Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 61. Aku sayang sama Papah 'Antoni'


__ADS_3

Mobil Steven keluar dari pintu gerbang dan tak lama mobil milik Antoni masuk kedalam, dia memarkirkannya disamping mobil Harun.


Antoni keluar dari mobil dengan tangan yang membawa beberapa bungkus plastik, Indah menghampiri Antoni dan memeluk tubuhnya. "Papah, kenapa Papah lama sekali?" tanya Indah dengan nada manja.


Antoni mencium keningnya, "Maaf sayang, Papah tadi ke supermarket dulu, membeli bahan untuk membuat nasi goreng. Soalnya bahan di rumah tidak ada," tutur Antoni.


Seluruh tubuhnya berkeringat dan terasa capek. Tapi dia senang melihat Indah berada dirumahnya.


"Sini, biar aku yang bawa."


Indah merebut beberapa kantong dari tangan Antoni dan mengajaknya berjalan menuju depan rumah, langkah kaki Antoni terhenti melihat Harun duduk di teras depan rumahnya.


"Ada, Pak Harun disini?" tanya Antoni.


Harun berdiri dan menghampiri dengan tangan yang terulur.


"Iya, Pak. Bapak Antoni apa kabar?" tanya Harun basa-basi.


"Saya, baik. Bapak sendiri?" Antoni bertanya balik.


"Saya juga baik, kalau begitu saya permisi, Pak. Nona Indah," ucap Harun pamit pulang.


"Eh, kok sebentar?" tanya Antoni.


"Sudah dari tadi kok, Pah. Ayok, Pah. Buat nasi goreng," rengek Indah.


"Ah, iya sayang."


Harun tersenyum pada keduanya, Dia segera berjalan masuk mobil dan menyetir.


Indah dan Antoni meletakkan kantong plastik diatas meja dapur.


"Papah tinggal bentar mau ganti baju, kamu duduk saja dulu," ucap Antoni.


"Iya."


Antoni segera pergi menuju kamar untuk mengganti pakaian, dia mencuci muka dulu sebentar kedalam kamar mandi supaya terlihat cukup segar.


Langkah kakinya menuju dapur, dia melihat Indah sudah berhasil mengiris bawang.


Tapi pisau yang dia pegang langsung diambil alih oleh Antoni.


"Biar Papah saja, kamu duduk saja disana." Dia mengerakkan kepalanya melihat pada kursi kecil di dapur.


"Aku mau mengiris bawang sama bahannya saja, Pah. Aku bisa kok," pinta Indah.


"Jangan sayang, biar Papah saja. Nanti tangan kamu terluka." Antoni melirik pada punggung tangan Indah.

__ADS_1


"Itu tangan kamu kenapa?"


Indah melihat punggung tangannya, merah-merah sudah terlihat samar, karena sudah diolesi beberapa salep.


"Ini terkena minyak panas, Papah tau tidak. Tadi pagi aku mau mencoba memasak tapi aku gagal! Aku malu sama diriku sendiri, Pah. Umur aku sudah 24 tahun, sudah punya anak. Tapi hanya membuat nasi goreng saja, tidak bisa," tutur Indah dengan sendu, tak terasa air matanya lolos membasahi pipi.


Tangannya sudah terangkat ingin menyeka air mata, tapi dengan cepat Antoni mengusap dengan lengan kaos yang ia kenakan.


"Tangan kamu habis pegang bawang tadi, jangan coba-coba menyentuh wajah. Nanti perih."


Indah justru memeluk tubuh Antoni dari belakang, dia mengingat ucapan Sarah dulu yang pernah mengatakan hal itu.


Entah kenapa, Antoni dan Sarah terasa sangat mirip. Tidak salah Indah jadi sayang sekali padanya.


Ketika ia memeluk, Indah merasa lebih nyaman dibanding dia memeluk Mawan. Padahal Antoni hanya Ayah tirinya.


"Papah, aku kangen sekali sama Mamah."


"Iya sayang, Papah juga kangen."


"Tapi, Papah boleh kok menikah lagi, Pah," ucap Indah.


Antoni melepaskan pelukan dan melanjutkan aktivitasnya mengiris semua bahan.


"Apa yang kamu katakan? Papah belum mikirin kesitu."


"Tidak apa, Pah. Papah masih muda, Papah boleh kok menikah lagi. Tapi aku takut nanti Papah tidak sayang lagi sama aku dan Bayu," ucap Indah seraya mengerucutkan bibirnya.


Antoni hanya geleng-geleng kepala, tapi merasa aneh juga. Indah terlihat begitu manja, "Kamu lagi kenapa sih? Manja banget perasaan. Ini juga, siang-siang mau nasi goreng. Apa nggak sakit perut?"


"Nggak, aku kepengen dari pagi, Pah."


Indah berniat ingin melihat cara memasak Antoni sampai selesai. Tapi karena terlalu lama, jadi bosan. Akhirnya Indah bangun dan berjalan menuju ruang tamu untuk menonton televisi.


Tak lama bunyi suara ketukan pintu, pintu depan rumah juga tidak ditutup.


Seorang anak kecil berlari menghampiri dan memeluk kaki Indah.


"Bunda ....," panggil Bayu.


Mata Indah langsung berbinar-binar dan mengangkat tubuh Bayu untuk duduk di pangkuannya.


"Bayu sayang. Kamu kok tau Bunda disini?" tanya Indah seraya mencium pipi.


"Indah," panggil seorang pria paruh baya dengan suara beratnya, siapa lagi kalau bukan Mawan.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Mawan, dia mendudukkan bokongnya disebelah Indah dan mencium kening.

__ADS_1


"Aku mau makan nasi goreng buatan Papah Antoni, Pah."


Mata Mawan terbelalak. "Nasi goreng? Perasaan dari pagi otak kamu isinya nasi goreng terus."


"Papah ini apaan sih! Ngapain juga kesini?" tanya Indah dengan ketus.


"Papah mau ngobrol sama kamu, kamu juga bukannya pulang saja bareng Rio. Kenapa mampir-mampir?!"


Indah mengingat lagi kejadian Rio mencium dirinya secara paksa. Membuat perutnya terasa bergejolak dan kembali mual.


Mawan mengangkat tubuh Bayu, Indah langsung berlari menuju kamar mandi didalam kamarnya.


"Uuek ... Uuek ... Uuek." Mawan mengikuti Indah masuk ke kamar mandi dan memijat tengkuknya dengan lembut.


"Kamu kenapa? Sakit? Mau Papah antar periksa?" tanya Mawan dengan cemas.


Indah menggelengkan kepala, "Tidak! Aku hanya mau makan nasi goreng saja, Pah. Kita ngobrolnya nanti ya."


Indah membasuh mulutnya dengan mengunakan air dan mengelapnya bibir pada handuk mandi diatas gantungan.


Kalau ingat kejadian itu rasanya sangat mual, Rio kurang ajar sekali! Gara-gara dia perutku seperti diremas-remas.


Gerutu Indah.


Diatas meja ruang tamu sudah ada dua gelas air putih dan dua piring nasi goreng buatan Antoni. Antoni juga sudah duduk di sofa.


"Wah ... Sudah jadi, Pah. Kayaknya enak," ucap Indah tersenyum lebar, tangannya meraih piring dan duduk disebelah Antoni.


"Ada, Pak Mawan. Bapak kapan datang?" tanya Antoni melihat kearah Mawan.


"Tadi." Mawan ikut duduk disebelah Indah sambil memangku Bayu. Tapi tubuh Bayu sudah merosot kebawah dan menghampiri Antoni.


"Opa Oni." Bayu memeluk kaki sang Kakek, "Bayu kangen Opa Oni."


Antoni mengangkat tubuh Bayu dan memangkunya diatas kedua paha. "Opa juga kangen Bayu," jawabnya seraya mengecup pipi.


"Yey!" Bayu terlihat begitu senang.


Sedangkan Indah masih fokus makan nasi goreng saja.


"Nasi gorengnya enak sekali, Pah. Rasanya seperti buatan Mbak Melly. Papah pintar sekali membuatnya," puji Indah.


"Masa sih? Tapi Papah juga belum pernah makan nasi goreng Mbak Melly, tapi ini resep dari dia sayang."


Mata Indah membulat sempurna dan melihat wajah Antoni. "Benarkah, Pah? Papah sangat pengertian padaku." Indah mengelus lembut punggung tangan Antoni.


"Terima kasih, Pah. Aku sayang sama Papah," ucap Indah sambil tersenyum, tiba-tiba dia menanggis. Tapi kali ini bukan karena sedih tapi bahagia.

__ADS_1


Antoni menyeka air mata Indah. "Kenapa menanggis? Lanjutkan lagi makannya, sampai habis, Papah juga sayang sama kamu."


__ADS_2