Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
90. Tidak penting


__ADS_3

Rendi menghela nafasnya dengan kasar dan menyenderkan punggungnya ke senderan kursi.


"Bikin emosi saja. Untung aku tidak punya penyakit darah tinggi." Gerutu Rendi sambil mengusap dada.


Secara tiba-tiba juniornya menegang. Mungkin sisa semalam yang belum berhasil jos.


Perlahan Rendi mengelus-elus miliknya yang masih berlapis sleting celana. "Sayang sabar ya, aku janji. Nanti aku akan masukkan kamu ke kandang sempit punya istriku," ucapnya mesum.


"Asoy di geboy. Hahahaha..." Serunya sambil mengoyang-goyangkan kepala dan tertawa sendirian, rasa emosinya mulai mereda karena pikiran mesum yang tiba-tiba saja muncul.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Di kampus.


Keluar dari kelas Indah berjalan menuju kantin bersama Maya, dia ingin bertemu dengan Nella dan mengajaknya ke Mall bareng.


Terlihat Nella tengah duduk bersama dengan Rio sambil menyedot es lemon tea. "Nella..." Panggil Indah tiba-tiba, melangkah menghampiri Nella.


"Iya..." Sahut Nella sambil tersenyum, Rio pun hanya menoleh dan melengos lagi.


"Aku mau pergi ke Mall, kamu mau ikut nggak?" tanya Indah menawari sahabatnya.


"Duh... Aku pengen sih ikut, tapi masih ada kelas." Jawabnya merasa sedih. Sejak Indah masuk lagi ke kampus dan berada di kelas yang berbeda, mereka jadi jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Karena jadwal dosennya yang bergantian.


"Ah ya sudah nggak apa-apa. Aku pergi dulu ya dengan Maya." Sahutnya sambil melambai tangan.


"Hati-hati." Seru Nella.


Nella melirikkan matanya kearah Rio yang tengah diam sambil memainkan ponsel. "Rio...." Panggilnya.


"Ya..." Sahut Rio menoleh.


"Aku perhatiin akhir-akhir ini kamu kok kayak cuek gitu sama Indah. Nggak seperti biasanya, apa kalian ada masalah?" tanya Nella.


"Tidak. Kita baik-baik saja," jawabnya menggelengkan kepala. "Hanya saja memang gue sengaja menjauhinya," ucapnya dengan wajah sendu.


"Kamu belum bisa lupain Indah?" tanya Nella penasaran.


"Sepertinya sih belum. Tapi gue lagi berusaha."


"Kenapa kamu nggak coba pacaran saja dengan cewek lain. Bukannya kamu termasuk cowok yang populer, banyak cewek lain yang suka padamu." Kata Nella.


"Entahlah Nell, gue belum mikirin ke situ. Gue ke kelas dulu ya." Ucap Rio berdiri, menghentikan obrolan mereka dan berjalan meninggalkan Nella.


Kok tiba-tiba aku ngerasa kasihan ya sama Rio. Ah semoga saja dia bisa mencari mengganti Indah.


Batin Nella.

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Setelah Indah dan Maya selesai berbelanja. Mereka mampir dulu untuk makan di salah satu cafe di dekat Mall.


Di sesi makannya tiba-tiba deringan telepon di handphone Indah berbunyi, Indah segera menyedot es dan mengangkat teleponnya.


"Halo Sayang apa kau sudah selesai belanja?" tanya Rendi.


"Sudah Mas. Tapi aku lagi makan dulu di cafe." Sahut Indah.


"Aku jemput ya?" tanya Rendi.


"Memangnya kamu tidak sibuk Mas? Ini kan baru jam 2." Tanya Indah.


"Tidak sayang. Hari ini aku mau sibuk di ranjang sama kamu, kamu di cafe mana?" Tanyanya mesum.


"Kamu ini." Indah tersenyum kecil. "Aku di cafe Xxxxx, sepertinya jauh dari kantormu Mas."


"Tidak masalah sayang. Di ujung dunia pun aku bersedia jika harus bertemu denganmu."


"Dasar gombal! Sudah ya aku mau lanjut makan lagi." Seru Indah menutup telepon.


Dengan cepat Rendi mengambil kunci mobil dan bergegas keluar dari kantornya, Tapi dia tak sengaja bertemu dengan rekan bisnisnya yang bernama Beni, dia baru saja keluar dari mobil bersama sekretarisnya.


"Selamat siang Pak Rendi." Sapa nya.


"Ah siang..." Sahut Rendi. "Bapak kok ke sini ada apa?" tanya Rendi sambil memegang kunci dan memencet alarm mobil.


Apa iya? Apa akunya saja yang lupa.


Batin Rendi bertanya-tanya.


"Bapak kok melamun?" tanya Beni melambaikan tangan.


Rendi menepis lamunannya, "Ah maaf Pak, mungkin saya lupa." Sahutnya tersenyum.


"Jadi, apa kita bisa mulai meeting sekarang?" tanyanya seraya melihat ke depan kantor Rendi.


Mau aku batalkan tidak enak, tapi aku mau jemput Indah. Tapi ya sudahlah, toh nanti ketemu di rumah.


Batin Rendi. Dia mengurungkan niatnya menjemput Indah, kemudian mereka bertiga masuk lagi ke kantor Rendi.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Di Cafe.


Maya dan Indah sudah menyelesaikan makannya, mereka berdiri dan hendak meninggalkan cafe itu tapi seseorang memanggil namanya.

__ADS_1


"Indah...." Panggil seorang pria.


Indah langsung menenggok kearahnya, "Ah iya benar kamu." Ucapnya lagi.


Dia Omnya Mas Rendi kan?


Batin Indah.


"Iya Om." Sahut Indah.


"Kau mau kemana? Apa kita bisa ngobrol sebentar." tanyanya.


"Ya sudah Ndah aku pulang duluan ya," ucap Maya melangkah dan tersenyum pada Andra.


"Iya hati-hati May." Kata Indah, melambaikan tangan, Maya juga membalasnya.


"Kita duduk di sebelah sana saja." Ucap Andra menunjuk dengan gerakan kepalanya, ke tempat duduk di area pojok cafe.


Indah mengangguk dan mengikuti Andra. Mereka duduk dan tak lama pelayan datang membawa buku menu. "Apa kau mau pesan?" tanya Andra kearah depan. Karena kini mereka duduk berhadapan.


"Tidak Om, aku sudah makan tadi." Jawab Indah seraya menggelengkan kepala.


"Saya pesan kopi luwak Mbak." Kata Andra pada sang pelayan. Pelayan itu mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


Sebenarnya apa yang mau Om Andra bicarakan padaku? Kenapa perasaanku tidak enak.


Batin Indah sambil menelan salivanya, dia merasa benar-benar canggung.


"Apa sebelum kita bertemu semalam. Kau masih mengingatku, dengan pertemuan kita yang pertama?" tanya Andra, mengingatkan pada kejadian sekitar satu tahun lebih yang lalu.


"Maksud Om, yang waktu motor ku tertabrak mobil?" tanya Indah.


"Tepat sekali! Ingatanmu sangat bagus." Seru Andra menunjuk. Tak lama kopi pesanan Andra sampai.


"Apa kau tau yang menabrak mobilmu adalah Rendi?" tanya Andra lagi. Indah menjawab nya dengan gelengan kepala.


"Baik. Jadi sekarang kau sudah tau, Rendi yang menabrak motormu karena dia sedang mabuk. Aku akan ceritakan, kalau saat itu dia patah hati karena mantan kekasihnya, kau pasti sudah tau kan orangnya? Dia adalah Siska wanita cantik dan seksi. Dia seorang model, Rendi sangat tergila-gila padanya," ucapnya memberitahu.


Apa maksudnya membahas Siska denganku, pakai memujinya, benar-benar tidak penting.


Batin Indah dengan wajah masam.


"Maaf Om. Kalau Om ingin membahas tentang Siska, aku rasa itu tidak penting. Lebih baik aku pulang saja." Ucap Indah berdiri, dan menarik tali tas selempang nya ke atas bahu.


"Ah tunggu dulu. Kau jangan dulu pulang, ada hal lain yang aku ingin bicarakan." Seru Andra menghentikan Indah yang hendak pergi.


Indah mendudukkan bokongnya kembali. "Maaf jika kau tidak suka dengan Siska. Aku hanya kasihan padamu." Kata Andra perlahan menggeserkan lengannya, kearah tangan Indah. Lalu dia memegangnya, "Kau masih muda dan juga cantik, tidak seharusnya kau dikhianati oleh suamimu." Kata Andra berakting iba dan mengelus-elus punggung tangan Indah.

__ADS_1


Benar-benar tidak sopan, eh tapi dia kan paman iparnya juga. Tapi tetap saja kalau Andra yang pegang-pegang rasanya kurang ajar. Mungkin kalau ada Rendi, dia langsung menepisnya dengan emosi.


^^^๐ŸŒพTo Be Continue๐ŸŒพ^^^


__ADS_2