
"Masuk." Sahut Rendi dari dalam.
"Pak Rendi cari saya?" tanya Dion yang masuk ke ruangan Rendi.
"Iya." Ucap Rendi. Asistennya langsung duduk. Rendi pun menyuruh Dion untuk mencarikan rumah yang tidak terlalu besar di daerah sini.
Setelah Dion keluar dari Rendi. Beberapa jam kemudian suara ketukan pintu yang terdengar dari luar ruangan Rendi. Rupanya itu Meli sekretarisnya dan bilang kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengannya Rendi pun langsung bertanya, "Siapa?" karena hari ini Rendi tidak ada janji dengan siapapun.
"Mbak Siska." Siska langsung membuka pintu dan berkata. "Ren apa kamu sibuk?" tanya Siska yang berdiri di depan pintu.
"Siska... Aku nggak sibuk." Jawab Rendi yang kaget melihat kedatangan Siska lagi, dia pun bertanya. "Kamu ke sini lagi Sis ada apa?"
"Ren kok kamu ngomongnya gitu, emang aku nggak boleh ya ketemu lagi sama kamu?" Ucap Siska dengan manja dan menghampiri Rendi yang duduk di kursi empuknya.
"Enggak gitu Sis aku kan cuma tanya, kamu duduk deh." Menyuruh siska duduk namun Siska duduk sofa yang ada ruangan Rendi. Rendi pun menghampirinya dan duduk di samping Siska. Siska pun berkata. "Ren kamu jujur sama aku. Apa sekarang kamu udah nggak cinta lagi sama aku." sambil memegang tangan Rendi.
"Siska kok kamu nanya kaya gitu." Melepas tangan Siska. Siska pun melanjutkan. "Rendi maafin aku, aku dulu udah ninggalin kamu. Aku menyesal!." Mencoba memegang tangan Rendi kembali.
"Terus kenapa dulu kamu tinggalin aku demi laki-laki tua itu." Ucapan Rendi membuat Siska kaget.
Rendi diberitahu oleh teman-temannya sering melihat dia jalan bersama laki-laki lain, Siska beralasan kalau dulu dia meninggalkan Rendi karena merasa tertekan. Dia meminta maaf dan merayu Rendi untuk bisa balikkan.
__ADS_1
Rendi pun berkata. "Yang benar saja kamu, aku sudah menikah."
"Menikah katamu? Kamu juga terpaksa kan menikah. Apa kamu di jodohkan ibumu?" ucap Siska yang tak percaya dengan perkataan ibu Rendi di kemarin.
"Enggak Sis. Aku yang mencari calon istri sendiri." Tegasnya
"Ren aku masih sangat mencintaimu. Apa kamu sudah enggak ada perasaan sedikit pun sama aku lagi." Memeluk dan jantung Rendi pun langsung berdebar tidak bisa bohong dia masih sangat mencintai Siska. dan Siska juga adalah cinta pertama Rendi. "Aku juga masih cinta sama kamu Siska." Ucap Rendi yang mulai luluh kembali.
Rendi menceritakan hubungan pernikahannya Dengan Indah. Awalnya dia ragu untuk balikan bersama Siska karena dia takut kalau ibunya sampai tahu, namun Siska menyarankan untuk berhubungan secara diam-diam. Rendi pun mengiyakan ajakan dari Siska dan mereka resmi balikan dan berhubungan kembali.
Sebenarnya Siska adalah perempuan matre yang selalu ingin bersama laki-laki kaya, dia dulu meninggalkan Rendi karena memilih bersama orang yang jauh lebih kaya dari Rendi. Dia tidak pernah memilih laki-laki. Mau tua ataupun muda. Mau perjaka, duda ataupun beristri dia tidak peduli asalkan orang kaya.
Lagi-lagi dia memanfaatkan Rendi. Karena dia tau Rendi orang yang susah jatuh cinta, dan hanya mencintai dirinya seorang.
***
Sepulang kerja Indah langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. "Mah." Panggil Indah ketika masuk ke kamar perawatan ibunya. Terlihat ibunya sedang makan di suapi oleh suster. "Iya Ndah kamu ke sini." Jawab ibunya.
"Mamah lagi makan, sini biar aku aja yang menyuapi Mamah Sus." Mengambil mangkuk yang ada di tangan suster lalu menyuapi ibunya dan bertanya kepada suster. "Sus gimana keadaan Mamah sekarang?" tanya Indah.
"Ibu Sarah sudah jauh lebih baik dan kata dokter Ibu Sarah sudah boleh pulang besok." Sahut susternya.
__ADS_1
"Serius Sus?" Tanya dengan mata yang berbinar-binar. "Iya Ndah Mamah udah bisa pulang besok." Jawab ibunya.
"Alhamdulilah ya Mah." Merasa senang sambil memegang tangan ibunya.
Akhirnya perjuangan ku enggak sia-sia, terima kasih ya Allah. Ucapnya dalam hati dengan penuh syukur.
Setelah selesai bertemu dengan ibunya, Indah pamit untuk pulang dan mencari ojeg di sekitar rumah sakit. Namun tiba-tiba ponsel Indah berbunyi mertuanya yang menelepon untuk mengajaknya Indah janjian makan malam bersama di sebuah restoran dan Indah pun bersedia.
"Mamah bukannya hari ini mau pulang ke luar kota ya? Kok malah ngajak makan bareng. Apa aku tanya pak Rendi dulu." Ucapnya lalu Indah mencoba menelepon Rendi, tapi tidak ada jawaban. Dia berfikir kalau mungkin Rendi sedang sibuk. Lalu sekarang dia langsung pergi ke restoran dengan menaiki ojek.
Sampainya Indah di restoran, tampaknya restoran sangat sepi hampir tidak ada pengunjung sama sekali. Ternyata restoran itu sudah di booking oleh mertuanya. Terlihat dari jauh ibu Santi sedang duduk berdua dengan seorang laki-laki, Indah berjalan menghampiri mertuanya itu namun setelah semakin mendekat Indah baru sadar kalau orang yang bersama mertuanya itu adalah ayahnya, Indah langsung berkata. "Mah. Eh aku kira kita cuma makan berdua."
"Maaf ya sayang Mamah enggak bilang mau ngajak Papah juga." Jawab ibu Santi sambil melihat ke arah suaminya yang hanya duduk diam. "Iya nggak apa-apa kok Mah." Jawab Indah kemudian dia duduk.
Papah kan suaminya jadi wajar sih kalau mamah ngajak papah, tapi kenapa aku kok nggak mikir ke situ ya? Sebenarnya aku nggak mau ketemu papah lagi, kalau aku pergi aku malah nggak enak sama mamah Santi. Aku nggak mau buat mamah kecewa, mamah Santi udah baik banget sama aku. Dalam hati Indah.
Pelayan pun datang membawa beberapa menu di meja makan mereka. Rupanya sebelum Indah datang mertuanya sudah lebih dulu memesannya. Perut Indah juga sudah siap menerima makanan yang sudah ada di meja makan. Mereka bertiga makan namun sejak Indah datang pak Hermawan tidak mengatakan apapun karena Indah juga hanya bertanya kepada ibu Santi dan menganggap seolah-olah ayahnya tidak ada di sana.
"Oya Ndah, Mamah dan Papah mutusin buat tinggal di Jakarta. Mamah akan tinggal bersama Rio, Mamah juga pengen kamu lanjut kuliah lagi." Ucap mertuanya sambil mengunyah makanan. Indah pun menjawab. "Aku juga pengen Mah sebenarnya, tapi kayaknya aku belum bisa lanjut sekarang. Soalnya aku baru mulai masuk kerja lagi."
"Kenapa kamu kerja? Apa Rendi enggak pernah kasih kamu uang bulanan?" tanyanya lagi. "Bukan gitu kok Mah. Aku cuma enggak mau merepotkan Mas Rendi aja."
__ADS_1