadi Opa, duh nggak sabar. Selamat sayang, Papah sayang sekali sama kamu Ndah." Papah lagi-lagi mencium kening Indah, dan mereka bertiga saling berpelukan sudah seperti Teletubbies.


Lho aku di sini di anggurin? Bahkan mereka tidak mengucapkan kata selamat padaku, ya Tuhan.... Aku mengepak jidatku sendiri.


Indah hamil kan gara-gara benihku, kalau bukan karena goyangan ku. Dia nggak bakal bisa hamil. Mah, Pah kalian kejam!


"Selamat ya Kak." Ucap Rio tiba-tiba, menepis rasa keki di hatiku, rasanya aku sangat bahagia mendengarnya, "Semoga lu sama Indah selalu bahagia." Rio tersenyum tipis seraya berdiri.


"Iya Rio, terima kasih." Rio mengangguk, dan berjalan menuju kamarnya.


Apa dia sudah beneran merelakan Indah untukku? Kalau iya, aku juga sangat berterima kasih padamu Rio.


Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku berjalan agak menjauh untuk mengangkat telepon. Dan ternyata dari Anton.


"Halo selamat sore Pak Rendi."


"Apa?"


"Pak. Apa Bapak bisa datang ke rumah sakit untuk menjenguk Pak Andra? Beliau tidak sadarkan diri."


Mataku langsung membulat. "Tidak sadarkan diri bagaimana? Memang Om Andra kenapa?"


"Dia habis di cekik Pak Mawan."


"Apa? Kau jangan bicara omong kosong Ton. Itu tidak mungkin." Aku tidak percaya Papah melakukan hal seperti itu, aku tahu watak Papah tempramental, tapi tetap saja. Papah tidak mungkin mencekik orang yang tidak bersalah.


"Saya berkata jujur Pak, Bapak bisa tanya langsung kepada Pak Mawan. Saya harap Bapak bisa datang ke rumah sakit."


"Oke." Aku menutup telepon, meskipun aku masih sangat kesal pada Om Andra. Tapi kalau kondisinya seperti ini, rasanya aku tak tega.


Aku berjalan menghampiri Papah yang tengah asyik mengelus rambut Indah. "Pah aku mau bicara sama Papah." Tiba-tiba tanganku di pegang oleh Mamah yang berada di sampingku.


"Ikut Mamah, kita bicara." Mamah menarik tanganku tanpa aba-aba sampai masuk ke dalam kamarku dulu. Kamar waktu aku masih bujangan.


Aku duduk di atas kasur di samping Mamah. "Ren... Mulai sekarang kau jangan pernah membantu Andra." Ucap Mamah tiba-tiba, membuatku makin penasaran.


"Lho kenapa Mah? Tadi Rendi di telepon sama Anton, dia bilang Om Andra masuk rumah sakit gara-gara di cekik sama Papah. Apa itu benar Mah?"


Mamah mengangguk. "Kenapa Papah mencekik Om Andra?" tanya ku.


Mamah menghela nafas, "Dia merendahkan Indah di depan ayah kandungnya, apa kau pikir Papah bisa terima itu!" Mamah mendengkus kesal.


"Boro-boro Papah yang punya ikatan darah. Kalaupun Andra yang berkata itu di depan Mamah, Mamah juga akan melakukan hal yang sama!" Pekiknya.

__ADS_1


Jleb....


Aku kira dengan menarik semua dana di perusahaan, itu akan membuat Om Andra sadar. Tapi kenapa sebaliknya, dia malah makin parah. Kenapa segitu tak sukanya Om Andra sama Indah, apa salahnya?


"Om Andra benar-benar sudah tidak waras Mah. Ya sudah, Rendi akan temui dia di rumah sakit."


"Tidak perlu. Lebih baik kau tidak usah bertemu dengan keparat itu lagi!"


"Rendi ingin buat perhitungan padanya!" Aku berjalan keluar dari kamar itu, lagi-lagi dadaku terasa sesak.


Mamah menghentikan langkah kakiku. "Tidak usah. Kau jangan temui dia lagi, kau sekarang pulang dengan Indah. Wanita hamil harus banyak istirahat, nanti Mamah kirimkan susu terbagus untuk ibu hamil."


Aku mengangguk dan berjalan menghampiri Indah yang tengah bercanda dengan Papah, sekarang mereka menjadi dekat lagi. Bagus deh.


"Sayang, kita pulang yuk, sudah sore." Ajak ku.


"Iya Mas...." Indah bangun dan mencium punggung tangan Mamah dan Papah.


"Rendi kau jaga Indah ya!" Papah berkata seperti mengancam ku, padahal aku sudah bertekad ingin jadi suami siaga.


"Iya Pah, Papah tenang saja. Rendi pamit ya." Aku berjalan keluar dengan mengenggam tangan Indah dan menaiki mobil.


S


K


I


Sampainya di rumah kita langsung di sambut hangat oleh Mamah yang tengah duduk di meja Makan. "Rendi, Indah. Kalian sudah pulang, ayok makan dulu." Kita berdua mengangguk.


Aku menggeser kursi untuk Indah duduk dan Kami makan bersama.


"Ren bagaimana hasilnya? Apa Indah hamil?" tanya Mamah.


Aku kembali menunjukkan tespeck dan foto hasil USG pada Mamah, "Iya Mah, Indah hamil. Mamah akan segera punya cucu." Mamah langsung bangun dan memeluk kita bertiga, tentunya dengan calon anakku. Perlahan tanganku mengelus perut Indah.


"Selamat ya, Rendi.... Indah, sebentar lagi kalian akan jadi orang tua sayang." Air mata Mamah menetes di bahuku. Tapi aku tahu, itu air mata kebahagiaan. Aku juga sangat bahagia Mah.


Kita melepaskan pelukan, Mamah memegang tanganku. "Ren tolong jagain Indah ya, jangan pernah buat hatinya terluka. Karena yang Mamah punya hanya dia."


Aku mengangguk. "Iya Mah, Rendi sangat mencintai Indah.... Rendi tidak akan menyakitinya," Aku langsung mencium kening Indah.


"Permisi Pak, ada kurir yang mengantar paket dari Bu Santi...." Ucap Hasan yang datang menghampiri kita di meja makan sambil membawa kardus di tangannya.

__ADS_1


"Taruh saja di kamarku." Hasan mengangguk dan langsung menaiki anak tangga.


"Itu apa Mas?"


"Susu ibu hamil buat kamu sayang. Nanti kau minum ya." Indah mengangguk.


Malam hari, ketika semuanya sudah tertidur lelap. Aku bahkan tidak bisa tidur, aku menyenderkan punggungku di tepi ranjang, Anton terus saja meneleponku berulang kali. Sampai akhirnya ponselku aku silent, karena takut Indah merasa terganggu dari tidurnya.


Jujur dalam lubuk hatiku. Meski aku sangat kesal pada sikap Om Andra, tapi aku merasa begitu tak tenang karena mendengar Om Andra tidak sadarkan diri. Kalau sampai dia beneran meninggal bagaimana? Ah tidak-tidak. Aku menggelengkan kepala, itu jangan sampai terjadi


Tiba-tiba ada yang memegang lenganku, "Mas... Kau belum tidur." Indah terbangun dan menyenderkan punggungnya di dadaku.


Aku mencium rambutnya sambil ku elus, "Aku tidak bisa tidur sayang, kamu kenapa bangun. Apa lapar?"


Dia menggelengkan kepala, "Tidak Mas, perutku kayaknya pengen di elus-elus sama kamu." Ucapnya seraya duduk di pangkuanku.


Mata ku membulat, dia membuat juniorku bangun saja. Semenjak hamil dia bertingkah sangat aneh dan manja, tapi aku malah suka. Jarang-jarang kan dia kayak gini.


Tanganku perlahan masuk kedalam piyama tidurnya, dan mengelus lembut perutnya, "Mas sepertinya kau ada masalah? Ada apa?"


Wajahku ini memang tidak bisa berbohong, meskipun mulutku bisa.


"Sebenarnya aku mikirin Om Andra di rumah sakit sayang."


"Rumah sakit? Memang Om Andra sakit apa Mas?"


Tidak mungkin jugakan aku beritahu, kalau dia di cekik Papah gara-gara menghinanya. Bagaimana perasaannya nanti? Aku tak sanggup membayangkan.


.


.


.


.


.


.


.


^^^Bersambung.....^^^

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak jempol indah kamuuuuuuuuuuu😘


__ADS_2