Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 100. Kok nangis? Kenapa?


__ADS_3

Rio menoleh kearah pria plontos itu. "Manjur tidak? Nanti aku cepat keluar lagi."


Indra merogoh kantong jaket kulitnya dan memberikan satu kantong plastik putih itu pada Rio. "Coba dulu mangkanya, Pak. Ini yang terbagus dari yang terbagus."


"Aman buat kesehatan, tidak?"


"Aman, saya beli di apotik dan konsultasi pada ahlinya."


Wajah Indra terlihat begitu meyakinkan, rasanya Rio ingin mencobanya lagi. Apalagi melihat tubuh Wulan basah dan cetakan pakaian dalamnya, ia menelan salivanya dengan susah payah dan otak mesumnya sudah menjalar kemana-mana.


Daripada aku pusing mikirin masalahku, lebih baik aku bercinta.


"Yasudah, taruh di kantong jaketku, kalau benar-benar manjur dan berhasil bertahan lama ... aku akan kasih kau bonus."


"Siap, Pak." Indra menaruh plastik itu kedalam jaket Rio. "Habis minum obat, Bapak jangan langsung tempur. Tunggu setengah jam dulu, biar obat itu ada efeknya," tutur Indra.


Tring~


Rio dan Indra segera keluar dari lift dan meminta Indra untuk membuka kunci kamar Hotel. Setelah kamar itu terbuka, dengan hati-hati Rio merebahkan tubuh Wulan diatas kasur, supaya wanita itu tidak terbangun dari tidurnya.


"Ada yang ingin Bapak butuhkan lagi?"


"Pesankan aku dua susu coklat panas." titah Rio.


"Baik, Pak." Indra mengangguk sopan dan keluar dari kamar Hotel itu.


Rio mengunci pintu dan merangkak untuk naik keatas kasur. Perlahan Rio melepaskan seluruh benang yang berada pada tubuh istrinya. Setelah polos dengan sempurna, Rio cepat-cepat menyelimutinya, sebelum nafs*nya makin membara.


"Tunggu sebentar manis, kita akan bersenang-senang lagi. Kita lihat ... siapa yang kali ini menang dan siapa yang kalah," lirihnya dengan tatapan mesum.


Pria itu menuangkan air minum dan menenggak satu butir obat kuat. Kemudian, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia ingin bercinta dalam keadaan wangi, supaya Wulan mampu mengingat setiap sentuhan yang ia lakukan.


Ting ... tong.


Ting ... tong.


Ting ... tong.


Wulan mengerjapkan matanya yang terasa masih berat, ia mendengar suara bel dari luar kamar Hotelnya. Saat bangkit dari tempat tidur dan membuka selimut, ia menohok. Karena melihat sekujur tubuhnya polos.


Lho ... kok aku tidak pakai baju? Dan sejak kapan aku sampai di Hotel? Bukannya aku tadi sedang berpelukan dengan Mas Rio?


Pipi Wulan langsung bersemu merah, entah mengapa rasanya malu kalau mengingat kenangan manisnya saat berada didekat pria itu. Wulan juga mendengar suara gemericik air didalam kamar mandi.


Apa Mas Rio sedang mandi dan apa aku habis bercinta dengannya? Tapi kok, aku tidak ingat.


Ting ... tong.


Ting ... tong.


Terlalu lama melamun, Wulan sampai melupakan bel yang sedari tadi masih berbunyi. Wanita itu langsung berlari menuju lemari dan membukanya. Tapi kalau memakai pakaian dulu rasanya akan lama. Ia memutuskan untuk membuka pintu lemari sebelahnya, yang berisi beberapa stel handuk kimono berwarna putih.

__ADS_1


Wulan mengambil salah satunya dan segera memakai pada tubuhnya, ia cepat-cepat berjalan menuju pintu.


Ting ... tong.


Ting ... tong.


Nampaknya Wulan begitu kebingungan, untuk membuka pintu itu. Ia meraih gagang pintu dan menarik turun, tapi pintu itu di kunci. Tidak ada lubang tempat kunci juga, ia seperti baru pertama kali melihat handle pintu dengan bentuk yang seperti itu.


Pintu apa ini? Kok dikunci dan bagaimana cara membukanya? Tidak ada kuncinya?


"Wulan, kau sedang apa?" tanya Rio yang baru saja selesai mandi. Ia melihat istrinya membungkuk sambil memperhatikan gagang pintu.


Wanita itu menoleh. "Mas ... aku ingin membuka pintu, tapi tidak bisa," keluhnya.


"Memangnya kau mau a--"


Ting ... tong.


Ting ... tong.


"Oh, biar aku saja yang membukanya." Rio seperti mengerti maksud Wulan, wanita itu ingin membuka pintu karena mendengar suara bel.


Rio mengambil card sistem pada tembok dekat pintu. Lalu, ia membukanya.


Ceklek~


"Selamat malam, ini pesenan Bapak," ucap pelayan Hotel sambil memberikan nampan yang berisi dua gelas susu coklat panas.


"Aku bangun tadi, maaf Mas ... tadi aku ketiduran," ucapnya sambil menunduk.


"Tidak masalah, kemarilah!" Rio mengedikkan kepalanya dengan tangan yang terulur.


Wulan berjalan menghampiri Rio yang tengah duduk pada sisi tempat tidur. Ia juga ikut duduk disebelahnya. Pria itu melingkari pinggul Wulan, ia mencium kening, pipi dan bibirnya sekilas, tapi berulang-ulang.


Apa dia mau mengajakku bercinta lagi?


"Mas ...."


"Apa?"


"Apa aku boleh mandi dulu?"


"Mandi? Kau tidak usah mandi, kita bercinta dulu." Rio mengangkat tubuh Wulan dan membaringkannya di tengah-tengah kasur.


Rio membuka handuknya dan membuangnya di lantai. Ia mengapit tubuh wanita itu dari atas.


"Aku ... aku habis kehujanan tadi, Mas. Kata Ayah, kalau kita habis kehujanan ... kita harus langsung mandi, kalau tidak, nanti bisa terkena flu," ucap Wulan.


Mendengar ucapan dari Wulan, Rio langsung mengangkat tubuh wanita itu, membawanya masuk kedalam kamar mandi. Sontak, Wulan membelalakkan matanya.


"Mas ... apa yang Mas Rio lakukan?"

__ADS_1


Rio menurunkan Wulan kedalam bathtub, ia juga menghempaskan handuk kimono wanita itu.


"Katanya mau mandi." Rio menyalakan kran bathtub, untuk mengisi air hangat didalam sana. Tubuh pria itu juga ikut masuk kedalam dan duduk dibelakang tubuh Wulan.


"Mas Rio kok ikut masuk juga? Bukannya sudah mandi tadi?"


Rio mendekap tubuh Wulan dari belakang, kedua tangannya sudah berhasil membelai pusat tubuh istrinya dibawah sana.


"Mas ...."


"Apa?" Rio mulai mengecupi leher dan punggung Wulan, bermain-main sebentar dengan lidahnya lalu mengendus aroma feromon yang berasal dari kulit Wulan hingga membuat darah wanita itu semakin berdesir dan seluruh tubuhnya meremang tak karuan.


"Mas apa yang--"


Rio membalik tubuh Wulan dan mengangkatnya untuk duduk dipangkuan. Namun sebelum duduk, ia melakukan penyatuan dulu. Sepertinya ia akan siap melakukan ronde berikutnya.


"Hhhmmmm ...," gumam Wulan sambil mengigit bibir bawahnya.


'Kita coba, apakah obat itu ampuh atau tidak' batin Rio sambil tersenyum nakal.


Rio mendekatkan wajahnya dengan mulut yang menganga, tidak menunggu waktu yang lama. Kedua bibir itu saling bertautan.


Rio yang memandu permainan itu. Walau kemarin Wulan sempat diajari, nampaknya wanita itu tidak akan mengingatnya. Jadi biarkan saja Rio yang memimpin. Lagian, sama-sama merasakan enaknya.


Satu jam berlalu, mereka menghabiskan permainan panasnya didalam bathtub. Sekarang mereka berpindah tempat diatas kasur. Rio langsung membuat guncangan hebat pada tubuh istrinya.


"Apa kau sudah keluar?" tanya Rio dengan semangat 45.


Wanita itu diam saja, tapi wajah yang berkeringat dan deru nafas terengah-engah seakan menandakan ia akan mencapai puncaknya. Ia memeras bantal sekuat tenaga dengan mata yang terpejam.


"Eemm ...," legukan Wulan membuat Rio ingin cepat-cepat melahap bibirnya kembali. Mengajaknya berciuman.


Cup~


Dia pasti sudah keluar. Untung aku belum, hebatkan aku, Wulan.


Rio mengubah posisi bercintanya dengan berbagai gaya. Ia saat ini merasa dirinya begitu berjaya, karena sudah tiga jam berlalu, ia masih kuat dan bertenaga. Sepertinya Indra akan mendapatkan bonus setelah ini.


"Mas ...," lirih Wulan.


"Apa? Enak, kan?"


"Perih, Mas ...." Wanita itu meringis kesakitan.


Rio menghentikan aktivitasnya sebentar. "Perih? Apanya yang perih?"


"Milikku, kita udahan ya, Mas ...," mohon Wulan dengan wajah memelas. Ia menyeka keringat pada dahinya.


"Mana ada udahan, tanggung. Aku belum keluar!" Rio melajukan kembali permainannya. Tapi tiba-tiba ia melihat buliran air mengalir dari ujung mata Wulan. "Kok nangis? Kenapa?"


^^^Kata: 1133^^^

__ADS_1


__ADS_2