
Didalam keheningan, tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel milik Rio. Pria itu langsung mengambil ponselnya pada saku jas dan melihat tuliskan nama 'MAMAH' pada layar.
Rio membuang nafasnya dengan gusar dan mengangkat telepon. "Halo, Mah."
"Halo Rio, Mamah mau kirim paket ke rumah Pak Wahyu."
"Paket apa?"
"Paket madu."
"Madu? Madu apa?"
"Madu subur untuk kalian berdua, ada tespeck juga. Nanti kalian meminumnya dan jangan lupa untuk mencoba mengecek, siapa tau Wulan hamil."
Deg!
Jantung Rio langsung berdegup sangat kencang, ia tertegun dengan kata 'HAMIL' yang Santi ucapkan dari sambungan telepon.
Rio menoleh kearah Wulan yang sedang cemberut dengan wajah memerah, wanita itu seperti merajuk gara-gara tidak diizinkan makan kebab di tempat yang biasa ia beli.
"Rio! Kenapa kau diam saja?" tanya Santi yang masih terhubung lewat panggilan telepon.
"Iya, Mah. Terima kasih. Oya ... Rio mau tanya sesuatu."
"Apa itu?"
"Bagaimana ciri-ciri wanita hamil?"
"Ciri-ciri? Ya mungkin seperti mual-mual, pusing dan ngidam."
"Ngidam? Seperti apa itu ngidam?"
"Ya macem-macem, kayak menginginkan sesuatu. Mau ini, mau itu. Ya begitulah, Rio."
Apa jangan-jangan Wulan hamil?
"Yasudah, terima kasih Mah. Aku tutup teleponnya."
"Iya, sama-sama."
Rio mengantongi kembali ponselnya dan mendekati istrinya yang sedang ngambek, wanita itu masih memalingkan wajahnya pada jendela.
"Indra, kita kembali ke tukang kebab yang tadi, kita borong semuanya," ungkap Rio.
"Baik, Pak."
Indra seperti mendapatkan ujian kesabaran dari Rio, ia memutar balik kemudinya menuju penjual kebab.
Wulan membulatkan kedua matanya dan menoleh pada Rio dengan mengembungkan senyuman. "Serius? Mas Rio mau membelikan kebab yang disana?"
__ADS_1
"Iya, aku borong semua untukmu. Tapi ada dua syarat." Rio memamerkan dua jari jemarinya kedepan wajah Wulan.
"Apa itu?"
"Pertama kau harus ikut aku ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Mau apa?"
"Periksa kandungan, siapa tau kau hamil," saran Rio seraya mengelus perut Wulan.
"Tapi aku 'kan tidak hamil, Mas."
"Tidak? Kata siapa tidak? Bisa saja kau hamil. Sudah-sudah, pokoknya kau harus menurut kalau mau kebab!"
"Eemm ... kalau misalkan aku tidak hamil bagaimana? Nanti Mas Rio akan kecewa," lirihnya dengan tatapan sendu.
"Kenapa harus kecewa? Kan di coba dulu."
"Lalu syarat yang kedua apa?"
"Nanti, syarat pertama dulu saja."
"Oke, deh. Tapi beli kebabnya dua saja, Mas."
"Iya, manis. Belinya dua." Rio mengecupi kedua pipi istrinya.
Setelah membeli dua porsi kebab dan menyantapnya penuh dengan kenikmatan. Rio membawa Wulan ke rumah sakit. Ia mendaftarkan dulu namanya pada dokter kandungan. Dokter yang dulu menangani Wulan saat keguguran.
"Siang, Dok. Saya ingin mengantar istri saya periksa kandungan," papar Rio seraya duduk di kursi depan dokter itu, bersebelahan dengan Wulan.
"Wah ... cepat juga ya, Pak Rio. Semoga saja Mbak Wulan hamil."
"Amin, Dok."
Dokter itu mengangkat bokongnya. "Silahkan, Mbak Wulan berbaring diatas tempat tidur."
"Iya, Dok," jawab Wulan seraya berdiri.
Lantas Rio ikut berdiri dan mengangkat tubuh Wulan untuk membaringkan disana, ia seperti sudah tidak sabar, ingin melihat hasilnya.
Mas Rio kenapa pakai angkat-angkat segala, sih? Aku 'kan jadi malu.
"Kita lakukan USG saja ya, Pak. Kalau tespeck sudah siang soalnya."
"Iya, apa saja, Dok. Yang penting istri saya beneran hamil," jawab Rio sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia tersenyum begitu lebar.
Kalau Rio terlihat sangat senang, Wulan justru seperti galau dan cemas. Ia takut, takut kalau sampai dirinya tidak hamil dan membuat Rio kecewa. Karena terlihat sekali pria itu benar-benar bahagia.
Perlahan Dokter itu menarik dress yang Wulan kenakan sampai diatas dada, mengolesi cairan pada perut Wulan dan menempelkan alat yang akan tersambung pada layar monitor.
__ADS_1
Rio menatap lekat gambar rahim Wulan didalam sana, Wulan sama sekali tidak berani melihatnya. Ia memejamkan mata.
Ternyata usaha Rio tidak sia-sia, ia melihat mahluk kecil didalam sana. Masih berupa gumpalan darah dan sebesar biji kacang hijau. Tapi setelah Dokter zoom lebih dekat, gumpalan itu terlihat seperti ada dua. Tapi masih samar-samar karena terlalu kecil.
"Bagaimana Dok? Apa istri saya hamil?" tanya Rio yang tidak mengerti apa-apa, tapi ekspresi wajahnya masih senang.
"Alhamdulilah, selamat Pak. Bapak sebentar lagi jadi seorang Ayah," ucap Dokter itu seraya mengulurkan tangannya pada Rio.
Rio membulatkan kedua matanya dan langsung membalas uluran tangannya. "Alhamdulilah, terima kasih, Dokter."
Wulan mencelikkan netranya dan menoleh pada layar monitor. Ia juga sedang melihat Rio yang tengah sujud syukur di lantai. Pria itu sungguh-sungguh bahagia, ia seperti mendapatkan harta karun yang berlimpah.
"Terima kasih, ya Allah. Terima kasih telah mengizinkan aku dan Wulan menjadi orang tua," ucapnya penuh syukur.
Melihat pemandangan seperti itu, Wulan lantas meneteskan air mata karena terharu.
"Mas ...," lirihnya
Rio berdiri dan memeluk tubuh Wulan yang masih berbaring. "Alhamdulilah, Wulan. Kau hamil, kau hamil anakku. Kita akan jadi orang tua."
"Iya, Mas. Alhamdulilah."
Rio menciumi rambut istrinya, ia melepaskan pelukan dan mengecupi seluruh wajah istrinya bertubi-tubi. Hingga bibir Rio putih karena bedak Wulan yang luntur.
"Mas ... sudah, Mas." Wulan mendorong pelan tubuh Rio yang sudah hampir setengah badan naik keatas tempat tidur. Pria itu seperti tidak ada rasa malu, mengecupi istrinya tidak ada henti.
"Ada apa? Aku ini bahagia Wulan. Masa tidak boleh?" Rio langsung mengecup leher Wulan dan melu mmatnya. Ini sih bukan hanya senang, melainkan nasf*. Ia tidak sadar kalau Dokter sampai melotot melihat tingkah mesum Rio diatas tempat tidur pasiennya.
"Ah ... Mas hentikan! Ini di rumah sakit dan ada Dokter!" Wulan lagi-lagi mencoba untuk mendorong tubuh suaminya, tapi Rio malah berbuat nekat untuk naik keatas tempat tidur dan mengapit tubuh Wulan diatasnya. Ia makin menjadi-jadi dengan tangan yang meremas salah satu gundukan kembar istrinya.
"Mas Rio, astaga!" pekik Wulan seraya memberontak.
"Ehem!" Dokter itu berdehem, supaya Rio menghentikan aksinya yang akan memperk*s* istrinya.
Rio tersentak kaget dan tersadar atas rasa hilafnya, lantas ia turun dari tempat tidur. Sementara Wulan langsung membereskan pakaiannya akibat ulah suaminya. Tanda merah pada lehernya sudah ada dua, Rio benar-benar membuatnya malu sekarang.
"Maaf, Dok. Maafkan saya. Saya terlalu bahagia," ucap Rio seraya menurunkan pandangan. Ia tidak berani menatap mata Dokter wanita itu.
Dokter itu menghela nafas dengan gusar. Sebenarnya ia memang kesal, tapi ia mencoba untuk memakluminya.
"Iya, tidak apa-apa Pak."
"Berapa usia kandungan saya, Dok?" tanya Wulan.
"Empat Minggu, Mbak. Nanti setelah delapan atau dua belas Minggu ... Mbak dan suami datang lagi kesini untuk mengecek kandungannya lagi. Kemungkinan kalian akan dapat kejutan," papar Dokter.
"Kejutan apa, Dok?" tanya Rio.
"Nanti saja saya beritahu, soalnya masih samar-samar." Dokter itu melihat kearah Wulan yang baru saja mengangkat tubuhnya untuk duduk. "Oya ... apa Mbak Wulan mengalami mual dan muntah-muntah?"
__ADS_1
^^^Kata: 1080^^^