Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 75. Ini serius


__ADS_3

Wulan sama sekali tidak menggubris apa yang Dido ucapkan. Ia pikir akan percuma kalau bicara.


"Apa kamu tau? Pak Rio sendiri yang memintaku untuk kamu kembali padaku. Bukankah itu sudah jelas kalau Pak Rio benar-benar tidak ingin bersamamu, Wulan? Jadi untuk apa kau kembali padanya?"


Kedua tangan Wulan sudah mencengkeram sprei, ia benar-benar sangat emosi. Lama-lama semua kalimat itu masuk kedalam otaknya.


Aku tau itu, Mas Rio pasti berubah pikiran. Ternyata memang omongannya tidak bisa dipegang. Lagian siapa yang ingin bersamanya lagi? Aku tidak mau bersamanya. Aku juga sudah menolak untuk pulang ke rumahnya.


Dido tersenyum menyeringai melihat Wulan tengah emosi, walau wanita itu tidak mengatakan hal apapun. Tapi ia tau ... kalau Wulan tengah kesal pada Rio.


Aku akan membuatmu makin membenci Pak Rio, begitu pun dengan Om Wahyu. Kau harus kembali padaku, Wulan.


Tak lama terdengar suara dari gagang pintu, orang yang masuk kedalam adalah Wahyu. Ia menenteng plastik putih yang berisi buah apel merah.


Mengetahui ayahnya masuk kedalam, Wulan langsung menyeka air mata yang baru mengalir. Sedangkan Dido segera bangun dari duduk dan melihat kearahnya.


"Dido, kok kamu ada disini? Bukannya belum lama kamu pergi sama Rio ke kantor?" tanya Wahyu menatap heran.


"Iya, Om. Aku habis mengantarkan Pak Rio tadi. Tapi di jalan aku melihat penjual kebab, kebetulan Wulan sangat menyukai kebab, kan? Jadi aku membeli untuknya," sahut Dido beralasan.


Wahyu menarik senyum. "Oh gitu, terima kasih, Dido. Tapi Wulan tidak boleh makan daging dulu kata Dokter."


"Iya, tidak apa-apa, Om. Buat Om saja nanti." Dido membalas senyumannya. "Yasudah, kalau begitu aku permisi, Om. Semoga Wulan dan Clara cepat sembuh."


"Iya, amin. Terima kasih, Dido."


Dido menoleh sekilas pada Wulan yang tengah terdiam, kemudian ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar inap.


Wahyu mendekati Wulan dan menaruh apa yang ia bawa diatas meja. Tangannya mengusap lembut rambut anaknya.


"Kamu kenapa diam saja?"


"Aku tidak apa-apa, Yah. Aku ingin berbaring." Wulan sama sekali tidak menatap mata Wahyu, ia menunduk dan menarik tubuhnya kebawah untuk bisa berbaring.


"Kamu jangan banyak pikiran Sayang, biar cepat sembuh." Wahyu duduk pada kursi kecil disampingnya.


"Iya, Ayah."


"Boleh Ayah tanya sesuatu?"


Wulan menggeserkan kepalanya kearah Wahyu.


"Apa, Ayah?"


"Apa kamu masih mencintai, Dido?"


Deg~


Wulan menggeleng cepat. "Tidak Ayah, kenapa Ayah bertanya seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Sayang. Ayah hanya bertanya, Ayah lihat Dido seperti masih mencintaimu."


"Aku tidak peduli padanya, Ayah. Dia hanya masa laluku."


"Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kamu mau tinggal lagi bersama Rio?"


"Tidak Ayah, aku sudah bilang pada Mas Rio ... aku ingin tinggal di rumah Ayah saja."


"Kata Rio apa?"


"Mas Rio hanya bertanya kenapa aku tidak mau tinggal lagi bersamanya, tapi aku yakin ... dia juga mengerti maksudku."


Wahyu mengenggam tangan Wulan dengan lembut. "Bagaimana keputusanmu sekarang? Apa kamu masih ingin bercerai dengan Rio?"


"Aku binggung Ayah."


"Binggung kenapa? Kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat itu?"


"Aku masih butuh waktu, Ayah. Aku binggung, aku takut salah mengambil keputusan."


"Yasudah, tidak masalah. Kamu bisa pikirkan dulu saja."


***


Seminggu kemudian.


Ini hari dimana Wulan sudah diperbolehkan pulang, ia sekarang tengah duduk di atas tempat tidur dengan mengenakan dress berwarna merah selutut. Pakaian itu dibelikan oleh Santi untuknya. Jahitan pada dahi tengahnya juga sudah mulai mengering. Supaya tidak terkena debu, jadi hanya diperban kecil saja.


Ceklek~


"Ayok kita pulang," ajak Rio.


"Kamu tidak usah mengantar Wulan pulang Rio, dia biar Ayah yang antar. Wulan ingin tinggal dulu di rumah Ayah," tutur Wahyu.


Rio tersenyum manis kearah Wulan yang sedari tadi menunduk. "Iya, aku tau Ayah. Aku akan mengantarnya pulang ke rumah Ayah."


"Kamu tidak masalah 'kan, Rio? Kamu tidak marah?" sejujurnya Wahyu merasa tidak enak, tapi Wulan sendiri sudah mantap ingin tetap tinggal di rumah ayahnya.


"Ngapain aku marah, malah kalau Ayah mengizinkan ... aku juga ingin tinggal di rumah Ayah," suara Rio terdengar begitu lembut.


Deg~


Kedua mata anak dan ayah itu membulat sempurna. Wulan sampai mendongak kearahnya dengan wajah heran, seakan tak percaya dengan apa yang Rio katakan barusan.


"Apa Ayah tidak salah dengar?" tanya Wahyu ikutan tak percaya.


"Tidak Ayah. Ini serius."


"Tapi rumah Ayah jelek, sempit dan sumpek. Kamu tidak akan betah tinggal disana."

__ADS_1


"Aku tinggal disana saja belum, kok Ayah bilang begitu. Jadi aku tidak boleh ikut tinggal disana?"


"Boleh, Ayah mengizinkanmu."


Apa Mas Rio serius ingin tinggal di rumah Ayah? Kok aku nggak yakin, ya? Lagian ... dia tidak mungkin betah.


"Ayok Wulan, kau pulang saja denganku. Biar Ayah jagain Clara disini," ajak Rio dengan tangan terulur, hendak mengenggam tangan istrinya.


Wulan membalas uluran tangan itu dan perlahan turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya pelan. Kepala dan perutnya sudah tidak sakit, tapi tubuhnya masih terasa lemas.


"Aku mau ke kamar Clara dulu, Mas," ucap Wulan.


"Iya, kita kesana." Rio langsung memapah bahunya, membantu Wulan untuk berjalan masuk kedalam lift bersama Wahyu juga.


"Apa kepala dan perutmu masih sakit?" tanya Rio.


"Tidak, Mas."


"Tadi jalan pusing tidak? Apa mau aku gendong?"


Deg~


Mata Wulan membelalak, kedua pipi itu langsung bersemu merah.


"Tidak usah, Mas."


Rio juga memperhatikan Wulan sedari tadi, ia tersenyum dan merasa senang dengan apa yang terlihat. Ia yakin, kalau semakin lama, hati Wulan akan luluh kembali padanya.


'Kenapa pipinya merah? Apa dia malu?' batin Rio.


'Apa yang Mas Rio katakan? Kenapa sikapnya baik padaku? Apa karena didepan Ayah?' batin Wulan.


'Sikap Rio sangat baik dan lembut, apa mungkin dia sudah berubah? Apa mungkin hanya pura-pura karena sekarang ada aku?' batin Wahyu.


Tring~


Pintu lift itu terbuka dengan lebar, mereka berjalan mengiringi langkah kaki Wulan untuk sampai didepan kamar inap Clara.


Ceklek~


Wahyu membuka kamar inap itu dan kebetulan sekali Clara sudah sadar dari koma. Ada Dokter dan Suster juga, tengah memeriksanya.


"Sayang Clara, kamu sudah sadar?" Wahyu langsung menghampiri, wajahnya sampai terharu karena bahagia. Begitupun dengan Rio dan Wulan. Mereka senang sekali, karena Clara bisa melewati masa kritisnya.


Gadis kecil itu menggeserkan kepalanya sedikit, pada sisi kanan. Tepat keluarganya berada.


Ayah, Kakak, Kak Rio.


Dokter itu menempelkan stetoskop pada dada dan perut Clara, ia juga mengecek darah dan asupan oksigen.

__ADS_1


"Bagaimana Clara, Dok?" tanya Wahyu.


^^^Kata: 1032^^^


__ADS_2