Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 112. Kabar gembira


__ADS_3

"Iya Dok, dia mual-mual kalau melihat tubuhku tel*nj*ng." Rio yang menjawabnya dengan jujur.


Wulan membulat kedua matanya, ia lagi-lagi merasa malu. Tapi Dokter wanita itu malah terkekeh mendengar jawaban dari Rio.


"Benarkah? Mbak Wulan mual melihat suami sendiri, jika tidak berpakaian?" tanya Dokter ingin memastikan, siapa tau Rio hanya bercanda.


Wulan mengangguk samar. "Iya, Dok."


"Selain itu, apa ada lagi?"


"Sejauh ini tidak ada sih, Dok. Hanya itu saja," papar Wulan.


Rio baru sadar make up Wulan terlihat luntur. Ia mengulas bibir dan ternyata bibirnya benar-benar putih. Memang gara-gara ulahnya, riasan wajah istrinya jadi luntur. Rio segera mengusap bibirnya dengan lengan jasnya sendiri.


"Bagus kalau begitu, Mbak. Tapi kali ini Mbak dan suami harus menjaga anak kalian. Mengingat, Mbak Wulan ada riwayat keguguran," jelas Dokter.


"Itu pasti, Dok. Saya akan menjadi suami yang siaga. Saya akan melindungi dan menjaga istri dan anak saya!" jawab Rio dengan semangat 45.


"Yasudah, nanti saya berikan vitamin. Mbak Wulan juga harus selalu makan buah, makan makanan bergizi dan susu ibu hamil," tambah Dokter lagi.


Setelah memberikan vitamin dan satu lembar foto USG, mereka berdua pamit. Rio menggendong tubuh Wulan sampai ke depan parkiran. Awalnya Wulan tidak mau dan sempat memberontak, namun pria itu benar-benar memaksanya.


"Bagaimana rasanya Wulan?" tanya Rio saat mereka masuk kedalam mobil.


"Rasa apa, Mas?"


"Rasanya saat tau kau hamil, apa kau senang?"


"Iya, aku senang, Mas."


Rio menarik senyum. "Kalau senang, cium pipiku." Ia mendekatkan pipinya ke depan wajah Wulan.


"Serius, Mas?"


"Iya, cepat lakukan!"


Wulan perlahan mendekatkan bibirnya untuk mendaratkan ciuman di pipi mulus suaminya.


Cup~


Rio membulatkan kedua matanya, kedua pipinya langsung bersemu merah.


"Kau manis sekali," puji Rio.


"Maaf, Pak Rio ... Nona Wulan, kalau saya menganggu. Apa tadi saya tidak salah dengar, Nona Wulan sedang hamil?" tanya Indra yang sedari duduk di kursi depan.


Rio membenarkan lagi posisi duduknya untuk menyandar, ia merengkuh pinggang Wulan dan mencium keningnya.

__ADS_1


"Iya, kau benar Indra. Wulan sedang hamil, aku sebentar lagi menjadi seorang Ayah," sahutnya dengan wajah berseri-seri.


"Selamat ya, Pak. Ternyata acara bulan madu Bapak berhasil. Baru kemarin langsung jadi."


"Sepertinya pas bulan madu, Wulan sudah hamil Indra. Aku 'kan sudah pernah bercinta sebelumnya, sebelum pergi berbulan madu," papar Rio.


Kenapa musti di jelasin? Kan itu aib, Mas!


"Tapi yang penting Bapak dan Nona Wulan sebentar lagi menjadi orang tua, saya ikut senang mendengarnya."


"Iya, nanti kau kukasih bonus. Sekarang kita pergi ke rumah Papah Mawan, ya!" perintah Rio.


"Terima kasih, siap laksanakan, Pak," jawab Indra seraya mengemudi.


Kepala Wulan mendongak kearah wajah Rio.


"Kenapa kita ke rumah Papah Mawan, Mas? Mau apa?" tanya Wulan. Ia begitu malas bertemu mertuanya itu, takut kalau Mawan kembali menghina dirinya.


"Kok nanya mau apa? Kita harus umumin kabar gembira ini kesemuanya, dong!"


"Tapi ini 'kan masih siang. Papah dan Kak Reymond pasti sedang di kantor, Mas. Apa tidak besok-besok saja?" usulnya.


"Masalah itu gampang. Sebentar ... aku hubungi mereka dulu." Rio merogoh ponselnya pada saku jas. Ia langsung mengirimkan satu pesan yang akan di kirimkan untuk tiga orang sekaligus.


To: Papah, Mamah, Kak Reymond.


Papah, Mamah, Kak Reymond. Kalian bisa tidak berkumpul di rumah? Rio bawa kabar gembira untuk kalian semua. Rio sedang otewe ke rumah, pokoknya semuanya harus berkumpul tanpa terkecuali! Indah juga harus ada.


***


Sampainya di rumah Hermawan, mereka berdua masuk kedalam. Wajah Rio begitu berseri saat menghampiri anggota keluarganya yang tengah duduk di ruang tamu. Ternyata mereka menuruti permintaan Rio.


"Mah ... Pah," sapa Rio.


"Rio, Wulan," ucap mereka, kecuali Mawan yang hanya melihat kedatangan mereka berdua.


Rio dan Wulan mencium punggung tangan Mawan dan Santi secara bergantian. Berbeda dengan Wulan yang sudah duduk di sofa, Rio tengah memeluk Santi dan mencium bahunya.


"Terima kasih, Mah. Ini semua berkat Mamah. Mamah yang terbaik, aku sayang sekali sama Mamah," ucap Rio.


"Terima kasih untuk apa? Bukannya kau sudah berterima kasih saat tadi di telepon?" tanya Santi seraya melepaskan pelukan. Ia belum tau maksud dari kata terima kasih itu. Rio mengajaknya duduk bersebelahan dengannya dan Wulan.


"Ada apa sih sebenarnya? Papah sampai batalin meeting demi kau ya, Rio!" cetus Mawan sambil duduk menyilang kaki.


Rio merogoh saku jasnya dan memperlihatkan foto USG pada semuanya. "Ini, lihatlah."


Mata mereka membulat semua, mereka menarik senyum bahagia. Kecuali Mawan yang masih bersikap cuek.

__ADS_1


'Apa ini? Ini yang dibilang kabar gembira? Aku tidak gembira sama sekali' batin Mawan.


"Wah ... Wulan hamil? Kau serius Rio?" tanya Santi seraya memegang lengan putranya.


"Iya, Mah. Wulan hamil, aku sebentar lagi jadi seorang Ayah!" jawab Rio penuh antusias.


Santi dan Indah langsung bangun dari duduknya. Kemudian, mereka mendekati Wulan untuk mengajaknya berpelukan.


"Selamat, Wulan. Alhamdulilah ... aku ikut bahagia," ucap Indah.


"Iya, Wulan. Mamah juga ikut bahagia ... bahagia sekali, selamat buat kalian berdua," ucap Santi.


"Terima kasih, Mah ... Indah," jawab Wulan.


Reymond ikut bangun dan menarik Mawan untuk melakukan hal yang sama seperti ketiga wanita itu. Ia tau, kalau saat ini Rio benar-benar tengah bahagia dan ingin sekali mendapatkan kata selamat dan pelukan hangat.


"Selamat Rio. Aku tak menyangka kau sebentar lagi akan jadi seorang Ayah," ungkap Reymond.


"Iya, terima kasih Kak. Aku senang sekali."


Mereka melepaskan pelukannya masing-masing dan duduk di tempat semula.


"Bukannya kau bulan madunya kemarin? Kok bisa langsung jadi? Hebat banget," puji Reymond sambil menepuk pelan pundak adiknya.


"Kan sebelum bulan madu aku sudah bercinta dengannya, Kak," jawab Rio. Sedari tadi ia terus saja tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.


"Hahahaha ... tapi mulai sekarang, kau jangan manja Rio! Manjakan istrimu!" tegur Reymond.


"Iya, Kak. Itu sudah pasti."


"Berarti madu kiriman Mamah, tidak jadi kalian minum dong, ya? Nanti Mamah kirim susu ibu hamil untuk Wulan," ujar Santi.


"Iya, Mah," sahut Wulan.


"Pah, kok Papah tidak mengucapkan selamat padaku? Kenapa Papah diam saja? Papah tidak senang?" tanya Rio. Ia sedari tadi melihat wajah Mawan yang begitu datar tanpa ekspresi. Tatapan matanya sulit diartikan.


"Ya ... selamat buat kalian berdua," jawabnya dengan malas.


Santi merangkul bahu Wulan dan mencium keningnya. "Kalian malam ini menginap disini, ya? Kita makan malam bersama."


"Tapi aku belum izin sama Ayah, Mah," jawab Wulan.


"Mereka tidak perlu menginap, dulu saja dia kabur dari sini," cibir Mawan menimpali.


"Papah ini apaan, sih? Itu 'kan hanya masa lalu," kilah Rio.


"Ya, itu memang masa lalu. Tapi sampai sekarang dia tidak mau tinggal denganmu, kan?" Mawan menyunggingkan senyum. "Kau semakin kesini malah terlihat seperti laki-laki bodoh, Rio! Sudah tau istrimu tidak mau bersamamu lagi, kau malah mengejar-ngejar dia. Seperti tidak punya harga diri dan tidak ada wanita lain saja!" sungutnya.

__ADS_1


^^^Kata: 1080^^^


__ADS_2