Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 13. Dede bayi


__ADS_3

Pagi hari menjelang, Wulan sudah cantik dan rapih. Ia melangkah menuju kamar Rio, tangannya perlahan menurunkan gagang pintu. Tapi kali ini pintunya di kunci dari dalam.


Kok tumben Mas Rio mengunci pintunya, apa dia masih marah padaku? Seharusnya aku tidak berbicara dengan nada tinggi padanya, dia sekarang pasti makin membenciku.


Batin Wulan.


Kepalan tangan itu langsung mendarat pada pintu.


Tok ... tok ... tok.


"Mas ... Mas Rio, apa aku boleh masuk?"


Beberapa detik tidak ada jawaban, ia segera mengetuk pintu kembali.


Tok ... tok ... tok.


Ceklek....


Pintu itu langsung terbuka, terlihat Rio sudah mandi dan berpakaian rapih. Namun wajah begitu masam.


"Mas ... kamu sudah mandi?" tanya Wulan.


Rio tidak menjawabnya, ia langsung turun dari anak tangga. Wanita itu ikut turun mengejarnya.


"Selamat pagi Clara sayang," sapa Rio sambil tersenyum.


Ia menggeserkan kursi didekat gadis kecil itu.


"Pagi Kak Rio."


Wulan juga duduk disamping Rio. "Mau sarapan apa, Mas?"


Diatas meja sudah ada nasi goreng, roti dan beberapa selai. Ada nasi putih dan beberapa lauknya juga.


Rio mengambil dua helai roti tawar dan mengolesi selai kacang diatasnya.


Apa dia benar-benar marah? Sampai aku tanya saja tidak dijawab.


Batin Wulan.


Tangannya menggeser kopi hitam supaya lebih dekat dengan suaminya.


"Ini kopinya, Mas."


Karena tidak ada jawaban lagi, Wulan ikut terdiam dan sarapan bersama.


Tak lama datang seorang pria berkumis tipis menghampiri mereka bertiga di meja makan.


"Selamat pagi Pak Rio, Nona Wulan dan Nona Clara," sapa Dido dengan sopan.


Melihat dan mendengar suara dari pria itu sontak membuat Wulan tersendak.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk."


Dengan cepat ia mengambil gelas yang sudah terisi air, ia menenggaknya sampai habis.


Dia ini. Apa yang dilakukan tidak pernah becus! Makan saja tersendak.


Umpat Rio dalam hati.


Kak Dido ngapain sih pagi-pagi sudah kesini! Bikin aku tidak selera makan saja.


Gerutu Wulan.


Kenapa dia seperti kaget lihat aku datang. Apa dia memang tidak suka melihatku kesini?

__ADS_1


Batin Dido.


"Maaf, Pak. Pagi-pagi Bapak telepon saya disuruh datang kesini. Memangnya ada apa ya, Pak?" tanya Dido.


"Kau antarkan Wulan dan Clara ke rumah sakit. Nanti sekalian ...." Rio menghentikan ucapannya sebentar, tangannya meraih lengan Dido supaya bisa berbisik pada telinganya.


Pria berkumis tipis itu hanya mengangguk-angguk paham.


"Baik, Pak."


"Yasudah, kau tunggu saja di luar. Jangan ganggu kita semua sedang sarapan," usir Rio.


Dido mengangguk dan langsung berjalan keluar dari pintu utama.


Sepeninggal pria itu, Wulan segera menoleh kearah Rio.


"Mas ... aku dan Clara naik taksi saja, tidak perlu diantar oleh asisten Mas Rio," tolak Wulan.


"Kenapa memangnya?" tanya Rio dengan mulut yang masih mengunyah roti.


"Aku tidak mau merepotkan saja, aku bisa pergi berdua dengan Clara."


"Apa kau lupa dengan peraturan terakhir menjadi istriku?"


Deg........


Wanita itu mencoba mengingat-ingat lagi.


Oh iya, aku tidak boleh membantah dan harus menuruti ucapannya. Tapi sebenarnya aku tidak mau jika bersama dengan Kak Dido, aku benci dengannya. Kenapa juga dia jadi asisten Mas Rio?


Batin Wulan.


"Kalau kau tidak mau, itu tandanya memang kau tidak sungguh-sungguh menjadi istriku," celetuk Rio.


Deg........


Deg.....


Mendengar sebutan kata 'Kak' membuat Rio menoleh padanya.


"Kak?! Kau panggil Dido dengan sebutan Kakak?!" tanya Rio seraya mengerutkan dahi.


Kenapa aku bisa keceplosan.


Batin Wulan.


"Maksudku Pak Dido, Mas."


"Memangnya kau kenal dengan Dido?"


"Tidak, Mas."


"Lalu kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Kakak?"


"Aku salah menyebut saja," elak Wulan.


"Kau pasti berbohong! Mana ada orang yang tidak kenal memanggil sebutan Kakak, sebutan itu jarang sekali dipakai. Kecuali untuk saudara dan teman terdekat. Apa jangan-jangan ...."


Bibir Wulan langsung bergerak kala melihat mulut Rio yang tengah menganga hendak meneruskan ucapannya.


"Eemm ... lupakan saja, lagian tidak penting. Mau kau kenal atau tidak, itu bukan urusanku!" ujarnya dengan ketus.


Wulan langsung menghela nafas dengan lega.


Syukurlah. Walau dia bilang aku tidak penting, setidaknya dia tidak curiga pada aku dan Kak Dido. aku akan bersikap pura-pura tidak kenal saja pada pria itu.

__ADS_1


Batin Wulan.


"Oya, kesalahanmu semalam itu harus dapat hukuman. Nanti malam setelah aku pulang kerja kau harus siap menerima hukuman itu!" tegur Rio.


Deg......


Hukuman? Apa aku akan disiksa? Masa sih dia akan melakukan KDRT padaku.


Batin Wulan.


"Kak Rio ... memangnya Kak Wulan salah apa? Kok Kakak menghukumnya?" tanya Clara penasaran.


Aku sampai lupa ada Clara disini. Dia terlalu kecil untuk tau semuanya.


Batin Rio.


Rio melayangkan senyum pada Clara. "Kak Wulan semalam berbicara dengan nada tinggi pada Kakak. Menurut Kakak itu tidak sopan, jadi Kakak akan menghukumnya."


"Hukumannya apa, Kak? Apa Kak Wulan akan di kurung didalam kamar?" tanya Clara.


"Kok kamu bisa tau?"


"Kata teman aku, dia sering dihukum sama Mamahnya. Dikurung didalam kamar, Kak. Tidak boleh main dan pergi kemana-mana," ujar Clara.


Rio menoleh kearah Wulan dengan senyum menyeringai.


"Sepertinya Kak Wulan akan dikurung juga. Tapi hanya semalam."


Deg.....


Wulan menelan saliva nya begitu kasar.


"Tapi ... Kakak jangan sakiti Kak Wulan, kasihan," pinta Clara dengan wajah memelas.


Rio mengangkat bokongnya sambil membenarkan jas.


"Tidak sayang, Kakak ini orang baik. Tidak mungkin menyakiti Kakakmu. Yasudah, Kak Rio berangkat kerja dulu. Nanti kamu belajar yang rajin, ya?" Ia menghampiri gadis kecil itu dan mencium keningnya.


"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati di jalan dan kerjanya," jawab Clara.


Rio mengangguk dan kini berjalan keluar dari rumahnya.


Setelah beberapa menit selesai sarapan, Wulan bersiap-siap untuk ke rumah sakit dengan Adiknya.


Sekarang mereka berdua sudah duduk dibelakang mobil, sedangkan Dido menyetir. Namun sesekali pria itu memperhatikan Wulan dari spion didepannya.


Ternyata Wulan istrinya Pak Rio. Kok bisa dia menikah dengan Pak Rio?! Tapi Wulan kenapa seperti pura-pura tidak kenal denganku? Apa mungkin dia masih kesal?! Kalau ingat dulu, aku seperti orang yang jahat.


Batin Dido.


Sejujurnya Wulan merasa kalau ia tengah diperhatikan oleh Dido. Tapi sikapnya biasa saja dan terkesan cuek, dia masih sibuk mengobrol dengan Clara.


"Kakak, apa Kak Rio sering marah-marah sama Kakak?" tanya Clara, mendongak kearah wajah Wulan.


Wulan memeluk tubuh kecil itu. "Tidak kok. Memang Kakak yang salah semalam. Kamu tidak perlu memikirkan itu."


"Nanti setelah aku ke rumah sakit dan sekolah. Aku ingin main ke rumah Dede Bayu, Kak. Apa boleh?"


"Iya, boleh. Nanti Kakak juga ikut menemanimu," jawab Wulan.


Tangan kecil itu tiba-tiba memegang perut Wulan.


"Didalam perutnya Kak Indah ada Dede bayi, apa didalam perut Kakak juga ada?" tanya Clara.


Deg.......

__ADS_1


^^^Kata: 1034^^^


__ADS_2