
"Pak Rio tidak ada, Pak," jawab Jojo.
Setelah di pikir-pikir, di rumah Wahyu bukan hanya tidak ada Rio. Tapi Wulan pun tidak ada, Mawan jadi curiga. Pasti mereka pergi bersama.
"Dimana anakmu?" tanya Mawan seraya menoleh pada Wahyu, yang tengah berdiri agak jauh dengannya.
"Wulan pergi ke rumahnya Pak Reymond, Pak."
Rumah Reymond? Oh iya ... Mamah dan Indah bilang mau tinggal disana. Mungkin Rio juga ada disana bersama istrinya.
Mendengar jawaban dari Wahyu, Mawan langsung berlalu pergi dari rumah itu, tanpa pamit dan mengucapkan sepatah katapun. Mereka berdua masuk lagi kedalam mobil.
"Kita kemana sekarang, Pak?" tanya Jojo.
"Rumah Rendi yang dulu," jawab Mawan.
"Baik, Pak." Jojo memegangi stir dan kembali mengemudi.
***
Di rumah Rendi atau sekarang bernama Reymond. Rio tengah duduk santai di kursi taman, sambil melihat pemandangan bunga-bunga di sekitar taman.
Rumah itu memang sudah lama tidak di tempati. Tapi ada penjaga kebun, satpam dan juga tukang bersih-bersih yang selalu datang setiap hari. Selain untuk membersihkan rumah, tentunya supaya rumah itu tidak terasa angker, karena sudah lama dikosongkan.
Rio dulu mengusulkan untuk menjual rumah itu, tapi Santi yang melarangnya. Karena banyak kenangan Rendi dulu yang sempat ia kira sudah meninggal.
Rio menghirup udara yang terasa begitu sejuk amsuk kedalam paru-paru. Matahari juga belum terlalu panas karena masih pukul 9 pagi. Setengah beban hidupnya terasa hilang sejenak, saat bisa membalaskan dendamnya pada Mawan.
Tapi disisi lain, ia merasa kasihan pada ibunya yang terus saja menangis. Menangisi suaminya yang diduga berselingkuh. Rio sengaja tidak mengangkat telepon Mawan dan tidak pergi ke kantor, karena memang ingin menghindari Mawan. Ia lebih memilih ikut bersama istrinya, menemani Santi.
Secangkir kopi hitam buatan Wulan segera Rio raih pada kursi. Masih ada uap panas yang terlihat, tapi rasanya akan segar jika menyeruputnya pelan-pelan.
Baru saja kopi itu ia seruput sedikit, mengalir pada tenggorakannya, tiba-tiba datang seorang pria mendekatinya. Spontan ia melempar cangkir itu dari tangan Rio. Hingga jatuh dan pecah ke bawah.
Prag!!
__ADS_1
Rio membulatkan matanya saat melihat pria didepannya. Dia adalah Mawan, nafasnya begitu tersengal-sengal karena terselimuti amarah yang membara. Wajahnya memerah dan terlihat begitu menyeramkan ketika menatap tajam mata Rio.
"Papah!" Rio tersentak kaget, dengan refleks tubuhnya langsung berdiri.
"Berengs*k kau Rio!" kedua tangan Mawan mengepal, ia melayangkan tonjokan mautnya. mencecarnya pada pipi kanan kiri Rio.
Bug!
Bug!
"Aaww!" jerit Rio yang merasa perih. Kedua sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah segar. Tonjokan Mawan benar-benar memakai tenaga dalam.
Mawan menarik nafasnya dulu, lalu membuangnya dengan kasar. Ia mengusap-usap dadanya yang terasa sangat sesak.
"Kurang ajar sekali kau Rio! Kau berani-beraninya mengerjaiku! Apa kau tidak melihat aku sebagai orang tuamu?" jari telunjuk Mawan menunjuk-nunjuk tepat pada wajah tampan anaknya.
Rio mengusap darah pada sudut bibirnya, memakai ibu jari. Ia tersenyum kecil menatap Mawan yang tengah murka. "Aku mengerjai Papah?" Rio menunjuk dirinya sendiri. "Justru Papah yang lebih dulu mengerjaiku!"
Mawan mengerutkan kening. "Mengerjai? Apa maksudmu? Kau malah bicara bolak-balik! Sekarang kau ikut denganku, katakan semuanya pada Mamah, kalau ini ulahmu!" Mawan menarik kasar lengan Rio, namun pria tampan itu menahannya hingga langkah mereka berhenti.
Mawan langsung menoleh dan mendorong kasar tubuh Rio, hingga ia tersungkur ke bawah. "Kau benar-benar kurang ajar Rio! Kau yang lebih dulu mengusik rumah tanggaku!"
Indah keluar dari rumah, ia mendengar suara gaduh dari arah taman. Rasanya penasaran itu berujung pada langkah kakinya tepat didepan kedua pria yang tengah berantem. Bukan hanya sekedar berantem, lebih tepatnya bergulat.
Mawan menonjok kening Rio, Rio yang tak mau kalah, beralih menonjok pipi kiri Mawan. Mereka sampai gulang-guling ke bawah, demi mencapai siapa yang akan berada diatas tubuh mereka. Untuk bisa membabakbelurkan wajah salah satu dari mereka.
Indah benar-benar geram dengan apa yang mereka perbuat. Sungguh benar-benar terlihat bukan seperti pria dewasa dan pria tua. Malah terlihat seperti dua bocah laki-laki yang tengah merebutkan mainan.
Kehadiran Jojo disana juga seperti tidak ada gunanya, pria itu mencoba memisahkan keduanya, tapi begitu susah. Karena tangannya saling berbelit. Jojo tidak mau ambil resiko terkena hantaman mereka.
"Rio! Papah!" pekik Indah sambil melotot.
Teriakan Indah yang begitu nyaring mampu menghentikan aksi mereka, keduanya langsung berdiri dan membereskan pakaiannya masing-masing. Wajah Rio sudah babak belur akibat ulah Mawan, tapi beda halnya dengan Mawan. Pria tua itu hanya memerah pada pipi kirinya. Karena kekuatannya jauh lebih besar dari Rio. Rio terlalu pemberani untuk menantangnya beradu jotos.
"Kalian ini apa-apaan, sih? Papah juga ...." Indah mendekati mereka berdua. "Kenapa Papah ada disini dan apa yang Papah lakukan?!" bentaknya seraya menyentuh pipi Rio sekilas, pria tampan itu langsung meringis kesakitan.
__ADS_1
"Papah ingin jelasin pada semuanya, Indah. Kalau Papah tidak berselingkuh dan itu semua ulah Rio! Rio yang mengerjai Papah!" serang Mawan.
"Apa? Apa maksudnya?" tanya Santi yang baru datang, bersama Wulan yang tengah mengendong Bayu.
"Mamah ... jadi yang kirim paket itu adalah Rio, dia yang mengerjai Papah!" cetus Mawan.
"Apa benar itu Rio?" tanya Santi pada Rio, ia sampai geleng-geleng kepala melihat wajah memar anaknya.
"Iya, itu semua ulahku, Mah. Tapi Papah yang lebih dulu mengerjaiku, dia mengirim bunga untuk Wulan!" serang Rio tak mau kalah.
Mawan langsung menggeleng cepat. "Bunga? Bunga apa? Kapan Papah mengirim bunga?" kilahnya.
"Papah tidak usah berpura-pura. Kemaren Wulan mendapatkan buket mawar merah dan itu Papah yang kirim, kan? Papah sengaja melakukan itu demi aku dan Wulan berantem. Papah senang 'kan melihat aku dan istriku marahan?" cecar Rio. Ia menyerang pertanyaan itu bertubi-tubi, sengaja supaya Mawan tidak bisa berkutik.
"Papah tidak--"
"Aaww!!" Indah menjerit dengan kencang hingga semua orang menoleh padanya. Mereka semua tersentak kaget dan terbelalak, kala melihat kaki Indah berlumuran darah segar yang baru saja mengalir. Ia memegangi perutnya sambil meringis. "Papah, perutku sakit sekali!" tangannya terulur meminta Mawan supaya menopang tubuhnya yang akan ambruk.
Dengan sigap Mawan berlari dan menangkap tubuh Indah. Ia mengangkatnya, berlari menuju mobil.
"Indah ... kamu kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Mawan saat dirinya masuk kedalam mobil bersama Santi dan juga Jojo. Ia mendudukkan Indah dalam pangkuannya.
Sebenarnya ketika Mawan dan Rio beradu mulut. Ia sudah merasakan sakit yang hebat pada perutnya, ia sempat menoel lengan Santi. Tapi wanita itu tidak sadar karena fokus pada kedua pria yang membuat ulah.
Indah mencengkram lengan Mawan sambil mengatur nafasnya. "Pah ... pe-perutku sa-sakit, seperti sa-at ... aaww!!" Indah mengerang kesakitan. Sungguh, perutnya terasa seperti ingin pecah. Keringat dinginnya sudah mulai mengalir membasahi seluruh wajah cantiknya, ia juga menangis dan mengigit bibir bawahnya.
'Apa jangan-jangan Indah mau melahirkan? Astaga, perutnya baru berusia 6 bulan, jangan ... jangan sampai dia melahirkan prematur lagi, ini sangat beresiko dengan kesehatannya' batin Mawan.
"Percepat mobilnya Jo!" perintah Mawan sambil menciumi kening putrinya.
"Baik, Pak." Jojo langsung menancapkan gasnya dengan full.
"Sayang ... kamu bertahan, kamu akan baik-baik saja," kata Santi sambil mengusap-usapnya perut Indah, wanita itu sudah jatuh pingsan dalam pelukan Mawan.
^^^Kata: 1144^^^
__ADS_1