
"Maafkan aku sayang, tapi itu tidak benar, wajahku di operasi karena terkena luka bakar. Lukanya sangat parah, hingga harus di operasi." Dia mencoba untuk berkelit.
"Lalu kenapa itu semua terjadi? Kamu kan pergi naik mobil. Mobilmu juga jatuh ke jurang. Dan sekarang kamu bilang mukamu di operasi karena luka bakar? Itu tidak masuk akal. Kau berbohong padaku kan!"
Aku benar-benar emosi rasanya, apa maksudnya itu. Kenapa semua omongannya tidak masuk ke dalam otakku.
"Ini semua gara-gara....."
Tok.... Tok... Tok.
"Ren....." Siapa pria yang memanggilnya dari balik pintu itu? Mas Rendi membuka kunci dan memegang gagang pintu.
Ceklek.... Ah pria itu Rizky.
Pak Rizky masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping Mas Rendi, aku menggeser kan tangan Bayu dari perutku lalu duduk dan menyenderkan punggungku di tepi kasur.
"Maaf gue ganggu, gue tadi denger suara kalian berantem." Ucap Pak Rizky sambil tersenyum padaku.
"Riz, Indah tidak percaya sama gue." Ucap Mas Rendi melihat ke arahnya dengan raut wajah memelas.
Pak Rizky melihatnya sekilas namun dia seperti merasa kasihan pada temannya, "Indah... lu nggak percaya? Dia ini beneran Rendi, suamimu." Lirihnya seraya menunjuk wajah Mas Rendi.
Aku menyeka air mata yang membasahi pipiku. "Percaya."
"Itu percaya Ren..." Pak Rizky menyenggol lengan Mas Rendi, kemudian Mas Rendi berbisik pada telinga temannya itu, entah apa yang dia bicarakan. Aku tidak bisa mendengarkannya.
Mereka berdua kini duduk di sofa yang berada di samping kasur. Bayu benar-benar sudah lelap, kasihan sekali dia. Tidurnya terganggu terus.
"Gue akan ceritakan semuanya Ndah, gue jadi saksi bagaimana kondisi Rendi saat itu." Ucap Pak Rizky dengan yakin.
__ADS_1
Perlahan aku berdiri. "Kita cerita di ruang tamu saja Pak, jangan cerita di sini. Kasihan Bayu, dari tadi tidurnya terganggu." Ucapku sambil melihat kearah Bayu dan berjalan keluar kamar.
Aku menuruni anak tangga dan sepertinya mereka mengikuti ku dari belakang. Aku langsung mendudukkan bokongku di sofa ruang tamu, Pak Rizky duduk di samping. Di sofa yang berbeda. Tapi tidak dengan Mas Rendi yang duduk di sampingku dan memelukku. Tangannya sudah melingkari pinggulku, tapi aku melepaskan nya.
"Mas... Aku mau dengar dulu cerita dari Pak Rizky." Ucapku, dia mencium keningku dan mengangguk.
Pak Rizky sudah mulai membuka mulutnya, "sebentar Riz, gue ambilkan minum dulu buat kalian ya." Ucap Mas Rendi tiba-tiba seraya bangun. "Lu jangan cerita dulu... Tunggu sebentar."
Dia berlari kecil menuju dapur, dan tak lama dia membawakan 3 jus jambu dalam botol dengan embun air, sepertinya dia ambil dari kulkas. Dia menaruhnya di atas meja, tapi satu botol itu dia buka dan memberikannya padaku.
"Minum dulu sayang."
"Taruh saja dulu Mas." Ucapku menolak. Wajahnya terlihat begitu kecewa, tapi aku tidak peduli.
Dia menutup kembali botol itu dan menaruhnya di atas meja. Sampai sekarang pun aku masih melihat pria di sampingku sebagai orang lain karena wajahnya, aku rindu wajah mas rendi yang dulu, ketika dia tertawa, marah. Wajah mesumnya, tatapan nakalnya, senyumannya, pipi merah dan telinga merahnya.
"Sudah Pak, ayo ceritakan." Rasanya aku sudah begitu penasaran, bagaimana asal muasal wajah barunya itu.
"Baik Ndah." Sahut Pak Rizky.
...🍁POV Rizky🍁...
...Tiga Tahun Yang Lalu...
Flashback On.
Malam itu gue habis pergi ke bar, biasalah namanya pria jomblo. Tengah malam masih kelayaban. Gue dapat satu cewek cantik dan niat gue mau ajak pulang ke rumah untuk mengajaknya bercinta semalaman. Gue menyetir mobil sambil mengusap paha putih dan mulus miliknya, dia mengenakan rok mini dan kaos putih ketat.
Dia juga begitu nakal, tangannya sudah meraba burung gue dalam celana. Maklum namanya wanita bayaran, kalau nggak agresif mungkin nggak akan ada yang mau.
__ADS_1
Lama-lama dia menurunkan resleting celana gue, tangannya menerobos masuk kedalam kantong menyan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Gue pun merasa tak tahan, akhirnya gue memberhentikan mobil gue di pinggir jalan dan mematikan mesin mobil.
Dengan cepat gue melorotkan celana gue sampai lutut. Wanita itu langsung mendekati gue, tubuhnya mulai membungkuk kearah burung beo milik gue, dia langsung mengul*m dan menyedotnya dengan cepat. Sensasinya begitu nikmat.
Membuat bulu kuduk gue merinding, gue sangat menikmati permainannya. "Aaahhh....." Membuat gue mendesah dan menarik-narik rambutnya maju mundur.
Namun sayang. Sebelum gue berhasil mendapatkan puncak dari kenikmatan itu. Tiba-tiba gue dengar suara mobil yang berhenti di depan mobil gue, agak jauh tapi. Gue jadi tidak bisa konsentrasi menikmati permainan wanita ini.
Pria itu keluar dari mobil hitam miliknya dan secara tiba-tiba ada dua pria kekar menghampirinya, entah dia datang dari arah mana, mereka langsungmemukul punggungnya dari belakang mengunakan besi besar nan panjang.
Buggghhh......
"Aaww...." Dia menjerit tapi tidak terlalu terdengar jelas. Tubuhnya langsung ambruk.
Salah satu pria kekar itu masuk ke dalam mobil hitam, mobil milik pria yang habis di pukuli itu, dan salah satunya mengangkat tubuh pria yang habis di pukul itu, sekilas terlihat. Wajahnya seperti Rendi. Pria kekar itu membopongnya masuk ke dalam mobil putih yang baru saja lewat.
Kalau dia beneran Rendi, dia dalam bahaya benarkan?
Gue tarik rambut panjang wanita yang masih menyedot burung gue dengan nikmatnya, dia diam saja dan mengangkat kepalanya, "Sudah dulu." Ucap gue padanya.
Wanita itu mengangguk dan duduk membenarkan posisi. Gue melihat mobil Rendi pergi. Dan tak lama mobil putih yang membawa Rendi jalan meninggalkan mobil gue, dengan cepat gue memakai celana dan menyetir mobil. Mengejarnya dari belakang.
"Lu jangan nakal dulu ya, diam saja dulu. Gue lagi genting sekarang." Ucap gue pada wanita itu.
"Oke Riz. Panggil saja aku Anna." Ucapnya, Gue sampai lupa nyewa wanita tidak mengajaknya berkenalan dulu.
Mobil hitam yang berada di depan sudah hilang entah kemana. Tapi mobil putih yang membawa Rendi masih gue ikuti.
Mobil putih itu melaju sangat cepat, tapi gue berhasil mengejarnya dari belakang. Hingga akhirnya mereka menyusuri jalan yang sangat sepi. Benar-benar sepi, sudah bukan jalan raya. Lebih tepatnya pelosok dan di kelilingi pepohonan hutan.
__ADS_1