
"Bapak wali dari pasien di dalam?" tanya Dokter ke arah Andra.
"Iya Dok, bagaimana keadaannya? Apa aku boleh masuk?" Dokter mengangguk dan mempersilakan Andra masuk, tapi justru Indah juga mengikutinya.
Melihat Indah ikutan masuk ke dalam, langkah kaki Andra terhenti sejenak dan berbalik badan menatap Indah. "Mau apa lagi kamu? Sudah sana urus ibumu saja," ucapnya mengusir.
"Aku juga mau lihat keadaan Mbak Irene Om."
Andra menghela nafas gusar, "Sudah sana kau pergi dari sini. Aku tidak mau terkena apes! Apa kau ingat kalau bukan gara-gara kau, Rendi tidak akan meninggalkanku," ucap Andra marah-marah dan menunjuk wajah Indah.
Indah juga menjadi sangat emosi, kenapa jadi dia yang di salahkan?
"Apa maksud Om? Mas Rendi kecelakaan itu karena Om!" pekik Indah berbalik menyalahkan.
"Kok kamu jadi balik nuduh aku?" Mata Andra sudah mulai melotot. "Kamu pembawa sial Indah! Kau hanya memanfaatkan Rendi! Kalau sejak dulu kau tidak bersamanya, Rendi akan selalu di sisiku dan menurut padaku. Kau penyebab Rendi menjadi anak yang durhaka!"
"Apa? Aku pembawa sial? Jaga ucapan Om, aku masih menghargai Om sebagai Omnya Mas Rendi. Asal Om tahu saja, dulu Mas Rendi hampir tidak bisa tidur dan memikirkan keadaan Om yang waktu itu masuk ke rumah sakit! Kalau dulu dia tidak berniat menjenguk Om di rumah sakit. Dia juga sekarang ada di sisiku!" Indah seakan tak terima di sudutkan.
"Aku masuk ke rumah sakit juga gara-gara ayahmu! Dia mencekikku Indah! Kau tidak tahu aku hampir saja mati karena ulah ayahmu. Kau benar-benar wanita tidak tahu ..."
Plakk.....
Seseorang datang dengan tiba-tiba langsung menampar Andra, Indah terbelalak dan menoleh ke arah samping dia adalah Santi.
"Berani sekali kau bilang seperti itu pada Indah, kau kurang ajar! Kau lupa dengan siapa berbicara Andra!" Pekik Santi tak terima.
Santi langsung memeluk tubuh Indah dan melihat wajahnya yang sudah memerah itu. "Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Santi.
Andra tidak menghiraukan mereka, dia langsung masuk ke dalam ruang UGD dan menutup pintu. Di lihatnya Irene yang masih berbaring dan tidak sadarkan diri.
Andra menghampiri Dokter dan bertanya, "Kenapa dengan Irene Dok?" tanya Andra.
"Dia tidak apa-apa Pak, dia hanya mengalami kelelahan efek hamil muda," sahut Dokter.
Mata Andra terbelalak tak menyangka. "Apa? Irene hamil Dok?"
__ADS_1
"Iya betul Pak, kandungan sudah masuk satu bulan."
Aku akan jadi seorang ayah lagi? Aku harus cepat-cepat menikah dengannya.
Batin Andra.
***
"Kenapa kamu di sini? Katanya mau ngobrol dengan Nella?" Santi menarik tangan Indah menuju kamar Sarah, sudah ada Rio juga di dalam sedang bermain mobil-mobilan bersama Bayu.
"Tadi aku tidak sengaja bertemu Om Andra, aku hanya penasaran Mah, dia membawa seorang wanita di UGD."
Mereka berdua kembali duduk di sofa di sebelah sofa yang sudah ada Rio dan Bayu.
"Lain kali jangan, Mamah benci sekali pada Andra. Kamu jangan sekali-kali bertemu dengannya ya?"
"Iya Mah maafkan aku."
"Memang tadi Om Andra mengatakan apa padamu Indah? Dia menyakitimu?" tanya Rio.
"Andra memang sudah gila! Mamah tak habis pikir padanya," sahut Santi kesal.
Apa jangan-jangan Om Andra yang mencelakakan Mas Rendi dulu? Tapi masa iya sih, dia kan begitu menyayangi Mas Rendi.
Batin Indah merasa curiga.
***
Pagi-pagi setelah sarapan Indah sudah standby di cafe dekat rumah sakit. Dia sudah ada janji bertemu dengan Harun, karena kemaren sempat tidak jadi.
Indah sudah memesan minuman, namun dia tidak sendiri. Ada Irwan yang sejak tadi berdiri di samping, sebenarnya Indah begitu sangat risih karena tiap dia keluar atau pergi kemanapun. Irwan selalu membuntutinya, dia juga selalu melaporkan apa-apa kepada Hermawan.
Tak lama Harun datang menghampiri Indah, "Selamat pagi Nona, maaf saya terlambat," ucap Harun sambil tersenyum.
"Tidak masalah Pak, duduklah."
__ADS_1
Indah mempersilahkan Harun untuk duduk di depannya, dia juga menyodorkan buku menu untuk Harun memesan.
"Nona Indah, sebelumnya bagaimana kabar Nona? Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
"Saya baik, Pak. Langsung saja, Bapak ada perlu apa?" tanya Indah penasaran, sebetulnya dia hampir tidak bisa tidur karena tidak jadi bertemu Harun. Dia ingin sekali mendapatkan informasi tentang Rendi.
Harun menoleh kearah Irwan yang sejak tadi berada di samping Indah dengan tegap berdiri.
"Dia siapa Nona? Apa kita bisa bicara berdua saja?" pinta Harun seraya melihat sekilas pada Irwan.
"Pak Irwan, apa Bapak bisa tinggalkan aku dan Pak Harun berdua?" tanya Indah.
"Maaf Nona, saya tidak bisa," sahut Irwan.
Indah berdecak. "Sudah biarkan saja Pak, ngomong saja," ucap Indah.
Harun menaruh tas di atas meja dan membukanya, dia mengambil dokumen tuntutan untuk membebaskan Reymond.
"Nona pasti sudah mengenal Pak Reymond, dia juga cerita banyak tentang Nona wanita yang dia cintai. Saya akan membantu Pak Reymond, tapi kuncinya hanya satu. Yaitu meminta tanda tangan dari Pak Hermawan untuk mencabut tuntutannya."
"Bapak tidak langsung saja menemui Papah di kantor?" tanya Indah.
"Justru itu Nona, Pak Hermawan tidak mau mencabut tuntutan itu. Dia malah marah-marah pada saya, mungkin Nona bisa membantu saya untuk membujuk Pak Hermawan. Nona bisa minta tanda tangan beliau," ucap Harun seraya menggeser dokumen itu mendekati tangan Indah.
"Baik Pak, aku akan membujuk Papah. Ngomong-ngomong di kantor polisi mana Mas Ren ... Reymond di penjara?" tanya Indah yang hampir saja keceplosan mengatakan nama Rendi.
"Saya tahu Nona, saya bisa antar Nona menemuinya. Nona mau?" Indah mengangguk semangat.
Mata Indah tiba-tiba teralihkan pada seorang pria dan wanita yang tengah sarapan bersama, mereka begitu mesra selayaknya pasangan kekasih. Si pria juga mengelus pipi wanitanya, posisi mereka juga duduk di meja lumayan dekat dengan meja yang Indah duduki.
Mata Indah terbelalak, dia mulai sadar kalau wanita itu adalah Siska. Luapan emosi langsung masuk ke dalam dirinya, deru nafasnya juga kian naik. Indah mengangkat bokongnya dan menghampiri pasangan itu, tangannya begitu gatal ingin segera menampar pipi mulus sang wanita.
Tapi setelah sampai di meja, dia melihat secangkir kopi yang masih panas dengan uap yang banyak. Kopi itu berada di dekat lengan sang pria, tanpa aba-aba Indah meraih kopi itu dan menumpahkan pada wajah Siska, sambil berkata.
"Jalang sialan!" Pekiknya seraya mengayunkan kopi panas itu yang berhasil mendarat dengan sempurna di seluruh wajah Siska.
__ADS_1