
"Aku mau tinggal lagi bersama Mas Rio kok, Pah," jawab Wulan memberanikan diri. Aslinya ia takut, melihat wajah garang mertuanya.
"Mau, mau, hanya di mulut saja! Aslinya kau tidak mau, kan?" cibir Mawan menatap tajam mata menantunya.
Rio bangun dari duduknya dan menarik lengan Wulan untuk ikut bangun. "Aku tidak masalah kok, kalau Wulan tidak mau tinggal denganku. Aku juga betah tinggal di rumah Ayah," timpal Rio.
"Sudah sih! Papah juga kenapa bicara seperti itu?! Ini hari bahagia mereka berdua, kita juga harus ikut bahagia!" terang Santi mencairkan suasana, ia ikut berdiri dan menghampiri anak dan menantunya. "Rio, antarkan Wulan ke kamar saat kalian menginap dulu. Nanti Mamah yang minta izin pada Pak Wahyu, dia pasti akan mengizinkan Wulan menginap."
"Tidak deh, aku dan Wulan mau pulang ke rumah Ayah saja, Mah," tolak Rio seraya menggelengkan kepalanya.
"Mamah kangen sama Wulan, Rio." Santi mengelus pelan ujung rambut menantunya. "Kita juga sudah lama tidak makan malam bersama. Malam ini saja kalian menginap, oke?" pintanya.
Rio menggelengkan kepala lagi. "Tidak, Mah. Maafkan aku. Aku tidak mau menginap disini, lain kali saja." Rio menatap tajam mata Mawan sebentar, lalu menoleh lagi kearah Santi. "Kita juga belum beritahu Ayah kabar gembira ini, tapi aku sungguh berterima kasih sama Mamah. Aku sayang Mah." Lagi dan lagi, Rio memeluk Santi dan mencium bahunya. Bagi Rio, keberhasilannya mendapatkan momongan atas dukungan dan do'a Santi. Santi benar-benar sosok ibu dan mertua yang baik.
"Yasudah deh, tidak apa. Tapi kapan-kapan kalian main dan menginap disini, ya?" Santi mengelus pipi Rio dan Wulan secara bersamaan. "Mamah senang sekali, mendapatkan cucu dari kalian. Jangan dengerin omongan Papah, anggap saja angin lalu," tegurnya.
"Iya, Mah," ucap Wulan dan Rio.
Mereka berdua pamit pulang dan langsung pergi ke rumah Wahyu.
***
Mobil Lamborghini Rio terparkir didepan halaman kantor Mawan, ia dan Wulan melangkahkan kakinya menuju rumah sederhana Wahyu.
Tepat didalam kios bakso, mata mereka membulat dengan sempurna kala melihat seorang pria tengah menyantap bakso dengan penuh kenikmatan ditemani oleh pedagang baksonya juga.
Mereka berbincang-bincang dan sesekali bercanda. Rio sungguh geram sekali melihat pemandangan yang tidak mengenakkan itu. Wulan mengandeng lengan Rio untuk menghampiri mereka berdua.
'Ngapain si Duda ada disini? Menyebalkan sekali' gerutu Rio.
"Ayah ...," panggil Wulan.
Wahyu dan Dido menepis obrolan santai mereka. Lalu mengangkat kepalanya kearah sepasang suami istri yang tengah berdiri dihadapan mereka.
__ADS_1
Saat Wahyu berdiri dan menghampiri mereka berdua, Rio dan Wulan lantas mencium punggung tangannya.
"Kok kalian tumben pulang sore? Bukannya Rio bilang lembur?" tanya Wahyu.
Tatapan nyalang yang baru saja Rio arahkan pada Dido, langsung saja ia hentikan. Pria itu menampilkan senyuman terindah untuk mertua semata wayangnya.
"Iya Ayah, aku dan Wulan bawa kabar gembira buat Ayah," ungkap Rio.
"Kabar gembira? Apa itu?" tanya Wahyu sambil tersenyum. Belum apa-apa ia sudah merasa senang, apalagi jika sudah tau nanti.
"Kita masuk dulu, Ayah," ajak Wulan seraya melepaskan gandengan tangannya pada Rio, lalu beralih mengandeng tangan Wahyu untuk mengajaknya masuk kedalam rumah. "Ayok, Mas!" Wulan menoleh pada Rio yang tengah melototi Dido.
"Ah iya, kau saja dulu. Nanti aku nyusul," jawab Rio.
Wulan mengangguk dan meninggalkan
Rio dan Dido didalam kios. Rio memperhatikan penampilan Dido dari atas sampai bawah. Pria itu begitu rapih. Namun tidak memakai setelan jas. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan celana bahan berwarna hitam. Mirip seperti orang yang habis melamar kerja.
"Sore, Pak Rio," sapa Dido seraya menarik senyum dan menghentikan aktivitas makannya.
"Saya tidak menganggu Om Wahyu dan Wulan, Pak," elak Dido seraya menggelengkan kepala.
"Lalu sekarang apa? Kenapa kau ada disini?" tekan Rio.
"Saya sedang makan bakso." Dido mengangkat mangkuk yang tersisa tiga butir bakso kecil-kecil didalam sana. "Memang Bapak tidak melihatnya?"
"Penjual bakso banyak, ya! Kenapa kau musti makan bakso Ayah?" Rio menunjuk-nunjuk wajah Dido dengan jari telunjuknya.
"Karena saya suka, Pak. Memangnya tidak boleh?"
Rio mengebrak meja dengan keras dan penuh dengan emosi.
Brak!
__ADS_1
"Tidak! Kau tidak boleh makan bakso Ayah dan ada disini!" bentak Rio. Lantas ia menarik kasar lengan Dido supaya pria itu berdiri. Lalu ia mendorong kasar tubuhnya sampai terhentak ke halaman depan rumah, untung tidak sampai jatuh.
"Kau pergi dari sini! Aku tidak mau kau menampakan batang hidungmu didepan Ayah, aku dan Wulan!" pekiknya.
Mendengar suara keributan, lantas Wahyu keluar dari rumah menghampiri mereka berdua. Wajah Rio begitu masam dan terpenuhi oleh emosi di dada, sedangkan wajah Dido terlihat begitu sendu dan tak berdaya.
"Ada apa ini Rio?" tanya Wahyu menoleh kearah menantunya.
"Aku mengusir Dido dari sini Ayah!"
"Kenapa? Kenapa kau usir? Dia sedang makan bakso, Rio!" pekik Wahyu tak terima.
"Dia hanya alasan memakan bakso di tempat Ayah, aslinya dia punya maksud tertentu!" Rio menarik kasar lengan Dido dan mendorong tubuh pria itu untuk menjauh dari Wahyu yang baru saja hendak mendekatinya. "Pergi kau dari sini! Aku membencimu!" usir Rio.
"Bapak jahat sekali pada saya, saya sudah dipecat jadi asisten Bapak dan sekarang saya hanya makan bakso, tapi Bapak melarangnya ...." Dido memegangi dadanya dan berusaha membela diri. "Ini hidup saya, Bapak tidak bisa mengatur dengan seenaknya!" tegasnya.
"Aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan hal apapun! Kau bebas melakukannya, tapi jangan ganggu rumah tanggaku!" bentak Rio sambil melotot, amarahnya semakin menjadi-jadi.
"Rio! Apa yang kau katakan? Kau tidak boleh melakukan ini pada Dido! Kasihan dia," sanggah Wahyu.
Rio menatap lekat wajah mertuanya dan melangkahkan maju beberapa langkah untuk mendekatinya. "Kenapa Ayah selalu membelanya? Apa kelebihan Dido yang aku tidak punya?" Rio memegangi dadanya.
"Kenapa Ayah begitu dekat padanya? Aku tidak suka, Ayah!" tambahnya lagi.
"Ayah dekat dengan Dido dari dulu, saat Wulan masih pacaran dengannya. Kalaupun mereka sudah putus, memang apa salahnya dengan hubungan Ayah dan Dido? Dia ini pria baik-baik, Rio!" Wahyu mengarahkan jarinya pada Dido.
"Baik? Apanya yang baik? Jelas-jelas Dido--"
"Dido jauh lebih baik darimu, karena dia tidak pernah menyakiti hati Wulan!" sela Wahyu dengan emosi.
Rio membulat kedua matanya dan geleng-geleng kepala, rupanya Wahyu tidak pernah tau kalau Dido juga pernah menyakiti hati putrinya.
"Tidak pernah menyakiti?" Rio menyunggingkan senyum, lalu menoleh kearah Dido yang tengah terdiam. "Dia ini dulu meninggalkan Wulan untuk menikah dengan wanita lain, apa itu bukan termasuk menyakiti, Ayah?!" Rio kembali melihat kearah Wahyu. Seketika itupun, pria paruh baya itu tersentak kaget dengan netra yang membola.
__ADS_1
^^^Kata: 1060^^^