Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 125. Aku sangat mencintaimu


__ADS_3

"Rio, Wulan ... kalian sudah pulang?" tanya Wahyu saat melihat anak dan menantunya turun dari mobil. Ia menghentikan aktivitasnya yang tengah mengelap kaca gerobak.


Wajah Wulan begitu sumringah, tapi wajah Rio begitu masam dan cemberut.


"Iya, Ayah," jawab Wulan seraya mencium punggung tangannya. Rio juga melakukan hal yang sama.


"Aku mau masuk duluan Ayah," pamit Rio seraya berjalan masuk kedalam rumah.


"Iya."


Wulan menatap kepergian Rio dengan wajah sendu, Wahyu tau akan hal itu. Ia mengelus bahu anaknya dan mengajaknya duduk di teras rumah.


"Rio kenapa? Kok seperti marah. Kamu berantem dengannya?"


Wulan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jangan bohong pada Ayah, tidak baik marah lama-lama. Kamu juga sedang hamil, ada apa? Apa kamu tidak menuruti ucapan Rio, mangkanya dia marah padamu?" Wahyu menatap mata Wulan dengan tatapan menyelidik.


"Tidak Ayah, semua ini gara-gara Kak Ivan." Wulan memeras telapak tangannya sendiri.


"Ivan? Ivan siapa?" tanya Wahyu seraya mengerutkan kening.


"Kak Ivan teman kerjaku di Restoran, apa Ayah lupa?"


Wahyu terdiam sejenak, lalu ia menganggukkan kepalanya. "Iya, Ayah ingat. Kenapa dengan dia?"


"Dia tadi pagi menyatakan cinta padaku, dan tadi dia malah menemui Mas Rio di kantor."


Wahyu terbelalak. "Apa? Kamu serius?"


"Iya."


"Lalu, kenapa Rio marah? Ivan bicara apa padanya?"


Wulan menceritakan kembali kejadian tadi, tapi bagi Wahyu, rasa-rasanya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Lalu, kenapa Rio harus marah?


"Sepertinya Mas Rio marah karena aku lupa, aku malah memanggil Kak Ivan dengan sebutan Kakak."


"Lho, memangnya kenapa? Ada yang salah dengan panggilan itu?"


"Mas Rio tidak suka aku memanggil pria lain dengan sebutan Kakak, Ayah. Tapi aku lupa," jawabnya murung.

__ADS_1


"Yasudah, minta maaf saja. Itu bukan masalah besar kok."


"Aku sudah minta maaf, tapi Mas Rio masih seperti itu," keluhnya.


"Apa perlu Ayah yang bilang padanya?"


"Jangan-jangan! Nanti Mas Rio tambah marah, Ayah!" Wulan menarik lengan Wahyu saat dirinya hendak masuk kedalam rumah, berupaya untuk mencegahnya.


"Tapi Ayah tidak suka kalau sikapnya seperti itu! Bukannya dia mau berubah katanya? Kok malah seperti ini?" tanya Wahyu dengan wajah kesal.


"Iya, aku juga tidak suka. Tapi dia mungkin sedang kesal saja, biarkan dulu saja, Ayah."


Wahyu menghela nafas dengan gusar. "Yasudah, tapi kalau dia terlalu lama marahnya dan bersikap macam-macam padamu, kamu harus beritahu Ayah, ya?"


"Iya."


"Yasudah, sekarang mandi. Kita makan malam bersama, Ayah masak sop ayam."


"Iya." Wulan bangun dari duduknya dan sama-sama masuk kedalam rumah.


Makan malam pun terasa begitu hening, semua orang hanya berfokus makan, tidak ada yang berbicara bahkan sebelum makan dimulai. Ingin rasanya Wahyu menegur Rio yang sedang makan dengan lahapnya, tapi ia merasa tak enak karena sedari tadi Wulan melihatnya sambil menggelengkan kepala. Meminta Ayahnya supaya membiarkan sikap Rio, biarkan dia yang masih marah.


"Ah, leganya ...," kata Wulan sembari menghela nafas.


Ia balik lagi kedalam kamar, namun tiba-tiba cacing didalam perutnya berbunyi karena lapar. Wajar saja, semalam ia makan hanya beberapa suap. Tidak berselera makan.


Wulan mengelus perutnya dan merasakan dirinya benar-benar lapar. Tapi mulutnya saat ini ingin makan pizza, pizza saat Indra membelinya waktu mereka ingin berbulan madu.


Wulan masih berdiri sambil melihat Rio yang tengah tertidur dengan posisi tengkurap, tidak bisanya juga dia tidur seperti itu. Biasanya Rio sering sekali mendekapnya saat tidur, Wulan jadi semakin sedih.


Krukuk-krukuk.


Aku lapar sekali, aku ingin makan pizza. Tapi Pak Indra beli dimana waktu itu, ya?


Wulan mengambil ponselnya pada nakas. Niatnya ingin menelepon Indra, tapi ia saja tidak punya nomornya. Lalu, bagaimana cara menghubunginya?


Tapi di ponsel Rio pasti ada nomor Indra, harusnya bisa saja Wulan mengambil nomor itu untuk ia catat pada ponselnya. Tidak, tidak. Wulan tidak berani untuk membuka ponsel Rio tanpa persetujuannya.


Berarti tinggal meminta izin saja, tapi masalah disini, Rio tengah tidur dengan pulas. Dan Wulan tentunya tidak berani untuk membangunkannya.


Rasa dilema itu sungguh membebani pikiran dan perutnya yang lapar. Wulan berdiri mematung sambil termangu. Rasa lapar itu tiba-tiba berubah menjadi rasa sakit.

__ADS_1


"Aaww," lirihnya meringis.


Ia mendudukkan bokongnya dengan pelan disisi tempat tidur sambil kembali mengelus perutnya. Buliran air beningnya mengalir disudut mata, rasanya begitu sedih dan sakit hati. Semenjak hamil, Wulan ingin selalu bertemu dengan Rio, tidak mau jauh darinya. Bahkan itu alasan dia juga ikut ke kantor tadi siang. Ia ingin sekali mendapatkan perhatian, ingin merasakan di manja-manja, karena kehamilannya yang pertama saja gagal.


"Mas ... aku laper, pengen pizza. Pengen pizza," lirihnya bermonolog.


"Hiks ... hiks ... hiks." Pada akhirnya air mata itu tidak berhasil ia bendung, ia menangis sambil memojokkan tubuhnya di ujung kasur.


Rintihan tangisnya lama-lama terdengar oleh telinga Rio, pria ia membuka matanya secara paksa dan menoleh ke sisi kiri, tempat dimana Wulan biasa tidur. Tapi tidak ada Wulan disana.


Lantas, ia bangun dan menarik tubuhnya. Mata Rio membulat sempurna kala melihat Wulan sedang menangis sambil memeluk lututnya sendiri.


"Wulan, kau kenapa? Kenapa menangis?" Rio segera memeluk tubuh istrinya dan membuka tangan Wulan yang sedari tadi menutupi wajah manisnya. Wajah Wulan begitu merah dan basah karena air mata. Rio langsung menyeka air mata itu dan mengecup keningnya. "Hei, kenapa? Kenapa menangis?"


"Hiks ... hiks ... hiks." Wulan membalas pelukan Rio dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Apa Mas Rio masih marah padaku?


"Wulan, kenapa kau diam saja? Kau menangis karena apa?" tanya Rio lagi, wajahnya terlihat kebinggungan.


"Aku ... aku ...." Wulan mengantung ucapannya dan kembali menangis. "Hiks .. hiks ... hiks."


"Aku apa? Cepat bilang. Apa perutmu sakit?"


Tiba-tiba Rio merasa pelukan Wulan makin meregang, ia juga hampir menjatuhkan tubuhnya kalau tidak ada lengan Rio pada punggungnya.


Rio tersentak kaget dengan mata yang membola, saat melihat mata Wulan terpejam. "Wulan, kau kenapa? Astaghfirullah!"


Karena rasa panik, Rio langsung mengangkat tubuh Wulan dan keluar dari rumah Wahyu tanpa membangunkan penghuni rumah.


Untung saja, saat Rio berada disisi jalan raya, kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Sopir itu membukakan pintu belakang mobilnya untuk Rio masuk kedalam.


"Kita ke rumah sakit terdekat, cepat dan hati-hati ya, Pak!" perintah Rio sambil memeluk tubuh Wulan dalam pangkuannya.


"Baik, Pak." Sopir taksi langsung melajukan mobilnya sesuai perintah Rio.


Rio makin gelisah tak karuan sekarang, apalagi saat mengetahui Wulan menangis dan sekarang jatuh pingsan. Wulan bahkan belum menyelesaikan ucapannya tadi, membuat Rio makin penasaran. Keringat dinginnya bercucuran membasahi wajah tampannya, jantungnya juga ikut berdebar kencang.


"Kau kenapa sebenarnya? Kau harus baik-baik saja, Wulan. Aku ... aku sangat mencintaimu."


^^^Kata: 1057^^^

__ADS_1


__ADS_2