Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 99. Tidak adil bagiku


__ADS_3

"Ada apa, Pak?"


"Aku akan bertanya padamu, tapi kau jangan coba-coba untuk membohongiku!" ancam Rio.


Mas Rio ... apa dia akan bertanya pada Kak Dido masalah hutang itu? Aku juga penasaran.


Wulan masih memeluk tubuh Rio begitu erat, ia menempelkan dagunya pada bahu suaminya.


"Silahkan, Pak."


"Apa saat operasi Clara, kau sudah membayarkan semua biayanya?" tanya Rio. Ia seperti tengah mengingatkan kembali pada asistennya itu.


"Iya, saya sudah membayarkan semua biayanya, Pak. Semuanya sudah saya urus, memangnya kenapa ya, Pak?"


"Apa saat itu juga, kau bilang itu uangmu? Bukan uangku?" tanya Rio dengan nada mulai meninggi.


Pria berkumis tipis itu tidak langsung menjawabnya, ia terdiam.


"Kenapa kau diam saja bodoh! Jawab aku!" cercah Rio.


"Iya Pak, saat itu memang saya berbohong pada Wulan dan Ayahnya, saya berkata uang itu adalah uang saya."


"Kau pasti melakukan hal itu supaya menunjukkan pengorbananmu untuk membantu mereka, kan? Kau ingin merebut Wulan dan merebut hati Ayah?!"


"Tidak, Pak. Bukan seperti itu. Aku melakukan hal itu terpaksa, karena aku tau ... mereka pasti menolak pemberian dari Bapak," jawab Dido mencari alasan.


"Kak Dido berbohong, Mas! Aku sempat bertanya masalah biaya operasi, tapi dia bilang, saat operasinya belum dimulai, saat itu juga Mas Rio belum membayarnya. Dia yang menawarkan dirinya untuk memakai uangnya. Karena dia tau, saat itu aku kesal sama Mas Rio, aku tidak mungkin meminta tolong pada Mas Rio." Tiba-tiba Wulan ikut menyahutinya. Ia juga sangat kesal dengan kebohongan yang Dido perbuat. Ia tak mau Rio marah dan salah paham padanya.


Rio mengecup pipi Wulan dan tersenyum padanya.


"Apa kau sudah dengar, apa yang dikatakan oleh istriku? Telingamu tentu belum rusak, kan?" tanya Rio dengan bangganya, ia merasa istrinya berada dipihaknya sekarang.


"Maafkan saya, Pak." Hanya kata maaf yang bisa Dido katakan, ia merasa binggung untuk memberikan alasan apalagi. "Tapi saya mohon ... jangan pecat saya, Pak. Saya juga sudah melupakan Wulan."


Aku harus bicara pada Kak Reymond lagi, Dido benar-benar tidak tau diri dan tidak menghargaiku sebagai atasannya.


"Sekarang, sambungkan telepon ini pada Ayah ... kau bicara padanya tentang semuanya. Jangan pernah buat Ayah makin membenciku, Dido!"


"Baik, Pak."


Sambungan telepon itu mulai berbunyi bip, bip, bip. Dan tak lama terdengar suara Wahyu yang ikut bergabung.


"Halo, Om Wahyu. Selamat sore," sapa Dido dengan ramahnya.


"Sore, ada apa Dido?"


"Om ... sebelumnya aku mau minta maaf, aku mau jujur sama Om Wahyu," ucap Dido.

__ADS_1


Rio meletakkan ponsel itu disamping tempat duduknya, ia dan Wulan masih bisa mendengarnya percakapan mereka berdua.


"Jujur apa?"


"Tentang biaya operasi, Om. Sebenarnya itu uang dari Pak Rio. Maaf ... aku berbohong dan mengaku-ngaku itu uangku."


'Ayah pasti marah, aku ingin tau dia memarahi Dido' tebak Rio seraya menarik senyum.


"Tidak masalah Dido, Om tidak marah padamu."


Deg~


Mata Rio membelalak. Tebakannya salah besar, ternyata Wahyu tidak marah. Terdengar dari nada suaranya saja, pria paruh baya itu menjawabnya dengan santai.


'Kok Ayah begitu? Kenapa tidak memarahi Dido?' gerutu Rio.


Emosi Rio mendadak naik, deru nafasnya sudah naik turun. Andai Dido berada didekatnya, pria itu pasti sudah Rio hajar habis-habisan.


"Benarkah? Om Wahyu tidak marah padaku?" tanya Dido.


"Iya, Om tidak marah. Om tau ... mungkin kau punya alasan untuk berbohong."


"Dia berbohong karena ingin merebut Wulan dariku Ayah!" serbu Rio.


Sebenarnya ia tak mau ikutan bicara, ia hanya ingin menjadi pendengar. Tapi nyatanya lidah Rio begitu gatal.


"Tidak, aku hanya meminta Dido untuk menyambungkan telepon. Aku tidak mau Ayah makin membenciku, aku ingin Ayah percaya padaku."


"Iya, Ayah sudah percaya. Operasi itu dari uangmu, terima kasih Rio. Maaf ... Ayah, Wulan dan Clara selalu merepotkanmu." Berbeda dengan berbicara dengan Dido, sekarang nada suara Wahyu terdengar begitu malas ketika bicara dengan menantunya.


"Ayah tidak boleh bicara seperti itu, aku tidak pernah merasa direpotkan." ucap Rio dengan nada memelas.


"Iya, yasudah. Rio ... Dido, Ayah tutup teleponnya, Ayah mau buat adonan bakso."


"Tunggu, tunggu dulu Ayah," cegah Rio.


"Ada apa?"


"Kenapa Ayah begitu dekat dengan Dido? Dido berbohong pada Ayah ... tapi Ayah tidak marah padanya, kenapa Ayah?" tanya Rio dengan nada sedih.


"Rio. kau ingin Ayah marah padanya? Atas dasar apa Ayah marah? Apa Ayah harus tidak terima karena dia berbohong? Kau 'kan dengar sendiri, Dido sudah jujur pada Ayah sekarang. Lalu, kenapa Ayah harus marah padanya?"


Dia jujur karena aku mengancamnya, Ayah.


"Tapi aku rasa ... ini tidak adil bagiku, Ayah. Ayah sama sekali tidak percaya padaku, tapi aku lihat ... Ayah percaya padanya. Aku ... aku ini menantu Ayah, bukan Dido ...," lirihnya


"Bukannya tadi Ayah sudah bilang, Ayah percaya padamu? Memang kau tidak mendengarnya?"

__ADS_1


"Iya, aku dengar tapi--"


"Apa kau sudah capek jadi menantu Ayah? Capek jadi menantu orang miskin?"


"Tidak, kenapa Ayah bicara seperti--"


"Apa kau tau, Papahmu sering menemui Ayah?"


"Papah, Papah menemui Ayah? Mau apa, Ayah?"


"Dia menyuruh Ayah untuk menjauhi Wulan dan kau, Rio. Dia bilang ... Wulan tidak pantas denganmu. Tapi nyata sekarang apa? Ayah masih mengizinkan kalian untuk pergi berbulan madu. Apa kau masih berfikir Ayah ini tidak adil padamu?"


"Ayah ... maaf, bukan itu maksudku, tapi--"


"Rio ... Ayah bisa saja paksa Wulan untuk bercerai denganmu, tapi Ayah masih menghargai keputusannya yang masih menerimamu. Sudah, sudah cukup! Ayah lelah padamu, Rio. Ayah tidak ingin berdebat denganmu, Ayah masih banyak pekerjaan." Wahyu segera menutup sambungan telepon, kini tinggal Rio dan Dido.


Padahal maksud Rio tidak adil antara perlakuan padanya dan pada Dido, tapi ternyata yang terpikir dalam benak Wahyu berbeda. Bukannya meluruskan masalah, justru menjadi runyam. Apalagi di tambah Mawan yang ikut campur.


Papah keterlaluan, aku akan buat perhitungan pada Papah nanti.


"Pak, apa sudah selesai teleponnya?" tanya Dido yang sedari tadi diam.


Rio menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. "Belum, aku masih ingin bertanya padamu."


"Katakan saja, Pak."


"Bicara apa saja kau selama ini pada Ayah? Apa kau menjelek-jelekkan aku?"


"Tidak, Pak. Saya tidak pernah menjelek-jelekkan Bapak," elak Dido.


Dia pasti berbohong!


Mobil Rio sudah terparkir sedari tadi di parkiran Hotel. Indra juga sudah turun dari mobil, meninggalkan mereka berdua.


"Awas kau, ya! Setelah aku pulang, kau akan habis di tanganku, Dido!" ancam Rio seraya menutup sambungan telepon.


"Wulan, kita sudah sampai. Ayok turun!" Rio mengangkat tubuh wanita itu untuk bangun. Tapi ternyata Wulan sedari tadi tertidur dalam dekapannya.


Kok dia malah tidur? Sejak kapan dia tidur? Apa saat aku bicara pada Ayah, dia juga sudah tidur? Pantes dari tadi diam saja.


Rio mengangkat tubuh wanita itu dan keluar dari mobilnya. Ia masuk kedalam Hotel dan menaiki lift bersama Indra yang ikut membuntut dibelakangnya.


"Pak Rio, apa Bapak ingin mencoba obat kuat lagi? Saya membelikan obat kuat yang baru untuk Bapak," lirih Indra seraya berbisik di telinga Rio.


...🖤🖤🖤🖤🖤...


...Apa kalian masih suka dan menanti novel ini untuk terus update? Yuk dukung Author deengan cara Like, Komen, Vote dan Gift. Supaya Author semangat nulis dan semangat untuk ngehalunya. Terima Kasih 😍...

__ADS_1


__ADS_2