
Reymond terbelalak, ia merasa kaget dengan ucapan sang mamah. "Bercerai? Apa maksud Mamah?"
Setahu Reymond, Santi dan Mawan tidak ada masalah lagi, hanya masalah obat kuat saja. Tapi itu sudah berlalu.
"Ya maksud Mamah bercerai, Papah dan Mamah bercerai." Santi memperjelas penyampaiannya.
"Tapi apa alasannya? Apa Mamah dan Papah bertengkar?"
"Alasannya adalah Rio." Santi menarik nafasnya dulu, perlahan ia hembuskan. "Apa kau tau Rey, selama ini Papah terus saja mengusik rumah tangga Rio. Mamah juga baru tau kemarin pas Rio bercerita. Ternyata ... dari semenjak mereka pergi berbulan madu, itu awal mulanya. Papah ke rumah Pak Wahyu dan meminta Pak Wahyu untuk memisahkan mereka berdua. Tapi masalah itu sudah beres, lalu ada lagi." Santi menyeruput teh manis hangat dulu sebentar, sebelum kembali bercerita.
"Papah memberikan nomor Rio pada salah satu modelnya yang bernama Mitha Agatha, dia anaknya, Aji. Pak Aji Santoso. Kau kenal dia, kan?"
Reymond mengangguk.
"Iya, Papah memberikan nomor Rio pada Mitha, memintanya untuk menjadikan Rio dan Mitha teman. Dan sampai akhirnya Papah berniat untuk menjodohkan mereka berdua."
Reymond membulatkan netranya. "Terus, Mah."
"Papah memaksa Rio untuk bercerai dengan Wulan dan meminta Rio untuk menikah lagi dengan Mitha. Tentunya Rio tidak mau, dia sempat membuat surat perjanjian yang berupa ancaman. Jika Papah terus mengusik rumah tangga dia dan Wulan, Rio akan melakukan hal yang sama, mengusik rumah tangga Mamah dan Papah."
"Dan Rio pikir ... dengan ancaman seperti itu Papah akan jera. Tapi nyatanya tidak." Santi tersenyum miring sambil geleng-geleng kepala. "Selanjutnya, Papah mengirimkan buket bunga untuk Wulan atas nama Rio supaya mereka bertengkar. Kau pasti tau sifat adikmu itu, dia tidak ada bedanya dengan Papah. Sama-sama keras kepala dan sering menyimpulkan sesuatu atas pemikirannya sendiri. Iya, kan?"
Reymond mengangguk kembali.
"Rio hampir bertengkar, tapi tidak jadi. Dia berusaha mengontrol emosinya. Dan selanjutnya Rio balas dendam pada Papah. Itu tentang obat kuat kiriman dari Mamah. Dan Rio berpikir lagi kalau dengan dirinya balas dendam untuk kedua kalinya, Papah akan jera dan menyadari kesalahannya. Tapi ternyata tidak, Rey." Santi kembali menggelengkan kepalanya.
"Yang membuat Mamah kecewa disini adalah rencana busuk Papah dan Aji. Dia memberi obat perangs*ng dan lalu membius Rio, mereka ingin membawanya untuk bertemu Mitha. Supaya Rio bisa memperkosa Mitha, lalu Papah dan Aji akan menikahkan mereka. Papah ingin Mitha menjadi istri kedua, lalu setelah itu menyingkirkan Wulan."
"Apa?" Reymond memekik dan tak menyangka. "Apa itu semua terjadi, Mah? Apa Rio memperkosa Mitha?"
Santi menggeleng. "Tidak, Mamah juga ada disana untuk menggagalkan rencana mereka. Tapi Papah terlebih dahulu mengakhiri permainan. Kata Papah ... dia sudah berubah pikiran, dia juga menyadari kesalahannya dan menyayangi anak kembar Rio. Tapi Mamah tidak percaya." Santi bersedekap dan menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi.
"Jadi Wulan hamil bayi kembar?"
__ADS_1
"Iya. Dan setelah Mamah pikir-pikir, Mamah merasa sudah capek berumah tangga dengan Papah, Rey. Mamah capek dengan semua tingkah lakunya. Dia terus menerus menyakiti anak-anak Mamah. Pertama Indah, kau, lalu Rio. Mamah tidak mau terus hidup dengan pria yang jahat seperti Papah," papar Santi berterus terang.
"Ya, memang kesalahan Papah sangatlah fatal, Mah. Aku juga merasa kesal, dengan semua sifat dan tingkah lakunya. Tapi ...." Reymond mulai berfikir, ia ingin memberikan saran pada ibunya. "Apa Mamah dan Papah harus bercerai? Apa tidak ada jalan keluar lagi?"
"Apa jalan keluarnya? Bagi Mamah itu tidak ada."
"Kalau aku sih terserah Mamah saja. Aku selalu mendukung apapun untuk kebahagiaan Mamah, sama halnya dengan Mamah mendukungku. Tapi ... kalau Mamah dan Papah bercerai, itu akan imbas pada Indah dan kedua anakku."
"Mamah tau itu. Tapi kau juga harus tetap ingat, Rey. Meskipun Mamah dan Papah bercerai, kami tetap menjadi besan. Mamah tidak akan menghalangi Papah untuk bertemu cucunya."
Reymond mengangguk. "Itu benar, tapi sebaiknya Mamah berpikir lebih dahulu. Aku tidak berniat untuk membela Papah, hanya saja sebuah perceraian itu harus kita pikirkan secara matang-matang, sebelum mulai melangkah benarkan, Mah?"
Santi mengangguk pelan.
"Kita rundingan saja dulu masalah ini, pada Indah dan Rio, setelah keadaan mereka memungkinkan. Tapi untuk sekarang ... Mamah pisah rumah dulu sama Papah, Mamah tinggal bersama aku dan Indah di rumahku yang dulu," papar Reymond memberikan saran.
"Tapi Mamah ingin Papah menikah lagi, Rey. Setelah itu Mamah dan Papah bercerai."
Reymond terbelalak. "Menikah? Kenapa Papah harus menikah lagi?"
"Kalau soal Mitha, itu urusan Papah dan Pak Aji. Kalau Pak Aji setuju dan Papah setuju. Aku yang urus segalanya. Tapi masalah perceraian Mamah dan Papah. Kita rundingkan dulu, itu saran aku."
Santi mengangguki ucapan dari Reymond. Setidaknya, dengan bercerita, Santi merasakan kelegaan hati.
"Aku juga akan bicara pada Papah, Mah."
"Mau bicara apa kau? Tidak usah, Rey."
"Hanya ingin menegur Papah saja."
"Tidak perlu, itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Biarkan dia hidup sendiri, kau tidak usah pedulikan dirinya."
***
__ADS_1
Rio mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat. Dadanya terasa sesak dan nafas belum stabil, padahal masih ada asupan oksigen dari ventilator untuk mulut dan hidungnya.
Rio mengedarkan pandangan pada sudut ruangan itu.
Dimana aku? Apa ini rumah sakit?
Tangan kiri Rio terasa seperti menindih sesuatu, ia menunduk sedikit. Ternyata ada kepala Wulan pada tangan kirinya, wanita itu ketiduran sambil memegangi tangan suaminya.
Rio mengukir senyum tipis, tangan kanannya perlahan memegangi pucuk kepala istrinya.
"Wu-Wulan," ucapnya lirih.
Wulan langsung terperajat, karena merasakan sentuhan pada rambut kepalanya. Ia membuka matanya dan membenarkan posisi duduk.
"Mas Rio, Mas Rio sudah bangun? Alhamdulilah, syukurlah ... aku senang sekali, Mas." Wulan kembali menitihkan air mata. Namun kali ini air mata kebahagiaan, karena bahagia telah melihat suaminya sadar. Ia tersenyum dan memegangi tangan Rio.
Katanya seneng, kok malah nangis? Tapi ngomong-ngomong, kenapa aku ada di rumah sakit? Memang aku sakit apa?
Rio hanya mengangguk pelan. Ia memegangi tenggorakannya, merasa haus tapi terasa berat untuk bicara.
"Mas Rio mau minum?" tanya Wulan seraya menyeka air matanya.
Rio kembali mengangguk pelan.
Wulan berdiri, lalu meraih botol air mineral. Ia membukanya dan menaruh sedotan didalamnya.
"Minumnya bagaimana, Mas? Apa ini boleh dilepas?" Wulan memegangi ventilator di mulut Rio.
"Ya."
Wulan membantu menarik kebawah dagu benda itu, kemudian ia mengangkat tengkuk Rio sedikit, supaya suaminya bisa minum air putih lewat sedotan. Rio meminum satu botol berisi 180ml itu sampai habis tak tersisa, sepertinya ia benar-benar haus.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1
yuk mampir ke sebelah say, udah 6 episode 🤗