Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 29. Membantu Indah


__ADS_3

Malam hari


Ibu Sarah di pindahkan di ruang perawatan sebelah ruangan Indah dan ibu Santi memutuskan untuk pulang dan menyuruh


Rendi menginap supaya bisa menemani Indah di ruangannya, Rendi menyuruh asistennya Dion untuk membawakan beberapa pakaian ganti miliknya dan Indah. Dion juga ikut menginap untuk berjaga-jaga takut Rendi membutuhkan sesuatu tapi dia beristirahat di dalam mobil.


Akhirnya Rendi bisa menemui Indah. Dia langsung masuk ke ruangan Indah dan duduk di sofa menyilang kaki dengan menggenggam kedua tangannya di atas lutut sambil memandang wajah polos Indah yang sedang tertidur pulas. Tiba-tiba Rendi memikirkan ucapan Rio tadi sore.


Rio benar aku memang tukang selingkuh. Dan apa aku selalu bersikap kasar kepada gadis ini? Melihatnya seperti ini aku jadi tidak tega. Walau bagaimanapun dia kan tetap istriku, nggak seharusnya aku terus menyakiti hatinya, setelah aku putus dengan Siska apa sekarang waktunya aku harus memulai pernikahan yang sebenarnya?


Dan apa bisa aku mencintainya seperti aku mencintai Siska?


Gumam hati Rendi yang mulai tergerak untuk memulai hubungannya dengan Indah.


Semakin malam semakin sunyi sepi di rumah sakit, karena beberapa pasien sudah beristirahat dan hanya beberapa dokter dan perawat yang berjaga malam. Sekarang hanya terdengar suara tetesan air infusan yang menetes, serta bunyi jam dinding yang berdetak dari detik perdetik yang menunjukan pukul 12 tepat tengah malam. Lama-lama mata Rendi menjadi sayup dan mulai mengantuk akhirnya dia berbaring dan memposisikan tubuhnya di atas sofa yang lumayan panjang dan cukup untuk dirinya, dia mulai menutup mata secara perlahan dan akhirnya tertidur.


Ketika Rendi sudah tertidur Indah membuka matanya lalu menoleh kearah samping dan dia langsung terkejut melihat Rendi yang tengah tertidur di sofa.


Kok mas Rendi ada di sini? Aku kira dia nggak bakalan menemaniku.


Tiba-tiba Indah merasa ingin buang air kecil dia mencoba untuk bangun namun kepalanya seakan berat untuk dia angkat. Karena memang seharusnya ada orang yang membantunya, lalu dia mencoba untuk memanggil Rendi yang sudah tidur menggorok.


"Mas.. Mas Rendi." Panggil Indah pelan namun Rendi tidak mendengarnya, karena suara Indah terlalu pelan. Indah menekan tombol untuk memanggil perawat yang berada di sisi tempat tidurnya, dia menekan beberapa kali tapi tidak ada yang datang.


Ini suster kemana sih? Aku mau kencing banget.

__ADS_1


Gumam Indah sambil memegang perut bagian bawahnya yang seakan tidak tahan ingin segera ke kamar mandi. Dia memutuskan untuk bangun dengan paksa namun seketika kepalanya langsung terasa sakit. "Ah sakit sekali kepalaku." Ucapnya sambil memegang kepala.


Namun Indah tetap memaksanya, dia mencoba untuk menurunkan kedua kakinya ke bawah tempat tidur. Tapi rasanya seluruh badan Indah terasa lemas dan membuat kepala pusing.


Alhasil Indah terjatuh di lantai dan jarum infusan yang menempel di tangan kanannya terlepas karena selang tidak sampai ke bawah. "AAKKHH." Ucapnya menjerit karena tangannya bercucuran darah hasil dari jarum yang terlepas.


Jeritan Indah sontak membuat Rendi kaget. Dia langsung bangun dan menghampiri Indah yang terjatuh di bawah lantai dengan darah di tangan kanannya, "Kamu kenapa? Kok bisa kayak gini," tanyanya cemas sambil melihat infusan yang terlepas dari tangan Indah.


Rendi langsung bangun untuk mencoba memanggil suster namun tangan Rendi langsung di pegang oleh Indah "Mas tolong aku." Ucapnya,


"Kamu lepasin dulu tangan aku. Aku mau panggil suster." Mencoba melepaskan genggaman tangan Indah.


"Antar aku ke kamar mandi dulu Mas. Aku sudah tidak tahan rasanya," ucap Indah memohon dengan memegang perutnya karena dia sedari tadi menahan kencing.


Rendi langsung membopong Indah dan membawanya ke kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu. Dia perlahan menurunkan Indah dan berkata. "Kamu mau buang air kecil atau besar?" tanyanya,


"Biar aku bantu bukain ya." Ucapnya tapi Indah menggelengkan kepalanya, Rendi tidak tega karena darah yang keluar dari tangan Indah semakin banyak. Dia langsung menutup tangan kanan Indah dengan tangan kanannya untuk menahan darahnya supaya tidak keluar.


"Biar aku tunggu di sini tapi kamu jangan khawatir aku nggak akan lihat." Ucap Rendi yang mengarah pandangannya lurus.


Karena Indah sudah tidak tahan akhirnya dia membuka celana dengan tangan kanannya yang menempel dengan tangan Rendi. Indah dan Rendi duduk nongkrong dengan posisi Indah di depan dan Rendi di belakangnya yang membuat jantung Indah berdebar-debar.


Setelah itu Indah meraih gayung dan menyiram beberapa air di kamar mandi. "Mas lepasin tanganku dulu. Aku mau cebok." Ucapnya, Rendi langsung melepas tangannya dan berdiri balik badan menghadap ke pintu.


Setelah selesai Indah langsung buru-buru memakai celana dan berkata. "Mas aku sudah selesai." Ucap Indah yang berdiri sambil menyender tembok.

__ADS_1


Rendi langsung berbalik dan membopong tubuh Indah dan Indah juga tidak menolaknya sama sekali. Rendi dengan hati-hati mendudukkan Indah ke atas tempat tidurnya, lalu dia berjalan keluar pintu dan memanggil suster untuk memasang infusan ke tangan Indah karena sedari tadi darahnya masih saja keluar.


Suster pun langsung masuk dengan membawa nampan stainless yang berisi beberapa kapas dan jarum suntik.


Dia mengelap beberapa bekas darah di tangan Indah dan langsung memasangkan infusan kembali. "Sus apa tangan istriku nggak papa?" tanya Rendi yang berdiri di sampingnya sambil melihat apa yang suster itu lakukan.


"Nggak apa-apa Mas, Ini cuma luka karena jarum yang terlepas." Rendi hanya mengangguk-ngangguk. "Maaf ya Mbak Indah tadi saya tidak mendengar alarm dari kamar ini." Ucap suster Indah hanya tersenyum.


Setelah selesai suster langsung berjalan kembali dan keluar dari ruangan Indah.


Rendi menghampiri Indah sambil memegang tangan Indah yang baru saja terpasang infusan. "Apa tanganmu sakit?" tanya Rendi. Indah hanya menggelengkan kepalanya, dia mencoba membaringkan tubuhnya kembali.


Sikap Mas Rendi kok jadi lembut kaya gini.


Gumam Indah yang merasa heran dengan


sikap Rendi.


"Apa kamu butuh sesuatu lagi?" tanya Rendi kembali.


"Eemm. Aku cuma..." Ucap Indah sambil memegang perutnya, dan tiba-tiba suara cacingnya berbunyi dan membuat Rendi tersenyum.


"Oh kamu lapar. Mau makan apa?"


"Apa saja Mas." Ucap Indah, dan Rendi langsung berjalan melangkah keluar pintu.

__ADS_1


Ah ini serius mas Rendi keluar untuk belikan aku makanan?


Indah lagi-lagi merasa heran.


__ADS_2