
Tidak ingin menyerah, untuk beberapa kalinya Rio mencoba menelepon Wulan.
Yang terdengar hanya, "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...."
Suara operator itu seakan mengejek Rio dan makin membuatnya geram. Tangannya sudah terangkat hendak membanting ponsel, namun ia urungkan dan kembali menggenggamnya dengan erat.
"Kalau ponsel ini rusak, bisa-bisa nomor Wulan ikut hilang. Ah menyebalkan! Kau benar-benar menyebalkan, Wulan!" pekiknya.
***
Dion tengah duduk bersama Bu Susah didalam ruangan panti, ia ingin menyampaikan apa yang Reymond suruh padanya.
"Bu, hasil tes DNA itu tidak cocok. Ternyata Shelly bukanlah Adik kandung Mbak Indah," tutur Dion seraya memperlihatkan foto tes DNA pada ponselnya.
"Lalu bagaimana, Pak? Apa mungkin almarhum Bu Siska berbohong?"
"Kata Pak Reymond, Ibu pernah cerita kalau ada satu bayi yang diadopsi. Apa saya boleh tau siapa yang mengadopsinya?"
"Oh itu, maafkan saya Pak. Peraturan disini melarang untuk memberitahu informasi terkait orang tua yang telah mengadopsi. Itu kesepakatan milik kedua belah pihak."
"Tapi mungkin saja bayi itu adalah anak kandung Pak Hermawan. Saya diminta oleh Pak Reymond untuk mencarinya dan melakukan tes DNA kembali. Kalau bayi itu terbukti bukan anaknya Pak Hermawan, Pak Reymond tidak akan mengambilnya dari tangan orang tuanya, Bu."
"Tapi memang peraturan disini sudah seperti itu, Pak. Saya tidak boleh memberitahunya. Itu semua demi kebaikan para calon orang tua dan anak-anak di panti ini," jelas Susan.
Dion termenung, ia mulai memikirkan cara supaya Susan bisa memberikan informasi itu. Karena dia juga tidak mau mengecewakan bosnya.
"Apa Ibu tidak kasihan dengan istrinya Pak Reymond?! Dia sangat berharap dapat bertemu dengan Adiknya. Dia juga sedang hamil, Bu. Tidak baik untuk kondisinya." Menurutnya jalan ninja adalah membawa nama Ibu hamil, supaya bisa meluluhkan hatinya.
"Iya, saya tau. Tapi kita juga harus mengerti perasaan orang tua yang telah mengadopsi bayi itu. Pria itu kehilangan anak dan istrinya saat melahirkan, Pak. Dia juga sudah menganggap bayi itu seperti anak kandungannya sendiri." Susan tetap bersikeras.
Bagaimana ini? Aku harus bicarakan dulu pada Pak Reymond.
Batin Dion.
"Yasudah, kalau begitu saya permisi, Bu. Terima kasih atas waktunya," ucap Dion seraya bangun.
"Sama-sama, Pak. Semoga Pak Reymond dan Mbak Indah dapat mengerti peraturan di panti ini," ucap Susan.
Dion menjawabnya dengan senyuman yang terukir, namun terlihat begitu terpaksa. Kakinya melangkah keluar dari rumah panti dan masuk kedalam mobil. Ia bergegas menelepon Reymond.
"Selamat sore, Pak Reymond."
"Bagaimana Dion?"
"Pak, Bu Susan tidak mau memberikan informasi orang tua yang mengadopsi bayi itu," tutur Dion.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Katanya sudah peraturan di panti."
"Memang kau tidak membujuknya? Ucapkan mengenai Indah, Bu Susan tidak mungkin bisa menolak."
"Sudah, Pak. Malahan Bu Susan bilang, kalau Bapak dan Mbak Indah bisa mengerti atas peraturan panti."
"Lalu menurutmu bagaimana? Apa kita paksa Bu Susan?" tanya Reymond.
"Jangan, Pak. Tidak sopan memaksa wanita. Apalagi Bu Susan adalah pengurus panti. Kita tidak boleh melakukan hal itu."
"Lalu apa?! Padahal aku hanya ingin memastikan dulu. Gara-gara omongan Papah, aku jadi tidak yakin kalau Siska hamil anaknya Dion."
"Memang susah untuk percaya dengan omongan Mbak Siska, Pak. Saya juga mengerti, tapi setidaknya kita sudah berusaha mencari tau, benar atau tidaknya itu urusan nanti," jelas Dion.
"Sekarang bagaimana Dion?! Indah terus merengek dan bertanya padaku tentang Adiknya."
"Saya juga binggung, Pak."
"Aku tidak mau tau ... bagaimanapun caranya, kau harus dapatkan informasi itu dan berikan padaku!" suara Reymond terdengar seperti mengancamnya, hingga membuat Dion menelan saliva kelat. Sambungan telepon itu langsung dimatikan sepihak oleh Reymond.
Dion memijat dahi dan lagi-lagi ia hanya bisa termenung, mencari ide sendirian.
***
Dengan langkah berat, ia berjalan melangkah masuk kedalam rumah. Seluruh tubuhnya membawa rasa lelah dan letih.
Saat sampai pada ruang tamu, mendadak langkah itu terhenti. Pandangan matanya menatap nanar kearah sofa single, itu adalah tempat dimana Wulan duduki saat menyambut kedatangannya. Tapi saat ini yang dia lihat hanya sofa kosong, tidak ada siapa-siapa disana.
Untuk sekejap Rio seperti melihat bayangan Wulan disana, ia melihat kearah wajahnya dengan senyuman manis.
"Mas Rio sudah pulang?"
Deg.....
Terdengar suara Wulan dengan lembut masuk kedalam telinga Rio, ia langsung mengerjapkan kedua matanya dan sosok Wulan itu langsung menghilang.
"Apa Mas Rio ingin mandi?"
Deg......
Kali ini hanya suaranya saja, tapi tidak ada wujudnya. Wulan bagaikan mahluk halus yang tak kasat mata.
Rio langsung mencari-cari asal suara itu. Menoleh pada kanan dan kiri ruangannya, tapi tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1
Ah mungkin Rio hanya berhalusinasi, karena seharian ini sibuk mencari Wulan. Jadi bayang-bayang wajahnya ada di mata dan kepalanya. Bahkan dia kerja sampai kehilangan fokus, karena terus memikirkan istrinya.
Rio langsung berjalan cepat menaiki anak tangga. Namun ia lebih memilih masuk kedalam kamar Clara. Ia membuka lebar-lebar pintu itu.
"Wulan ... Clara," lirihnya pelan.
Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Pakaiannya masih rapih, bahkan sepatunya sampai naik keatas kasur.
"Wulan, aku ingin mandi."
Ia bermonolog sendiri, padahal disana tidak ada siapapun. Hatinya mendadak terselimuti rasa sepi, sunyi dan hampa.
"Wulan! Aku ingin mandi! Kau tuli atau apa?!"
Rio berteriak sangat kencang hingga Bibi pembantu datang mengetuk pintu kamar.
Tok ... tok ... tok.
"Maaf Pak Rio, Bibi tidak tau Bapak sudah pulang. Apa Bapak mau mandi?" tanya Bibi dengan kepala menunduk.
"Ya."
"Sebentar, Pak. Bibi isi air hangat dulu."
Memang sedari dulu Bibi pembantu yang selalu menyiapkan air hangat untuk mandi. Namun hanya air hangat saja, selebihnya Rio melakukan aktivitasnya sendiri. Tapi tidak dengan Wulan, wanita itu sudah melakukan semua hal untuk Rio. Tapi semua yang ia lakukan selalu salah di matanya
Sebelum Bibi pembantu itu masuk kedalam kamar mandi.
Rio berkata, "Bi ... apa Bibi punya nomor Wulan?" hingga membuat langkah Bibi terhenti dan berbalik badan melihat kearahnya.
Wajah Rio begitu muram dengan rambut yang acak-acakan. Sejujurnya Bibi juga merasa kasihan, apalagi dia diberitahu oleh Santi terkait Wulan yang pergi meninggalkan Rio.
"Punya Pak, apa Bapak ingin minta?" Bibi mengambil ponsel pada kantong celananya, ia berjalan mendekat pada Rio untuk memberikan ponsel. Tapi pria yang masih berbaring itu tidak mengambilnya.
"Aku juga punya, Bi. Tapi aku ingin minta tolong pada Bibi, apa bisa?" suara Rio terdengar begitu lirih.
"Tolong apa, Pak?"
"Tolong telepon Wulan, bilang kalau ...." Rupanya Rio hendak merencanakan sesuatu supaya Wulan bisa kembali padanya, tentunya atas pertolongan Bibi.
Semoga saja berhasil.
Batin Rio sambil tersenyum licik.
^^^Kata: 1035^^^
__ADS_1