
"Mas! Kenapa Mas Rio diam saja, ayok masuk!" ajak Wulan seraya menarik lengannya. Karena sedari tadi Rio terkesima dan berdiri di ambang pintu. Wulan langsung mengantarkannya menuju kamar mandi.
"Kamu mau memandikan aku, Wulan?" Rio melihat istrinya mengisi air hangat kedalam bathtub.
"Tentunya tidak, Mas. Mas Rio mandi sendiri. Aku hanya mengisi airnya saja seperti biasa."
Rio mengerucutkan bibirnya, padahal ia sempat berharap.
"Yasudah, Mas Rio mandi dulu. Nanti langsung masuk kedalam kamar saja, aku tunggu di luar, ya?"
"Iya."
Wulan melangkahkan kakinya, keluar dari kamar mandi. Sementara Rio, ia melucuti seluruh pakaiannya dan menaruhnya pada ember bersih di samping bathtub. Kakinya perlahan masuk kedalam dan mulai berendam di air hangat.
Punggungnya ia sandarkan ke tembok, ia senyum-senyum sendiri saat mengingat Wulan menciumnya. Rasanya begitu menggetarkan hati dan jiwanya.
"Kok tumben Wulan menciumku? Sikapnya juga sangat manis. Sangat, sangat manis. Seperti pertama kali kita menikah. Ada apa, ya?" Rio mengelus-elus pipinya bekas kecupan Wulan tadi.
"Apa Wulan habis minum obat pera*ngs*ng dan habis ini mengajakku bercinta?" Rio menggeleng cepat. "Tidak, itu tidak mungkin. Dapat dari mana juga itu obat."
Sedari tadi Rio hanya bermonolog dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Setelah selesai berendam, Rio lantas bangun dan mulai mandi di atas shower. Memberikan busah sabun pada tubuhnya dan tidak lupa menggosok gigi didepan wastafel.
Tiga puluh menit berlalu, Rio keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Ia tidak melihat siapa-siapa didepan televisi. Tapi terdengar suara samar-samar dari luar, mungkin saja mereka semua ada diluar.
Ceklek~
Rio masuk kedalam kamar dan langsung menutup kembali pintu. Saat dirinya hendak melepaskan handuk, dan mengambil pakaian ganti diatas kasur yang sudah Wulan siapkan, matanya membulat dengan sempurna kala melihat buket bunga yang berada disisi kasur.
Handuk itu ia urungkan untuk dilepas. Lantas segera mengambil buket bunga itu dan memerasnya dengan kedua genggamannya.
"Siapa yang kirim buket bunga untuk Wulan? Apa Wulan berselingkuh? Breng*k!" umpatnya dengan emosi di dada.
Berhasil diremas dengan kuat, Rio membanting buket bunga itu di lantai dengan penuh kekesalan, menginjak dengan salah satu kakinya hingga kelopak bunga itu hancur berkeping-keping.
Tok ... tok ... tok.
"Mas ... apa Mas Rio sudah selesai memakai pakaian?" tanya Wulan dari balik pintu.
Rio bergegas mengambil pakaiannya diatas kasur, dengan cepat memakainya. Kemudian, ia duduk sambil menyandarkan punggungnya disisi tempat tidur sambil mengusap-usap dadanya yang terasa begitu sesak. Nafas itu ia tarik, lalu di keluarkan secara perlahan.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok.
"Mas ... Mas Rio, kok diam saja. Apa sudah selesai?" Walau suaranya terdengar begitu keras, tapi terdengar begitu lembut di telinga Rio.
Sudah beberapa kali Wulan mengetuk pintu dan tidak ada sahutan dari dalam. Lama-lama ia merasa khawatir. Ia langsung menurunkan handle pintu dan ternyata memang tidak di kunci.
Deg!
Netranya membulat sempurna, saat ia melihat buket bunga yang sempat ia ciumi dari siang sampai sore. Tapi sekarang kondisinya begitu memprihatinkan, hancur dan kelopak bunga itu berserakan di lantai. Lantas, Wulan melihat ke arah Rio yang tengah duduk dengan wajah masam.
Dilihat dari wajahnya saja, Wulan sudah tau kalau saat ini Rio tengah emosi. Tapi yang ia tidak tau adalah, apa penyebabnya?
"Mas Rio, kok bunganya dihancurkan begitu? Kenapa, Mas?" tanya Wulan dengan langkah pelan menghampiri suaminya.
"Kenapa memangnya? Kau tidak ikhlas?" tanyanya dingin.
"Bukan tidak ikhlas, tapi aku hanya heran saja. Kok Mas Rio bisa-bisanya merusak bunga itu. Padahal cantik bunganya, Mas," lirihnya seraya duduk di samping Rio, ia mencoba mendekati pria yang saat ini memalingkan wajahnya. "Mas Rio kenapa? Apa aku punya salah?"
"Apa kau punya pacar?"
Deg!
"Pacar? Apa maksud Mas Rio? Aku ini seorang istri dan seorang ibu nantinya, masa aku punya pacar, Mas. Tidak."
Deg!
Wulan tersentak kaget dan terbelalak. "Kok Mas Rio malah tanya padaku? Bukannya bunga ini dari Mas Rio?"
Rio langsung menoleh ke arah Wulan, menatapnya dengan tajam. Ia meraih dagu istrinya dan sedikit di naikkan, karena Wulan menundukkan kepala. "Apa kau bilang? Aku?" tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri, Wulan mengangguk pelan.
"Aku tidak membelikanmu bunga, Wulan!"
Deg!
Lagi dan lagi Wulan merasa kaget. Ia juga merasa ketakutan melihat sorotan mata Rio yang begitu tajam. Hingga menusuk kedalam ulu hati.
Wulan melepaskan dirinya dari tubuh Rio yang sudah menempel. Kakinya berlari menuju meja rias. Ia membuka tas dan juga dompet. Lalu, memberikan kertas persegi empat pada Rio. Wulan sengaja menyimpannya didalam dompet, ingin menjadikannya sebagai kenang-kenangan.
Rio membaca dan terbelalak. "Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini? Aku sama sekali tidak mengirimkan bunga!" bantahnya.
__ADS_1
"Mas ... Mas Rio, jangan marah padaku, Mas." Wulan menyentuh punggung tangan suaminya yang sudah berkeringat. Tubuhnya sampai bergetar hebat karena rasa takut. "Aku menerima bunga itu karena ada tulisan nama Mas Rio. Kalau tidak ada ... aku tidak akan mengambilnya, aku berani bersumpah!"
Rio mendekatkan dirinya pada Wulan. Lalu, memeluknya dengan erat. Emosi dan kesal itu masih ada. Rio juga tak terima. Walau buket bunga itu bertuliskan namanya, tapi kalau bukan dirinya sendiri yang memesan, sama saja tidak ikhlas.
Namun, di samping rasa kesal yang membara, ia tak tega melihat Wulan yang tengah ketakutan, baru kemarin malam Wulan pingsan dan dibawa ke rumah sakit, Rio tidak mau melihat istrinya seperti itu lagi.
"Mas ... maafkan aku, aku mohon ... Mas Rio jangan marah padaku." Wulan menciumi dada bidang suaminya, ia juga memeluk tubuh Rio begitu erat.
Rio masih terdiam. Tapi tangannya tengah mengetik layar ponsel untuk menghubungi ibunya. Ada kemungkinan Santi lah yang melakukan hal ini.
"Halo, Mah."
"Halo Rio, ada apa?"
"Apa Mamah kirim buket bunga untuk Wulan?"
"Tidak, Mamah tidak kirim."
"Mamah tidak berbohong, kan?"
"Tidak, ngapain Mamah bohong padamu."
"Oh yasudah, maaf aku menganggu Mamah. Selamat malam, Mah."
"Malam."
Rio mematikan sambungan telepon. Ia membolak-balikkan kertas persegi empat itu. Barang kali ada sebuah informasi disana. Dan tepat sekali, ada nomor ponsel. Rio segera menghubungi nomor itu.
"Halo selamat malam, dengan toko bunga Jakarta. Ada yang bisa saya bantu?" Terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
"Malam. Saya ingin bertanya ...." Rio mengantungkan ucapannya dan berbisik pada telinga kiri Wulan. "Jam berapa kau menerima bunga ini?"
"Jam makan siang, Mas," jawab Wulan lirih.
"Siapa yang mengantarkannya?"
"Kurir, Mas."
"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita dari sambungan telepon itu.
__ADS_1
"Saya ingin bertanya, sekitar jam dua belas siang, ada yang mengirim satu buket bunga mawar merah untuk istri saya yang bernama Wulan Priyanka, rumahnya di jalan Xxx Jakarta Utara. Kira-kira, siapa orang yang pesan bunga di toko Mbak? Beritahu saya orangnya!"
^^^Kata: 1086^^^