
"Orang terdekat yang mau memisahkan?" Santi mengulang ucapan dari Rio sambil mengerutkan keningnya, karena binggung. "Memang siapa yang mau memisahkan kalian?"
"Suami Mamah."
"Kau ini! Kenapa dari tadi bilang suami suami terus, kenapa tidak bilang Papah saja, sih!" Santi mendengus kesal, sebutan itu terdengar tidak sopan di telinganya.
"Aku tidak mau memanggil dia dengan sebutan Papah, dia bukan Papahku lagi, cukup jadi suami Mamah saja," jawabnya dengan ketus.
Santi menghela nafasnya dengan gusar, ia kembali menggenggam punggung tangan Rio dengan hangat. Santi tau betul, anak keduanya itu seperti memendam rasa kesal yang teramat dalam. Tentu membuat dirinya penasaran.
"Ada apa antara kamu dan Papah? Apa ada masalah lagi? Coba ... cerita 'kan sama Mamah."
Apa aku ceritakan semuanya sama Mamah saja? Iya ... lebih baik aku ceritakan pada Mamah, aku juga tidak tau suatu saat pria tua itu kembali mengerjaiku atau tidak. Mamah harus berpihak padaku.
"Rio!" Santi memekik sambil menggoyangkan tangan Rio. Bukannya bicara, Rio justru melamun.
"Ah iya, maaf Mah. Aku akan ceritakan semuanya." Rio menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya. "Papah ...." Rio mengantung ucapannya, karena kata itu baru saja lolos dari mulutnya. Tapi yasudah, untuk sekarang saja ia memanggil nama itu, karena ingin bercerita dengan Santi.
"Papah kenapa? Kau dari tadi ngomong setengah-setengah terus."
"Iya, ini berawal Papah dulu pernah memberikan nomorku pada Mitha, Mitha Agatha seorang model di kantor Papah, itu awal mulanya," papar Rio.
"Lalu? Coba ceritakan dengan jelas." Santi merasa masih binggung.
"Papah memberikan nomorku pada Mitha, itu saat aku berbulan madu. Mitha mengatakan ingin berteman denganku. Kemudian, sekitar beberapa Minggu yang lalu, Papah memintaku untuk bercerai dengan Wulan dan menjodohkanku dengan Mitha."
Santi membulatkan netranya. "Menjodohkan?"
"Iya, belum sampai disitu saja Mah. Dia sampai mengatai Wulan hamil bukan anakku, jelas-jelas hanya aku yang bercinta dengannya. Papah juga memaksaku untuk bercerai dengan Wulan sampai akhirnya aku balik mengancamnya."
"Kau mengancam Papah? Ancaman seperti apa?" Santi sepertinya memang belum tau apa-apa mengenai ini. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang begitu binggung sekaligus kaget, mendengar cerita dari Rio.
Rio mengambil ponsel pada saku jasnya, ia memperlihatkan foto surat perjanjian antara dirinya dan Mawan. Yang sempat Rio foto waktu itu.
"Ini, baca Mah."
Santi mengambil ponsel Rio dari tangannya, ia membaca gambar surat perjanjian itu.
"Kau bawa-bawa rumah tangga Mamah juga sebagai ancamanmu?"
__ADS_1
Rio mengangguk cepat. "Ya ... maafkan aku, Mah. Aku binggung harus bagaimana mengancam Papah, aku hanya punya ide seperti itu. Tapi, aku kira dengan ancaman itu Papah tidak bisa berkutik dan tidak akan menganggu rumah tanggaku, nyatanya itu salah, Mah. Papah tetap menganggu rumah tanggaku," paparnya dengan kesal.
"Apa yang Papah lakukan sekarang memangnya?"
"Sekarang memang tidak melakukan apa-apa, tapi itu tidak menjamin suatu hari nanti, dia akan melakukan apa lagi. Dan masalah kemarin itu, masalah obat kuat, aku memang yang mengirimnya, karena alasanku adalah Papah yang lebih dulu mengerjaiku, Papah yang mengirim buket bunga untuk Wulan atas namaku dan hampir membuat aku dan Wulan bertengkar," papar Rio lagi.
"Tapi, Mamah kemarin juga tanya sama Papah, Papah bilang, bunga itu bukan kirimannya, Rio." Santi dibuat binggung lagi, siapa yang jujur sebenarnya?
"Itu Papah yang kirim, dia memang pintar sekali berbohong! Kemarin juga dia terus menerus mengelak. Tapi, saat aku membawanya di toko bunga, pelayannya sendiri yang mengatakan Papah yang kirim bunga. Papah sampai menggunakan uang cash untuk membayarnya, supaya tidak ketahuan. Dia itu licik, Mah!"
Deg!
Santi membulat matanya sambil geleng-geleng kepala, merasa tak menyangka dengan ucapan dari Rio.
"Dan kata Ayah, waktu aku berbulan madu dengan Wulan, Papah sempat ke rumahnya, Papah meminta Ayah untuk memisahkan aku dan Wulan." Rio memegangi dadanya. "Aku mati-matian mempertahankan rumah tanggaku, dari gangguan orang lain. Tapi justru Papah yang menjadi orang terdekatku malah begitu, Papah ingin rumah tanggaku hancur lalu aku menjadi duda dan menikah lagi dengan Mitha, anak rekan Papah."
"Apa Mamah tidak kasihan padaku?" manik mata Rio sudah berkaca-kaca, memasang wajah iba untuk meluluhkan hati Santi. "Selama ini aku bersusah payah untuk mencintai wanita lain selain Indah. Dan saat aku berhasil mencintai Wulan, Papah dengan teganya melakukan hal itu, Mah. Aku ... aku benci sama Papah! Dia jahat padaku!"
Santi langsung memeluk tubuh Rio dan mencium rambutnya. Terlintas dalam benak Santi, ia mengingat betapa gilanya Rio dulu, untuk berusaha mengapai cinta yang bukan miliknya. Sampai menculik Indah dan merencanakan sesuatu yang konyol dengan Mawan.
"Iya ... Mamah mengerti perasaanmu, Mamah juga senang kamu sudah berubah dan bisa menerima keadaan. Soal Papah, kamu tenang saja Rio. Mamah yang akan turun tangan, dia tidak akan menganggu rumah tanggamu lagi."
"Tentu saja, masa Mamah tidak membantu anak manja Mamah yang satu ini."
"Ish! Aku serius, Mah!" Rio berdecak kesal, ucapan Santi seperti sedang meledeknya.
Santi terkekeh. "Hahahaha ... iya, iya sayang. Mamah serius kok. Kamu ini sensitif sekali." Santi melepaskan pelukannya dan mengusap dahi Rio yang berkeringat.
"Apa yang mau Mamah lakukan nanti?"
"Kau tidak perlu tau, kau fokus saja dengan Wulan dan anak kalian."
"Tapi Mah, apa kira-kira akan berhasil? Ancamanku saja Papah tidak takut," keluhnya.
Santi tersenyum. "Wah, kau ini meremehkan Mamah namanya. Meskipun Mamah seorang wanita, otak Mamah jauh lebih pintar dari kau dan Reymond. Kau harus ingat itu!" serunya dengan sombong.
Rio tersenyum melihat respon Santi yang terlihat begitu memihak padanya. Segera ia mencium pipi ibunya.
"Terima kasih, Mah. Aku sayang Mamah, Mamah memang yang terbaik. Yasudah, aku mau ke kantor dulu. Aku titip Wulan dan Clara." Rio mencium punggung tangan Santi dan mencium kening Bayu. Lalu berdiri dan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Kau hati-hati dijalan," ucap Santi.
"Iya." Rio melambaikan tangan pada Bayu, anak kecil itu juga melakukan hal yang sama. "Dadah Bayu."
"Dadah Om Lio!"
***
Di kantor Hermawan.
Mawan dan Aji rekan bisnisnya telah selesai melakukan meeting. Mereka berdua berdiri secara bersamaan dan menjabat tangan masing-masing.
"Terima kasih, Pak Mawan. Semuanya selalu memuaskan," ucap Aji dengan bangganya bisa bekerjasama dengan rekan bisnis lamanya itu.
"Sama-sama," sahutnya sambil tersenyum. Mereka melepaskan tangannya masing-masing.
"Oya, selamat juga untuk kelahiran cucu kedua Bapak, laki-laki atau perempuan, Pak?"
"Perempuan."
"Wah ... pasti cantik seperti Indah ya, Pak?"
Mereka mengobrol dengan langkah kaki keluar dari ruang rapat, menuju ruangan Mawan.
"Tentu saja, tidak usah diragukan lagi," jawab Mawan dengan bangganya sambil membuka pintu.
Ceklek~
.
.
.
.
.
Cek cek cek, masih ada yang nunggu buat up nggak ya? Maaf baru bisa up, kemaren Author lagi banyak masalah. Jadi nggak mood buat nulis 😁
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ya 💕