
"Ya mangka dari itu, Papah ikut dulu denganku biar aku percaya. Wajah Papah benar-benar tidak meyakinkan di mataku."
"Apa kau bilang?!" bentak Mawan dengan tangan yang sudah mengepal, ingin rasanya ia menonjok wajah Rio lagi. Tapi Santi sudah memperingatinya dengan cara melotot, hingga membuat Mawan mengurungkan niatnya.
"Wah ... Papah takut, kan? Takut kalau itu benar-benar kerjaan Papah." Rio tersenyum menantang.
"Enak saja! Papah tidak takut! Kau memangnya tidak lihat, sekarang Papah sedang menunggu Indah melahirkan? Papah tidak bisa pergi denganmu." Mawan mengibaskan tangannya, tanda menolak.
"Papah pergi saja dengan Rio. Biar Mamah, Antoni dan Reymond yang menunggu Indah," kata Santi. Ia lebih baik mengizinkan saja. Telinganya sudah cukup sakit, karena anak dan suaminya beradu mulut terus menerus.
"Tuh. Kata Mamah juga Papah pergi denganku. Ayok, Pah!" ajak Rio.
Mawan menggeleng cepat. "Tidak! Papah tidak mau!"
Semakin Mawan menolaknya, itu makin membuat Rio curiga. Lantas, ia menarik lengan Mawan untuk berdiri.
"Banyak alasan sekali Papah! Ayok ikut!" Rio menarik kasar lengan Mawan, mengajaknya untuk keluar dari rumah sakit. Lalu memasukkannya kedalam mobilnya sendiri yang sudah ada Jojo didalam sana.
"Kita mau kemana, Pak?" Jojo bertanya pada Rio dan Mawan.
"Kita ke toko bunga, di jalan Xx," jawab Rio.
"Baik, Pak." Jojo langsung mengemudi, sesuai arahan dari Rio.
"Papah tidak mau lama-lama ya, Rio! Papah harus menunggu Indah."
"Iya! Papah bawel amat!" gerutu Rio.
Sampainya di toko bunga, Rio langsung turun dari mobil Mawan. Namun, berbeda dengan pria tua itu. Kalau tidak dipaksa, dia tidak akan turun dari mobil.
"Selamat siang, selamat datang di toko bunga Jakarta, Bapak mau cari bunga apa?" tanya seorang wanita berkacamata, pemilik toko tersebut.
"Siang, apa Mbak masih ingat aku? Aku Rio Pratama, yang menelepon Mbak malam-malam, bertanya masalah kiriman bunga," terang Rio.
Wanita itu terdiam sejenak, seperti mengingatkan-ngingat. Lantas, ia mengangguk dan tersenyum.
"Iya, saya ingat. Bapak mau cari bunga apa?"
Rio menoleh kearah Mawan. "Indah ada alergi bunga tidak, Pah?" rasanya tidak enak datang ke toko bunga hanya sekedar bertanya, akan lebih baik jika membelinya juga.
"Kenapa kau membeli bunga untuk Indah? Oh ... kau masih suka padanya, ya!" tuduh Mawan.
__ADS_1
"Enak saja. Tentu tidak, Pah. Dia 'kan habis melahirkan, tidak ada salahnya kita membeli bunga, kan?"
"Ah benar juga."
"Mari Pak, kita lihat-lihat bunga-bunganya." Pemilik toko bunga itu mengajak Rio dan Mawan ke taman dekat tokonya, tempat dimana bunga-bunganya berada. Jika ada orang yang pesan, bunga itu langsung dipetik dan di rangkai.
Ada beberapa macam bunga. Bunga matahari, anggrek, mawar merah, Krisan, anyelir dan masih banyak lagi.
"Bunga anggrek saja Rio, kayaknya bagus." Mawan menunjuk bunga anggrek berwarna putih.
"Baik, Pak. Nanti pelayan saya akan merangkainya."
Setelah memilih bunga, mereka masuk lagi kedalam toko. Rio menoleh ke kanan dan kiri. Banyak sekali para pelayan toko dan beberapa pengunjung yang datang. Mawan tengah menuliskan alamat rumah sakit, supaya mereka tidak perlu menunggu bunga itu selesai di rangkai, karena takut kelamaan. Rio juga sekalian membayarkannya.
"Oya, Mbak. Mana pelayan yang waktu itu menyebutkan ciri-ciri pria yang memesan bunga untuk istriku? Apa orangnya ada disini?" tanya Rio.
"Oh ada, sebentar ...." Wanita itu melambaikan tangannya pada pria yang baru saja lewat. "Tono! Sini!"
Pria yang bernama Tono itu menghampiri mereka. "Ada apa, Bu?" tanyanya.
"Ini orangnya, Pak. Silahkan bertanya, saya tinggal sebentar." Wanita itu berlalu pergi meninggalkan mereka, melayani pengunjung yang lain.
"Oh, yang malam-malam itu bukan, Pak?"
"Iya, benar."
"Lalu ... ada apa, Pak?"
"Ini." Rio menggeser tubuhnya untuk bisa memperlihatkan Mawan padanya, pria tua itu sedari tadi berdiri dibelakang Rio. "Apa pria yang memesan bunga itu adalah dia?"
Tono langsung memperhatikan wajah Mawan yang sudah terlihat begitu gelisah. Entah apa yang terjadi, rasanya Mawan gugup dipandang pria itu.
"Bagaimana?" tanya Rio memastikan.
"Orang waktu itu pakai kacamata hitam, Pak. Jadi ... wajahnya tidak bisa saya ingat." Tono menggelengkan kepalanya.
Mawan menghela nafasnya dengan lega. "Kita pulang saja Rio, pelayan ini tidak ingat wajah orang yang memesan."
"Enak saja!" kebetulan sekali, Rio menoleh pada pria yang tengah memakai kacamata hitam. Jadi ia meminjamnya, lalu dipakaikan pada Mawan.
Saat kacamata itu menyangga pada hidung Mawan, Tono membulatkan netranya dan langsung mengangguk cepat.
__ADS_1
"Iya! Dia ... dia orangnya! Dia yang memesan bunga, Pak," kata Tono dengan semangat, sambil menunjuk wajah Mawan.
"Apa?" Rio langsung memekik tak menyangka.
Mawan segera melepaskan kacamata itu dan memberikan pada pemiliknya.
"Hei! Kapan aku pesan bunga? Jangan mengada-ada kau, ya!" bentak Mawan.
"Tidak Pak, saya jujur. Bapak yang waktu itu datang kesini dan mengatakan bernama Rio Pratama. Bapak juga yang bertanya mesin ATM didekat sini, saya juga yang memberitahunya," terang Tono jujur.
Rio langsung menatap Mawan dengan tajam, kedua tangannya sudah mengepal ingin menonjok. Tapi rasanya tidak mungkin, banyak sekali orang disekitar mereka dan Rio tak berani sekasar itu padanya. Ia membuang nafas dengan gusar. Kemudian berlalu pergi keluar dari toko itu.
"Rio ... Rio, Papah bisa jelaskan semuanya. Papah ... Papah lupa kalau saat itu memesan bunga untuk Wulan." Ketika sudah ketahuan, barulah ia sadar. Dari pagi dirinya seperti lupa ingatan.
Mawan menarik lengan Rio saat keduanya keluar dari toko. Rio benar-benar kecewa, bisa-bisanya tadi Mawan tidak mengaku dan pura-pura tidak tau.
"Aku kecewa sama Papah! Sumpah ... aku benar-benar kecewa. Papah sudah mengerjaiku, lalu Papah masih bisa berbohong padaku." Rio tersenyum getir sambil geleng-geleng kepala.
"Apa ... apa niat Papah? Kenapa Papah melakukan ini, hah?!" bentak Rio seraya menepis lengan Mawan dengan kasar.
"Papah melakukan hal ini untukmu, Rio."
"Untukku?" Rio menunjuk wajahnya sendiri. "Untuk apa, Pah?!" pekiknya.
"Ya ... kau, kan ...." Mawan mengantung ucapannya, ia mengusap-usap tengkuknya. Niatnya ingin mencari alasan, namun ternyata lidahnya begitu kelu saat melihat tatapan mata Rio yang begitu tajam.
"Aku tau kok, alasan Papah nomor satu adalah supaya aku dan Wulan bertengkar. Lalu kita berdua berpisah benar, kan?"
Mawan termangu, tebakan Rio benar-benar tepat pada sasaran.
"Mulai sekarang, jangan pernah anggap aku anak Papah. Aku tidak mau punya Papah jahat seperti Papah!" tekannya.
"Rio, Rio. Jangan bicara seperti itu, Papah sayang padamu!" Mawan memegang lengan Rio, menghentikan pria tampan itu yang baru saja melangkah. "Maaf ... maafkan Papah, tolong Maafkan Papah, Rio."
Sayang? Papah tidak sayang padaku, Pah!
Rio menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak mau. Lebih baik kita tidak saling mengenal saja, Pah. Lagian ... aku ini hanya anak tiri, Papah tidak akan rugi jika tidak mengenalku."
Rio menepis kembali tangan Mawan pada lengannya. Ia melambaikan tangannya pada taksi yang baru lewat dan saat taksi itu berhenti, Rio masuk kedalam. Meninggalkan Mawan yang berdiri membeku, melihatnya pergi.
...Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️...
__ADS_1