
Langkah Rio begitu cepat, hingga dia dan Bayu kini sudah berada di halaman kantor, tepat di parkiran. Ia membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Bayu disana.
"Rio!" teriak Indah seraya memanggil, dia berlari di temani Antoni hingga nafasnya tersengal-sengal.
Rio menoleh pada Indah yang sudah berada didepannya. "Ayok! Masuklah, kita pulang sekarang."
Indah mengatur nafasnya dulu. "Aku sudah bilang tadi ... Aku di jemput Mas Reymond. Kamu ini dengar aku atau tidak, sih?" ia mendengkus kesal.
"Pak Rio, jangan paksa Indah. Saya mohon ... Kasihan dia sedang hamil," ucap Antoni seraya mengusap-usap bahu Indah.
Deg....
Mata Rio terbelalak, ia segera memegangi kedua lengan Indah. "Hamil?! Kau sedang hamil?!" tanya Rio.
Rupanya pada saat di rumah sakit ia tidak mendengar jelas apa yang Santi katakan pada Mawan. Wajah Rio terlihat begitu kaget.
"Iya," sahut Indah.
"Jangan bilang itu anaknya Reymond, Indah!" pekik Rio.
"Kalau memang anakku lalu kenapa!" pekik seorang pria dengan lantang dan bergema.
Dia adalah Reymond yang baru saja keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri mereka. Tangan kekar itu menepis tangan Rio yang menempel pada lengan istrinya, ia langsung memeluk tubuh Indah.
"Jangan pegang-pegang tubuh istriku!" teriak Reymond tak terima.
"Istrimu?! Kau dan dia saja belum menikah, Reymond! Kenapa kau mengaku-ngaku!" pekik Rio.
Layaknya seorang musuh, kedua pria itu saling menatap tajam dan berselut emosi.
Tangan Reymond sudah mengepal, sedari dulu dia sudah menanti moment ini. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Indah dan menarik kerah kemeja Rio, ia menyeretnya sampai ke halaman yang cukup luas.
Kepalan tangan itu langsung ia layangkan pada pipi kanan dan kiri Rio.
Bug......
Bug.....
Tubuh Rio sudah terpental jatuh kebawah. Reymond langsung naik diatas kedua pahanya.
"Apa yang kau lakukan?! Berani sekali kau menonjokku!" Rio merasa tak terima.
Bug.......
Dibawah sana ia berhasil menonjol pipi kanan Reymond. Kini Reymond meremas kedua lengan Rio hingga ia merintih kesakitan.
"Aku benci padamu! Aku juga benci dengan tingkahmu Rio! Bisa-bisanya kau masih mencintai istriku!"
"Jangan sebut Indah istrimu! Dia bukan istrimu berengs*k! Kau merebutnya dariku! Harusnya sebentar lagi Indah menjadi istriku! Tapi kenapa kau tiba-tiba datang!" teriak Rio.
__ADS_1
"Aku datang untuk kembali! Aku mengambil hakku yang dulu orang lain rebut! Aku Rendi Pratama!"
Deg.....
Seluruh karyawan yang keluar pada jam makan siang bahkan menonton aksi mereka berdua, Indah mengendong Bayu bersama Antoni, ikut menonton. Antoni ingin memisahkan mereka berdua, namun keduanya seperti sangat emosi. Ia tidak mau menanggung resiko.
"Konyol! Kau ini pria gila! Bisa-bisanya kau mengaku-ngaku sebagai Kakakku! Bukannya kau yang bilang sendiri kau adalah teman Kak Rendi?" tanya Rio seraya mengangkat kedua alis matanya keatas.
"Nanti aku buktikan pada semua orang kalau aku adalah Rendi! Aku juga akan buktikan siapa dalangnya! Tapi ... Aku sekarang curiga padamu, Rio," jelas Reymond dengan senyuman menyeringai.
Namun sama sekali tidak membuat Rio ketakutan, ia masih bersikap santai dan tersenyum miring. Walau sebagian tubuhnya masih tertindih tubuh Reymond.
"Buktikan? Apa yang mau kau buktikan? Kau sudah mengaku-ngaku Kak Rendi dan sekarang kau menuduhku menjadi dalang. Dalang apa? Wayang?! Aku tidak mengerti maksudmu Reymond."
"Kau tidak perlu berpura-pura. Kita tunggu saja, nanti. Akan tiba waktunya." Reymond mengangkat kedua tangannya diatas.
"Kedua tanganku sendiri yang akan menjebloskanmu ke penjara! Kalau benar semua itu terbukti, hubungan persaudaraan kita akan putus! Aku tidak sudi mempunyai Adik yang tega pada Kakaknya sendiri!" seru Reymond mengancam.
Ia bangun seraya berdiri, Rio juga ikut berdiri dan membenarkan jas.
"Aku juga tidak sudi punya Kakak sepertimu! Kakakku hanya Rendi Pratama, bukan Reymond Alexander!"
Reymond tidak menghiraukan Rio, ia segera menarik tangan Indah untuk mengajaknya masuk kedalam.
Tangannya langsung menyetir dan meninggalkan kantor Rio. Hati dan pikirannya sudah kalang kabut, ia sangat membenci Rio. Sebenarnya Reymond bisa saja mencekiknya sampai mati, cuma dia masih ingat keadaan. Apalagi Rio menjadi bos di kantor itu. Ia tidak mau menambah beban masalahnya.
Didalam mobil mereka berdua hanya diam saja, wajah Reymond masih terlihat kesal. Indah tidak berani bertanya-tanya padanya.
Batin Indah.
"Bunda, Bayu lapel," ucap Bayu seraya memegangi perutnya, ia duduk diatas kedua paha Indah.
Reymond menoleh sekilas pada Bayu. "Kamu mau makan apa sayang?" ia bertanya selembut mungkin, walau masih dalam keadaan emosi.
"Bayu mau makan telol ceplok, Ayah!" sahut Bayu.
"Kalau telor ceplok berarti di rumah saja, ya."
"Iya."
Sampainya di rumah Hermawan, mereka bertiga makan bersama, Indah duduk ditengah. Antara Bayu dan Reymond.
Bayu sedang makan disuapi oleh Susi. Selama sedang makan, Indah menatap wajah Reymond. Namun suaminya itu hanya berfokus makan dan mengobrol dengan Bayu. Dia merasa tidak di lirik sama sekali.
Apa Mas Reymond marah padaku? Melihat dia seperti ini membuat perutku mual.
Batin Indah.
Tiba-tiba perutnya bergejolak, seperti ada yang hendak keluar. Ia segera menghentikan acara makannya dan berlari menuju dapur.
__ADS_1
"Uuueekkk ... Uuueekkk ... Uuueekk."
Benar saja, ia mual dan memuntahkan makanan yang baru saja ia telan pada wastafel. Seseorang tiba-tiba datang dan memijit lembut tengkuknya.
"Kamu kenapa sayang? Mual? Apa mau ke Dokter?" tanya Reymond berdiri disebelahnya.
Indah menyalakan kran air seraya berkumur dan membasuh bibirnya.
"Tidak, aku ingin istirahat saja," sahut Indah dengan acuh.
Indah berlalu pergi meninggalkan Reymond menuju meja makan.
"Suster, kalau Bayu selesai makan ajak dia main dulu ya? Aku ingin istirahat," ucap Indah pada Susi.
"Iya, Nona."
Indah langsung menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar, air matanya langsung membasahi pipi. Entah kenapa dia menjadi sedih.
Setelah beberapa menit ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok ... Tok ... Tok.
"Sayang ....,"
Ceklek......
Reymond langsung datang dan membuka pintu, matanya terbelalak melihat Indah sedang menangis dan menutupi wajahnya.
Ia segera masuk dan memeluk Indah diatas kasur. "Sayang, kamu kenapa? Kenapa menangis?"
"Tidak, Mas."
"Tidak?! Tidak kenapa? Apa kamu ada masalah? Cerita padaku, sayang."
Reymond membuka wajah yang sedari tadi Indah tutupi dengan kedua tangannya, seluruh wajah itu sudah basah dan memerah. Ia memegangi kedua pipi mulus itu dan menyeka air mata Indah.
"Sayang, bicaralah."
"Aku tidak suka kamu diam saja padaku, Mas. Apa kau marah padaku?"
Reymond langsung menarik senyum. "Diam saja bagaimana? Aku tadi bukannya bicara."
"Iya, tapi bicara dengan Bayu saja. Sama aku tidak," sahut Indah dengan wajah manja.
Reymond menciumi kedua pipi istrinya.
Cup....
Cup....
__ADS_1
^^^Kata : 1025^^^