Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 22. Rasanya enak juga


__ADS_3

Tatapan mata keduanya kini sudah bertemu dan manik mata itu seakan menatap lebih dalam. Degup jantung Wulan bahkan sampai terdengar pada telinga Rio, sangking mereka dekatnya. Lilitan handuk itu sudah jatuh di lantai.


Segera Rio membenarkan posisi tubuhnya dan tubuh Wulan, ia meraih handuk putih untuk dililit kembali diatas perut.


"Maaf, Mas."


Kaki Wulan hendak keluar dari kamar Rio, namun lagi-lagi Rio memanggil.


"Kau mau kemana? Bukannya tadi aku suruh kau mandi?"


"Iya, ini aku mau mandi ... mandi di kamarku," ucapnya seraya berjalan keluar.


Rio hanya geleng-geleng kepala, ia mengeringkan tubuhnya dulu. Kemudian naik keatas kasur dan berbaring, tidak lupa menarik selimut.


Apa tadi aku salah dengar? Aku mendengar jantung Wulan yang berdebar sangat kencang. Kenapa dia? Apa dia takut padaku?


Batin Rio.


.


.


.


.


.


.


Setelah Wulan selesai mandi dan berpakaian, ia balik lagi ke kamar Rio untuk berdandan didepan meja rias. Terlihat Rio sudah memejamkan mata, sepertinya dia tertidur.


Mas Rio 'kan belum makan malam. Apa aku bangunkan saja?


Ah tidak-tidak, biarkan saja dia tidur. Nanti kalau lapar juga bangun sendiri, lebih baik aku tinggalkan saja dia. Sebelum dia bangun.


Batin Wulan.


Ia keluar lagi ke kamar Rio dan masuk lagi ke kamarnya, terlihat Clara sedang menyisir rambut bonekanya. Dia tampak senang sekali mempunyai mainan baru, mengingat lagi baik Wulan ataupun Wahyu. Mereka jarang sekali membelikannya mainan, karena uangnya hanya disisipkan untuk kebutuhan yang lebih penting saja.


"Clara ... ayok makan malam dulu, habis ini main lagi," ajak Wulan seraya memegang lengan kecil itu.


"Aku mau bawa barbieku boleh, Kak?"


"Boleh, kita ajak sekalian dia makan."


Gadis cantik itu menurut dan kini dia dan Wulan berjalan menuruni anak tangga. Sudah banyak menu makan malam diatas meja, mereka langsung makan bersama.


Clara melihat bangku yang sering Rio duduki kosong, ia menoleh kearah Wulan.


"Kak ... kok Kak Rio nggak makan juga?"


"Kak Rio sedang tidur sayang, Kakak nggak enak banguninnya."


Clara mengangguk. "Kakak nanti kalau aku di suntik lagi, aku mau beli boneka lagi, ya?"


"Iya, nanti Kakak belikan."


"Barbie juga, tapi yang laki-laki. Biar ada temennya," sambung Clara.


"Iya sayang."


"Boleh nggak aku kasih nama Indah boneka ini, Kak?"

__ADS_1


"Indah? Kenapa harus Indah? Itu nama Kak Indah sayang, jangan dipakai."


"Oh nggak boleh, ya? Padahal bonekanya cantik kayak Kakak Indah ...," sahut Clara seraya mengelus rambut pirang bonekanya.


Pertama Mas Rio yang selalu memuji Indah, sekarang Clara. Aku jadi makin cemburu pada Indah. Apa segitu sempurnanya dia di mata Adik dan suamiku?


Batin Wulan.


"Iya jangan, cari nama lain saja," sambung Wulan.


"Yasudah Kakak carikan namanya," ucap Clara.


"Besok Kakak cari namanya, kamu habiskan dulu makannya."


"Iya, Kak."


.


.


.


.


.


.


.


.


Rio mendusin dari tidurnya, terasa sekali perutnya begitu keroncongan. Bahkan sudah berbunyi, lengannya terulur menuju meja ingin melihat ponsel untuk mengecek jam. Tenyata sudah jam 1 menjelang dini hari, tangannya perlahan mengusap-usap mata.


"Parah sekali Wulan ini, sudah tau aku belum makan. Tapi dia tidak membangunkanku. Tidak ada pengertiannya sekali menjadi seorang istri!" dengkusnya kesal.


Mereka saling terkejut satu sama lain.


"Mas Rio ... kok Mas malam-malam bangun? Apa butuh sesuatu?" tanya Wulan seraya mengusap-usap kelopak matanya.


Rio memutar bola matanya dengan malas, dia tidak menghiraukan Wulan dan kini berjalan menuruni anak tangga. Wanita itu mengikutinya dari belakang.


"Bi! Bibi!" pekik Rio saat berada di dapur, tapi tidak ada sahutan dari pembantunya itu.


"Bibi!"


"Mas ... Mas Rio butuh apa? Nanti aku ambilkan."


"Aku lapar Wulan! Apa kau tidak tau perutku ini sejak tadi berbunyi!" bentak Rio seraya memegang perut.


"Aku ambilkan kamu nasi, Mas. Buat makan," ucap Wulan seraya mengambil piring diatas rak.


"Aku ingin nasi goreng! Kau bangunkan Bibi untuk buatkan nasi goreng dan teh manis hangat untukku! Lalu antarkan kedalam kamar!" Rio sudah berlalu pergi menaiki anak tangga.


Nasi goreng? Apa aku saja yang buatkan? Aku tidak enak kalau membangunkan Bibi malam-malam, lagian aku juga bisa membuatnya.


Batin Wulan.


Ia meraih gelas dan mengambilkan air minum pada dispenser. Memang dia terbangun karena merasa haus.


Setelah itu dia membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan membuat nasi goreng.


Sekitar 25 menit nasi goreng dan teh manis hangat siap diantarkan kedalam kamar Rio. Dia menaruhnya pada nampan seraya mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok.


"Masuk!" pekik Rio dari dalam.


Ceklek......


Terlihat Rio masih duduk dengan berbalut selimut diatas kasur.


"Kok kamu yang antar? Kenapa tidak Bibi?" tanya Rio.


"Iya, tidak apa kok, Mas. Ini ... nasi gorengnya." Ia meletakkan nampan itu diatas meja dan memberikan satu piring nasi goreng buatannya.


Rio langsung mengambil dan menyendok kan satu suap kedalam mulutnya.


Deg......


Kunyahan itu ia hentikan sejenak, merasakan ada yang aneh dalam nasi goreng itu. Dia hafal betul nasi goreng buatan pembantunya, tidak seperti itu rasanya.


Sedangkan disisi lain, Wulan begitu penasaran dengan respons yang akan dia lihat dari Rio. Jujur saja, dia masih ingin mendengar kata pujian yang sampai detik ini belum pernah ia dapatkan keluar dari mulut suaminya.


"Kenapa, Mas?" tanya Wulan, ia masih berdiri tepat didepan Rio.


"Apa ini nasi goreng yang buat Bibi?" tanya Rio dengan alis mata yang sudah terangkat.


"Bukan Mas, aku yang buatkan."


Deg......


Mata Rio terbelalak.


Wulan?! Dia yang buat nasi goreng ini? Rasanya enak juga. Bahkan lebih enak dari nasi goreng buatan Bibi. Hampir seenak nasi goreng buatan Almarhumah Tante Sarah.


Batin Rio.


"Apa kau berbohong?" tanya Rio lagi.


Wulan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, Mas. Itu memang buatanku ... apa rasanya tidak enak?" tanyanya ragu-ragu.


Aku udah cicipin tadi kok, rasanya enak. Tapi ... kalau belum mendengar komentar langsung dari Mas Rio, rasanya aku masih ragu.


Batin Wulan.


"Biasa saja," jawab Rio singkat dan meneruskan makannya sampai habis.


Biasa saja katanya? Ah memang aku tidak pernah ada bagus-bagusnya di mata dia.


Batin Wulan.


"Yasudah, kalau begitu aku permisi dulu, Mas," pamit Wulan seraya melangkah kearah pintu.


"Tunggu dulu ...," panggil Rio.


Wanita itu langsung menghentikan langkah dan berbalik badan menghadap padanya.


"Sepertinya kita pernah bertemu ... sebelum kau jadi OB di kantorku, benar atau tidak?" tanya Rio.


Deg......


Mata Wulan terbelalak.


Apa dia sudah ingat padaku? Saat pertama kali kita bertemu?

__ADS_1


Batin Wulan.


^^^Kata: 1020^^^


__ADS_2