
Beberapa mobil polisi sudah berdatangan ke rumah Antoni, mereka juga mencari bukti atas hilangnya Indah dan Bayu. Pak Udin sang satpam rumah juga sudah sadar dan bisa di mintai keterangan.
Sementara itu, Antoni dan Vinno tengah duduk di kursi panjang di depan UGD. Menunggu Sarah yang terkena serangan jantung dadakan.
Mawan datang ke rumah sakit di temani oleh Santi, mereka berlari dari lobby menuju ruangan UGD. Perasaan Mawan begitu tak tenang bercampur emosi setelah mendengar kabar kalau anak dan cucunya di culik seseorang.
Dia datang dan langsung mencengkeram kuat kerah kemeja Antoni yang awalnya dia duduk menjadi terangkat berdiri.
"ANTONI.... KAU BENAR-BENAR AYAH TAK BERGUNA!! BISA-BISANYA ANAK DAN CUCUKU DI CULIK, TAPI KAU TAK MENYADARINYA!!" Umpatnya dengan emosi.
"Saya tidak tahu Pak, tahu-tahu jendela kamar Indah sudah di congkel seseorang." Jawabnya dengan bibir yang bergetar, mata Mawan benar-benar terlihat menakutkan.
Salah satu tangan Mawan sudah mengepal dan....
Buggghhh......... Dia menonjok wajah ayah sambung dari anaknya itu sampai terhentak di lantai. Vinno dengan cepat membantunya untuk berdiri.
"Papah.... Tahan emosi Papah, ingat darah tinggi." Ucap Santi seraya mengusap-usap dada suaminya, nafasnya sudah mulai terengah-engah.
"Apa rumahmu tidak ada satpam hah? Kenapa itu bisa terjadi. Aku menyesal mengizinkan Indah tinggal di rumah mu, ANTONI... KAU TIDAK PANTAS MENJADI AYAH DARI ANAKKU!!!" Pekik Mawan sambil menunjuk wajah Antoni.
"Pak Mawan, tapi Papah tidak salah dalam hal ini. Berhenti menyalahkan, kita juga tidak tahu akan jadi seperti ini." Timpal Vinno membela ayahnya, pipi Antoni sudah terlihat lebam hanya sekali pukulan.
Plaakkkkkk........ Mawan melayangkan tamparan mautnya kepada Vinno, bukannya emosi mereda dia malah tambah memuncak.
"KAU JUGA SAMA TIDAK BERGUNA NYA VINNO. Kau kakak tiri Indah bukan? Harusnya kau juga bisa menjaganya, apa yang kau bilang menyayangi Bayu? KAU TIDAK MENYAYANGI NYA!!" Pekiknya lagi.
Para perawat menghampiri kegaduhan yang mereka perbuat, sungguh ini di rumah sakit. Tapi suara Mawan begitu menggelegar dan membuat para pasien terbangun dari tidurnya, apa lagi ini tepat tengah malam.
"Bapak-bapak, jangan berantem di sini. Ini rumah sakit!" Ucap salah satu Suster dengan kesal.
"Maaf ya Sus...." Sahut Santi.
Tak lama Dokter keluar dari UGD dan menghampiri mereka yang tengah berdiri saling menjaga jarak.
"Di sini ada yang bernama Indah?" Tanya sang Dokter memperhatikan wajah diantara mereka.
"Dia anaknya Dok, tapi saat ini Indah tidak ada di sini." Sahut Vinno dengan cepat.
"Beritahu dia untuk cepat ke sini, kondisi Ibu Sarah sekarang sangat kritis." Ucap Dokter seraya masuk lagi ke dalam ruangan UGD.
Mata mereka terbelalak secara bersamaan.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sarah dan Indah tidak berhasil ketemu. KALIAN BERDUA AKAN KU BUNUH!!" Ancam Mawan seraya pergi meninggalkan anak dan ayah itu, dia hanya bisa menyalahkan, karena menganggap mereka berdua lalai.
__ADS_1
Mawan menghentikan langkah kakinya sejenak menoleh kearah Santi yang mengikutinya dari belakang.
"Mamah di sini saja dulu, tungguin Sarah. Biar Papah yang cari Indah dan Bayu." Ucap Mawan dengan nada merendah.
"Iya Pah." Santi mengangguk. "Papah hati-hati. Kalau penculiknya tertangkap, langsung jebloskan ke penjara saja." Tutur Santi.
"PAPAH AKAN BUNUH DIA SEKALIAN MAH!!"
...🍁POV Indah🍁...
Mataku masih menatap tajam wajah pria itu yang hanya diam mematung dan melihat ku.
"Sayang.... Aku mohon percaya padaku, kasih aku kesempatan untuk ceritakan semuanya, aku tidak bisa hidup terus begini. Aku rindu padamu dan Bayu anak kita." Lirihnya pelan.
"Kamu bilang apa? Anak kita? Berhenti mengaku-ngaku! Dia anak aku dan Mas Rendi." Elak ku.
"Iya itu aku sayang, aku Mas Rendi...."
Kenapa dia terus saja menganggap dirinya suamiku, apa yang sebenarnya dia inginkan dariku? Apa pria ini gila? Apa mungkin dia dulu mempunyai anak dan istri lalu dia di tinggalkan? Tapi kenapa wajahnya jadi memerah begitu. Aku benar-benar heran padanya.
"Sayang, apa sedikitpun kau tidak sadar aku suamimu? Lalu apa yang harus aku lakukan? Hal apa yang harus aku buat supaya kamu percaya padaku. Katakan?" Tanya nya dengan sendu.
Hal apa? Apa aku harus mengajukan pertanyaan padanya? Tapi pertanyaannya apa yang hanya aku dan Mas Rendi tahu? Aku diam dan memikirkan nya matang-matang.
"Sayang...."
Apa aku tanya masalah tugas negara padanya? Ah benar! Hanya Mas Rendi yang tahu.
"Aku dan Mas Rendi sering melakukan tugas negara, apa kau tau tugas negara kita apa?" tanya ku, ah konyol sekali pertanyaan ku ini. Rasanya memalukan.
"Sering apanya sayang. Kita melakukannya bisa aku hitung. Hanya tiga kali." Sahutnya dengan jari yang terangkat.
Deg.....
Kenapa dia bisa tahu? Apa dia mengikuti aku dan Mas Rendi selama ini? Tapi itu tidak mungkin. Aku menggelengkan kepalaku.
"Pertama kita melakukannya di rumah sakit kan, sayang? Saat kau masih perawan."
Deg.... Apa-apaan dia ini.
Dia tersenyum padaku sambil mengedipkan salah satu matanya, masih sempat-sempatnya dia menggoda, genit sekali matanya. Ingin rasanya ku colok.
"Kedua di kontrakan, aku menyewa untuk semalam. Kita bahkan melakukan nya beberapa ronde. Kau sampai merasa capek gara-gara aku terlalu perkasa, benarkan?" Dia lagi-lagi tersenyum dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Dan ketiga kali pas kamu ngidam roti bakar. Kau ingat? Malam-malam kepengenan roti bakar lalu kita beli di kedai, dan kita tempur di toilet. Kau tidak mungkin melupakan itu kan sayang? Kau yang main di atas, aku tidak menyangka kau bisa. Walau masih sedikit kaku." Ucapnya.
Deg.....
Dia tahu semuanya? Apa ini hanya kebetulan saja kah?
"Aku masih ingat waktu kamu ngidam pengen soto ayam di restoran dekat rumah sakit, dan kamu mau makan di ranjang pasien. Benarkan? Kamu saat itu manis sekali sayang." Tuturnya lagi.
Mata ku membulat sempurna, dia benar-benar Mas Rendi. Semuanya benar sekali. Suaranya juga suara Mas Rendi, ciumannya tadi, aroma tubuhnya, pelukannya, hanya Mas Rendi yang bisa melakukan itu. Tapi kenapa dia sampai merubah wajahnya? Apa dia sengaja menjadi orang lain demi meninggalkanku? Kenapa sakit sekali rasanya, hatiku terasa nyut-nyutan.
"Tapi apakah kamu ingat dulu, kamu pernah berjanji untuk selalu di sisiku Mas? Selama aku hamil sampai melahirkan, bahkan kamu meninggalkan ku, kamu tega sekali...." Tiba-tiba air mataku terjatuh, kenapa rasanya sedih sekali.
"Tiga tahun lamanya aku menunggu mu, tapi kamu pergi dan merubah wajahmu!! Untuk apa hah? Supaya kau bisa terlepas dariku dan menjalani hidup baru mu begitu kan?" tanyaku sambil menanggis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^