
"Iya, Mas. Memang kita pernah ketemu ... saat itu kamu menabrakku."
"Oh. Ternyata memang sejak dulu aku sudah sial bertemu denganmu!" umpat Rio sembari tersenyum miring.
Expresi wajah Wulan langsung menjadi sendu.
"Maksud Mas Rio ... aku pembawa sial buat hidup Mas Rio?"
"Iyalah jelas! Coba saja kau sejak dulu tidak jujur pada Mamah, aku tidak akan menikah denganmu!"
Deg......
Apa ini? Kenapa dia lagi-lagi menyalahkanku.
Batin Wulan.
"Aku juga tidak mau jujur awalnya, Mas. Tapi Mamah--"
"Halah ... bisa saja kau mengelak! Aku tau kok, kau memang sejak dulu hanya ingin memanfaatkanku! Aku tau itu, Wulan! Semua itu karena uang, kan?"
Deg......
Mata Wulan terbelalak.
"Tapi, Mas yang bilang sendiri waktu itu ... kalau ada biaya tambahan bisa minta pada Mas."
"Iya! Tapi kau terus menerus meminta! Sampai yang terakhir juga, harusnya kita itu sudah impas dengan menukar harga dirimu! Aku bahkan memberimu dua kali lipat! Tapi kau justru ingin aku tanggung jawab! Dasar wanita tidak tau diri!" umpat Rio dengan lantang.
Deg......
Seketika air mata Wulan berjatuhan membasahi pipi, terasa sakit didalam hatinya.
"Maafkan aku, Mas. Lalu sekarang aku harus bagaimana? Semuanya sudah terjadi ....," ucapnya sambil menyeka air mata.
"Lebih baik kita bercerai saja, Wulan!"
Deg....
Mata Wulan terbelalak kaget.
Apa? Dia meminta untuk kita bercerai?! Kita menikah baru beberapa hari. Apa memang dia tidak tahan tinggal lama-lama denganku?
Batin Wulan.
"Ya ... yasudah, Mas. Kalau memang kamu inginnya begitu ... aku tidak keberatan," lirih Wulan pelan.
"Mending kau saja yang katakan pada Ibuku! Bilang kau ingin bercerai denganku!" titah Rio.
"Kenapa musti aku?!" Wulan menunjuk dirinya sendiri. "Kan, Mas Rio yang ingin kita bercerai."
"Tapi kau 'kan bilang tadi tidak keberatan! Dasar bodoh!" dengkusnya kesal.
Wulan menelan salivanya begitu kasar.
"Baiklah, Mas. Tapi ... misalkan Mamah tanya alasannya ... aku harus jawab apa, Mas?"
"Jawab apalah terserah! Begitu saja kau bertanya! Tapi ... jangan pernah sekali-kali kau bilang aku yang menyuruhmu!" ancam Rio.
"Sudah sana keluar ... besok kau ke rumah Mamah dan menemuinya," lanjutnya lagi.
Deg......
Tanpa jawaban lagi Wulan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rio dan masuk kedalam kamarnya.
Ia melihat Clara yang tengah tertidur dengan pulas, perlahan Wulan duduk disisi ranjang sambil melamun, memikirkan hal yang tadi Rio bicarakan.
Bagaimana besok aku bicara pada Bu Santi? Apa dia akan setuju?
Jujur aku masih ingin berumah tangga dengan Mas Rio. Aku ingin menikah hanya sekali seumur hidup.
__ADS_1
Tapi sepertinya sampai kapanpun Mas Rio tidak bisa mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Lebih baik aku turuti saja, ya ... mungkin memang lebih baik begitu.
Batin Wulan pasrah.
***
Keesokan harinya, seperti biasa. Wulan menjalankan semua peraturan yang Rio buat. Namun kali ini, tidak ada sepatah katapun yang mereka bicarakan. Apalagi Rio, pria itu seakan menutup mulutnya sampai masuk kedalam mobil untuk berangkat kerja.
Pagi ini dia tidak menyetir mobil, melainkan yang menyetir mobilnya adalah Dido. Mata Rio menatap tajam kearah depan, tepat pada asistennya.
Aku masih penasaran antara Wulan dan Dido. Apa aku bertanya saja pada Dido?
Batin Rio.
"Dido ...," panggilnya.
"Iya, Pak." Dido melirik pada spion depan yang mengarah pada belakang, supaya bisa melihat wajah bosnya.
"Aku ingin bertanya padamu."
"Bicara saja, Pak."
"Apa aku mengenal Wulan?"
Deg......
Mata Dido terbelalak kaget.
"Nona Wulan, istri Bapak?"
"Iya."
"Tidak, Pak," jawabnya berbohong.
Pasti dia berbohong, sama saja dengan Wulan. Aku jadi makin penasaran.
Batin Rio.
"Tiga hari, dengan hari ini, Pak."
"Mulai besok kau tidak usah bekerja denganku lagi!" titah Rio.
Deg.....
"Memang saya salah apa, Pak? Kenapa Bapak memecat saya?"
"Kau tidak jujur padaku ... aku tau kau dan Wulan pasti saling mengenal, kan? Apa hubungan kalian?" tanya Rio penasaran.
"Saya tidak--"
"Kalau kau ingin berbohong lagi, bahkan hari ini aku akan memecatmu!" ancam Rio.
Deg......
Jantung Dido langsung berdetak lebih kencang, antara binggung mau jujur atau tidak. Kalau jujur ... dia takut Rio marah. Tapi sama saja, kalau dia tidak jujur .... Rio juga akan marah.
Ia menelan saliva nya begitu kasar. "Saya memang mengenal Nona Wulan, istri Bapak," ucapnya dengan hati-hati.
Akhirnya jujur juga dia, memang aku sudah menyangka mereka saling mengenal.
Batin Rio.
"Lalu ... apa hubunganmu dengan Wulan?!"
Deg......
"Dia ... dia ... dia mantan pacar saya, Pak."
Deg......
__ADS_1
Mata Rio terbelalak kaget.
"Apa kau berbohong padaku?"
"Tidak, Pak. Saya berkata jujur."
Ternyata mantan pacarnya, pantas saja Wulan seperti membenci Dido. Tapi ... apa alasan mereka putus? Apa Dido menyakitinya?
Batin Rio.
"Apa aku boleh bertanya apa alasan kalian putus?"
Deg.......
Kenapa Pak Rio tiba-tiba bertanya seperti ini? Aku tidak mau membahasnya, tapi ... aku juga tidak ingin dipecat.
Batin Dido.
"Itu salah saya, Pak. Dulu saya meninggalkannya," jawab Dido.
"Oh. Hanya itu?" tanyanya lagi.
"Iya, Pak."
"Tapi ... aku lihat sepertinya Wulan sangat membencimu. Apa alasanmu dulu meninggalkan, Wulan?"
"Maafkan saya, Pak. Tapi menurut saya ini masalah priba--"
"Kau masih ingin bekerja denganku atau tidak?!" sergah Rio dengan cepat menyela ucapan Dido.
Pria berkumis tipis itu mengangguk. "Iya, Pak. Saya masih ingin bekerja dengan Bapak."
Rio melipat kedua tangannya diatas dada. "Kalau memang masih ingin bekerja denganku. Cukup kau jawab saja apa yang aku tanya tadi!"
"Iya Pak. Maafkan saya. Saya dulu memang meninggalkannya karena saya menikah dengan wanita lain ...."
Deg......
"Jadi kau dulu selingkuh dari Wulan?"
"Tidak, Pak. Saya tidak berselingkuh ... tapi memang saat itu saya sudah mencintai wanita lain. Sebelum saya meninggalkannya, saya sudah meminta Wulan untuk mengakhiri hubungan," jelas Dido.
"Oh. Lalu ... kenapa kemaren Wulan seperti marah padamu, apa yang kau lakukan padanya?" tanya Rio mengangkat alis matanya keatas.
"Saya hanya ingin mengajaknya bicara baik-baik, Pak. Tapi Wulan menolaknya."
Deg......
Tiba-tiba Rio merasa emosi di dadanya bermunculan.
"Apa kau bilang?! Mengajaknya bicara? Apa yang ingin kau katakan padanya, memang?"
"Saya ... hanya ingin meminta maaf, Pak. Atas semua yang saya lakukan. Jujur saya sangat menyesal meninggalkannya."
"Apa maksudmu menyesal? Atau jangan-jangan kau masih mencintai istriku, Wulan?" tanya Rio sambil melotot.
"Sa-saya ...." Bibir Dido seakan bergetar.
"Jawab aku cepat!" desak Rio.
"Iya, Pak. Saya masih mencintai Wulan, istri Bapak."
Deg......
Mata Rio terbelalak kaget, emosinya makin memuncak dan ubun-ubunnya terasa panas. Entah kenapa dia begitu kesal atas pengakuan dari asistennya itu.
"Berhentikan mobilnya sekarang!" pekik Rio dengan lantang.
Tanpa jawaban Dido segera menepikan mobilnya disisi jalan. Rio langsung keluar dari pintu belakang mobil dan membuka pintu depan mobil, tepat dimana Dido duduk.
__ADS_1
^^^Kata: 1030^^^