
"Jangan harap juga kau bisa minta tolong dengan Andra, yang Andra pegang sekarang juga kantor milik Rendi. Kalau kau coba-coba melakukan itu, Mamah juga akan memberhentikan Andra dari kantor Rendi!" Santi kembali mengancam Rio.
Matanya beralih pada Mawan. "Papah juga, jangan coba-coba membantu Rio dalam hal apapun! Biarkan dia menjadi pria dewasa dan mandiri. Kalau sampai kalian berdua punya rencana konyol tentang Indah lagi." Santi menunjuk kedua pria didepannya itu.
"Aku ada dibelakangnya, aku yang akan melindungi Indah dari kejahatan kalian. Memaksa seseorang bisa dinamakan sebuah kejahatan! Ingat itu!" serbu Santi.
Glek......
Rio menelan salivanya begitu kasar, bibirnya sudah di kunci rapat oleh Santi. Dia terdiam dan melangkahkan kakinya berjalan keluar rumah sakit, masih mencoba merenungkan apa yang Santi ucapkan.
***
Malam hari perlahan Indah membuka mata dan menoleh kesamping. Tubuhnya merasakan sentuhan pelukan hangat dari lengan kecil diatas perut. Siapa lagi kalau bukan Bayu, anak kecil itu sudah tidur sambil memeluk. Lengan yang terpasang jarum infusan perjalanan mengelus rambut Bayu.
Santi menyadari Indah bangun, dia berdiri dari duduknya diatas sofa. Kakinya melangkah menuju tempat tidur Indah.
Tangannya mengelus rambut Indah begitu lembut dan mencium kening. "Sayang, bagaimana kondisimu? Apa perutmu masih sakit?"
Indah menggelengkan kepalanya, bibir dan mulutnya masih memakai selang oksigen.
"Jam berapa sekarang, Mah?" tanya Indah pelan.
"Jam 7 malam, sayang."
"Mamah dan Bayu ... Kok bisa ada disini?"
"Iya, Mamah diberitahu oleh Papah. Kamu lapar? Ingin makan apa?"
Indah mengangguk. "Aku mau makan bubur ayam, Mah. Tapi tidak mau bubur di rumah sakit," pinta Indah sambil memegangi perut.
"Iya sayang, sebentar. Mamah akan belikan untukmu."
Kaki Santi mulai melangkah, namun terhenti kala Indah memanggil. "Mah."
"Iya, sayang."
Mata Indah berkeliling pada sudut ruangan. "Mas Reymond, apa dia masih ada disini?"
"Ada sayang." Tadi Santi sempat mengirimi pesan pada Reymond, menanyakan perihal keadaan dan posisinya sekarang.
"Aku ingin bertemu dengannya, Mah," pinta Indah.
"Sebentar, Mamah minta izin pada Papah dulu, ya," ucap Santi seraya berjalan keluar ruangan Indah.
Terlihat di luar ada Mawan tengah duduk sendiri di kursi panjang, ada Irwan juga. Ia tengah berdiri tepat disebelah pintu ruangan.
Santi berjalan menghampiri Mawan dan duduk disebelahnya.
"Mamah kok keluar, Indah dan Bayu 'kan lagi tidur?" tanya Mawan dengan ekspresi kaget, melihat istrinya tau-tau sudah duduk disamping.
"Indah sudah bangun, dia bilang ingin bubur ayam, Pah."
__ADS_1
Mawan mengangkat bokongnya, "Yasudah Papah beli ....," Tangan Santi menariknya untuk duduk kembali.
"Sebentar, Pah. Mamah mau ngobrol."
Mawan kembali duduk. "Ada apa, Mah?"
"Indah tadi menanyakan Reymond. Boleh tidak Reymond kesini buat temui Indah, Pah? Dan soal tadi siang itu bagaimana menurut Papah? Papah akan terima saran dari Mamah, tidak?" tanya Santi.
Mawan mengerutkan dahi. "Saran untuk merestui Reymond dan Indah?"
Santi mengangguk. "Nanti Papah pikirkan, Papah akan suruh dia kesini menemani Indah."
Mata Santi langsung berbinar-binar. "Serius?"
Mawan mengangguk dan bangun dari duduknya. "Memangnya Papah punya nomor telepon Reymond?" tanya Santi.
"Tidak, nanti Papah minta sama Rizky."
Mawan berjalan keluar dari rumah sakit, dia mencari cafe terdekat. Sebenarnya ada penjual bubur ayam pinggir jalan, tapi dia tidak mau membelinya. Karena dipikirannya itu tidak higienis, Mawan akhirnya berjalan menyusuri jalan raya tepat disamping rumah sakit ada sebuah Restoran besar.
Telapak tangannya sudah menarik pintu kaca, baru juga masuk. Pandangan sudah berpusat pada seorang pria tampan yang tengah ngopi dengan santai, dia adalah Reymond.
Dia sudah berganti pakaian, mengenakan setelan jas berwarna coklat. Wajahnya terlihat begitu segar seperti habis mandi, rambutnya saja masih basah. Reymond duduk tepat mengarah pada posisi depan pintu.
Mawan berjalan menghampiri seraya duduk di kursi, berhadapan. Mata Reymond mendelik, melihat Ayah tirinya sudah didepan mata.
Papah.
Batin Reymond.
"Pelayan!" serbu Mawan seraya mengangkat salah satu tangannya memanggil pelayan yang sedang lewat.
Pelayan pria itu menghampiri Mawan. "Iya, Bapak mau pesan apa?"
"Saya pesan bubur ayam satu. Take away, ya?"
"Baik, Pak. Campur atau bagaimana?"
"Jangan pakai kacang dan daun bawang."
"Baik, silahkan tunggu sebentar," ucap pelayan itu seraya mencatat pesanan dan berlalu pergi.
Mawan menatap tajam wajah Reymond, dahinya sudah mulai berkeringat. Punggung tangan Reymond segera mengusapnya.
"Kau tidak pulang?" tanya Mawan.
"Tadi aku pulang, aku mandi dan mengganti pakaian. Tapi aku masih cemas dengan keadaan Indah, jadi aku kesini lagi," tutur Reymond.
Sebelum aku merestui hubungan Reymond dan Indah. Sebaiknya aku tanya-tanya dulu padanya, apalagi saat itu dia pernah ketahuan menggoda Siska.
Batin Mawan.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar mencintai Indah?" tanya Mawan.
Reymond mengangguk cepat. "Tentu, Pak. Bapak tidak perlu meragukannya lagi," jawab Reymond dengan pipi yang merona.
"Aku akan merestui hubungan kalian, tapi ada syaratnya."
Deg.....
Syarat apalagi ini?! Semoga jangan berat.
Batin Reymond.
"Apa itu, Pak?"
"Jangan pernah sekali-kali kau menyakiti hati Indah, dalam hal apapun! Turuti semua apa yang dia katakan dan kemauannya! Tanpa mengecualian! Aku tidak mau melihat Indah menanggis gara-gara kau!" jelas Mawan.
Reymond menghela nafas dengan lega, bukankah itu syarat yang paling mudah untuknya?
"Iya, Pak. Tentu saja," sahut Reymond sambil tersenyum.
"Aku tau kamu pria mesum. Tapi jangan pernah kau bersikap mesum pada wanita lain!" desis Mawan.
"Tidak, aku tidak pernah melakukan itu pada wanita lain, Pak. Hanya pada Indah saja," ucap Reymond keceplosan.
Telapak tangan Mawan langsung mengebrak meja.
Braakkkkk......
Bukan hanya pria didepannya saja yang kaget, bahkan semua orang yang tengah makan di Restoran juga.
"Aku tau kau waktu itu pernah menggoda Siska! Untuk kali ini aku masih bisa memaafkan. Tapi kalau sampai aku melihat kau bersikap seperti itu lagi, nyawamu ada di tanganku Reymond!" Tangannya sudah mengepal di atas meja, menunjukkan pada wajah Reymond.
Deg.....
Ternyata benar kata Mamah, Papah sudah tau. Tapi tak mengapa. Lagian urusanku dengan Siska sudah berakhir, dia juga sudah Almarhumah.
Batin Reymond.
"Aku waktu itu tidak menggodanya, Pak. Hanya ada urusan kecil saja."
Tapi aku tidak bisa memegang ucapannya, sekarang bagaimana? Bisa saja dia nanti berselingkuh dibelakang Indah.
Batin Mawan.
"Jadi .... Bapak juga merestui aku dan Indah menikah?" tanya Reymond.
Aih ... lidahku gatal sekali, aku dan Indah 'kan sudah menikah. Tapi kalau menikah lagi dengan nama dan wajah baruku ... Menurutku asik juga, itung-itung malam pertama 2 kali, ah sudah lama juga aku dan dia tidak tempur. Juniorku kasihan sekali, dia butuh kehangatan.
Batin Reymond sambil senyam-senyum.
^^^Kata: 1015^^^
__ADS_1