
"Ayah sedang mengambil pakaian kita untuk menginap disini, Kak. Tapi memang darah Ayah dan Clara tidak sama."
Deg~
Mata Reymond mendelik kaget. "Tidak sama? Kok bisa?"
"Iya, kata Ayah ... golongan darah Clara sama dengan golongan darah Bunda."
"Yasudah, Bundamu saja yang mendonorkannya."
Air mata Wulan langsung berlinang membasahi pipi, jelas sekali ia begitu sedih. Karena Bundanya saja sudah tiada.
"Bunda sudah meninggal, Kak."
"Yasudah, kau saja kalau begitu."
"Golongan darahku sama dengan golongan darah Ayah, A."
Reymond makin dibuat terkejut bukan main, namun memang dua anak bisa saja mempunyai golongan darah yang berbeda. Tapi setelah di telaah, ia baru sadar, kalau Mawan juga bergolongan darah B.
Wulan menatap sendu kearah Reymond. "Kak Reymond, apa Kakak bisa membantuku? Aku mohon Kak. Tolong bantu aku mencarikan darah untuk Clara."
Ia mendekati Reymond dengan tubuh yang membungkuk hendak bersujud pada kakinya, namun segera Reymond cegah dengan memegang lengannya.
"Kau tidak perlu seperti itu, aku akan membantumu. Kebetulan darah Papah sama dengan darah Clara."
Senyum Wulan langsung mengembang. "Benarkah, Kak?" namun senyum itu seketika memudar karena ia tak yakin kalau Mawan akan sudi untuk mendonorkannya. "Tapi ... apa Papah akan mau, Kak?"
"Kita coba saja, ikut denganku." Reymond mengajak Wulan berjalan menuju ruang UGD, mungkin saja orang tuanya sudah sampai disana.
Dan benar saja, bukan hanya Mawan dan Santi yang sudah berada disana. Melainkan Antoni dan Bayu juga ikut, karena merasa khawatir pada satu orang yang terpenting dalam hidup mereka.
"Ayah!" suara Bayu membuat semua orang disana sadar akan kehadiran mereka berdua.
"Bayu sayang." Reymond langsung menghampiri Mawan untuk mengambil Bayu dari tangannya.
Rona bahagia terpancar jelas dari bola mata Santi, karena bertemu menantu yang sudah lama tidak terlihat.
"Wulan ... kau ada disini?" segera ia peluk tubuh Wulan sekilas, ia begitu kaget melihat mata Wulan yang begitu sembab. "Kamu kenapa? Kok seperti habis nangis? Ada apa?"
Berbeda dengan Santi, Mawan justru memasang raut wajah tak suka pada Wulan. Apalagi dia tau kalau Wulan pergi meninggalkan Rio.
__ADS_1
"Mau apa kau ada disini?" tanya Mawan sinis.
Santi memegang dagu Wulan, ia ingin minta jawaban yang keluar dari mulut menantunya itu.
"Clara sedang di operasi, Mah. Dia ... dia-"
"Apa?!" seru Santi. "Di operasi? Lalu bagaimana? Apa ada ginjal yang cocok? Kata Rio dia sudah mencarikan Dokter untuk Clara," sergahnya.
"Iya, operasinya sedang berjalan. Tapi Clara kekurangan darah, Mah ...," jawab Wulan sambil menangis.
"Kekurangan darah?"
"Iya," ucap Reymond tiba-tiba, ia memegangi tangan kiri Ayahnya dengan lembut. "Pah ... Papah mau, ya? Mendonorkan darah Papah untuk Clara ...."
Deg~
Mawan langsung mendelik atas permintaan yang Reymond lontarkan.
"Mendonorkan darah? Apa maksudmu?" ia mengangkat kedua alis matanya, menandakan kalau ia merasa binggung.
"Iya ... aku minta Papah mendonorkan darah Papah untuk Clara, darahnya sama dengan Papah. Golongan darah B saat ini sedang kosong di rumah sakit, Pah," jelas Reymond.
Mawan mengibaskan tangan Reymond pada tangannya, ia tersenyum miring sambil geleng-geleng kepala.
Wulan berjalan beberapa langkah untuk bisa mendekati Mawan.
"Golongan darah Ayah dan aku tidak sama dengan Clara, Pah. Aku mohon sama Papah ... tolong Clara ...," lirihnya dengan bola mata yang berkaca-kaca menatap wajah sangar sang mertua.
"Enak saja! Aku tidak mau!" tolak Mawan mentah-mentah.
"Kok bisa Pak Wahyu sama kamu golongan darahnya tidak sama dengan Clara?" tanya Santi.
"Iya, Mah. Darah Clara sama dengan darah Bunda. Tapi Bundaku sudah tiada," jawab Wulan menoleh sekilas pada Santi.
Wulan langsung berjongkok dan memeluk lutut Mawan diiringi air mata yang mengalir.
"Pah ... aku mohon. Selamatkan adikku, beri dia darah Papah. Kalau tidak, aku bisa kehilangannya, Pah."
Bukannya merasa simpati, Mawan justru sangat kesal karena Wulan berlutut di kakinya. Ia langsung menghentakkan salah satu dari kakinya supaya pelukan Wulan terlepas. Tapi tidak hanya terlepas saja, justru itu membuat tubuh Wulan tersungkur di lantai.
Melihat perlakuan kasar dari Mawan, Santi segera menolong menantunya untuk bangun.
__ADS_1
"Papah ... apa yang Papah lakukan? Kenapa bersikap kasar seperti ini pada, Wulan?!" tanya Santi tak terima.
Mawan melipat kedua tangannya diatas dada dengan sedikit menaikkan dagu. "Dia ini wanita tidak tau diri, Mah! Dia sudah meninggalkan Rio dan sekarang minta bantuan Papah?!" ia menunjuk jari telunjuknya didepan wajahnya sendiri. "Jelas Papah tidak mau membantunya! Tidak sudi!" bentaknya.
"Papah berhenti bersikap seperti ini! Dia meninggalkan Rio bukan karena kesalahannya!" bela Santi sambil memeluk tubuh Wulan yang sudah bergetar.
"Papah, tolong selamatkan adikku ...," lirih Wulan pelan.
"Adikmu? Kau meminta darahku?! Enak saja! Aku tidak akan memberikannya!" Mawan tetap bersikeras menolak, ia langsung duduk pada kursi panjang sambil memalingkan wajah.
Tiba-tiba datang seorang Suster berjalan setengah berlari menghampiri Wulan.
"Mbak ... saya sudah mencari darah adik, Mbak. Tapi saya tidak menemukan yang cocok. Apa Mbak sudah mencari pendonor untuknya? Nyawa Clara benar-benar sudah di ujung sekarang."
Deg~
Wulan makin histeris menangis, ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Ayahnya. Memberitahu tentang keadaan adiknya.
"Bapak dan Ibu ... mohon jika Anda mempunyai golongan darah B, untuk segera mendonorkan pada pihak rumah sakit. Karena sekarang, pasien yang bernama Clara Priyanka betul-betul membutuhkannya."
Suara dari speaker rumah sakit itu begitu menggema, petugas memberikan informasi pada seluruh ruangan rumah sakit.
Meski begitu, rasa belas kasih pada hati Mawan tidak tergoyahkan. Pria itu tetap angkuh dan tak mau mendonorkan darahnya.
"Papah ... berhenti bersikap egois, keadaannya sangat darurat. Bukankah Clara itu adik iparnya Rio?! Dia juga keluarga kita, Pah. Tolong dia ... dia terlalu kecil untuk pergi meninggalkan kita," bujuk Reymond, ia masih berusaha untuk membantu adik iparnya. Jujur, ia merasa kasihan dengan keadaan Clara. Mengingat lagi kalau Bayu dan Indah sangat dekat pada gadis kecil itu.
"Papah tidak peduli, Reymond! Mau dia mati atau tidak, itu bukan urusan Papah!"
Enak saja meminta darahku. Siapa dia memangnya? Anakku?! Cih! Darahku ini akan kuberikan hanya untuk Indah. Tidak ada yang lain.
Batin Mawan.
"Reymond ...," panggil Antoni yang sejak tadi diam mematung dan kini membuka mulut. Reymond langsung menoleh kearah mertuanya.
"Papah belum tau golongan darah Papah sendiri. Bagaimana kalau Papah mengeceknya?! Siapa tau golongan darah Papah sama dengan Clara."
"Kalau sama, apa Papah akan mendonorkan darah Papah?" tanya Reymond ragu.
"Tentu saja."
"Yasudah, ayok! Kita periksa darah dulu." Reymond mengajak Antoni untuk pergi memeriksa darah sambil mengendong Bayu. Wulan juga ikut membuntut dibelakangnya.
__ADS_1
Sedangkan Santi lebih memilih menunggu Indah bersama Mawan, duduk bersebelahan.
^^^Kata: 1032^^^