Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
95. Rendi Vs Andra


__ADS_3

"Memang kenapa? Apa salahnya? Mau Om suka ataupun tidak suka apa itu penting?" tanya Rendi dengan tatapan nyalang.


"Istri kamu, kau pasti tahu kan dia anaknya siapa? Ibu Sarah. Dia seorang cleaning service di kantormu dulu." Kata Andra.


"Lalu?" tanya Rendi yang sudah mulai emosi.


Andra menyilang kaki. "Wanita miskin dan mempunyai ibu penyakitan macam dia. Menikah denganmu apa kau tidak curiga?" tanya Andra, tangan Rendi sudah mengepal, dia sudah bangun dan menghampiri Andra. "Bisa saja dia hanya ingin menguras...."


Buggghhh.... Sebuah bogeman mendarat di pipi kiri Andra.


"Apa yang kau lakukan... Kau berani menonjok ku!" Seru Andra terkejut, untuk pertama kalinya Rendi berani memukulnya, dia berdiri dan kini menarik dasi yang Rendi kenakan.


"Kau sudah durhaka pada pamanmu sendiri!" Kutuknya.


Rendi menepis tangan Andra di dasinya dan sedikit mendongak, "Mulut Om terlalu lancang dan kotor! Tidak pantas menghina istri dan mertuaku!" Pekiknya dengan emosi yang membara.


Merasa tak terima, Andra bangun dan menonjok Rendi balik.


Buggghhh..... "Kau harusnya berterima kasih padaku Ren, kemaren aku tidak ceritakan pada istrimu kalau Siska hamil anakmu." Pekiknya.


Rendi mengusap darah di sisi bibir kirinya, "Omong kosong apa ini!"


Andra terkekeh. "Apa kau lupa telah menikmati tubuh Siska pada saat menjadi suami orang?" tanya Andra membereskan jas.


"Hamil anakku?! Hahahaha.... Si jalang itu." Rendi tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana bisa?" tanya Rendi mendekatkan wajahnya ke wajah Andra.


"Jelas bisalah, memang kau pikir benih mu tidak tertanam di rahimnya," ucap Andra.


Rendi membuka laci di meja kerjanya kemudian mengambil satu bungkus kond*m dan menaruhnya di atas meja, "Lihat ini Om." Tunjuknya.


Andra menghampiri Rendi." Itu kond*m Ren... Om juga tahu,"


Rendi tersenyum dan meraih bungkus itu di tangannya, "Apa Om lupa, kond*m ini yang Om rekomendasikan untukku. Aku tau Om berpengalaman di bidang itu, dan Om sendiri yang bilang kond*m ini berbeda dengan merk yang lain, sangat aman dan juga berbahan dasar kuat, tidak akan bocor bahkan dua kali di keluarkan." Ucap Rendi yang kini duduk di atas meja.


Kenapa aku sampai lupa?


Batin Andra menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


"Rendi akan beritahu.... Rendi memang pernah selingkuh dengan Siska sesudah menjadi suami Indah. Iya betul, Rendi mengakuinya," Kata Rendi menyilang kedua tangannya di depan dada.


"Rendi juga menyentuhnya, tapi hanya sekali. Rendi ingat dan memakai benda ini, Rendi membuangnya tanpa ada setetes pun yang jatuh! Dan satu lagi." Katanya dengan satu telunjuk terangkat.


Andra mengelap keringat di dahinya, "Rendi melakukan itu dengannya empat bulan yang lalu!!" Pekiknya, dia mengira-ngira sesuai dengan usia pernikahan dia dan Indah.


"Kalau memang Siska hamil anakku, harusnya dia bilang padaku dari dulu!" Teriak Rendi.


Pernyataan Rendi membuat Andra diam, dia sudah kehabisan kata-kata. Dan jalan satu-satunya hanya meminta maaf.


"Maafkan Om Ren, Om tidak tahu, Om hanya dengar dari mulut Siska..." Tutur Andra dengan pelan.


"Siska? Sebenarnya di sini Om jadi pamanku atau pamannya Siska? Kenapa Om lebih mempercayai nya dan memfitnah Rendi?" tanya Rendi menunjuk diri sendiri.


"Iya Om mengaku salah Ren...." Ucapnya menciut. "Dan soal dana mu di kantor Om jangan kau ambil, Om masih membutuhkannya," katanya memohon.


Rendi mengusap pelipis matanya, "Tidak bisa!" Seru Rendi memalingkan wajah.


"Kenapa Ren?"


Rendi kembali menatapnya dengan tajam. "Om sudah banyak melakukan kesalahan."


"Kedua, Om telah menghinanya,"


"Dan ketiga Om telah memfitnahku, kalau Om menyakitiku. Aku bisa memaafkan. Tapi tidak dengan menyakiti istriku, Om keterlaluan!" Teriaknya menggelegar bagai suara salon musik dangdut.


"Segitunya kamu mencintai dia Ren? Sampai kau lupa dengan Om mu sendiri." Ujar Andra kesal.


"Lupa?" Rendi memiringkan kepalanya, "Om yang sudah lupa! Om harusnya senang melihat aku sekarang bahagia, bukan malah seperti ini! Aku sangat mencintainya."


"Om ingat! Jangan sekali-kali Om menyakiti Indah lagi dan mengusik rumah tanggaku, apa lagi dengan bawa-bawa nama jalang itu, Rendi tidak segan-segan akan melakukan hal yang lebih dari ini." Ancamnya.


Sialan! Aku di ancam.


Batin Andra.


"Sekarang Om bisa pulang." Ucapnya mengusir sambil melengos, nafasnya sudah benar-benar naik turun. Emosinya sudah di lepaskan.

__ADS_1


Tak menjawab sepatah katapun, Andra berjalan dengan wajah keki.


Rendi mendudukkan bokongnya kembali di kursi putar dan meraih segelas air minum, untuk meredakan dahaganya.


Rendi menyenderkan punggung seraya menatap plafon ruangannya, dan bergumam. "Maafkan Rendi Om, bukan maksud Rendi menjadi keponakan yang kurang ajar. Rendi berdosa...."


"Rendi melakukan ini semua supaya Om sadar dengan apa yang Om lakukan, Om benar-benar bukan Om Rendi yang dulu.... Om sudah menjadi orang lain." Lirih Rendi dengan sendu.


Rasa penyesalan tersirat dalam benaknya, tapi dia juga tak bisa membiarkan orang lain dengan mudahnya menghina istrinya, siapapun orangnya, ya meskipun memang dulu Rendi lah orang yang selalu menghina istrinya, bahkan mulutnya tak kalah kotor karena selalu mengumpat istrinya dalam hati.


Tapi sekarang tidak lagi, rasa cintanya yang sudah terlalu dalam merubah semuanya.


🌺🌺🌺


Sepulang dari kerja Melly menaiki taksi online. Namun, tiba-tiba saja mobilnya terhenti di tengah perjalanan.


"Kenapa mobilnya Pak?" tanya Melly heran.


"Saya tidak tau Bu, saya coba cek dulu." Sahut sang sopir turun dan memeriksanya.


Melly juga ikutan turun dari mobil. "Maaf Bu, mobilnya sepertinya mogok." Ucapnya memberitahu.


Dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari sebuah bengkel. Karena di sekitar situ memang tidak ada, bahkan tidak ada rumah. Hanya sebatas jalan raya.


Melly memutuskan untuk memesan taksi online lagi. Tapi sinyalnya tidak ada, Melly melangkahkan kaki, berjalan agak jauh guna mendapatkan sinyal. Tapi dia malah merasa seperti ada seseorang pria yang mengikutinya dari belakang. Dua orang itu tampak begitu menyeramkan, badan keduanya begitu besar dan berkulit hitam pekat.


Melly mempercepat langkah kakinya, hingga kini sudah berlari kecil. Justru kedua pria itu makin mempercepat jalannya.


Apa mereka berdua akan berbuat jahat padaku?


Batin Melly, dalam hatinya ingin sekali berteriak minta tolong tapi jalanan terasa sangat sepi menjelang magrib.


Kini Melly melepas sepatu berhak 4 cm itu dan dia langsung berlari secepat mungkin. Tapi justru kedua pria itu makin cepat.


Untunglah ada Dion yang sedang mengendarai mobil dan melihat aksi kejar-kejaran mereka bertiga di pinggir jalan. Dion memperlambat kemudinya lalu menepikan mobil di samping Melly yang tengah lari terbirit-birit.


Dion membuka pintu mobil dan berkata. "Mell masuk..." Pekiknya.

__ADS_1


...🌾🌾🌾🌾🌾...


Yuk dukung Author dengan cara like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca ❤️ Jangan lupa favorit kan ya.....


__ADS_2