Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 31. Ponsel Baru


__ADS_3

Pagi harinya suster datang ke ruangan Indah dengan mendorong troli yang berisi bak air hangat dengan handuk kecil dan baju ganti berwarna biru khusus untuk pasien. Indah juga sudah bangun, namun dia masih berbaring di tempat tidurnya, suster mendorong troli itu sampai dekat tempat tidur. Karena suaranya berisik membuat Rendi terbangun dari tidurnya, "Selamat pagi Mbak Indah gimana keadaannya sekarang?" sapa suster tersebut.


Indah bangun dan menyandarkan punggungnya ke tempat tidur. "Pagi suster. Aku lebih baik sekarang." Jawabnya sambil tersenyum.


Lalu suster menoleh ke ke arah Rendi yang sedang duduk sembari memainkan ponsel di tangannya, "Maaf Mas. Mas boleh keluar sebentar saya ingin pembantu Mbak indah untuk mengganti pakaiannya," Rendi langsung berdiri.


"Iya Sus silahkan." Ucap Rendi, dia keluar dari ruangan Indah dan suster langsung mengunci pintu dan menutup hordeng yang berada di belakang pintu.


Rendi duduk di kursi panjang samping pintu kamar Indah sambil memegang dan sedikit memijat tengkuknya sambil merasakan sakit di badannya, akibat tidur di sofa semalaman. Karena sofa di rumah sakit tak seempuk sofa di rumahnya.


Ah baru semalam tidur di sini saja badanku pada sakit semua.


Gumamnya yang lalu berjalan untuk mencari toilet yang berada di dekat mushola rumah sakit.


Tak lama ibu Santi dan pak Hermawan datang untuk menjenguk dengan membawa beberapa parsel buah dan paper bag kecil di tangan ibu Santi. Indah sedang sarapan dengan semangkuk bubur dan segelas susu putih hangat di temani oleh suster yang tadi.


"Selamat pagi sayang...." Ucap ibu mertuanya membuka pintu dengan senyum sumringah. Dia langsung meletakkan apa yang dia bawa ke atas meja.


"Mamah kok pagi-pagi udah datang ke sini." Ucap Indah senang sambil tersenyum. Namun dia langsung melirik ke arah ayahnya,


Kenapa Papah kesini lagi sih.


"Ah iya Mamah kangen sama kamu." Mengelus rambut Indah. "Oya di mana Rendi?" tanya ibu Santi sambil melihat sekelilingnya.


"Tadi sih dia keluar Mah pas suster datang." Ucap Indah dan kemudian meminum susu.


"Nanti setelah beberapa menit obatnya di minum ya Mbak." Ucap Suster membereskan tempat makan Indah. "Saya tinggal ya Bu, Pak." Suster berjalan keluar.


"Iya Sus." Ucapnya barengan.


Pak Hermawan duduk di sofa dengan mengenakan stelan jas berwana biru dongker karena habis dari sini dia akan segera pergi ke kantor.


Sementara ibu Santi mengenakan dress berwarna merah selutut.

__ADS_1


"Tapi semalam Rendi beneran temenin kamu kan? Nggak ninggalin kamu sendiri di sini?" tanya Ibu Santi.


"Iya Mah. Mas Rendi nemenin aku semalam."


"Ah syukurlah." Ucapnya merasa lega.


"Maaf Mah. Apa aku bisa ngobrol berdua dengan Papah?" tanya Indah sambil menatap ke arah ayahnya, ibu Santi mengangguk kemudian keluar dan meninggalkan Indah dan ayahnya berdua.


Pak Hermawan bangun dan duduk di kursi kecil dekat Indah. "Ada apa sayang?" tanyanya memegang tangan kiri Indah namun Indah melepaskannya.


"Pah Mamah udah tau semuanya kan? Dan gara-gara Papah Mamah sakit lagi." Ucap Indah menyalahkan ayahnya, "Aku minta mulai sekarang Papah berhenti temui aku." Tegasnya.


"Papah nggak bisa." Bangun dan memeluk Indah sambil mengecup rambutnya, "Tolong jangan bilang kaya gitu. Papah sayang banget sama kamu."


Indah melepas pelukannya, "Ya kalau sayang turutin apa kata-kata aku Pah. Sekarang yang paling penting buat aku cuma kesehatan Mamah. Dengan mamah sehat, aku juga bahagia. Emang Papah nggak mau lihat aku bahagia?"


Apa aku harus turutin apa kata Indah?


Gumam ayahnya.


Hah susah juga ya? Tapi kalau aku terus memaksa rasanya aku juga kasihan sama papah.


"Ya sudah Papah mau berangkat ke kantor dulu. Kamu cepat sembuh ya sayang." Ucap Hermawan seraya mengecup rambut anaknya, Pak Hermawan melangkah dan berjalan keluar.


Tak lama ibu Santi masuk ke dalam menemui Indah. "Indah kamu kenapa sayang?" tanya ibu Santi yang melihat Indah terdiam.


"Nggak papa kok Mah."


"Oya ini minum obat dulu." Ucap mertuanya membuka beberapa butir obat di botol sambil memberikan segelas air. Indah langsung menelan 3 butir obat itu.


"Kamu mau buah? Mamah kupas ya?" Indah mengangguk dan ibu Santi mengupas beberapa jeruk dan menaruhnya di piring kecil untuk Indah makan.


"Oya ini Mamah belikan kamu ponsel baru." Ucap ibu Santi mengambil paper bag kecil yang dia taruh di atas meja. Sebenarnya ponsel itu di beli oleh suaminya, tapi pak Hermawan sudah berpesan untuk bilang ke Indah kalau ponsel itu di belikan oleh ibu Santi. Karena kalau jujur Indah tidak akan mau menerima.

__ADS_1


"Kok Mamah belikan aku ponsel lagi. Nggak usah Mah." Sabut Indah merusaha menolak


.


"Kan yang kemaren sudah hilang pas kamu kecelakaan. Lain kali kalau ponselmu terjatuh di jalanan jangan langsung mengambilnya, kamu juga harus perhatikan sekitar ya." Ucap mertuanya penuh perhatian.


Lalu Indah membuka kardus hp dan kali ini ponsel yang Indah dapatkan bahkan jauh lebih bagus dan lebih mahal dari ponsel yang kemaren. Indah langsung memperlihatkan tiap detail sisi dari hp tersebut yang terlihat mewah berwarna silver.


Padahal kemaren aku berniat untuk menjual ponsel yang dari mamah Santi. Tapi sekarang mamah beliin aku ponsel baru lagi, aku jadi tidak tega kalau berniat untuk menjualnya lagi.


Tok.. Tok.. Tok.


Suara ketukan pintu dari luar dan seseorang itu membuka pintu.


Orang itu adalah Rendi bersama ibu Sarah yang sedang duduk di kursi roda.


"Mamah...." Ucap Indah kaget melihat ibunya, Rendi berjalan sambil mendorong kursi roda itu sampai ke tempat tidur Indah.


"Sayang gimana keadaan kamu sekarang." Ucap ibu Sarah memegang tangan anaknya, Indah menurunkan kedua kakinya ke bawah untuk berdiri namun di cegah.


"Eh kamu mau ngapain. Sudah di situ saja." Ucap ibu Sarah. Padahal Indah mencoba berdiri karena dia ingin memeluk ibunya.


"Bu Santi, Rendi. Saya ingin bicara berdua dengan Indah." Ucap ibu Sarah sambil menatap wajah anaknya.


"Silahkan Bu. Saya dan Rendi tunggu di luar ya." Ibu Santi dan Rendi berjalan keluar, Rendi juga sekalian pamit pulang karena dia ingin mandi dan berangkat ke kantor.


***


Pasti mamah mau ngomongin masalah papah


"Indah. Apa kamu tahu sejak awal kalau Rendi adalah anak tirinya?" tanya ibunya memulai pembicaraan.


"Nggak Mah." Indah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tahu itu sekitar seminggu setelah menikah. Itu juga pas pulang dari menjenguk Mamah." Ucap Indah berkata jujur.


Ibunya langsung terdiam entah apa yang di pikirkan di dalam hatinya, "Mah. Tapi Mamah nggak usah khawatir. Aku sudah bilang sama papah untuk tidak menemui ku lagi." Ucap Indah mencoba menjelaskan


__ADS_2