
Tak lama Rendi datang bersama Ibu Sarah. Di sepanjang jalan Ibu Sarah sudah memperhatikan seorang pria paruh baya yang sedang duduk di samping pria muda. Namun langkah Rendi pun menuju ke arah yang ibu Sarah perhatikan sedari tadi. Makin dekat dia makin sadar kalau ternyata pria tersebut adalah mantan suaminya, dan ini pertama kalinya setelah beberapa tahun mereka saling bertatap muka.
"Mas Mawan." Ucap ibu Sarah ketika sampai di dekatnya, Rendi langsung melihat ke arah mertuanya.
Haduh aku lupa kalau papah juga pasti di sini.
Batin Rendi.
Pak Hermawan langsung berdiri kaget. "Ngapain kamu ada di sini." Tegas ibu Sarah yang sudah mulai emosi.
Pak Hermawan mendekat padanya dan mengucapkan. "Sarah aku minta maaf." Sahutnya memohon, Ibu Sarah menjauh.
"Ren di mana ruangan Indah? Dan apa kamu kenal sama pria ini?" tanya Sarah ke Rendi sambil menatap kearah pak Hermawan.
"Mah. Mamah tenang dulu ya." Ucap Rendi mencoba menenangkan. "Sebenarnya dia adalah papah tiri aku Mah."
"APA? Nggak Ren. Ini nggak mungkin, Mamah nggak mau. Kamu...." Jantung ibu Sarah langsung merasa sakit yang begitu dalam.
"Ah jantung ku..." Ucapannya sambil memegang dada.
"Mah Mamah kenapa?" tanya Rendi, Ibu Sarah pun membungkuk menahan rasa sakitnya,
Ini nggak mungkin, bagaimana bisa?
Gumam ibu Sarah yang kemudian dia jatuh pingsan. Rendi langsung menopang mertuanya supaya tidak jatuh. "Mah, Mamah." Ucap Rendi yang menggoyang-goyangkan pundak mertuanya.
"Sus, Suster tolong!!" Teriak Rio.
Tak lama suster datang menghampirinya"Ada apa ini Mas?" tanyanya.
__ADS_1
"Tolong mertua saya Sus." Ucap Rendi yang langsung membopong mertuanya, dan beberapa perawat membawa brankar untuk membaringkan ibu Sarah, mereka langsung membawanya di UGD dan Rendi bersama pak Hermawan ikut menemaninya, melihat itu Rio langsung mencoba mengejar Rendi.
Tapi ketika dirinya baru melangkah tiba-tiba ibunya keluar dari ruangan Indah dan berkata. "Rio ada apa? Kok Mamah dengar dari dalam seperti ada keributan?" Rio langsung berbalik menghadap ke arah ibunya.
"Mah tadi ibunya Indah ke sini, dan ketemu ketemu Papah....." Ucapnya.
"APA?" Santi membelalakkan matanya dan langsung terkejut. Dia memotong omongan Rio.
"Iya Mah. Ibunya Indah pingsan dan di bawa ke ruang UGD." Rio melanjutkan.
"Kamu jagain Indah. Jangan bilang apa-apa padanya," ucap ibunya yang berlalu pergi.
Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa ibunya Indah syok banget pas tau papah ayah tiri kak Rendi.
Gumam Rio yang langsung masuk ke ruangan Indah.
"Rio di luar ada apa?" tanya Indah.
Indah menghela napasnya, "Sebenarnya pas aku menyebrang jalan hpku terjatuh. Dan ketika aku mau balik lagi mengambilnya, Aku tertabrak mobil." Ucap Indah menceritakannya.
"Ya ampun Ndah kamu ini nekat banget. Emang nggak lihat-lihat dulu kalau ada mobil?" Indah menggelengkan kepalanya.
"Tapi untunglah lu sekarang nggak apa-apa. Apa lu sudah makan? Tau mau gue belikan sesuatu?" Tanya Rio begitu perhatian.
"Nggak Rio aku sudah makan tadi."
***
Sementara itu di luar ruang UGD terlihat Rendi dan ayahnya menunggu dan lalu di hampiri oleh ibunya, "Ren gimana ibunya Indah?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku nggak tahu Mah, masih di tangani sama dokter. Mah Indah gimana keadaanya?" tanya Rendi.
"Dia baru bangun tidur tadi. Apa kamu mau bertemu Indah? Nanti biar Mamah jagain ibu Sarah." Tanya ibunya.
Rendi menurut dan berjalan ke arah ruangan Indah namun ketika dia ingin membuka pintu dia melihat dari kaca pintu Indah sedang di temani oleh Rio. Dan memperlihatkan senyum manis di bibirnya, ini adalah momen langka untuk Rendi. Karena dia tidak pernah melihat senyum tulus di bibir Indah.
Senyum Indah manis juga.
Gumamnya, namun tiba-tiba suster datang menghampiri Rendi yang sedang berdiri di pintu sedari tadi. Suster juga melihat kalau di dalam sedang ada orang yang menemani pasien.
"Maaf Mas. Mas nggak boleh masuk." Ucapnya, Rendi langsung menoleh.
"Kenapa Sus? Saya ini suaminya," seru Rendi memberitahu, suster melarang karena hanya boleh satu orang saja yang menjenguknya secara bergantian, dia pun langsung masuk ke dalam untuk menyuruh Rio keluar karena dia ingin memeriksa keadaan Indah. Rio menurut, dia keluar dari ruangan Indah dan melihat kakaknya yang sedang duduk dan dia juga ikut duduk.
"Rio kelihatannya kamu sama Indah benar-benar akrab ya." Ucap Rendi sambil menoleh ke arah Rio. Rio langsung berkata jujur karena memang sebenarnya Indah adalah orang yang dia cintai, dan Rio juga menanyakan perihal pernikahan kakaknya Dengan Indah.
Namun Rendi tidak menjawab dan hanya diam membisu Rio pun berkata. "Kalau lu nggak bisa kasih tahu gue juga nggak papa sih Kak. Nanti ada saatnya gue tahu semuanya, Indah kecelakaan saja kakak baru tahu sekarang kan?" tanya Rio dengan menatap sinis kakaknya, memang sedari dulu Rio dan Rendi ini tidak pernah akur karena mereka selalu berbeda pendapat dalam hal apapun.
"Rio lu bisa nggak sih ngomong yang sopan di depan Kakak." Ucap Rendi yang tidak menyukai sikap Rio terhadapnya.
"KAKAK?" Rio menghela napas. "Kakak tukang selingkuh maksudnya?" ledeknya, mendengar ucapan Rio sontak membuat Rendi marah dia langsung berdiri dan menampar Rio
PLAKK.......
"Kamu ini benar-benar kurang ajar!" Tegas Rendi.
Suster yang dari ruangan Indah pun keluar dan berkata. "Kalian ini apa-apaan sih. Ini rumah sakit, mending kalian berdua pergi dari sini." Ucap Suster geram.
"Tapi Sus aku belum bertemu dengan istriku." Ucap Rendi yang enggan pergi ke rumah sakit. Karena dia sendiri belum bertemu dengan Indah.
__ADS_1
Rio pun melanjutkan. "Kakak saya biar di sini Sus biar saya yang pergi."
Rio langsung mendekat ke telinga Rendi dan berbisik. "Kalau lu nggak bisa bahagiain Indah. Lu mending ceraikan Indah, karena di sini ini masih ada gua yang mampu bahagiain dia." Seketika saja mata Rendi langsung membulat dan Rio meninggalkan Rendi dan berjalan keluar rumah sakit.