
"Aaaakkkhhhh .... brengs*k! Sudah setuju menikah! Sekarang tidak boleh bercerai! Hidupku terlalu dikekang begini! Lama-lama aku bisa stres dan gila!"
"Ini semua gara-gara kau, Wulan!" teriak Rio dengan lantang.
***
Sampainya di rumah Hermawan.
Rio langsung masuk kedalam, karena pintu rumah itu juga terbuka lebar. Ada Ibu dan istrinya tengah duduk di ruang tamu.
Wulan segera bangun menyambut kedatangan Rio.
"Mas Rio ...."
Santi tersenyum manis memandang Rio, namun tidak dengan wajah anak keduanya itu. Sudah masam berbalut emosi.
"Mamah, aku tinggal di kamar mana?" tanya Rio sambil tersenyum paksa.
"Kamar yang tadi siang kamu pakai buat bercinta."
Glek......
Rio meneguk salivanya begitu kasar.
Apa-apaan Mamah ini, bercinta-bercinta. Siapa yang habis bercinta. Lagian, tau dari mana sih.
Batin Rio.
Kepala Wulan menunduk, ia begitu malu kalau sampai ada yang melihat pipinya sudah merah merekah.
"Yasudah, aku keatas dulu Mah," pamit Rio seraya berjalan menuju tangga.
"Mamah, aku menyusul Mas Rio dulu, ya?" ucap Wulan.
"Iya, setelah kalian selesai. Kita makan malam bersama," balas Santi.
"Iya, Mah," jawab Wulan seraya menaiki anak tangga.
Sampainya didalam kamar, Rio sudah duduk di sofa sambil menyenderkan punggungnya.
"Mas Rio mau mandi sekarang?" tanya Wulan.
"Iyalah."
Wulan berjongkok untuk melepaskan sepatu dan kaos kaki, kemudian membuka gesper pada pinggang Rio dan melepaskan kancing beserta resleting celana.
Sebenarnya aku kesal sekali padanya, tapi aku harus kontrol emosi. Karena disini banyak telinga yang mendengar. Apalagi jika Mamah yang dengar langsung, aku bisa habis olehnya.
Batin Rio.
Sesudah melepaskan semua pakaian Rio, Wulan berjalan menuju kamar mandi untuk mengisi air hangat pada bathtub. Rio langsung memasukkan tubuhnya didalam sana.
"Kau jangan pergi. Mulai sekarang, setiap aku mandi sepulang kerja ... kau harus membantuku," titah Rio yang mencegah Wulan hendak keluar dari kamar mandi.
"Iya, Mas."
"Kau sudah mandi belum?" tanya Rio.
Harusnya dia tau, Wulan sendiri sudah berdandan dan mengenakan setelan piyama tidur lengan panjang.
"Memangnya aku terlihat belum mandi, Mas?"
"Aku ini tanya padamu! Kenapa kau malah balik tanya," dengkus Rio kesal.
"Maaf ... aku sudah mandi, Mas." Wulan mendekat pada Rio seraya berjongkok, ia mengambil selang shower hendak menyiram kepala Rio.
__ADS_1
"Nanti dulu," cegah Rio. "Kau lepaskan dulu pakaianmu!"
Deg........
Mata Wulan terbelalak. "Lepaskan? Apa maksudnya? Aku sudah bilang tadi, aku sudah mandi, Mas." Ia memeluk tubuhnya sendiri.
"Cih! siapa yang ingin mengajakmu mandi
bersama! Aku hanya meminta kau melepaskan pakaianmu! Itu supaya tidak basah seperti kemarin!" titah Rio.
Lebih baik basah dari pada tanpa busana.
Batin Wulan.
"Tidak apa, Mas. Nanti aku ganti pakaian saja kalau basah." Wulan menolak permintaan Rio, dan kini ia menyiram rambut kepala suaminya untuk segera diberi shampoo.
Dasar! Suruh melepaskan pakaian saja tidak mau. Memang dia itu harus dipaksa dulu, baru menurut.
Batin Rio.
Rio merasakan nikmatnya pijatan dan gosokkan lembut pada rambut kepalanya, hingga kedua matanya menjadi sayup dan ingin terpejam.
"Aku tau kau pasti takut 'kan kalau kau melepaskan pakaianmu," tebak Rio.
"Takut. Takut apa?" tanya Wulan.
"Bisa juga kau berpura-pura. Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu lagi ... tadi siang itu, aku hanya hilaf, kau lupakan saja," ucapnya dengan santai.
Ada ya suami bilang hilaf mengajak istrinya bercinta. Ah ... bukan mengajak, tapi memaksa.
Batin Wulan.
"Iya, Mas."
Memakaikan Rio shampoo sudah, kini Rio sudah berdiri. Untuk menerima sentuhan spons yang sudah berbusa dari sabun, menyapu pada kulitnya.
Gerutu Wulan.
Wulan mengusap-usap spons itu secara perlahan, pandangan mata itu dia alihkan supaya tidak melihat sesuatu yang sudah tegang dibawah sana.
Tidak seperti Wulan, Rio justru melihat tubuh bagian bawahnya itu.
Kenapa burungku bisa tegang begini, terlihat begitu keras sekali. Padahal sudah ku keluarkan isinya tadi siang.
Batin Rio.
Rio sudah selesai mandi dan berpakaian, kini Wulan yang beralih mengganti baju tidurnya didalam kamar mandi.
"Aku tidak mau makan di meja makan, kau ambilkan saja makan malamku dan antarkan kesini," titah Rio yang melihat Wulan keluar dari kamar mandi.
"Iya, Mas."
Tanpa banyak berkata, Wulan turun dari tangga. Pas sekali dengan Clara yang keluar dari kamar sebelahnya.
"Kakak, aku lapar," ucap Clara seraya memegangi perut.
"Ayok makan, tadi Mamah Santi juga sudah mengajak." Wulan memegangi tangan kecil Clara dan mengajaknya untuk turun dari tangga.
Terlihat semua anggota keluarga baru duduk di kursinya masing-masing, mereka bersiap untuk makan malam bersama.
"Kaka Lala, ayok duduk camping Bayu," ajak Bayu dengan tangan yang melambai.
"Ayok makan bareng, Wulan ... Clara," ajak Indah.
"Iya, Ndah."
__ADS_1
Clara sudah berjalan dan duduk disamping Bayu.
"Mamah, apa aku boleh mengambil nasi dan beberapa lauk untuk Mas Rio?" tanya Wulan pada Santi, ia sudah menegang piring.
"Memang dimana Rionya?" Santi berbalik tanya.
"Ada di kamar, dia bilang mau makan di kamar, Mah."
"Manja sekali si Rio ini, mentang-mentang sudah punya istri!" umpat Reymond.
"Oh, yasudah. Ambil saja, kau mau makan di kamar juga?"
"Tidak, Mah. Aku makan disini."
"Yasudah biar Bibi saja yang antar makanan Rio kesana. Kau duduk dan makanlah."
"Biar aku saja Mah, lagian Mas Rio yang menyuruhku," tolak Wulan.
Santi hanya tersenyum dan mengangguk. Ia mulai melahap satu satu sendok pada mulutnya.
.
.
.
.
.
Wulan sudah membawa nampan yang berisi nasi, kentang balado dan ayam goreng diatas piring. Ada mangkuk berisi sayur sop. Ia tidak membawa air minum, karena didalam kamar juga sudah ada.
Salah satu tangannya sudah bersiap untuk mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!" pekik Rio dari dalam.
Ceklek.....
Pria itu tengah duduk diatas kasur sambil menyender disisi ranjang.
"Ini makan malamnya, Mas." Wulan meletakkan nampan itu diatas meja, dekat kasur.
"Lho ... kok ini sih?" Rio terlihat begitu kecewa dan kesal dengan apa yang Wulan bawa.
"Memang kenapa, Mas? Apa ada yang salah? Makan malam yang ada di meja makan memang itu," ucap Wulan.
"Aku 'kan tidak bilang ingin makan malam dengan itu, Wulan!"
"Lalu apa? Mas Rio hanya bilang makan malam."
"Kau yang tidak tanya! Harusnya kau tanya, aku ingin makan malam dengan apa?! Tidak ada pengertian sekali kau jadi istri, Wulan!" seru Rio kesal.
Giliran begini kamu bawa-bawa nama istri, tadi siang minta bercerai.
Sabar-sabar.
Batin Wulan.
Ia menghela nafas dengan gusar. "Maafkan aku, Mas. Lalu Mas Rio mau makan malam dengan apa?"
"Nasi goreng!"
Wulan mengangkat lagi nampang itu dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Tapi kau yang buatkan! Jangan lupa teh manis hangatnya juga!" pekik Rio dengan lantang
^^^Kata: 1032^^^