Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 111. Antara Rio dan Om Andra


__ADS_3

Indah dan Reymond sudah duduk dibelakang. Indah malam ini terlihat begitu manja, sedari tadi bergelayut terus pada lengan Reymond, membuat dibawah sana menjadi tegak berdiri. Namun sayang momennya tidak tepat.


"Kita langsung ke lokasi, Pak?" tanya Ali seraya menyetir.


"Kita ke rumah Rizky saja," sahut Reymond.


"Kok ke rumah Pak Rizky? Bukannya kamu bilang mau menginterogasi Pak Anton ya, Mas?" tanya Indah menoleh pada Reymond.


"Iya, aku menginterogasinya disana saja, sayang."


Reymond segera mengambil ponselnya pada saku jas untuk menelepon Hersa.


"Selamat malam, Pak Reymond."


"Malam, kau ada dimana?"


"Tempat penyekapan, saya sudah bersama Pak Harun juga," jawab Hersa.


"Kau bawa Anton ke rumah Rizky, masukkan dia kedalam gudangnya. Aku ingin menginterogasinya disana."


"Baik, Pak."


"Pelataran semuanya jangan lupa kau bawa."


"Iya, Pak."


Setelah sambungan telepon itu terputus. Tak lama mereka telah sampai di rumah Rizky, Reymond sendiri bahkan belum meminta izin padanya.


Aldi segera membukakan pintu mobil untuk Reymond keluar, terlihat Indah sudah tertidur sambil memeluk Reymond. Ia segera mengangkat tubuh Indah, berjalan sampai pintu utama rumah Rizky.


Aldi segera memencet bel.


Ting ... Tong.


Ting ... Tong.


Ting ... Tong.


Ceklek.....


Bibi pembantu membukakan pintu rumah sambil mengucek kedua matanya.


"Pak Reymond. Ah ... Silahkan masuk, Pak." Bibi itu melebarkan pintu untuk Reymond masuk kedalam.


"Rizky ada di rumah?"


"Dia sedang keluar, Pak."


"Dari kapan?"


"Sudah lama, Pak. Kira-kira dari habis Magrib."


Reymond mengangguk. "Bibi ... Nanti tolong bukakan kunci gudang di samping garasi mobil. Tunggu Hersa dan yang lain datang."


"Baik, Pak."


Reymond segera menaiki anak tangga, ia masuk kedalam kamarnya untuk merebahkan tubuh Indah secara perlahan diatas kasur, tidak lupa mencium kening. Tangannya menarik selimut sampai diatas dada.


Dia mendudukkan bokongnya diatas kasur dan sekarang menelepon Rizky.


Setelah empat kali menelepon akhirnya diangkat.


"Halo, Riz." Terdengar suara lantunan musik disco, sepertinya Rizky sedang ada di bar.


"Ya, Rey! Apa?!" Dia berteriak.


"Gue pinjem gudang lu buat penyekapan Anton, gue juga numpang menginap di rumah lu, ya?"

__ADS_1


"Oke." Satu jawaban itu menutup sambungan telepon.


Reymond melepaskan jas miliknya, ia taruh diatas kasur.


"Sayang, kamu tidur yang nyenyak. Aku keluar sebentar," ucap Reymond kembali mencium kening istrinya, kakinya melangkah untuk keluar kamar.


***


Reymond masuk kedalam gudang rumah Rizky, ruangan itu cukup luas. Hampir seukuran kamar Rizky, ia menyimpan barang-barang yang tidak terpakai disana.


Sudah ada Anton tengah duduk di kursi dengan keadaan diikat menggunakan tali, bibirnya tertempel lakban hitam. Ia mengunakan kemeja putih begitu lusuh, wajahnya terlihat begitu lelah dengan mata yang terpejam.


Selain Anton. Sudah ada Harun, Hersa dan yang lain. Orang-orang yang sama. Mereka telah mempersiapkan semuanya, namun kali ini ada sebuah alat pecut yang Reymond tambahkan untuk menyiksa Anton, takut dia tidak berkata jujur.


Hal yang pertama Reymond lakukan adalah menyalakan perekam suara dan mengunakan sarung tangan.


"Sejak kapan dia pingsan?" tanya Reymond menatap penuh kebencian pada Anton yang berada didepannya.


"Dari tadi, Pak," sahut Reymond.


Reymond menatap wajah Ali disebelah Anton.


"Lepaskan kemejanya!"


"Baik, Pak."


Ali melepaskan dulu tali yang menempel pada badan Anton, setelah itu ia melepaskan kemeja. Kini Anton telanjang dada, tapi kedua tangan dan kakinya diikat kuat.


Tangan Reymond sudah mengepal, dengan cepat dia menonjok kedua pipi itu.


Bug....


Bug......


Anton membuka matanya dengan paksa dan terbelalak kaget.


Deg.....


Batin Anton.


Reymond melipat kedua tangannya diatas dada.


"Kita bertemu lagi disini, apa kabarmu? Apa kau sehat? Bagaimana istri dan anakmu? Apa mereka baik-baik saja?"


Keringat Anton langsung bercucuran, jantungnya kini berdegup sangat kencang.


Apa dia akan membunuhku?


Batin Anton.


"Buka lakbannya!" perintah Reymond.


Ali langsung menarik paksa lakban itu dari ujung pipinya.


"Ah!" seluruh kumis tipisnya seakan terangkat semua.


"Aku tidak akan basa-basi denganmu. Sekarang lebih baik kau berkata jujur sekarang, aku tau kau ikut serta mencelakaiku setelah Siska. Tapi aku juga tau ... Ada orang lain lagi yang menyuruhmu. Katakan padaku siapa orangnya!" pekik Reymond dengan lantang.


Anton menelan saliva nya begitu kasar, ia bahkan tidak berani menatap wajah Reymond. Reymond sudah berkalut dengan emosi di dada, ia juga merasa lelah dan ingin segera tau yang sebenarnya.


"Ali, cambuk dia! Kau siksa sampai dia buka mulut!"


Reymond mengundurkan langkah kakinya dan duduk di kursi, mengarah ke depan Anton sambil menyilang kaki. Namun jarak mereka lumayan jauh, dia tidak ingin kena cambukan dari Ali.


Pria kekar itu mengambil alat pecut diatas meja, dengan cepat ia berayun dan menghentakkan-nya pada badan Anton. Tepatnya pada bagian dada dan perut.


Ceterrrr........

__ADS_1


"Auw!!" satu cambukan saja mampu membuat perih dan panas.


Ceterrrrr.........


Ceterrrrr........


Ceterrrrr........


"Auw!" pekik Anton.


Seluruh punggung, dada dan perut berhasil tergores luka dan sayatan. Anton hanya bisa meringis dan menahan rasa sakit.


Ceterrrr......


"Auw!"


Reymond yang didepannya tersenyum menyeringai, melihat wajah Anton yang sudah tertekan.


Apa aku bicara saja?! Aku tidak tahan dengan semua ini. Sakit dan terasa perih.


Batin Anton.


Ceterrrr.........


"Pak Rendi! Hentikan Pak!" teriak Anton dengan lantang, nafasnya sudah tersengal-sengal.


Ali hendak mencambuknya lagi, namun Reymond berkata. "Hentikan!"


Pria kekar itu berhenti sejenak dan menghela nafas.


"Kenapa berhenti?! Apa kau merasa sakit?! Itu belum seberapa atas penderitaanku bodoh!"


"Pak Rendi ... Maafkan sa-saya, saya hanya menjalankan tugas."


Reymond mengangguk. "Aku tau, tugas kriminal! Sekarang katakan. Siapa yang menyuruhmu!"


Anton menelan salivanya begitu kasar. "Apa jika saya jujur, saya akan di bebaskan? Pak Rendi ... Ampuni saya, jangan siksa dan bunuh saya, Pak," lirih Anton dengan wajah memelas.


"Tergantung! Kalau kau bohong, aku akan membunuhmu! Kalau kau jujur. Aku akan menyiksamu!"


Lebih baik aku jujur saja, setidaknya aku tidak akan mati. Tapi, kira-kira siksaan apa lagi? Cambukan ini saja sudah menyakitiku.


Batin Anton.


"Kau sudah pernah berbohong padaku Anton! Siapa yang menyuruhmu! Aku tau orang itu antara Rio dan Om Andra. Siapa salah satu dari mereka!" teriak Reymond.


"Dia ....," Anton menjeda ucapannya.


"Jangan coba-coba bermain denganku! Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga!"


Reymond menoleh pada Hersa di sampingnya. "Ambilkan pistol!"


Hersa mengangguk. Ia segera mengambilkan pistol diatas meja.


Kini pistol itu sudah ada dalam genggaman tangan Reymond, ia memposisikan bidikan kearah dada tengah Anton.


"Kalau kau tidak ingin bicara, aku akan menembakmu!" ancam Reymond.


Pria didepannya sudah merasa ketakutan, tubuhnya sudah terasa panas dingin.


"Baik, Pak. Saya akan jujur sejujur-jujurnya."


"Bicaralah!" pekik Reymond dengan pistol yang masih mengarahkan pada sasaran di depannya.


"Dia ... Dia ... Pak Andra!"


Deg......

__ADS_1


^^^Kata: 1022^^^


__ADS_2