Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
111. Mual


__ADS_3

"Aku juga tidak tahu sayang." Ucapku bohong.


"Kenapa kamu tidak menjenguknya Mas?"


"Aku masih kesal padanya,"


"Kesal kenapa? Kau berantem lagi dengannya?"


"Tidak, aku....."


"Kalau kamu khawatir sama Om Andra, kamu ke rumah sakit saja Mas. Jenguk dia." Dia menyela ucapan ku.


Aku memegangi dagunya, "Kau mau ikut?"


"Tidak Mas, aku masih mengantuk. Kamu saja sendiri. Mmmmm, memang ini sudah jam berapa?" Aku langsung meraih ponselku di atas meja dan melihat jam di layar ponsel, pukul 22.30.


Aku memperlihatkan pada Indah supaya dia melihatnya juga, "Ya sudah Mas kau kesana sekarang, mumpung belum terlalu malam."


Dia lagi-lagi menyuruhku untuk menemui Om Andra, tapi Mamah melarang ku. Bagaimana ini?


"Mas kenapa kamu bengong, sudah sana ganti baju." Indah menggeser kan bokongnya dari pangkuanku dan duduk di samping.


"Kamu tidak apa aku tinggal sendiri di sini?" kalau aku tinggal dia, kayaknya aku khawatir.


Dia malah tertawa. "Hahahaha... Kamu ini apaan sih Mas, di sini kan ada Mamah, Bi Milla dan Pak Hasan. Aku tidak sendirian."


Benar juga sih, aku langsung beranjak dari tempat tidur dan menganti pakaian. Aku memakai stelan jas, begitu rapih seperti ingin berangkat ke kantor.


Aku kembali mendekati Indah yang masih duduk di tepi ranjang, tanganku memegangi kedua pipinya dan meraup bibirnya, mengajaknya berciuman sebentar.


"Mas apa kamu beneran mencintaiku?" tanya Indah tiba-tiba sambil memegangi kedua pipiku, nafsuku tiba-tiba saja muncul, dia memang paling bisa menggoyahkan imanku.


"Lho sayang. Ada apa denganmu? Memang kamu tidak percaya aku sangat mencintaimu." Ucapku yang kembali menciumi bibirnya, dan menghimpit tubuhnya di tepi ranjang.


"Aku percaya kok Mas... Aku hanya bertanya, apa tidak boleh?"


"Boleh sayang."


Tangannya kini membelai rambutku, sungguh aku di buat merinding. Apa dia sedang menggodaku? Aku menelan saliva ku dengan kasar. "Mas.... Kamu akan terus bersama denganku kan?" tanyanya lagi. Ah si bumil ini kenapa lagi sih dia.


"Pasti sayang. Baik aku ataupun kamu. Kita kan sudah pernah berjanji, iya kan?" Dia mengangguk dan aku langsung mengecup lehernya.


"Apa kau ingin mengajakku tempur sekarang?" tanyaku memberi sinyal seraya meremas buah dadanya.


Indah menghentikan tanganku, "Tidak Mas, kan katanya kamu mau jengguk Om Andra. Nanti saja ya..." Jawabnya menolak dengan masih memegangi rambutku, juniorku sudah tegang. Tapi benar nanti saja deh. Aku mengangkat tubuhku kembali dan berdiri.


Aku merapihkan jas dan membenarkan celana supaya junior ku tidak terasa sesak di dalam sana. "Setelah aku pulang kita langsung tempur bagaimana?" Ajak ku.


"Oke! Siapa takut!" Sahutnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada, dia terlihat seperti menantang ku.


Aku suka yang begini-begini nih. "Kalau kamunya sudah tidur, aku boleh langsung melakukannya sayang?" Indah mengangguk dan tersenyum manis. Rasanya aku jadi malas pergi. Ingin dekat terus dengannya, tapi pikiran ku masih ke Om Andra, ya sudah tempurnya nanti saja setelah aku pulang.

__ADS_1


"Sayang aku pergi dulu, kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya?"


Cup... Aku mengecup keningnya.


"Iya Mas... Kau hati-hati di jalan." Aku berjalan keluar dan menutup pintu, apa tidak apa aku tinggal Indah? Tapi hanya sebentar ini. Habis lihat keadaan Om Andra aku langsung pulang dan menghabiskan waktu dengannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku masuk ke dalam mobil dan mengemudi, tapi di tengah perjalanan mobil yang aku kendarai mendadak tak enak rasanya.


Aku menepikan mobilku di pinggir jalan, aku keluar dari mobil untuk mengecek ban. Dan ternyata ban kiri depan kempes, ada paku yang tertancap di sana.


Sial sekali! Mana sudah malam dan jalanan sepi. Terpaksa aku telepon Dion untuk membantuku, aku mengambil ponselku di saku jas dan menelepon Dion.


BUUUGGGGG.... Ada seseorang dari belakang yang memukul punggungku dengan benda keras.


"Aawww....." Rasanya sakit, seketika penglihatan ku jadi gelap dan tubuhku ambruk.


Brukkkk.....


🍃🍃🍃🍃


Pagi hari yang cerah, Indah membuka mata dan menoleh ke samping. Tepat di mana posisi Rendi tidur, dia meraih bantal yang biasa Rendi pakai untuk menyangga kepalanya, Indah memeluk bantal itu. Entah rasanya cuma semalam tak bertemu dia merasa rindu padanya.


"Mas Rendi belum pulang ya? Apa dia semalam menginap di rumah sakit?" Ujarnya pada diri sendiri.


Katanya mau ngajak tempur, tapi dianya sendiri yang lupa, kenapa aku yang jadi mikirin ke situ? Jangan bilang aku ketularan otak mesumnya.


Batin Indah sambil terkekeh.


Dia bangun dan meraih ponselnya di atas meja untuk menelepon Rendi, tapi nomor Rendi sama sekali tidak aktif. "Apa Mas Rendi ponselnya lowbat?" Dia bangun dan melempar ponsel itu di atas kasur. Dia melangkah menuju kamar mandi.


***


Indah menuruni anak tangga sambil memegangi tasnya karena hari ini dia ingin berangkat ke kampus. "Pagi sayang..." Sapa ibunya yang tengah duduk.

__ADS_1


"Pagi Mah." Indah menggeser kan kursi untuk dirinya duduk.


Sarah memberikan susu ibu hamil untuk Indah dengan farian rasa strawberry, "Minum dulu sayang."


"Iya Mah, terimakasih." Indah meraihnya dan langsung menenggak habis.


Sarah celingak-celinguk. "Di mana Rendi? Apa dia belum bangun?" tanyanya.


"Mas Rendi belum pulang kayaknya Mah, dia semalam pergi jengguk Omnya di rumah sakit." Tutur Indah.


Sarah mengangguk. "Kamu mau sarapan apa Ndah? Biar Mamah ambilkan." Tanya ibunya dengan penuh perhatian.


Di meja makan sudah ada roti tawar dengan beberapa macam selai, nasi goreng, nasi uduk, nasi putih dan berbagai macam lauk yang sengaja ibunya buatkan. Takut Indah menginginkan sesuatu yang aneh.


"Nasi goreng Mah." Ucapnya. Ibunya langsung menyendok kan nasi ke piring di depan Indah.


"Segini cukup?" Indah mengangguk.


Baru juga dia membuka mulutnya, tiba-tiba perutnya begitu mual. "Eeemmmm..." Indah langsung berlari ke arah dapur.


"Kamu kenapa sayang?" tanya ibunya yang ikut berlari mengikuti Indah.


"Uueekk... Uueekk." Indah memuntahkan isi perut kosongnya ke westapel, Sarah memijit pelan tengkuk Indah.


Ini kali pertama dia merasakan mual-mual.


"Apa kepalamu juga sakit?" tanya Ibunya seraya memegangi dahi dan juga leher.


Indah mengangguk, Sarah langsung membantu Indah duduk menyender di sofa.


"Apa mau Mamah antar periksa?" tanya Sarah.


Indah menggelengkan kepala, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Sebenarnya semenjak tahu nomor Rendi tidak aktif, Indah merasa khawatir.


"Mamah coba tolong telepon Mas Rendi, pas bangun tidur aku telepon dia tidak aktif."


Ibunya mengangguk dan langsung mengambil ponsel di kantong celana untuk menelepon Rendi tapi tetap nomornya tidak aktif. "Tidak aktif Ndah."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung......^^^


Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️❤️


__ADS_2