Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 64. Nyosor


__ADS_3

Namun sayang, sudah di telepon hampir 5 kali. Indah sama sekali tidak menjawabnya, karena posisi Indah sekarang sedang duduk disamping Mawan menaiki mobil.


Ponselnya terus bergetar didalam tas, tadi sempat melihat sekilas pada layar yang bertuliskan nama 'Reyna' tapi dia biarkan, karena takut ketahuan oleh Ayahnya.


"Pagi ini aku meeting dengan siapa?" tanya Mawan kepada Jojo yang tengah menyetir didepan.


"Dengan Pak Rizky, Pak," sahut Jojo.


"Rizky saja, atau dengan ....," Mawan menghentikan ucapannya seraya menoleh pada Indah, wajah Indah begitu berseri-seri. Mawan begitu mengerti sikapnya itu, Indah mungkin berharap kalau dia akan bertemu dengan Reymond.


"Kau batalkan saja, kalau begitu!" seru Mawan.


Deg.....


Indah memicingkan matanya menatap wajah Mawan.


Papah seperti sengaja sekali, tidak ingin aku dan Mas Reymond bertemu. Jahat sekali!


Batin Indah.


"Maaf, Pak. Tapi tidak bisa, Pak Rizky sekarang sudah menunggu di ruang meeting Bapak," sahut Jojo.


Mawan berdecak kesal. "Kamu tidak usah ikut meeting ya? Biar Papah saja dengan Jojo," pinta Mawan pada Indah.


Indah mengangguk, lagian malas juga kalau berdebat dengan Ayahnya.


Mereka sudah sampai ke kantor dan keluar dari mobil. "Papah masuk saja, aku mau ke Cafe sebentar. Aku lapar," ucap Indah seraya memegangi perut.


Mawan mengecup kening. "Yasudah, kalau kamu selesai langsung masuk ke kantor ya?"


"Iya."


Mawan berjalan masuk ke kantornya, sedangkan Indah masuk membuka pintu kaca Cafe, suasananya cukup ramai. Beberapa orang tengah sarapan.


Sebelum memesan makanan dia ingin buang air kecil terlebih dahulu.


Indah berjalan menuju toilet Cafe, toilet pria dan wanita bersebelahan. Tiba-tiba dia menyenggol lengan seseorang pria yang baru saja keluar dari toilet, hingga ponsel yang dia pegang terjatuh di lantai.


Prangg.....


Tubuh Indah membungkuk, dengan cepat tangannya meraih ponsel itu.


"Maaf-maaf. Aku tidak sengaja," ucap Indah seraya mengulurkan tangan dan memberikan ponsel tanpa memandang.


Pria itu langsung menarik tangan Indah dan memasukkannya kedalam toilet pria, dia menghimpit tubuh Indah disisi tembok. Indah ingin teriak tapi mulutnya dibungkam oleh bibir pria itu, mereka langsung berciuman. Mata Indah terbelalak kala melihat wajah didepannya, ternyata pria itu adalah Reymond.


Astaga! Hampir saja jantungku ingin copot! Aku kira akan diperkosa oleh pria asing. Ternyata suamiku sendiri.


Batin Indah menghela nafas lega.


Setelah beberapa lama ciuman itu terlepas. Bibir Reymond sampai merah karena lipstick yang Indah pakai. Indah mengambil tissue didalam tas dan mengelapnya, "Mas, kamu ini. Jangan bikin aku jantungan. Tiba-tiba langsung nyosor saja!" dengkus Indah.


Reymond tersenyum dan memeluk tubuh Indah. "Maaf sayang, habis aku tidak tahan lihat bibir seksi kamu. Oya, bagaimana hasilnya?"


"Hasil? Hasil apa?"


"Kamu hamil, kan?" tanya Reymond sambil menciumi rambut Indah.


"Aku tidak hamil kok, Mas."

__ADS_1


Reymond melepaskan pelukan dan memegangi kedua pipinya, "Benarkah? Negatif?" tanyanya dengan wajah sendu.


"Ih, Bukan. Aku belum mengeceknya."


"Bukannya Mamah sudah memberikan tespeck untuk kamu cek?"


"Memang iya, tapi tidak jadi. Karena ketahuan Papah."


"Yasudah nanti bisa coba lagi."


"Coba lagi apa? Beli tespeck?" tanya Indah binggung.


Tangan nakalnya berhasil meremas dua gunung kembar itu. "Iya, tempur lagi juga bisa."


"Mesum kamu, masih pagi juga." Indah menepis tangan Reymond dan mengajaknya keluar dari toilet.


"Kamu tidak mau kita tempur dulu?" mata Reymond masih menatap pintu toilet didepan.


"Astaga, Mas! Pikiran kamu tiap ketemu aku itu mulu perasaan," keluh Indah.


Reymond memeluk tubuhnya lagi. "Kamu jahat sekali sayang, aku ingin selalu menyentuhmu setiap saat. Setiap waktu."


Indah tidak menghiraukan ucapan suaminya, dia melepaskan pelukan.


"Aku mau pipis dulu," ucap Indah seraya berjalan masuk ke toilet wanita dan menutup pintu.


Tangan Reymond menyentuh gagang pintu toilet itu, ingin ikut masuk. Tapi tiba-tiba ada seorang pelayan Cafe menghampiri.


"Bapak. Apa yang Bapak lakukan? Memang tidak lihat ini toilet wanita," ucap wanita itu seraya menepis tangan Reymond dari gagang pintu.


"Lihat."


"Enak saja kau! Tampan begini dibilang cabul," cicit Reymond tak terima.


"Lalu apa? Jangan berbuat mesum dan mengintip wanita didalam toilet, itu tidak sopan, Pak!" seru pelayan itu marah-marah.


"Aku ingin menyusul istriku didalam, dia sedang hamil. Takut terpeleset!" pekik Reymond.


Ceklek.....


Indah keluar dari toilet sambil melihat pada Reymond dan pelayan wanita, mata mereka seperti tengah beradu gulat.


"Ada apa, Mas?"


Reymond langsung merangkul Indah dan mengajaknya pergi. "Tidak ada sayang, tidak penting." Sekilas matanya melirik sinis pada pelayan itu.


Akhirnya mereka duduk di tempat yang sama, Reymond menarik kursi Indah. Supaya jauh lebih dekat dengannya, Reymond menunjukkan buku menu pada istrinya, "Kamu mau pesan apa?"


"Apa ya?" Indah melihat semua daftar menu pada buku itu tapi tidak ada satupun yang membuatnya tertarik.


"Aku tidak jadi makan deh," keluh Indah.


"Lho kenapa sayang?" tanya Reymond seraya merangkul bahu.


"Aku lapar, tapi aku tidak ingin makan rasanya," ujar Indah seraya memegangi perut.


Reymond ikut meraba perutnya, bahkan tidak buncit sama sekali.


Sayang. Semoga didalam kamu jadi calon anak Ayah dan Bunda, hanya kamu harapan Ayah. Kamu tenang saja, Kakak kamu Bayu. Dia akan senang jika punya Adik.

__ADS_1


Batin Reymond.


"Kamu dari pagi sudah sarapan belum?" tanya Reymond.


"Hanya minum susu."


"Yasudah ngemil saja." Reymond membuka halaman buku menu itu. "Ah ini ada roti bakar. Kamu mau tidak? Dulu saat hamil kamu ngidam ini?"


"Boleh, Mas. Tapi makannya sama kamu ya?" tanya Indah dengan manja.


"Iya, sayang. Mau rasa apa?"


"Terserah kamu."


"Minumnya, sayang?"


"Terserah kamu juga, Mas."


Pelayan Cafe sedang berdiri didepan mereka, sudah siap mencatat menu pesanan.


"Roti bakar 2 rasa strawberry, sama jus alpukat 2," ucap Reymond.


"Baik, Pak. Silahkan ditunggu," sahut pelayanan Cafe.


Indah menoleh pada Reymond. "Mas ngomong-ngomong kok kamu bisa ke Cafe? Bukannya ada meeting sama Papah?" tanya Indah.


"Iya, tapi aku malas ketemu Papah. Jadi aku ngadem disini saja, eh kebetulan ketemu kamu. Lumayan dapet bibir tadi," ucap Reymond seraya mencium pipi Indah.


***


Sebuah Hotel berbintang lima, megah nan indah. Seluruh fasilitas sudah di bokking oleh acara sakral, resepsi dan pesta pernikahan yang diadakan sehari semalam.


Mungkin ini bukan yang pertama, tapi bagi Andra tetap saja. Menikah dengan seseorang yang ia cintai dan bisa mendapatkannya adalah suatu kebanggaan tersendiri. Dia sudah rapih dengan setelan jas berwarna putih dan dasi kupu-kupu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalau Author sanggup, nanti aku up sebab lagi.

__ADS_1


Jangan lupa like dan beri dukungan hadiah. Terimakasih ❤️


__ADS_2