
Yang episode sebelum ini Author salah tulis ya, harusnya nulis satu bulan, bukan satu tahun. Tapi sekarang sudah Author revisi kok.
***
Reymond mengusap-usap pelipis matanya, kini kepalanya terasa begitu pusing.
"Bagaimana bisa dia kesulitan mencari bayinya? Bukankah selisihnya satu Bulan? Berarti dia bisa membedakannya, Bu."
"Saya juga tidak mengerti, tapi memang di hari yang sama ada dua bayi lagi tergeletak didepan pintu, tapi tanpa identitas. Selisihnya tidak jauh berbeda. Sekitar seminggu, dua Minggu atau satu bulan," jelas Susan.
Tadi bilang dua bayi, sekarang jadi empat bayi. Astaga! Kalau Siska yang Ibunya saja tidak bisa mengenalinya, bagaimana dengan aku? Kepalaku terasa ingin pecah sekarang.
Batin Reymond.
Reymond menghela nafas dengan gusar.
"Bu Susan, bisa Ibu ceritakan saat pertama kali bertemu dengan Siska, dan saat Ibu bertemu lagi dengannya? Jujur saya juga ikut binggung. Kalau bisa Ibu ceritakan saja semuanya."
"Bisa Pak. Baik, saya akan ceritakan."
...~Flashback On~...
...(POV Susan)...
Sekitar jam 9 malam, saat semua anak-anak sudah tertidur dengan lelap. Aku berjalan menuju pintu, karena ingat pintu hanya ditutup saja belum dikunci. Baru saja tangan hendak meraih kunci yang sudah tertempel, namun dengan tiba-tiba aku mendengar suara rintihan seorang wanita sedang menangis. Suaranya dari arah luar.
Aku sering sekali menemukan kejadian seperti ini, mungkin sehari saja sudah berulang kali. Karena rasa penasaran, segera kubuka saja pintu rumah.
Ceklek.......
Mataku terbelalak, kala melihat dua bayi sedang tergeletak didepan pintu, kedua bayi itu tidak memakai pakaian. Hanya selimut yang menutupi dirinya, berwarna hitam polos.
Yang lebih mengejutkan lagi, aku melihat seorang wanita, dia memakai baju daster bercorak bunga-bunga warna hijau dan memakai masker hitam serta topi hitam dengan rambut hitam terurai panjang.
__ADS_1
Sepertinya dia hendak menaruh sesuatu, tapi gara-gara aku keluar. Dia langsung buru-buru pergi dan membiarkan sebuah amplop terjatuh di teras depan.
Padahal aku sempat ingin bertanya, tapi langkahnya terlalu cepat, bahkan sudah hilang entah kemana. Selang beberapa detik kedua bayi itu menangis, aku segera membungkuk untuk mengambil amplop putih, aku juga mengangkat dua bayi itu sekaligus.
"Bu Susan, kok Ibu ada di luar?" tanya Bu Kinan berdiri di ambang pintu, aku melihat kedua matanya terbelalak.
"Lho ada dua bayi, sini biar salah satunya saya yang bawa," ucapnya lagi.
"Iya, Bu." Aku memberikan salah satu bayi cantik padanya.
Setelah aku dan Bu Kinan masuk dan kini mengunci pintu. Lagi-lagi aku mendengar suara tangis, tapi seorang bayi.
Aku menyerahkan bayi yang sedang aku gendong pada Bu Kinan yang baru saja keluar dari kamar bayi. Segera aku keluar dan kali ini aku menemukan dua bayi lagi. Langsung aku angkat lagi dan membawa keduanya masuk dan mengunci pintu.
Aku meletakkan keempat bayi itu berjajar pada box bayi besar. Aku memperhatikan mereka silih berganti. Keempat bayi itu semua berjenis kelamin perempuan, berkulit putih dan semuanya cantik-cantik.
Hanya saja dua bayi yang aku temukan bersama wanita yang memakai masker tadi, wajah mereka seperti mirip, jangan lupakan juga selimut yang mereka kenakan, benar-benar sama. Aku sempat mengira kalau keduanya kembar. Tapi setelah diperhatikan dengan baik-baik ... sepertinya salah satu dari mereka ada yang sudah berusia satu bulan, berarti mereka tidak kembar.
Hari berganti esok. Keempat bayi itu sudah minum susu dan sekarang mereka tengah tertidur lelap, rencana hari ini aku ingin memberikan mereka semua nama. Namun tiba-tiba Bu Kinan menghampiriku.
Aku menganggukkan kepala dan berjalan menuju sofa, aku melihat seorang pria berkulit sawo matang tengah duduk. Terlihat dari rona wajah dan matanya sangat merah, dia seperti sedang bersedih. Penampilan begitu sederhana, ia mengenakan celana bahan berwarna hitam dan kaos bola berwarna merah.
"Selamat pagi, Pak," sapaku dengan hangat.
"Pagi Bu."
Aku langsung duduk di sofa single sebelahnya.
"Maaf, tadi saya dengar dari Bu Kinan Bapak ingin mengadopsi bayi, betul?"
"Iya, Bu. Saya juga sudah menyiapkan data-datanya. Saya sempat dengar dari tetangga syarat untuk mengadopsi bayi."
Pria itu memberikan berkas-berkas padaku, aku segera mengambilnya dan membaca beberapa identitas namanya.
__ADS_1
"Boleh saya tau alasan Bapak ingin mengadopsi anak? Saya melihat didalam kartu keluarga, Bapak sudah mempunyai seorang anak perempuan."
Entah aku salah bicara atau apa, tapi aku melihat air matanya berjatuhan membasahi pipi.
"Iya, tapi saat ini saya sedang berduka, Bu. Saya habis ditinggal istri dan anak saya. Istri saya meninggal saat melahirkan," ucapnya dengan sendu.
"Saya turut berduka cita ya, Pak."
"Iya Bu. Tapi saat ini anak saya yang sudah remaja, dia ... dia selalu menanyakan Adiknya, saya saat ini hanya memberitahu Ibunya yang meninggal. Tapi baru mendengar hal itu, dia sudah histeris di rumah. Apa lagi ketika saya juga bilang Adiknya meninggal. Saya tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati dia nanti ... dia begitu menginginkan seorang Adik dari dulu, tapi setelah mimpi itu akan terwujud. Semuanya berakhir begitu saja. Saya tidak mau melihat dia makin menderita ... jadi, saya berniat untuk mengadopsi bayi."
"Mungkin menurut Bapak kalau dengan mengadopsi bayi, sedikit mengobati rasa sakit anak Bapak, begitu?"
"Iya, betul Bu. Nanti saya akan mengatakan bayi itu adalah Adiknya."
"Nanti kalau suatu saat anak Bapak tau, kalau ternyata Adiknya bukanlah Adik kandungnya sendiri ... lalu bagaimana? Saya tidak ingin nantinya bayi yang Bapak adopsi hilang dari kasih sayang."
"Pelan-pelan saya akan memberitahunya, Bu. Tapi untuk saat ini biarkan saja, saya bisa pastikan. Suatu hari nanti saat dia tau, dia pasti akan menyayanginya, saya bisa menjaminnya."
Aku mulai mencerna semua yang dia katakan barusan, tapi niat dia itu memang baik. Tidak ada salahnya jika aku mengizinkannya. Toh, semua anak disini juga harus punya orang tua dan saudara. Semoga dengan begitu mereka bisa hidup bahagia.
Aku bangun dari duduk. "Baik, Pak. Mari Bapak ikut saya ke kamar bayi. Ada empat bayi yang bisa Bapak pilih."
Aku mengajaknya berjalan masuk ke kamar yang aku maksud tadi. Terlihat pria itu begitu antusias melihat keempat bayi yang tengah tertidur pulas.
Ia mengangkat salah satu dari mereka, mengendongnya secara perlahan.
"Apa mereka semua sudah diberi nama, Bu?"
"Belum, Pak. Saya menemukan keempat bayi itu semalam."
"Oh yasudah, biar saya sendiri yang memberikannya nama. Saya mau bayi yang ini, dia begitu cantik dan menggemaskan," ucapnya seraya mengelus lembut pipi mulus bayi, kini raut wajah sedihnya langsung hilang begitu saja. Menggantinya dengan senyum kebahagiaan.
"Semoga Bapak bisa menjaganya dengan baik, karena mau anak kandung ataupun anak adopsi ... mereka semua anak-anak yang masih suci dan tanpa dosa. Semoga dengan kehadiran bayi ini, hidup Bapak dan anak Bapak, jauh lebih bahagia dan mampu mengobati luka."
__ADS_1
^^^Kata : 1058^^^