
"Lalu mengenai Indah bisa masuk ke UGD itu bagaimana ceritanya? Bukannya tadi pagi Papah bilang Indah baik-baik saja?! Dan hanya kelelahan, Papah juga bilang tadi pagi Indah tidak hamil. Sekarang Papah bilang Indah hamil?! Astaga, Pah. Maafkan Mamah, Mamah tidak mengerti jadinya," ucap Santi kebingungan.
Mawan mengajaknya untuk duduk di kursi panjang, didepan ruang perawatan Indah.
Tangan Mawan perlahan mengenggam tangan Santi begitu hangat.
"Sebenarnya Papah tadi berniat ingin menikahkan Indah dengan Rio, Mah."
Deg.....
Mata Santi terbelalak. "Apa?! Berniat menikahkan? Jadi pas pagi tadi Papah bawa Indah ke rumah sakit berarti tidak? Atau bagaimana? Coba ceritakan semuanya, Pah. Mamah tidak mengerti."
Mawan menghela nafas dengan gusar. "Tadi pagi Indah pingsan, tapi Papah tidak membawanya ke rumah sakit, Mah. Papah langsung bawa Indah ke gedung pernikahan. Papah memaksanya untuk menikah dengan Rio. Papah pikir Indah akan setuju dan menuruti omongan Papah, ternyata tidak," tutur Mawan.
"Lalu bagaimana selanjutnya? Kenapa bisa masuk UGD?"
"Itu berawal dari kedatangan Reymond, Mah. Dia mengacaukan semua acara ijab kabul Indah dan Rio. Entah pria itu datang dari mana, kenapa dia bisa tahu dan menggagalkan semuanya?! Kedatangan Reymond membuat suasana makin kacau balau, Papah sempat mencekiknya karena terlalu kesal dengan tingkahnya itu. Tapi Indah tidak terima, dia mencoba bunuh diri dengan todongan gunting pada perutnya sendiri, kalau Papah sampai tidak melepaskan Reymond."
"Lalu? Apa Indah menusuk ....,"
"Tidak!" sergah Mawan menyela ucapan. "Itu tidak sampai terjadi, Mah."
Air mata Santi langsung berlinang. "La-lalu, apa Reymond selamat? Apa dia baik-baik saja?" Santi menarik-narik lengan suaminya, merasa khawatir dengan anak pertamanya itu.
Mawan menggelengkan kepala. "Reymond baik-baik saja, tapi Indah yang jatuh pingsan. Dia mengalami pendarahan dan sakit perut, Papah dan Reymond membawanya kesini. Untung langsung ditangani, kalau tidak. Papah tidak akan memaafkan diri Papah sendiri, Mah," jelas Mawan sambil menanggis.
Tangan Santi perlahan mengusap-usap dada suaminya.
Aku sebenarnya kesal dengan sikap Papah, Papah sudah membohongi aku dan Indah. Tapi aku tidak tega dengannya, aku tau Papah sangat menyayangi Indah. Tapi caranya salah.
Batin Santi.
"Apa sekarang Papah menyesal?" tanya Santi.
Mawan mengangguk. "Tapi masalahnya Papah kasihan dengan Rio, Mah. Dia dari dulu suka dengan Indah. Dan sekarang Indah malah hamil anak orang lain. Dia pasti merasa kecewa."
__ADS_1
Santi menyeka air mata Mawan. "Papah, Mamah tau Papah sayang dengan Rio. Mamah juga senang, mau Rendi, Rio ataupun Indah. Papah menyayangi mereka dan tidak membanding-bandingkannya. Tapi Papah juga harus ingat satu hal ....,"
Mata Mawan langsung menatap dalam pada mata Santi. "Apa, Mah?"
"Indah anak kandung Papah. Putri Papah satu-satunya, Papah dan Mamah menikah bahkan tidak punya anak. Keturunan Papah hanya Indah, kenapa Papah bisa sejahat ini dengan putri kandung Papah sendiri?!" Air mata Santi akhirnya lolos membasahi pipi.
"Apa Papah sudah lupa dulu Papah menyakiti Indah? Bagaimana perjuangan Papah dapat maaf dari Indah? Apa Papah mau Indah membenci Papah dan makin jauh menyayangi Antoni yang justru hanya Papah tirinya?!"
Deg.....
Mawan menggeleng kepala dengan cepat. "Tidak, Mah. Papah masih ingat itu, Papah tidak mau Indah membenci Papah dan jauh menyayangi orang lain daripada Papah sendiri."
"Dari dulu dia sangat rapuh, Pah. Dia selalu menderita. Sekarang tugas Papah hanya membahagiakannya saja, kalau memang Indah mencintai Reymond. Biarkan saja, restui mereka," ucap Santi sedikit masuk kedalam hati Mawan.
"Apa maksud Mamah? Kenapa Mamah bilang seperti itu?! Rio ini anak Mamah, bukan Reymond! Kenapa Mamah lebih mendukung dia daripada diriku!" pekik Rio yang tiba-tiba datang dihadapan mereka, langsung menyerbu ucapan Santi karena merasa tak terima.
Mata Santi terbelalak, dia segara bangun dan mengayunkan tangannya keatas.
Plakkkk.........
Ini untuk pertama kalinya Rio ditampar oleh Ibunya sendiri.
"Kau bodoh Rio!! Mamah benci padamu! Bukannya kau tau dari dulu Indah tidak menyukaimu?! Kau pernah berjanji sama Mamah, kalau kau akan melupakan Indah. Tapi sekarang apa? Kau pembohong!" pekik Santi seraya menunjuk-nunjuk dada bidang Rio.
"Iya, aku memang dulu sempat mencoba melupakan Indah. Tapi aku tidak bisa, Mah. Aku hampir gila! Karena siang dan malam terus memikirkannya, aku ingin Indah menjadi milikku!" pekik Rio dengan lantang.
Plakkk.......
Rio lagi-lagi ditampar oleh Santi.
"Tapi kau tidak boleh memaksanya Rio! Itu sama saja kau menyakitinya, bodoh!" Santi langsung memeluk tubuh Rio begitu erat.
"Wanita diluar sana masih banyak, bukan hanya Indah. Kalau kau memang ingin menikah, Mamah akan mencarikan gadis dan menjodohkan denganmu."
Deg.....
__ADS_1
Rio segara melepaskan pelukan. "Tidak! Aku tidak mau! Aku hanya ingin Indah menjadi istriku!"
Kenapa Rio begitu egois? Aku tak menyangka sikapnya bisa buruk seperti ini. Aku kira hanya Rendi yang menyebalkan! Ternyata Rio jauh lebih parah.
Batin Santi.
"Kalau kau tidak mau, oke. Tapi mulai sekarang kau bukan lagi anak, Mamah. Mamah akan mencoret namamu dari kartu keluarga!" ancam Santi.
Mata Rio terbelalak. "Apa maksud Mamah?! Mamah pertama kehilangan Kak Rendi, tapi sekarang Mamah rela untuk kehilanganku?! Apa memang Mamah tidak pernah sayang padaku?!"
"Kalau memang kau menganggap Mamah begitu, biarkan saja! Mamah tidak peduli! Lebih baik Mamah tidak punya anak sekalian! Daripada punya anak tidak menurut!" cicit Santi.
"Tapi, Mah. Aku sangat mencintai Indah, dia ....,"
"Tutup mulutmu Rio! Sekarang pergi dari sini! Mulai besok kau juga tidak boleh memegang kantor Rendi! Kau bahkan belum menghasilkan uang dari kantor yang kau jalani sekarang! Tidak berguna! Kau juga tidak boleh tinggal di rumahmu! Itu semua bukan uangmu! Kau memakai uang dari kantor Rendi! Seluruh aset yang kau punya akan Mamah ambil, karena itu bukan milikmu!" pekik Santi dengan emosi.
Deg....
Mawan berdiri seraya mengendong Bayu dan menghampiri mereka berdua, masih dalam perdebatan. "Mamah, apa yang Mamah katakan? Mamah tidak boleh melakukan hal itu kepada Rio," ucap Mawan membela.
"Papah pernah bilang sama Mamah. Kalau Rio anak yang penurut, bukan?" Mawan mengangguk.
Santi menunjuk wajah Rio. "Lihat dia sekarang? Dia tadi menolak permintaan Mamah!"
Matanya menatap tajam pada Rio. "Pergi dari sini dan anggap Mamah bukan ibumu lagi! teriak Santi.
Rio menggeleng kepala. "Tidak, Mah. Rio tidak mau."
"Sekarang terserah kamu, kamu pulanglah ke Jakarta dan renungkan semuanya. Pilihan kamu hanya dua." Santi menunjukkan kedua jarinya kepada wajah Rio.
"Turuti omongan Mamah atau menjadi gelandangan!" pekik Santi mengancam.
Deg.....
Kenapa Mamah jadi menyudutkanku begini?! Aku harus bagaimana sekarang?
__ADS_1
Batin Rio.
^^^Kata: 1018^^^