
Di rumah Wahyu.
Pagi hari seusai Wulan mandi, ia melilitkan handuknya diatas dada kemudian mencari pakaian ganti pada lemari.
Ia mengambil celana jeans panjang berwarna hitam dan kaos merah. Namun saat dipakai, kancing celana itu tidak bisa menyatu.
Wulan mencari celana lain, kemudian memakainya. Tapi semuanya sama, tidak muat dan terasa sempit.
"Kenapa semua celanaku sempit?! Apa aku gendutan?!"
Wulan membuka lilitan handuk itu dan memperhatikan tubuhnya didepan kaca lemari. Tapi terlihat sama saja, ia merasa tidak ada perubahan.
"Ah tidak, tubuhku masih langsing seperti dulu. Tapi kok semuanya sempit?! Apa celananya yang kecil sendiri?!"
Wulan memakai kaos merah terlebih dahulu, tapi sama saja. Kaos itu terlihat ngepres di badan. Malah kedua gunungnya makin terlihat menonjol.
Ia melepaskan kembali kaos itu, ia juga tidak terbiasa memakai pakaian yang terlalu ngepres. Tidak nyaman.
Tidak mau menyerahkan, Wulan mencari lagi kaos yang lain dan memakainya. Namun semuanya sama saja, karena seukuran.
"Masa aku harus pakai dress kemarin?! Kan masih basah habis di cuci. Aku pakai apa dong?! Kenapa semuanya tidak muat?! Padahal aku tidak gendut!" Wulan berdecak kesal.
Tok ... tok ... tok.
Bunyi suara ketukan pintu dari kamarnya, Wulan memungut handuk dan melilitkan kembali. Lalu membuka pintu.
Ceklek......
"Kaka ... ini dari Ayah," ucap Clara seraya memberikan dress berwarna murstad pada Wulan.
"Masuk dulu Sayang." Wulan menyuruh Adiknya untuk masuk kedalam kamar dan menutup pintu.
Clara melihat kamar Wulan yang sangat berantakan, pakaian dalam lemarinya sudah dikeluarkan semua.
"Kaka cari apa?! Kok baju-bajunya diambil semua?"
"Kakak cari pakaian, tapi tidak ada yang muat," jawabnya prustasi.
"Coba pakai ini Kak. Siapa tau muat, bajunya samaan kayak Clara." Tangannya sudah memegang dress untuk Wulan dan dress yang ia pakai pada tubuhnya. Memberitahu kalau dress-nya sama.
"Benarkah? Ini sama kayak yang kamu pakai sekarang?"
"Iya."
Wulan langsung memakai dress itu dan ternyata muat di tubuhnya, terasa lebih nyaman juga.
Alhamdulilah. Ayah benar-benar penyelamatku, kalau Ayah tidak memberikan aku dress ini. Aku tidak tau harus pakai apa.
Sepertinya aku harus beli pakaian yang baru. Nanti beli saja di pasar yang murah, biar dapat banyak.
Batin Wulan seraya tersenyum.
"Kaka cantik!"
"Kamu juga cantik, Sayang."
__ADS_1
Setelah berdandan dan menyisir rambut, Wulan dan Clara keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Terlihat Wahyu sedang merebus bakso pada panci besar diatas kompor.
"Ayah, terima kasih pakaiannya. Bagus sekali," ucap Wulan.
"Sama-sama Sayang." Wahyu memperhatikan Wulan dari atas sampai bawah. "Ayah kira akan kebesaran sama kamu, ternyata tidak."
"Apa maksud Ayah?! Ayah pikir aku gendut?!" tanyanya sambil cemberut.
Wahyu terkekeh. "Tidak, Sayang. Ayah tidak bilang kamu gendut."
"Lalu apa?"
Aku perhatikan Wulan ini agak berisi. Apa mungkin karena efek sudah menikah?! Ya, mungkin saja begitu. Dia juga pasti sangat bahagia dengan pernikahannya. Syukurlah ... Ayah ikut bahagia.
Batin Wahyu.
Wulan makin kesal karena lagi-lagi Ayahnya melihatnya sambil tersenyum, ia pikir Wahyu tengah meledeknya.
"Ayah! Ayah jahat sekali padaku, aku ini tidak gendut!"
"Hahahaha ... iya Sayang. Kamu tidak gendut."
"Tapi kenapa Ayah bilang seperti itu padaku?"
"Ya ... itu karena Ayah baru pertama kali membeli pakaian seperti itu untukmu. Apa kamu suka?"
"Suka, bagus kok."
"Maafkan Ayah, ya? Ayah hanya bisa membelikanmu pakaian murah," ucapnya dengan sendu.
"Ayah jangan bilang seperti itu. Aku tidak suka! Apapun yang Ayah berikan ... jauh lebih berharga dari apapun."
"Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar anak yang baik dan pengertian. Oya ... Ayah sudah belikan kamu dan Clara nasi uduk. Sarapan dulu sana," titah Wahyu.
"Ayah sendiri sudah sarapan?"
"Sudah."
Wulan membuat dua gelas susu hangat untuk dia dan Clara.
Kini mereka berdua tengah duduk dibawah, beralaskan tikar.
Clara sudah memakan nasi uduk itu dengan lahapnya. Tidak seperti Wulan, tiba-tiba ia teringat Rio.
Mas Rio ... apa dia sudah sarapan?! Dan bagaimana keadaannya sekarang?! Apa dia sudah baikan?
Batin Wulan.
Karena merasa penasaran, Wulan langsung masuk kedalam kamarnya. Hendak menelepon Rio.
Namun ia tidak jadi, merasa ragu dan mengurungkan niatnya.
Kenapa aku musti peduli padanya?! Dia saja tidak peduli padaku. Dia pasti baik-baik saja. Iya ... aku yakin itu.
__ADS_1
Lebih baik aku tidak perlu memikirkan pria jahat itu, lagian aku sendiri yang meninggalkannya.
Gerutunya dalam hati.
Suara deringan ponsel Wulan membuatnya membuyarkan lamunan. Matanya terbelalak kaget kala melihat tulisan 'Mamah Santi' tertera pada layar ponselnya.
Ingin mengabaikan, tapi rasanya tidak enak. Akhirnya setelah dua kali Santi menelepon, Wulan mengangkatnya.
"Halo, Mah."
"Wulan ... apa kamu baik-baik saja?".
Deg.....
Kenapa Mamah tiba-tiba bertanya seperti itu?! Apa Mamah sudah tau semuanya? Pasti iya. Mas Rio yang memberitahunya.
Batin Wulan.
"Wulan ... apa kamu mendengar suara Mamah?"
"Iya, Mah. Aku dengar ... aku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Mamah sudah tau kok semuanya. Maafin Mamah ya, Sayang ... Mamah tidak tau kalau ujungnya Rio menyakiti kamu. Padahal niat Mamah hanya ingin dia bertanggung jawab dan bisa berumah tangga denganmu, tapi justru sikap dan sifatnya membuat kamu merasa terbebani ...." Suara Santi terdengar seperti sedang menangis. Wulan yang mendengarnya pun ikut-ikutan menangis.
"Mamah ... ini bukan salah Mamah kok, aku juga minta maaf karena pergi tidak pamit pada Mamah. Maafin aku, Mah ...."
"Kamu juga tidak salah. Yang salah disini adalah Rio. Mamah menghargai keputusan kamu, mungkin kamu butuh ketenangan diri dulu."
"Terima kasih, Mah. Mamah benar-benar wanita yang baik dan pengertian."
"Sama-sama Sayang, kamu juga wanita yang baik. Kamu tidak usah memikirkan Rio lagi, biarkan saja dia ... lama-lama dia akan sadar sendiri kalau sudah kehilanganmu. Mamah yakin itu."
Apa mungkin?! Aku rasa tidak. Mas Rio tidak akan sadar! Pikirannya saja tidak ada.
Batin Wulan.
"Kamu dan Clara jaga kesehatan. Mamah Sayang kamu, Wulan."
"Wulan juga Sayang, Mamah. Mamah juga jaga kesehatan."
"Iya." Mereka langsung menutup sambungan teleponnya masing-masing.
Wulan menyandarkan punggungnya pada sisi tempat tidur dan tertegun sejenak.
Mamah Santi, dia bukan hanya seorang mertua saja. Dia bahkan seperti seorang Ibu untukku. Aku adalah orang baru di rumahnya, tapi dia begitu baik padaku dan pada Clara.
Maafin aku, Mah.
Batin Wulan.
***
Selesai menelepon dan menyeka air mata, Santi langsung masuk lagi kedalam ruangan Rio. Namun Rio tidak ada di tempat tidurnya.
"Uueekk ... uueekk ... uueekk."
__ADS_1
Terdengar suara dari kamar mandi. Ya ... itu dia Rio. Pria itu tengah muntah-muntah didalam sana.
^^^Kata: 1025^^^