
Om Andra?! Apa mungkin Anton berbohong?!
Batin Reymond.
Reymond langsung bangun, kakinya berjalan cepat kearah depan. Pistol itu ia tempelkan pada dah tengah Anton.
"Apa kau berbohong padaku?!"
"Tidak Pak, sa-saya jujur."
"Kau bilang pada saat di Restoran, kalau saat itu keadaan Om Andra kritis? Bagaimana bisa dia merencanakan kejahatan seperti ini?! Kau jangan main-main denganku Anton! Aku bisa membunuhmu!"
"Saya akan ceritakan semuanya pada Bapak. Tapi saya mohon, untuk kali ini, Bapak bisa percaya. Saya sudah lelah, Pak. Saya lelah karena terus di kejar-kejar oleh orang suruhan Bapak dan orang suruhan dia."
Reymond menoleh pada Aldi dan menyerahkan pistolnya. "Pegang dan tempelkan ini pada dahinya!"
"Baik, Pak." Aldi sudah mengambil pistol itu dan melakukan apa yang Reymond suruh.
Reymond duduk kembali di kursi sambil menyender. "Ceritakan sekarang. Kalau kau coba-coba mengarang padaku, aku akan menghabisimu Anton!"
"Iya, Pak. Saya akan ceritakan."
...{Flashback On}...
...~POV Anton~...
"Cerita ini berawal sehabis Pak Andra di cekik oleh Pak Mawan."
Dengan paniknya aku mengangkat tubuh Pak Andra, untung saja dia seukuran tubuhku. Walau terasa susah, aku berhasil membawanya keluar dari kantor Pak Mawan menuju rumah sakit. Aku yang menyetir mobilnya.
Dengan kecepatan full aku mengendarai mobil, menoleh sekilas padanya yang kini berada di sebelahku. Dia sudah benar-benar tak sadarkan diri, tapi aku masih merasakan denyut nadinya.
Semoga dia baik-baik saja, walau dia menyebalkan. Tapi tanpanya aku tidak akan memiliki apa-apa.
Sampainya di rumah sakit, aku langsung membawanya masuk kedalam UGD. Supaya dia cepat ditangani.
Aku langsung duduk menunggu di kursi panjang, perasaanku benar-benar tidak tenang. Aku takut Pak Andra meninggal.
Tanganku merogoh ponsel pada saku jas, aku harus menghubungi Pak Rendi. Walau kemarin dia sempat berantem dengannya, tapi dia adalah keponakan Pak Andra. Tidak mungkin dia menghiraukan Omnya yang sedang sakit.
"Halo selamat sore Pak Rendi," sapaku dengan hangat.
"Apa?" dia begitu ketus menjawab.
"Pak. Apa Bapak bisa datang ke rumah sakit untuk menjenguk Pak Andra? Beliau tidak sadarkan diri."
"Tidak sadarkan diri bagaimana? Memang Om Andra kenapa?" terdengar suara dia sangat panik.
"Dia habis di cekik Pak Mawan."
"Apa? Kau jangan bicara omong kosong Ton. Itu tidak mungkin."
__ADS_1
"Saya berkata jujur Pak, Bapak bisa tanya langsung kepada Pak Mawan. Saya harap Bapak bisa datang ke rumah sakit."
"Oke."
Setelah itu dia menutup teleponnya, aku kembali menelepon Riana. Dia juga musti tau.
"Halo, selamat sore Nona."
"Iya Pak Anton, ada apa?"
"Pak Andra ada di rumah sakit, dia masuk UGD. Apa Nona bisa datang kesini?"
"Apa?! Papah masuk UGD?! Iya, Pak. Aku segera kesana."
***
Malam harinya dia sudah boleh dipindahkan ke ruang perawatan. Aku masih berdiri menunggunya di luar sampai Dokter didalam ruangan itu keluar menemuiku.
Ceklek.....
"Dokter, bagaimana Pak Andra?"
"Untung Bapak membawanya tepat waktu, dia hampir saja kehabisan oksigen."
Mataku terbelalak. "La-lalu, sekarang bagaimana keadaannya?"
"Kita tinggal menunggu dia sadar saja, Bapak boleh menemuinya kalau dia sudah sadar."
Dokter itu mengangguk, kakinya berjalan meninggalkanku.
Aku melihat kondisi Pak Andra didepan jendela, ia tengah berbaring tidak sadarkan diri. Selang infusan dan ventilator sudah terpasang.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki, ketukan itu terdengar seperti sepatu high heels wanita. Kepalaku langsung menoleh pada sumber suara.
"Pak Anton, bagaimana keadaannya Papah?" tanya Riana dengan wajah cemas menghampiriku.
Mataku terbelalak kaget, dia kesini tidak sendirian. Melainkan berdua dengan Siksa, wanita jal*ng itu ngapain kesini?
"Dia baik-baik saja Nona, kita tunggu Pak Andra sadar."
Riana menatap jendela dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa ini bisa terjadi? Siapa yang melakukan ini pada Papah, Pak?"
"Pak Mawan, Nona."
Mata Riana terbelalak. "Pakde Mawan?! Kenapa dia bisa tega seperti ini, Pak?"
"Sebenarnya bukan salah Pak Mawan juga, mereka sempat berantem. Dan Pak Andra kalah."
Aku tidak sepenuhnya menyalahkan Pak Mawan, karena penyebabnya adalah mulut Pak Andra yang asal jeplak. Bisa-bisanya dia menghina anak di depan Ayahnya?! Jelas Pak Mawan tidak akan terima. Tapi, memang yang di ucapkan Pak Andra itu karena dia tidak tau. Sama halnya denganku, aku baru tau sekarang kalau Nona Indah adalah anaknya Pak Mawan.
Jadi ... Pak Rendi dan Nona Indah saudara tiri?! Aku tidak pernah tau, karena awal bertemu saja dia seperti gadis miskin yang tak punya apa-apa, padahal Ayahnya kaya raya. Pak Mawan tega juga dengan putrinya sendiri, entahlah. Mungkin dia punya alasan lain.
__ADS_1
"Itu Papah sudah sadar, apa aku boleh masuk kedalam?" tanya Riana.
Aku segera melihat lagi kearah jendela. Benar, Pak Andra sudah sadarkan diri. Tangannya melambai pada kita.
"Boleh, Nona. Silahkan masuk."
Riana langsung masuk kedalam, kini aku duduk di kursi panjang depan ruangan itu. Aku menoleh pada Siksa, dia duduk di sebelahku. Tapi wajahnya tidak seperti biasanya, kuakui dia memang sangat cantik. Tapi kali ini wajahnya pucat, apa dia sakit?
"Mbak Siska, kok Mbak ada disini dan datang bersama Nona Riana?"
"Aku ada perlu sama Om Andra, tadi aku pergi ke kantor. Tapi kantornya sepi, jadi aku datang ke rumahnya, Riana bilang Om Andra masuk rumah sakit. Akhirnya aku ikut kesini," jelas Siksa, suaranya terdengar begitu pelan.
30 menit berlalu, Riana keluar dari ruangan Pak Andra. Aku segera bangun dari duduk berbarengan dengan Siska.
"Pak Anton, aku harus pulang sekarang. Mamah meneleponku. Syukurlah Papah baik-baik saja," ucap Riana sambil tersenyum.
"Biar saya antar, Nona."
"Tidak usah, Bapak temani Papah saja. Aku sudah di jemput sopir."
"Yasudah, hati-hati Nona." Ia mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan aku dan Siska.
Tanganku perlahan meraih gagang pintu. "Anton, aku ikut masuk denganmu."
"Baik, Mbak."
Kini aku masuk berdua dengannya, Pak Andra masih berbaring. Namun matanya langsung melotot kearah kita berdua.
"Jal*ng! Ngapain kau kesini! Usir dia Anton!"
Deg......
Walau mulut dan hidungnya masih terpasang ventilator, tapi suaranya tetap nyaring.
Bukannya langsung pergi, Siska justru berlari. Ia membungkuk dan memeluk tubuh Pak Andra yang masih berbaring.
"Om Andra, tolong aku Om ... Beri aku uang," pintanya sambil menangis.
Aku hanya terdiam dan melihat mereka berdua.
Lengan yang tergenggam erat oleh Siska, kini ditepis kasar oleh Pak Andra.
"Sialan! Pergi dari sini!"
Siska masih berusaha memeluk kembali. "Om, aku sudah keguguran. Tapi masalahnya aku terkena kanker rahim, aku tidak mau mati. Aku masih ingin hidup, beri aku uang Om untuk biaya operasi. Aku ... Aku akan melakukan apapun."
***
Hai Readers ... Terima kasih masih setia untuk membaca, apa lagi yang masih aktif komen. Aku seneng jadinya ... Oya, mumpung hari Senin, bagi yang banyak poinnya dan mau sedekah kasih hadiah bunga ataupun vote, silakan kalian beri seikhlasnya, karena aku masih butuh dukungan dari kalian untuk melanjutkan karya ini.
Terima kasih ... Salam sayang Rossy untuk kalian semua ❤️ Semoga sehat selalu 😊
__ADS_1
^^^Kata: 1019^^^