Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 12. Hanya dia


__ADS_3

"Bayu kita pulang." Aku mengangkat paksa tubuh Bayi dari pangkuan Papah.


Aku langsung keluar dari ruangannya, "Indah.... dengarkan Papah dulu sayang...."


"Indah...." Papah terus memanggil namaku, tapi aku tidak menghiraukan nya.


"Indah...." Panggil Rio. "Lu mau pulang? Biar gue antar." Dia berlari kecil menghampiriku.


"Tidak usah Rio, aku ingin pulang dengan Pak Irwan." Tolakku dengan ketus.


"Tapi Indah gue......" Aku hanya fokus keluar kantor dan tidak menghiraukan Rio dan juga Papah.


Aku langsung masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Bayu di sebelahku.


"Pak kita pulang ke rumah Mamah Sarah ya." Ucapku pada Pak Irwan.


"Baik Non...." Pak Irwan langsung melajukan mobilnya.


Aku menyenderkan punggungku di kursi mobil, "Bunda... Bayu antuk." Mata Bayu terlihat sayup, kasihan anakku, dia mungkin ngantuk ingin tidur siang.


Aku mengangkat tubuhku Bayu di pangkuan ku. "Bobo sayang.... Sebentar lagi kita sampai." Bayu mengangguk, aku mengelus-elus rambutnya. Perlahan matanya mulai terpejam dan tidur.


S


K


I


P


Sampainya di rumah aku mengendong nya, dia masih tidur dengan pulas dalam pelukanku.


"Indah...." Ada yang memanggil namaku, aku menoleh, itu adalah Mamah Santi. Dia baru saja keluar dari mobil.


"Lho Mamah kok kesini?" tanyaku.


Mamah menghampiri ku. "Iya sayang. Mamah di telepon sama Mamah Sarah, katanya suruh ke sini." Tutur Mamah Santi seraya melangkah bareng denganku masuk ke dalam rumah.


Pintu rumah juga tidak di tutup, Mamah sedang duduk santai sambil menonton televisi. "Sayang kamu sudah pulang." Ucap Mamah langsung berdiri. "Wah pas banget bareng Bu Santi." Mamah mencium keningku dan memeluk tubuh besannya.


"Mah... Aku bawa Bayu ke kamar dulu ya." Pamit ku berjalan masuk kedalam kamar.


Aku merebahkan tubuh Bayu secara perlahan di atas kasur dan menaruh dua bantal guling di samping kanan-kiri nya, aku menyelimutinya dan mengecup kening Bayu.


Tiba-tiba ponselku bergetar, di dalam tas yang masih menyangkut di bahuku. Aku mengambil ponsel dan menaruh tas di atas meja rias.


"Halo Indah... Kamu apa kabar?" Tanya wanita di balik telepon, dia adalah Maya. Aku juga tidak pernah ganti nomor, kecuali kalau ponselku hilang.


"Aku baik May. Kamu bagaimana?" Aku mendudukkan bokongku di atas kasur seraya mengelus-ngelus punggung Bayu.


"Aku juga baik, Indah... Kamu ada waktu nggak?"

__ADS_1


"Ada waktu? Maksud kamu bagaimana?"


"Iya... Aku mau minta kamu main ke apartemen ku, bisa nggak Ndah?"


Lho tumben banget, aku dan Maya memang dekat. Tapi tidak pernah main bareng, apa lagi main ke apartemennya, jadi aku merasa aneh sih.


"Maaf May... Lain kali aja gimana? Besok kalau nggak. Hari ini aku lagi nggak mood kemana-mana soalnya," aku mengusap tengkukku, memberikan alasan. Tapi bukan alasan sih, memang benar aku lagi malas.


"Oh ya sudah nggak apa. Aku hanya kangen sama kamu Ndah, aku juga mau kasih tahu kamu kalau aku sudah kerja jadi sekretaris." Terdengar suara Maya sangat senang.


"Selamat ya May, kamu kerja di kantor mana?"


"Gumelang Group." Aku tidak tahu kantor siapa itu.


"Oh ya sudah May. Aku mau mandi dulu ya..."


"Iya Ndah, Oya salam buat Bayu. Aku mau krim paket Baju untuknya, nanti di terima ya."


"Tidak us...."


"Nggak apa-apa Ndah, itung-itung berbagi kebahagiaan. Karena aku di terima kerja."


"Oh.... Iya-iya." Aku tersenyum kecil. "Ya sudah terima kasih, aku akan menerima dengan senang hati May." Kemudian aku menutup telepon, meletakkan di atas meja. Dan masuk kamar mandi.


****


Selesai mandi dan memakai dress Indah berjalan ke ruang tamu, Bayu masih terlelap dari tidurnya.


Indah duduk di sebelah mertuanya, Santi mencium kening menantunya itu. "Kamu sudah mandi? Cantik dan wangi sekali menantu Mamah." Pujinya.


"Ini dari Rio Mah...."


"Oh iya, ngomong-ngomong tentang Rio. Mamah ingin bicara dengan mu." Ucap Sarah tiba-tiba. "Bagaimana kalau kamu dan Rio menikah saja Ndah? Mamah lihat kamu dan Rio juga dekat."


Deg......


Tadi Papah sekarang Mamah. Apa-apaan sih mereka.


Indah menggerutu dalam hatinya.


"Lho Bu... Kenapa tiba-tiba Ibu bilang seperti itu?" Santi terlihat sangat kaget dengan ucapan besannya, dia sendiri tidak tahu apa-apa.


"Iya Bu.... Apa tidak sebaiknya, kita nikahkan Indah dengan Rio saja. Rio kan adiknya Rendi, dia juga kan....."


"CUKUP MAH!!!" Pekik Indah seraya berdiri. "Aku tidak mau menikah! Apa lagi dengan Rio!" Air mata Indah menetes. "Aku hanya ingin bersama Mas Rendi, hanya dia... Hanya dia di hatiku." Indah langsung berlari menuju kamar dan menutup pintu lalu menguncinya.


Dia benar-benar sangat emosi.


"Bu Sarah... Kenapa Ibu bilang seperti itu, kasihan Indah..." Ucap Santi yang masih duduk di sebelahnya, dia tidak tega melihat sikap Indah tadi.


"Saya hanya ingin Indah memulai hidup baru Bu, saya tidak mau dia terus menerus menunggu Rendi." Sahutnya Sarah dengan sendu.

__ADS_1


Santi memegang tangan Sarah dengan hangat, "Saya juga ingin Indah bahagia Bu, tapi itu tidak perlu di paksa. Biarkan Indah menjalani hidup semaunya, dia wanita yang baik, dia juga sudah dewasa sekarang." Sarah mengangguk.


🌼🌼🌼🌼


Tepat tengah malam, di rumah Antoni. Ketika semuanya sudah tertidur lelap, begitupun dengan Indah dan Bayu. Mereka berdua tidur saling memeluk satu sama lain.


Datanglah dua pria yang langsung membius satpam rumah, dan menyelinap masuk lewat gerbang depan. Mereka memakai baju serba hitam, memakai topi dan juga masker berwarna hitam juga.


Salah satu dari mereka mencongkel jendela kamar Indah, rumah Antoni sendiri hanya berlantai satu. Jadi mempermudah bagi mereka.


Pria itu mencongkel dengan menggunakan ujung besi yang sudah di pipihkan, sehingga bisa muat di sela-sela jendela. Ketika sudah berhasil terbuka salah satu temannya mematikan sakelar aliran listrik, hingga membuat listrik di rumah Antoni padam dan gelap gulita. Kedua pria itu langsung menyelinap masuk.


Bayu mulai terisak karena merasa kegerahan, keringat di tubuhnya juga keluar. Dia tidak pernah bisa tidur tanpa AC. Perlahan dia membuka matanya. Namun semua pandangannya gelap.


Bola mata kecilnya itu menyusuri tiap ruangan, Bayu pun duduk.


"Bunda...." Dia menggoyangkan lengan Indah, dia masih tertidur lelap. "Gelap Bunda...."


Mereka berjalan mengendap-ngendap layaknya maling, kedua pria itu menyalakan lampu pada ponselnya dan berjalan menghampiri kasur yang sudah ada Indah dan juga Bayu.


Perlahan Indah membuka matanya, dia merasa silau akibat sorotan senter yang mengarah pada wajahnya, dia sedikit menutup wajah dengan telapak tangan. Tapi dia memperhatikan siapa kedua orang itu?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^


__ADS_2