Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 41. Menasehati atau menyindir?


__ADS_3

Tiba-tiba Wulan naik keatas tempat tidur dan menyibak selimut yang terletak pada perut Rio. Tangannya dengan cepat menarik celana luar dan dalam milik Rio, sampai diatas lutut.


Deg.....


Bola mata Rio seakan hendak keluar. Ia merasa kaget, binggung dan aneh. Tercampur menjadi satu. Apa yang sebenarnya Wulan lakukan sekarang padanya?


"Aku tidak ingin mandi, Wulan," ucap Rio.


"Iya, aku tau ...." Perlahan tangan Wulan mendarat pada sesuatu yang berbaring lemas disana.


Ia meneguk salivanya dengan kasar, menerima sentuhan dari tangan lembut wanita itu. Di bawah sana langsung menjadi ON.


"Wu-wulan ... apa yang ka-kau lakukan ...." Rio sampai dibuat gugup dan berucap dengan gagap. Tapi dia diam saja dan merasakan sentuhan lembut telapak tangan Wulan.


"Bukankah ini yang Mas Rio suka?"


Deg......


"Wulan, apa yang ...."


Tubuh Rio seketika menjadi merinding, antara geli dan enak beradu jadi satu. Tapi ia masih heran kenapa Wulan bisa melakukan hal ini padanya, karena dulu saja, ia sempat menolak dan akhirnya Rio memaksanya.


Rio tidak bisa membohongi dirinya sendiri, sungguh ia merasakan nikmat tiada tara. Salah satu tangannya dengan refleks mengusap-usap rambut kepala Wulan.


"Wulan. Aaaaa ...." Rio mengerang dengan mata merem melek.


Namun tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggil namanya dengan lantang.


"Rio! Rio! Bangun! Kau ini kenapa?!"


Guncangan hebat yang Santi berikan pada tubuh Rio, membuat pria itu tersentak kaget dan membuka matanya secara paksa.


Keringat pada dahinya bercucuran, tangan Santi perlahan mengusapnya memakai tissue.


"Kau kenapa?! Kenapa tidur sambil mengigau tidak jelas?" tanya Santi.


Astaga! Ternyata aku hanya mimpi. Aku kira tadi nyata, padahal rasanya nikmat sekali. Tapi sayang ... belum sampai keluar, aku sudah dibangunkan Mamah.


Batin Rio kesal.


"Hei! Mamah tanya kau mimpi apa?"


Rio mengangkat tubuhnya untuk menyandar pada sisi tempat tidur.


"Tidak, Mah. Aku tidak mimpi apa-apa." Ia menoleh kearah segelas air diatas meja. "Aku haus, Mah ...."


Santi segera mengambilkannya, dan melihat Rio menenggak air itu sampai habis.


Aku tadi sempat mendengar Rio mengigau nama Wulan. Apa jangan-jangan Rio merindukannya?


Batin Santi.


Terlihat Mawan tengah tidur di kasur, dibawah tempat tidur Rio. Sedangkan Santi duduk di kursi kecil.


"Ini jam berapa, Mah?"

__ADS_1


"Jam 12 malam. Apa kau lapar? Mamah buat telur ceplok belum sempat kamu makan."


Rio mengangguk pelan, Santi mengambil tupperware yang berisi nasi dan telur. Kemudian ia membuka dan menuangkan kecap diatas nasi.


"Ini makanlah."


Rio mengambilnya dari tangan Santi. "Apa ini tidak basi, Mah?" Ia mendekatkan hidungnya pada tupperware itu.


"Mana mungkin Mamah memberikan makanan basi untukmu. Sudah cepat makan!"


Rio langsung melahapnya dengan menggunakan sendok.


Tapi kok Rio tidak bertanya tentang Wulan? Padahal diakan baru bangun.


Batin Santi.


"Dimana Wulan?" tanya Santi.


Deg....


Mata Rio terbelalak, ia melihat kearah Santi yang sedang melipat kedua tangannya diatas dada.


Wulan?! Ah iya ... tadi siang dia bilang selamat tinggal. Apa dia benar-benar akan meninggalkanku?


Tunggu dulu ... apa Mamah sudah tau?! Ya Tuhan bagaimana ini?! Aku bisa habis sama Mamah.


Batin Rio.


"Kebiasaan kamu ya! Tiap ditanya suka lama sekali menjawabnya!" dengkus Santi kesal.


"Yasudah. Habiskan dulu."


Setelah selesai makan dan minum air putih, Santi memberikan obat untuk Rio telan. Ia juga tak ingin anaknya terlalu lama di rumah sakit.


"Apa perutmu masih terasa mual?"


"Sedikit."


"Oya ... Mamah sudah tau kok kenapa Wulan pergi."


Deg.......


"Mamah tau?! Tau dari mana?"


"Dido. Dia menceritakan semuanya pada Mamah."


Bodoh sekali aku ini, tadi sempat berantem didepan Dido. Pria itu mendengar semua ucapan dari Wulan.


Batin Rio terdiam.


Santi menghela nafas dengan gusar. "Kau beruntung Rio, karena saat ini kau sedang sakit. Mamah tidak menghajarmu!"


Deg........


Syukurlah aku selamat.

__ADS_1


Batin Rio.


"Tapi Mamah sungguh benar-benar kecewa padamu, Rio. Padahal Mamah melakukan semua ini demi kebaikanmu, tapi kenapa kau ...." Buliran air mata itu tiba-tiba mengalir membasahi pipi Santi. Dengan cepat, Rio menyekanya.


"Mamah ... kenapa Mamah menangis?"


"Mamah menangis karena kau! Kau membuat Mamah menjadi orang tua yang tidak berguna!"


Deg......


Rio segera memeluk tubuh Santi, namun Santi langsung melepaskannya.


"Kau tega sekali menyakiti Wulan, Rio. Kau benar-benar suami jahat dan tidak tau diri!" umpatnya kesal.


Rio menelan salivanya begitu kasar, tapi dia hanya diam saja.


"Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah sekarang?! Setelah tau Wulan meninggalkanmu?!"


Deg......


Rio menatap nanar wajah Santi didepannya, sang Mamah masih menangis.


"Mamah sudah capek padamu, Rio. Kau susah sekali Mamah atur, padahal Mamah melakukan ini demi kebaikanmu!"


Santi menyeka air matanya dan menghela nafas dengan panjang.


"Kalau memang kau ingin bercerai dengan Wulan, Mamah sekarang tidak akan melarang. Semuanya terserah padamu!"


Deg......


"Kenapa, Mah?! Kenapa Mamah sekarang setuju?" tanya Rio yang tiba-tiba membuka mulut.


"Ya mau bagaimana?! Kau yang menjalaninya saja tidak mau!"


"Apa kau tidak sadar kalau selama ini hanya Wulan yang berusaha bertahan dalam rumah tanggamu?! Sekarang saja Wulan sudah menyerah dan pergi meninggalkanmu. Jadi yasudah ... kalau memang kau ingin bercerai, nanti Papah akan meminta Harun membantumu. Dia akan mengurus semuanya."


Santi bangun dari duduknya, ia membaringkan tubuhnya pada kasur dibawah. Tepat sebelah Mawan yang tengah tertidur pulas.


Namun Santi masih sibuk mengoceh, menasehati anaknya yang kurang waras itu.


"Tapi sebelum kau benar-benar ingin bercerai dengannya. Kau renungkan dulu, jangan langsung mengambil keputusan. Karena itu tidak baik untuk kedua belah pihak."


"Wulan juga punya keluarga, dia punya Ayah yang menyayangi dan melindunginya. Kau jangan lupakan itu Rio!"


"Memang kau pikir enak hidup menjadi duda?! Kau akan kesepian Rio. Kau akan tidur dan makan sendirian. Ah ... tapi Mamah lupa, bukannya kau dulu juga jomblo?! Pasti kau akan terbiasa hidup sendiri."


"Mulai besok nikmati kesendirianmu itu, Mamah ingin lihat. Sampai kapan kamu akan bertahan dan selalu hidup di masa lalumu."


"Kakakmu Rendi, dia akan mempunyai anak kedua. Tapi lihat dirimu ... kau tidak mampu membangun rumah tangga dan sekarang kau di tinggal oleh istrimu. Mamah kasihan sekali padamu, Sayang ...." Santi tersenyum menyeringai, ia melihat wajah Rio yang terdiam dari atas tempat tidur.


"Sudah. Kau tidurlah ... supaya cepat sembuh dan merubah statusmu. Mamah mengantuk, ingin tidur." Seusai menyelesaikan ocehannya, Santi langsung menarik selimut dan memejamkan mata.


Tapi tidak dengan Rio, pria itu terdiam dan melamun. Semua ucapan Santi tertangkap dengan jelas pada otaknya. Ibunya kali ini seperti bukan menasehati, lebih tepatnya menyindir. Ya ... mungkin dengan begitu, anaknya akan sadar.


^^^Kata: 1017^^^

__ADS_1


__ADS_2